Happy Reading❤
Ayudya Lestari adalah seorang gadis sederhana yang disukai banyak orang karena kepribadiannya yang sangat baik dan ramah pada semua orang.
Saat ini Ayu sudah menginjak kelas 12 SMA ujian kelulusannya sudah di depan mata. Ayu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ayu pun sudah belajar dengan giat supaya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
Lalu waktu pun tidak terasa begitu cepat sekali berlalu. Ujian sudah ada di depan mata. Inilah yang akan menyatakan semua murid kelas 12 lulus atau tidak di semester akhir ini.
Hingga tiba waktunya kelulusan, ayu sangat bangga karena bisa lulus dengan nilai memuaskan.
Setelah dari SMA Ayu sangat ingin melanjutkan belajarnya ke bangku kuliah, ia tahu keluarganya tidak akan mampu membiayai kuliahnya. Tapi Ayu sudah bertekad, hingga Ayu pun mengambil jalur beasiswa dan berkat usaha dan kerja kerasnya Ayu diterima di salah satu universitas bergengsi di kota.
Saat berkuliah tentu Mahasiswa baru atau sering disebut Maba akan menjalani kegiatan MOS dan hari itu Ayu akan menjalani MOS hari pertama di kampusnya.
Karena Ayu terlalu lama menunggu angkutan umum datang Ayu pun terlambat masuk kampus.
"Hari ini salah satu teman kalian terlambat ke kampus jadi sekarang kalian semua dihukum!" Ucap Ketua pelaksana MOS yaitu Hans Radeya Putra.
Ayu tidak Terima, kenapa harus semuanya kena hukuman? Padahal jelas-jelas ini kesalahan dia.
"Maaf kak, yang bersalah lah yang harus di hukum. Kenapa kakak menghukum mereka juga?" Jawaban Ayu membuat semua orang terkejut.
Pasalnya Hans adalah senior yang paling ditakuti se Universitas, tidak ada yang berani membantah ataupun sekedar menjawab ucapan Hans. Tapi Ayu dengan santainya menjawab Hans.
Semua senior dan maba yang ada disana saling berbisik-bisik membicarakan Ayu yang berani sekali membantah perintah Hans.
"Dia gak tahu Hans siapa apa??" Terkejut Maya.
"Sudah pasti Hans murka karena ada orang yang berani membantahnya." Ucap Alfred wakil ketua.
Hans berjalan ke arah Ayu "Katakan sekali lagi?" Ucapnya
"Ini salahku kenapa kakak menghukum mereka juga?" Ucap Ayu.
"Wah bukan main, gadis itu benar-benar sudah gila" Maya menggelengkan kepala sudah tahu hal apa yang akan menimpa gadis malang itu.
"Oke, perhatian semuanya! Mulai detik ini gadis ini resmi menjadi mainan se kampus!" jelas Hans.
Sementara Ayu kebingungan, apa maksud seniornya itu?
"Selamat menikmati jadi boneka kampus!" Senyum Hans lalu pergi.
Sudah beberapa hari di kampus banyak senior yang memperlakukan Ayu semaunya. Dimulai dari membelikan mereka makan, disuruh bersih-bersih ruangan atau barang pribadi mereka, dan hal lainnya. Bisa dibilang Ayu jadi pesuruh seluruh senior di kampusnya.
Ayu tidak bisa menolak karena jika ia menolak Hans mengancam akan mencabut beasiswa nya secara paksa. Kenapa Hans bisa melakukan itu? Karena keluarga Hans adalah orang yang memiliki saham tertinggi di
universitas itu.
Ayu sedang duduk sambil menyenderkan tubuhnya di kursi taman Univ.
Rasanya badan Ayu cape semua karena tidak berhenti disuruh ini itu kecuali saat belajar.
Saat Ayu membuka matanya yang terpejam ia terkejut karena ada seseorang duduk disebelahnya.
