Happy Reading ❤
Dibelakang sekolah terdengar suara ramai-ramai dan rintihan kesakitan. Ternyata geng Aludra sedang membully seseorang lagi.
Aludra adalah singkatan dari Anesvi, Luna, Dara dan Raisa. Mereka di kenal sebagai geng tukang bully. Kenapa mereka tidak takut di hukum? Karena orangtua mereka adalah pendiri sekolah SMK ini, tidak ada yang berani pada mereka berempat jadi mereka bisa berbuat sesuka hati mereka.
Tiba-tiba dikantin seorang gadis tidak sengaja menabrak Anesvi dan menumpahkan minumannya ke seragam Anes.
Gadis itu sangat terkejut dan langsung meminta maaf pada Anes. Anes tentu saja sangat murka saat itu tapi dia ber pura-pura baik.
"Gpp, lo gk sengaja kan?" Senyum Anes.
"A.. Anes maaf aku benar-benar minta maaf aku benar-benar gak sengaja." Ucap gadis itu kelabakan karena takut anes tiba-tiba marah dan memukulnya.
"Nes baju lo kotor loh" Ucap Dara
"Iya Nes buruan bersihin dulu." Luna.
"Ohh ya kan lo buat baju gue kotor, sekarang lo harus tanggungjawab kan? " Senyum anes
"I.. Iya aku bersihin baju kamu." Gemetar gadis itu.
"Oke kita ke toilet sekarang." Anes dan teman-temannya mengajak gadis itu pergi dari kantin.
Gadis itu bingung ini bukan menuju arah toilet tapi menuju gudang yang ada di belakang sekolah.
Gadis itu bertanya dengan rasa takut kenapa anes membawanya kesini?
"Lo harus bayar perbuatan lo si*lan! " Anes langsung menjambak rambut gadis itu hingga dia merintih kesakitan sambil minta ampun pada Anes, tapi bukannya simpati Anes malah semakin senang menyiksanya.
Teman-temannya pun ikutan merundung gadis malang itu.
Karena tidak tahan gadis itu ingin melawan balik Anes dengan menjambak rambut Anes tapi Anes langsung mendorong gadis itu hingga gadis itu jatuh dan kepalanya terbentur batu dengan keras. Mengalir darah segar yang sangat banyak dari kepala gadis malang itu.
Dara mengecek nafas gadis itu masih bernafas atau tidaknya dan ternyata gadis itu tidak bernafas. "Dia mati" Ucap dara.
Anes syok karena telah kehilangan kendalinya dan tidak sadar telah mencelakakan gadis itu.
Teman-teman anes pun sama terkejutnya.
Karena takut ketahuan mereka membuang jasad gadis itu ke dalam sumur tak terpakai yang ada disana lalu menutup sumurnya dan menimbunnya dengan banyak ranting dan daun.
Setelah melakukan itu mereka kembali ke kelas seperi biasa, seperti tak terjadi hal apapun.
"Setelah membunuh orang, kalian masih bisa tertawa seperti itu ya?" Ucap seseorang yang memperhatikan Aludra sedang tertawa bersama di kantin.
Besoknya
Seluruh siswa sekolah dikejutkan dengan penemuan sesosok jasad yang wajahnya sulit dikenali karena hancur, di depan perpustakan. Darah berceceran di mana-mana.
Anes bertanya ke mana Raisa? Tumben dia belum datang ke sekolah.
Lalu Luna datang dan memberitahu kejadian heboh di depan perpustakaan. Mereka bertiga pun pergi ke arah perpus untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"D.. Dia memakai gelang sama seperti kita?? A.. Apa itu Raisa? " Terkejut Luna saat melihat jasad itu hendak dibawa petugas ambulan dan tangan jasad itu keluar dari kain penutup memperlihatkan pergelangan tangannya yang memakai gelang sama dengan geng Aludra.
"Gak mungkin, kemarin Raisa masih sama kita kan?" Anes terkejut.
"Iya, kemarin Raisa bilang harus pulang mendadak karena ada keperluan keluarga, dia bilang itu lewat chat." Ucap Dara.
Mereka pun menghubungi ponsel Raisa tapi nomornya tidak aktif.
Guru pun mengumpulkan seluruh siswa dan memberitahu bahwa teman mereka yang bernama Raisa Adriani telah meninggal dunia.
Geng Aludra langsung syok mendengar pengumuman itu.
"Jadi benar yang tadi itu Raisa?? " Pikir mereka bertiga ketakutan.
Seminggu pun berlalu. Sekarang geng Aludra hanya tinggal 3 orang karena Raisa sudah mati dengan cara mengerikan dan pelakunya masih belum diketahui.
"Ehh aku ke toilet dulu ya" Ucap Dara
"Iya dar." Ucap Luna.
30 menit pun berlalu.
