Happy Reading❤
Fira Aulia adalah seorang gadis berusia 25 tahun. Hari ini rencananya ia akan berkunjung ke rumah neneknya yang ada di desa.
Desa itu bisa dibilang sangat terpencil karena aksesnya yang harus melewati hutan, jalan disana pun gelap dan sangat sepi kendaraan. Akses jalan tidak terlalu besar hanya cukup dilalui satu mobil dan motor jika berlawanan arah. Dan memang jarang ada mobil masuk ke jalan itu.
Fira berangkat kesana dengan mobilnya sendirian. Rasanya Fira sudah rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu neneknya.
Saat dijalan, sepanjang mata memandang hanya terdapat pohon-pohon rindang dan hutan gelap di sisi kiri dan kanan. Padahal ini masih siang belum masuk waktu sore atau malam tapi keadaan jalan cukup gelap karena cahaya matahari terhalang riuhnya dedaunan.
Tak berapa lama kemudian Fira pun sampai di desa itu. Suasananya entah mengapa sangat berbeda sekali dibanding dengan terakhir kali Fira menginjakkan kakinya di desa ini.
Sekarang desa ini jadi sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang. Dulu biasanya banyak orang yg berlalu lalang untuk pergi berkebun atau bertani dan semua orang saling menyapa dengan ramah lalu banyak anak-anak juga yang bermain atau berlarian. Sekarang hal itu tidak ada sama sekali, desa ini benar-benar sepi seperti tidak berpenghuni.
Fira mengingat kapan terakhir kali dia kesini. "10 tahun yang lalu" Gumam Fira. Kenapa sekarang desa ini semakin sepi? Harusnya semakin ramaikan karena penduduknya sudah bertambah? Pikir Fira.
Fira tidak mau ambil pusing dan segera mempercepat mobilnya supaya bisa cepat sampai di rumah neneknya.
Tiba-tiba ada seorang anak yang tiba-tiba menyebrang jalan. Fira terkejut dan langsung menginjak remnya kuat-kuat karena takut menabrak anak itu.
Fira melihat anak itu berhenti di depan mobilnya dengan wajah datar. Dia tidak terlihat kaget atau ketakutan sama sekali. Mata anak itu memandang kosong kearah Fira lalu pergi begitu saja.
Fira kebingungan, kenapa ada seorang anak di jalan sepi begini? Padahal ini agak jauh dari pemukiman pertama dan kedua. Tidak ingin berfikir buruk Fira pun segera melajukan kembali mobilnya.
Rumah nenek Fira terdapat di pemukiman kedua dari desa itu. Dan setelah beberapa saat akhirnya Fira pun sampai di rumah neneknya.
Suasana sepi, udara sejuk dan gaya bangunan tempo dulu yang Fira rasakan saat menginjakan kaki disana lagi.
Nenek Fira keluar dari rumahnya karena mendengar klakson mobil yang tadi sempat Fira bunyikan.
Nenek Fira menyambut cucu kesayangannya dengan senang. Fira tidak bilang pada neneknya bahwa Fira akan datang berkunjung. Jadi neneknya lumayan terkejut juga.
Kebetulan hari itu nenek sudah menyiapkan makanan favorite Fira karena nenek rindu bertemu cucunya itu dan ternyata Fira pun datang berkunjung tentu saja nenek sangat senang.
Fira bertanya mengenai desa ini. Kenapa sekarang tidak banyak orang seperti dulu. Lalu nenek menceritakan hal yang sangat mengejutkan.
Seketika Fira berhenti makan dan fokus dengan cerita nenek.
Nenek bilang desa ini telah dikutuk. Semuanya berawal dari 10 tahun lalu.
Dulu ada seorang perempuan yang dihakimi massa hingga dirinya meninggal. Fira bertanya kenapa perempuan itu sampai dihakimi massa?
Dia diduga telah berselingkuh dengan kepala desa hingga dirinya hamil muda. Istri kepala desa sangat membenci perempuan itu. Hingga akhirnya dia memfitnah perempuan itu dan mengajak massa untuk memberikan perempuan itu hukuman.
"Apa perempuan itu benar-benar berselingkuh nek?" Tanya Fira merasa ada yg janggal.
"Tidak, dia adalah gadis yang sangat baik dan ramah. Gadis itu dijebak oleh kepala desa. Lalu kepala desa bilang pada istrinya bahwa gadis itulah yang bersalah saat gadis itu meminta pertanggung jawaban karena dirinya sedang mengandung akibat ulah bejad kepala desa itu." Jelas nenek
Nenek pun melanjutkan ceritanya. "Saat diakhir hayatnya gadis itu bersumpah dan mengutuk desa ini supaya tidak karuniai keturunan dan anak-anak mereka yang berusia 10 tahun kebawah akan mati secara bersamaan. Makanya disini tidak ramai dengan anak kecil. Malahan tidak ada satu pun anak kecil di desa ini."
Mendengar penjelasan nenek membuat Fira merinding lalu Fira mengingat kejadian tadi siang saat dia hampir saja menabrak seorang anak. Kata nenek tidak ada satu anak pun di desa ini, lalu siapa anak yang hampir saja Fira tabrak tadi?
Fira penasaran dengan nasib ketua desa dan istrinya yang sudah memfitnah gadis malang itu.
Nenek bilang, ketua desa dan istrinya itu mati tidak wajar setelah beberapa hari gadis itu meninggal. Banyak warga desa yang bilang bahwa mereka berdua mati karena arwah gadis malang itu.
Sekarang warga desa menyesal karena telah menelan mentah-mentah perkataan istri kades itu dan menganiaya gadis malang itu sampai merenggut nyawanya.
Karena kejadian itu sekarang tidak ada lagi kecerian diwajah warga desa ini. Setiap hari mereka hanya dihantui rasa ketakutan, bersalah dan penyesalan. Itulah yang membuat desa ini sepi seperti sekarang.
Setelah mendengar cerita neneknya sekarang Fira paham apa yang terjadi.
"Ohh jadi begitu ya nek ceritanya, aku kasian sekali dengan gadis itu. Aku harap jiwanya bisa tenang sekarang." Senyum Fira.
"Sayangnya jiwa gadis itu tidak akan tenang sebelum gadis itu melihat semua orang di desa ini mati." Ucap nenek Fira diselingi dengan tawa menyeramkam.
"Nek? Nenek kenapa tertawa seperti itu?" Fira ketakutan melihat neneknya bertingkah aneh.
"Fira maaf nenek tadi keluar sebentar, kamu udah makan kan?" Nenek ternyata baru pulang ke rumah. Lalu sedari tadi Fira sedang berbincang dengan siapa?
_Tamat_