Orang itu memberi Ayu sebotol air mineral. Dengan ragu Ayu mengambilnya sambil mengucapkan terimakasih.
"Jangan menyerah aku tahu kamu kuat dan berani." Ucap orang itu lalu pergi
Ayu kebingungan sebenarnya siapa orang tersebut? Kenapa dia sangat baik dengan dirinya? Sementara senior lain hanya menindas nya.
Saat ingin membuka tutup botol minumnya Ayu menemukan secarik kertas tertempel di botolnya.
Ayu lalu membacanya. "Pohon yang sering diterpa angin akan memiliki akar yang kuat juga untuk dirinya bisa bertahan dari terpaan angin yang hadir."
Seketika semangat Ayu kembali berkobar, ia tidak ingin menyerah dengan keadaannya. Masuk kampus ini adalah cita-citanya dari dulu. Ayu tidak bisa menyerah segampang itu.
Ayu mendatangi Hans yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di kantin Univ.
"Wahh ada apa gadis itu datang kemari?" Ucap Alfred saat melihat Ayu sedang berjalan ke arah meja mereka. Hans pun ikut melihat kearah pandang Alfred.
"Senior Hans, aku datang kesini untuk menantang senior." Ucap Ayu tanpa gentar sedikitpun.
Sementara Hans dan teman-temannya merasa terkejut dengan ucapan Ayu barusan.
"Wahh wahh ternyata nyali lo besar banget ya, pake nantangin Hans segala" Sindir Maya.
"Bagaimana senior? Jika aku menang senior jangan pernah ganggu aku lagi." Tambah Ayu tanpa memperdulikan perkataan Maya. Sementara Maya merasa kesal karena Ayu tidak meresponnya.
"Jika kau kalah maka bersiaplah untuk menjadi pesuruh kampus ini selamanya! " Hans angkat bicara.
"Baik aku setuju." Tanpa pikir panjang Ayu mengiyakan jawaban Hans.
"Kau beneran sudah gila ya?!" Tidak percaya Alfred.
Ayu memberikan Hans tantangan untuk bekerja sukarela di sebuah panti asuhan selama satu bulan, lalu setelah satu bulan biar anak-anak panti yang akan memutuskan siapa pemenangnya.
Awalnya Hans sempat menolak tapi Ayu berhasil meyakinkan Hans dengan bilang "Aku kira senior tidak takut apapun ternyata senior takut kalah olehku, makanya senior menolakan?." Sontak saja Hans langsung menerima tantangan itu karena tidak mau dianggap pengecut.
Dan inilah hari pertama Ayu dan Hans bekerja sukarela di sebuah panti asuhan dekat pusat kota bernama Panti asuhan Mutiara Bunda.
Sekelompok anak kecil datang menghampiri mereka berdua. Ayu menyambut mereka dengan senyuman hangat sementara Hans hanya menunjukan ekspresi kesal. Otomatis saja anak-anak takut padanya dan langsung berlari ke arah Ayu.
"Jangan takut ya adik-adik kakak itu baik kok, cuma mood nya aja lagi gak bagus." Senyum Ayu menjelaskan pada anak-anak.
"Kakak cantik paling baik, kakak itu jahat." Ucap salah seorang anak. Membuat Hans membulatkan matanya terkejut.
"Kau bilang aku jahat? Hahaha lucu sekali anak zaman sekarang sudah bisa tahu kepribadian orang lain hanya dengan sekali lihat ya?" Hans tertawa
"Kak takut" Ucap anak-anak sambil bersembunyi dibalik tubuh Ayu.
"Senior mereka hanya anak-anak jangan menakuti mereka seperti itu." Ucap Ayu
"Terserah kau saja aku mau pulang, masa bodoh dengan tantangan bodoh itu." Hans berniat pergi tapi perkataan Ayu selanjutnya membuat Hans berpikir kembali. "Jadi senior mengaku kalah? Kalau begitu aku pemenangnya?"