"Ehh kok Dara lama banget ke toiletnya?" Anes
Iya gak biasanya." Luna
Sampai waktunya istirahat Dara belum kembali ke kelas juga.
Lalu terdengar ada heboh-heboh diluar.
Semua murid langsung berhambur keluar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada yang bunuh diri di halaman belakang!" Ucap seorang siswa membuat semua orang panik.
Anes dan Luna langsung mendatangi halaman belakang begitu juga murid lainnnya yang penasaran.
Betapa terkejutnya Anes dan Luna. Tubuh Dara tergantung di pohon dengan tali melilit di lehernya dan matanya melotot. Orang yang melihatnya langsung bergidig ketakutan.
Ini kejadian kedua murid sekolah itu mati tidak wajar.
Anes berfikir kenapa semua ini terjadi pada teman-temannya? Apa ada orang yang dendam pada mereka? Dan ingin membalas dendam dengan cara membunuh?
Kasus Anes membunuh gadis itu juga belum terungkap polisi. Orangtua gadis malang itu sudah lapor bahwa putrinya menghilang dan polisi sedang mencari keberadaan gadis itu.
"Luna kita harus berhati-hati, sepertinya Dara bukan bunuh diri tapi dia dibunuh sama seperti Raisa. Pelakunya pasti punya dendam pada kita" Bisik Anes kepada Luna
Luna hanya diam saja karena merasa sangat ketakutan. 2 temannya sudah mati tidak wajar, jangan-jangan Luna adalah target selanjutnya. Begitu pikir Luna.
"Nes a.. Aku gak mau sekolah dulu untuk sementara waktu. Aku takut pembunuh itu akan membunuh ku juga." Ucap Luna sambil gemetar ketakutan.
"Luna sadarlah! Jangan ketakutan seperti itu. Justru kita harus tetap bersama jangan sampai terpisah" Ucap anes.
"Sekarang ayo kita pergi ke kelas." Anes menenangkan Luna.
Jam istirahat pun tiba.
"Kak kata kak Anes ditunggu di halaman belakang" Ucap seorang siswi
"Siapa kamu? Apa benar anes yg menyuruhmu?"
"Iya kak, kak anes menitipkan gelang ini katanya jika kakak tidak percaya berikan saja gelang ini" Siswi itu memberikan gelang persahabatan Aludra. Luna menerimanya.
"Oke kalo begitu" Luna mengambil gelang itu lalu pergi menemui anes di halaman belakang sekolah.
Luna tidak merasa curiga sama sekali karena gelang itu memang milik anes, ada nama masing-masing di gelang itu.
"Loh Luna kemana? Udah bel masuk juga. Tadi aku lupa gak ngasih dia kabar harus ke kantor dulu ngerjain ulangan susulan" Anes mencari Luna.
Lalu ada pesan masuk ke HP Anes.
"Anes aku digudang! tadi ada yang ngunciin aku disini." Isi pesan itu dari Luna.
Anes terkejut dan langsung menuju gudang. Setelah sampai dia langsung mengetuk-ngetuk pintu gudang berulang kali tapi tidak ada jawaban sama sekali. Lalu anes menelepon no Luna tapi tidak kunjung diangkat.
Anes berjalan ke depan kearah kolam tak terpakai yang ada disana. Dia terkejut Luna sudah mati mengambang di kolam itu.
Dari arah belakang jlebb ada yang menusuk perut Anes.
HP di tangan aneh seketika terjatuh dan dia merasakan sakit yang luar biasa. Darah mengalir dari perutnya.
Uhukk anes memuntahkan darah dari mulutnya.
Orang yang menusuk anes langsung menyered tubuh anes ke depan sumur. Anes sempat berontak tapi tidak cukup kuat melawan tenaga orang itu.
"Si.. Siapa kau sebenarnya? " Ucap anes terbata.
"Aku? Aku hanya orang yang membalaskan dendam adikku yang telah kau bunuh!" Ucap orang dibalik topeng itu.
"Aku mencari-cari adikku ke mana-mana dan saat datang ke taman belakang aku melihat kau membunuh adikku dan melemparnya ke dalam sumur. Dari saat itulah aku bertekad akan membalaskan dendam adikku pada kalian berempat. Rencana balas dendam ku sudah berakhir rupanya." Orang itu terkekeh senang.
"Sekarang bergabunglah dengan adikku si*lan!" Orang itu memasukan tubuh anes ke dalam sumur.
Saat sampai di dasar sumur anes benar2 sudah tidak berdaya karena terbentur dinding sumur dan darahnya banyak keluar. Anes melihat jasad gadis yang telah ia bunuh yang sudah membusuk dan tidak berbentuk di depannya.
"Ma.. Maaf" Ucap anes sebelum akhirnya dia pun menutup mata menyusul gadis itu dan teman-temannya pergi.
_Tamat_