Semalam aku bermimpi.
Aku berjalan di terowongan yang panjanggggg dan gelap. Enggak terlalu gelap juga sih. Samar Samar ada cahaya yang datang, seperti sinar tapi jauuuhhh sekali. Aku hanya mampu berjalan sambil meraba dinding tembok. Awalnya gak terasa dingin, jadi aku gak memeriksa lebih teliti lagi seperti apa penampilan ku saat itu.
Aku berjalan makin lama makin ke dalam. Semakin jauh aku berjalan aku mulai merasa sedikit dingin. Awalnya aku merasa di bagian kaki, makin lama makin naik ke atas. Sejenak aku berhenti dan terdiam.
"Astaga." pekik ku tersadar.
Ternyata aku berjalan dengan bertelanjang kaki. Dan aku hanya mengenakan kemeja kerja ku. Hanya bagian atas saja.
"Pantas dingin. " guman ku lirih.
Aku kembali berjalan, cukup jauh.
"Ughh... " pekik ku lirih
"Sakit..." rintih ku pelan.
Ternyata yang ku pijak bukan lagi aspal melainkan jalan yang penuh batu kerikil yang tajam. Aku berjalan pelan sambil meraba dinding dengan kedua tangan ku.
Aku sendiri tak tahu kenapa aku terus saja berjalan padahal aku tahu jalan yang ku lalui penuh dengan batu kerikil yang tajam. Kaki ku penuh luka, mulutku pun tak henti hentinya mengeluh dan merintih.
Tapi tak pernah sekali pun terlintas di benakmu untuk berhenti dan mundur. Seakan akan ada yang menunggu ku di ujung terowongan itu. Aku terus dan terus berjalan. Tak peduli luka di kaki mulai berdarah.
"Ahhkk..... Sakit... " rintih ku pelan.
"Belum sampaikah, aku sudah lelah......" keluh ku.
Tak terasa air mataku meleleh secara berlahan.
"Sampai kapan aku harus berjalan? Kenapa cahaya itu semakin ku dekati semakin menjauh?" ucapku pelan.
Kaki ku gemetar, badan ku terasa sakit, tangan ku pun ikut terasa perih karena aku terus meraba dinding yang tak rata.
"Hiks hiks hiks.... " tangisku mulai terdengar.
"Aku lelah, aku mohon siapapun tolong lah aku. Hiks hiks hiks.... " ucapku dalam tangis.
Tapi kakiku tak mau berhenti berjalan. Walau badanku sudah hampir mencapai batas nya, tapi kakiku terus saja berjalan.
"Ahhh..... Akhirnya ujung terowongan terlihat juga. " pekik ku senang.
Senyum manis dan rasa lega menghias bibirku yang tadinya merah kini menjadi pucat.
Tepat sampai diujung terowongan aku pun jatuh terkulai. Aku tak sadarkan diri karena lelah dan rasa kantuk tiba tiba datang menyerang.
Diantara sadar dan tidak sadar, samar samar aku mendengar suara seorang pria.
"Ahh......Tuhan menolongku. " ucapku lirih
Aku pun menutup mataku pelan.
Walau aku tak sadarkan diri tapi anehnya aku merasakan setiap sentuhannya. Dia menggendong ku pelan, memeluk ku dan berkata.....
"Akhirnya kamu datang juga kelinci kecilku. Sungguh lelah hati ini menunggu mu. " ucapnya.
Aku hanya mampu terdiam dan tak bersuara. Karena aku sendiri tak sanggup berbicara.
"Aku tak akan melepaskan mu lagi. Kau hanya akan menjadi milikku seorang. " ucapnya berbisik.
Lagi lagi aku terdiam. Mataku masih terpejam, rasa kantuk belum juga pergi dari mataku. Namun perlahan aku bisa merasakan, rasa dingin di sekujur tubuhku saat dia membaringkan ku. Ada rasa geli yang menyentuh kulitku.
"Ini bukan ranjang, ini bukan tempat tidur. Walau tak keras tapi ini....... " ucapku dalam hati.
Aku masih terdiam, karena mata ini masih belum bisa ku ajak kompromi.
Tiba tiba rasa merinding datang menyergap ku.
"Ada sesuatu..... Ada sesuatu yang menyentuh ku. Ahkkk.....apa ini....??? " pekik ku tertahan.
"Sayang, masih tertidur kah dirimu? " ucapnya berbisik di telinga ku.
Ku hanya mampu terdiam dan terdiam.
Dirabanya tanganku. Dipegangnya kedua tanganku, dan di satukan menjadi satu.
Lalu......
"Sshhtttt......ughh..... "Rintihku pelan.
Aku merasakan sakit dan perih pada pergelangan tanganku. Rasa sakit itu membangunkan ku, tak hanya itu, sebuah sentuh, gesekan di berbagai tempat membuatku merasa tak nyaman. Saat ku buka mata ku betapa terkejutnya aku.
"Aaaargggg..... " teriak ku.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau? Ahkkk sakitttt...... " pekik ku.
Kulihat disekeliling ku ternyata banyak ular ular yang merayap, melilit bahkan ada yang ku jadikan bantal. Bukan itu yang membuat ku berteriak dan merintih kesakitan. Bukannya aku takut dan jijik dengan ular.
Tapi dia pria yang tadinya aku kira menolong ku ternyata dia mengikat tanganku dengan sebuah kawat berduri, sehingga membuat tanganku sakit dan terasa perih. Aku tak dapat melihat dengan jelas siapa dan gimana rupanya. Yang ku tahu suaranya cukup familiar. Aku kenal tapi aku lupa siapa dia.
Seketika itu aku terbangun dengan peluh di sekujur tubuhku. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Rasa sakit dikaki ku karena menginjak batu kerikil tajam, ikatan kawat duri tajam, lilitan ular. Cukup membekas di ingatanku. Aku merasa itu mimpi yang cukup nyata. Aku mengigil bukan karena dingin, tapi aku mengigil karena ketakutan.
Ahhh.... Mimpi bertanda apa itu. Aku takut.....!!!!
Takut sekali, sangat takut....!!!