"Apa kau bilang? Tentu saja bukan! Aku masih belum kalah ingat itu!" Kesal Hans.
"Lalu kenapa senior mau pergi? Pergi sebelum 1 bulan bekerja disini tandanya orang itu kalah, sesuai peraturan." Senyum Ayu.
"Gadis ini tidak bisa diremehkan" Pikir Hans.
Hans pun masuk duluan ke dalam panti, dari tadi mereka hanya mengobrol diluar. Lalu Ayu pun mengajak anak-anak lainnya masuk ke dalam panti.
Sebelum itu mereka sudah bilang pada pengurus panti akan bekerja secara suka rela di panti selama 1 bulan. Dan pemilik panti sangat menyambut baik kedatangan mereka berdua. Pemilik panti bilang bahwa mereka kekurangan pengurus untuk mengurus anak-anak panti disana karena kendala biaya.
Kedatangan Ayu dan Hans seperti sebuah angin segar bagi panti mereka.
Pekerjaan Ayu dan Hans yaitu mengurus anak-anak panti seperti mengasuh, memandikan, memberi makan, bersih-bersih area panti dan bermain dengan anak panti.
Bagi Ayu semua itu adalah kegiatan yang menyenangkan tapi berbeda dengan Hans. Rasanya Hans seperti masuk ke dalam neraka. Karena menurutnya anak-anak ini susah diatur, berisik dan menyebalkan.
Baru sehari tapi Hans sudah sangat muak berada di panti apalagi 1 bulan begitu pikir Hans.
Hans terheran melihat Ayu yang sangat dekat dengan anak-anak panti seolah dia adalah ibu mereka. Ayu tak pernah berhenti menebarkan senyumannya kepada siapapun. Mungkin itu salah satu yang menjadi point plus Ayu disukai anak-anak panti selain ramah, sopan dan juga baik pada siapapun.
Seminggu, dua minggu pun berlalu begitu saja. Hans benar-benar mendapatkan banyak pelajaran selama dia bekerja di Panti. Contohnya bisa merasakan betapa sulitnya orangtua dalam mendidik seorang anak supaya bisa memiliki prilaku baik. Karena tahap anak-anak adalah tahap pembentukan karakter awal mereka. Jadi peran orangtua sangatlah penting ditahap ini.
Seorang anak memberikan Hans sebuah kertas. Hans lalu membukanya. Disana terdapat sebuah gambar khas anak kecil. "Ini kakak jahat terus ini kakak cantik terus ini aku. Bagus gak kak gambarnya?" Ucap anak itu dengan polosnya.
"Kenapa nama kakak, kakak jahat? Apa selama ini kakak selalu jahat ya sama kalian?" Ucap Hans dengan lembut.
"Engga kok, habisnya kakak jarang senyum kaya kakak cantik." Jawab anak itu lagi dengan polosnya.
Hans terkekeh dengan jawaban anak itu. "Kakak jarang senyum bukan berarti kakak orang jahat kan?" Senyum Hans.
"Iya, kalo begitu sekarang nama kakak jadi kakak baik deh." Senyum anak perempuan itu.
"Beneran nih?" Senyum Hans lagi
"Iya beneran nanti aku kasih tahu teman-teman aku kalo nama kakak sekarang kakak baik ya?"
"Waahh terimakasih Zara" Hans memeluk anak perempuan itu.
"Sama-sama kakak baik." Zara menepuk-nepuk pelan pundak Hans.
Sementara itu Ayu yang melihatnya sangat senang, akhirnya Hans tidak sekaku dan semenyebalkan dulu. Hans sekarang sudah bisa dekat dengan anak-anak panti tanpa menjaga jarak lagi.
Tiga minggu pun berlalu begitu saja waktu tantangan tinggal 1 minggu lagi. Seminggu itu Hans sudah sangat dekat dengan anak-anak panti. Hans sering mengajak mereka jalan-jalan dan makan makanan enak dengan mobilnya. Anak panti tentu saja sangat senang.
