Iqbal duduk di bangkunya, mengeluarkan buku kumpulan soal Fisika sebagai penghibur hatinya yang sedang gundah seperti saat ini. Rian dan Glen menatap sahabatnya itu. Sedikit prihatin, dan kasihan. Bagi mereka ini untuk pertama kalinya melihat Iqbal segusar ini.
"Lo habis kemana tadi?" tanya Glen basa-basi.
Tak ada jawaban dari Iqbal, pria itu fokus menghitung dan menyelesaikan jawaban soal nomer 5 yang ada di buku. Mencoret-coret dengan bolpoinnya.
"Nemuin Acha?" tanya Glen lagi.
Glen menepuk bahu Iqbal pelan, membuat pria itu menghentikan aktivitasnya.
"Lo keterlaluan tadi bal, Dia perempuan, lo harus jaga bicara lo. Jangan sampai lo kena karma" ucap Glen dramatis.
Iqbal dan Rian menatap Glen dengan raut serius, tumben-tumben nih bocah alur pembicaraanya di jalan lurus!. Glen menepuk-nepuk bahu Iqbal.
"Karma itu lebih kejam daripada Kurma, Bal!"
"Apaan sih!" desis Iqbal dan Rian bersamaan. "Nggak jelas!"
Glen nyengir tak berdosa. Setidaknya ia berhasil menghibur kecanggungan dan keheningan keadaan mereka bertiga. Glen memutar kursinya, menghadap ke Iqbal. Ia mengeluarkan satu kertas, menyodorkannya ke Iqbal.
"Apa?" sahut Iqbal dingin, tak mengerti lagi kemauan teman satunya itu.
"Lo tau ini apa?"
"Kertas-lah!" jawab Iqbal mulai senewen dengan tingkah Glen.
"Lo jangan muter-muter deh Glen! Lo mau ngomong apa? Maksud lo apa? Gue ikut bingung!" tambah Rian tidak sabar.
Glen menghela berat, kedua temannya ini memang tipe pria yang kurang bersabar! Glen membuka lebar-lebar kertas putih berukuran A4 yang kosong tanpa tulisan sedikitpun itu.
"Kertas ini, ibaratkan hati lo bal! Putih bersih tak ternodahi!"
"Hati lo masih bersih tanpa pengalaman cinta sedikitpun! Dan tiba-tiba ada seorang gadis datang, mencoret-coret kertas ini dengan sebuah kisah yang indah, gadis itu memberikan sebuah cerita yang baru di kertas ini lebih tepatnya di hati lo!"
"Gadis itu adalah Acha!" tukas Glen dengan semangat membara.
Rian menatap Glen, Iqbal menatap Glen, mereka berdua menatap sahabatnya itu sangat lama.
"Jadi? Intinya apa?" tanya Rian dan Iqbal bersamaan.
"Mmm.." Glen bergumam pelan, berpikir dengan wajah bingung.
"Biarkan Acha memberikan coretan indah di hati lo!"
"Lo tau darimana kalau dia akan memberikan coretan indah? Kalau coretannya buruk?" tanya Rian dan Iqbal bersamaan. Entah kenapa mereka berdua jadi bisa telepati seperti ini.
Glen menatap Iqbal dan Rian bingung sekaligus terkejut.
"Gue tadi sempat main di kelasnya Acha, gue lihat tulisannya Acha di papan tulis bagus kok" jawab Glen seenak mulutnya.
"Gue yakin, Acha akan memberikan coretan yang indah, karena tulisan tangan dia bagus!"
PLAAAKK
Rian tak segan memukul Glen dengan buku tebal yang ada di kolong mejanya. Niatnya memuji Glen yang sudah tobat dan mengambil jalan lurus, harus ia tarik lagi. Otak pria ini mungkin selamanya tak bisa dirubah! Selalu berbelok belok tanpa arah!
"Otak lo kebanyakan cireng mbak wati kayaknya!" cerca Rian sembari geleng-geleng.
"Kan gue hanya mengibaratkan!" protes Glen tak terima.
"Tapi nggak nyambung" serempak Iqbal dan Rian bersamaan.
"Lo nggak usah sok bijak lagi! Mulut lo kayak jawaban soal matematika si Siti!" tukas Rian gemas.
"Maksudnya?"
"Ngawur semua! Salah semua!" teriak Rian kembali menabok kepala Glen.