Sementara itu teman-teman Hans merasa aneh dengan perubahan sikap Hans yang sangat drastis. Biasanya jika diajak nongkrong Hans akan ikut tanpa banyak alasan tapi sekarang jika diajak nongkrong alasan Hans pasti karena panti dan panti lagi. Sebelumnya Hans tidak pernah memperdulikan hal lain selain teman-temannya. Mereka berpikir apakah Hans sekarang sudah berubah?
"Kebakaran!!" Salah satu anak tiba-tiba berteriak ada kebakaran. Kebetulan pengasuh panti tidak ada karena sedang ada kepentingan, sementara Ayu sedang ada di salah satu kamar anak panti yang letaknya agak jauh dari tempat kebakaran. Hans belum datang saat itu karena belum selesai mata kuliahnya.
Ayu terkejut karena mendengar suara anak-anak berteriak.
Lalu Ayu pun keluar kamar sambil bertanya ke salah satu anak ada apa.
"Kak kebakaran! Dapur kita kebakaran" Ucap anak itu. Ayu sangat terkejut.
"Kenapa bisa kebakaran?" Tanya Ayu
"Tadi kami lapar tapi karena tidak mau ganggu kakak kami masak sendiri. Terus lap tangannya tidak sengaja terbakar lalu api membesar." Jelas anak itu.
"Ya ampun lain kali panggil kakak saja ya, ini sangat berbahaya. Apa di dapur tidak ada orang?" Khawatir Ayu
"Tidak kak."
Saat itu ada sebuah telepon masuk dari Hans. Ayu pun langsung mengangkatnya. Hans saat itu ingin bilang bahwa dia mungkin telat ke panti nya. Tapi karena panik Ayu bilang pada Hans untuk segera memanggil pemadam kebakaran ke panti karena dapur panti sedang kebakaran. Hans saat itu panik. Ia langsung saja izin meninggalkan kelas lalu langsung menuju panti, tak lupa juga Hans menelpon pemadam kebakaran.
Saat sampai di panti bersama pemadam kebakaran Hans langsung mengecek keadaan mereka.
"Ayu semuanya baik-baik saja kan tidak ada yang terluka?" Khawatir Hans.
"Iya kak semuanya baik-baik saja." Ucap Ayu.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja." Lega Hans.
Ayu menjelaskan apa yang terjadi pada pemadam kebakaran, pemadam itu bilang syukurlah Hans menelepon tepat waktu jika tidak api akan cepat merambat ke tempat lain.
Mereka semua berterimakasih pada petugas damkar yang sudah dengan cepat dan sigap memadamkan api.
Lalu hans pun nelepon seseorang untuk memperbaiki dapur yang rusak karena telah di lalap api. Semuanya sudah aman terkendali sekarang.
Tidak terasa sudah 1 bulan mereka bekerja di panti. Banyak sekali kenangan yang mereka dapatkan. Senang, sedih semuanya bercampur jadi satu.
Ini saatnya pemilihan siapa pemenangnya oleh anak-anak panti, lalu Zara maju dan memegang masing-masing tangan Ayu dan Hans supaya berdekatan kemudian semua anak panti mengelilingi Ayu dan Hans sambil memeluk mereka berdua.
"Oke aku anggap kamu menang, jangan khawatir anak-anak lain tidak akan ada yang berani ganggu kamu lagi di kampus." Jelas Hans.
"Terimakasih juga untuk 1 bulan kebelakang, aku jadi sadar bahwa hidup itu bukan melulu tentang keegoisan karena kita hidup bukan cuma untuk diri kita sendiri tapi juga untuk membantu orang lain." Senyum Hans
Ayu senang Hans bisa berubah menjadi lebih baik sekarang. Sekarang dia bukan Hans yang angkuh dan egois seperti dulu lagi. Misi Ayu untuk mengubah sikap Hans berhasil.
_Tamat_