Glen menatap Rian ganas, ide besar dan cemerlang tergambar di otaknya. Glen menatap Rian dengan picik. la kemudian mengedarkan pandanganya ke seluruh kelas, mencari sesosok gadis.
"SITI!" panggil Glen dengan keras, membuat semua anak sekelas menatapnya.
Gadis yang duduk nomor 3 di barisan ujung menoleh ke Glen. Melihat Glen dengan bingung.
"KATA RIAN DIA SUKA SAMA LO!" teriak Glen tanpa ada penyaringnya.
Rian memukul kepala Glen dengan dua tumpukan buku tak tanggung-tanggung.
"Mulut lo babi! Gue sunat lagi juga lo!" kesal Rian merasa dikerjain oleh Glen.
"KATA RIAN I LOVE YOU, FOREVER!!!" teriak Glen tak mau menyerah. la membiarkan saja Rian terus memukulnya.
Rian merasakan wajahnya memanas, sekali lagi Glen mengerjainnya dan mempermalukannya di depan anak-anak kelas!.
Sedangkan gadis yang bernamakan Siti hanya geleng-geleng saja, tidak peduli dengan yang dilakukan oleh Glen dan Rian. la tahu bahwa dua teman kelasnya itu hanya bercanda saja. Siti kembali ke aktivitasnya mengobrol dengan teman-teman perempuannya.
Iqbaal menatap Rian.
"Lo suka sama Siti?" tanya Iqbal polos.
Rian membalas tatapan Iqbaal dengan tak percaya.
"Lo mau gue pukul juga pakai buku?" gertak Rian tak bisa meredahkan amarahnya.
"Gue cuma tanya aja. Lagian lo cocok kok sama Siti" goda Iqbal tertawa pelan.
"Nggak lah! Gue udah suka sama cewek lain!"
Glen dan Iqbal terkejut dengan pengungkapan Rian. Sudah sangat lama mereka tidak mendengar kabar Rian menyukai seorang
"Lo suka sama siapa?" tanya Glen penasaran.
Rian memundurkan tubuhnya, tatapan kedua sahabatnya sedikit menyeramkan.
"Ada... Cewek cantik" jawab Rian gugup.
"Siapa? Anak Arwana?" tanya Glen terus mendesak.
"Hmmm" angguk Rian.
"Siapa?" tanya Glen semakin penasaran.
Rian tersenyum penuh arti.
"Rahasia! Nanti lo juga tau sendiri. Gue lagi mau pedekate sama dia!"
"Cihh!! Nggak asik!" cerca iqbal kembali menjauh.
Rian menatap Iqbal tajam, mendesis pelan.
"Kayak gue nih gentle! Suka sama cewek duluan! Nggak nunggu dikejar-kejar cewek dulu!"
"Laki apa enggak sih lo! Ragu gue sama jenis kelamin lo!" tukas Rian dengan tatapan remeh.
Iqbaal mendengus, tak terima dengan ucapan Rian.
"Mau gue bukain disini?" tantang Iqbal bersiap membuka sabuk celananya.
"Emang lo berani?" tantang Rian balik.
"Berani!" sahut Iqbal tak mau kalah
"Cepat buka!"
Glen menarik dua buku dari kolong mejanya, tanpa segan memukul kepala Iqbaal dan Rian bersamaan. Ternyata tidak hanya dirinya saja yang sudah gila dan keracunan dunia vulgar!.
"Sudah! Kasihan banyak anak dibawah umur yang baca cerita ini"
"Sudah sudah! Jangan berteman! Itu tidak baik!"
"Mari kita berpikir jernih, nyatanya hidup tidak seperti Drama korea. Yang unyu-unyu manja syalalalala."
"Menurut kalian semua ucapan gue ini tidak penting! Nyatanya kalian semua tetap baca kalimat ini sampai akhir titik dua"
"Dan sekarang kalian semua bingung apa maksud gue? Jadi silahkan minum Sprite!"
"Sprite nyatanya nyegerin!"
Seketika bumi berputar tanpa henti, petir menyambar tiba-tiba. Glen tersenyum tak berdosa. Iqbal dan Rian bersiap mengangkat kursi mereka untuk dihantamkan ke kepala pria ini! Sungguh tidak jelas!
"LO NGGAK WARAS GLEN!!"