Aku natali, umurku 18thn, tidak begitu cantik dan tidak jelek pula. Sejak SMA aku sudah beberapa kali mengalami perjodohan, yang paling berat saat aku akan melaksanakan ujian.
Aisss tidak bisa tidur, tidak mampu belajar, hanya terfikir kalau aku bakal nikah dini ngapain aku sekolah? oh god,, tolong aku. Hingga aku dapan pencerahan dari guru agamaku, beliau bilang kalau menikah kita harus punya bekal. Bekal dalam pernikahan bukan saja harta, tapi mental dan ilmu.
Harta jangan di tanya, cowok itu pengusaha. Mental pasti belum siap dari sisiku, dan ilmu pasti kurang karena belum cukup pengetahuanku untuk bekal menjadi istri yang shalehah.
Entahlah bagaimana nasibku ini selanjutnya, ku putuskan untuk belajar dan lulus terlebih dahulu, baru aku bisa fokus memikirkan perjodohan itu.
Waktu ujian telah berlalu, kini aku lulus dan siap untuk menghadapi ujian yang sesungguhnya. Ku tatap cermin yang menampakkan wajahku, ku tampilkan senyum terpaksa untuk menemua calonku.
"Natali, apa kau masih lama? mas siddiq sudah menunggumu" ibuku memanggil, kumantapka hati dan ku ucap berulangkali jawaban yang akan kuberikan nanti.
"Bismillahirrahmanirrahim.. Aku mohon pada-Mu ya Allah, perumdah lisanku mengucapkan apa yang terbaik untuk keputusanku dalam beribadah kepada-Mu, amin." ucapku lirih, lalu kulangkahkan kaki menemuinya.
setelah berbincang sejenak, kini tiba ke inti tujuan mas siddiq datang. Keluarga harap-harap cemas pada jawaban yang akan kusampaikan.
"dek Natalin, mas datang kesini dengan niat baik untuk meminang adek, dan menjadikan adek istri mas, mas harap adek bisa mengarungi kehidupan ini bersama mas, mas harap adek bersedia menjadi istri mas" ujarnya dengan lembut agar lebih tenang ku dengar mungkin.
"saya sangat bersyukur mas mau bersilaturahmi dengan keluarga saya, mas tahu kan saya baru lulus SMA, harapan saya masih panjang, saya juga masih labil, ilmu saya masih kurang untuk mengarungi bahtera rumah tangga, saya ingin belajar lebih dalam dulu, agar saat saya menikah nanti saya sudah matang mental dan ilmu. emm.. jadi saya mohon maaf belum bisa menerima niat baik mas, saya..."
"mas faham dek, adek masih takut untuk menikah" ucapnya memotong perkataanku, kubiarkan dulu dia meyakinkanku, kupastikan aku tidak akan menikah dini.
setelah panjang lebar mas siddiq menjelaskan, aku sambung kembali perkataanku. Mungkin mas siddiq sudah sangat faham penolakanku, hanya saja dia tetap ingin menikahiku.
"saya mohon maaf mas, untuk saat ini saya belum bisa, saya ingin melanjutkan kuliah saya, saya ingin menjadi contoh adik saya. saya berharap mas mengerti, saya tidak menolak mas, hanya saja sekarang ini saya belum bisa, kalau kita memang berjodoh pasti jalan akan tercipta menuju ke sana, saya hanya ingin fokus mengejar cita-cita dan membahagiakan orang tua dulu." ucapku perlahan
"kalau abah tidak memiliki biaya untuk kuliahmu bagaimana nak?" deg, jantungku berdetak kencang saat abah mengatakan itu.
"nata akan bekerja dulu bah, kalau tidak nata akan berusa mencari beasiswa untuk membantu nata saat kuliah." jawabku mantap.
Ahirnya, setelah percakapan alot nan panjang tibalah di penghujung keputusan, aku kini hanya milik orang tuaku, aku menangis terisak di kamar dengan segala syukur.
**###**
Kini hari-hari kulalui dengan penuh semangat, saat ini umurku 22thn, aku sudah hampir menyelesaikan perkuliahanku, di jurusan psikologi. Aku buktikan pada abah dan mama, aku mendapat beasiswa selama 4thn untuk kuliah di Universitas xx, aku juga membantu di kantin kampus untuk menunjang kehidupanku di koskosan. Aku bukan anak yang pandai, tapi nilaiku lumayan, kini di semester 7 ipk ku mencapai 3.83, itu sangat menakjubkan, kujalani hariku dengan berbagai lesibukan tanpa malas.
Tiba saatnya aku KKN (kuliah kerja nyata) di suatu desa dengan teman baruku berjumlah 15 orang.
"Hai nat," sapa radit teman kknku jurusan ilmu hukum.
"hai dit"
"apa kkn ini terasa berat bagimu? sepertinya beberapa hari ini kau jarang berkumpul saat sengang". kini dia duduk disebelahku, dia tampan, bagiku pemandangan segar bisa setiap hari menatapnay, rejeki minallah. hehe
"tidak juga, hanya saja aku memang suka sendiri." jawabku singkat. beberapa waktu kita hanya berdiam diri, dan radit membuka percakapan kembali.
"apakah dia orang yang tertutup? kurasa tidak. aku perhatikan saat di kantin, dia ceria, termasuk gampang bergaul, dia bisa bercanda saat dengan para pelanggan kamtin yang kebanyakan beda jurusan dengannya" pergulatan batin radit yang tentu saja natalin tak mendengarnya.
"eghm, nat, setahu ku kau.... ah tidak. ayuk aku masuk dulu"
"hei dit, selesaikan dulu ucapanmu."natalin
"ah tidak, kau saja hanya diam, sudahlah, aku ada panggian alam, apa kau mau ikut?" ucapnya dengan menaik turunkan kedua alis meledekku.
"gila kau, tidak, terimakasaih banyak dit, haha".
Sejujurnya aku ada masalah berat saat ini, masalah yang dulu terulang lagi, mungkin ini jauh lebih berat, aku ralat perkataanku bahwa yang dulu adalah terberat. huffff
Kulangkahkan kaki menuju posko kknku, disini di rumah pak lurah desa xx, kami satu tempat dengan anak cowok, tapi tentusaja beda kamar. Para cewek di lantai atas, para cowok di lantai bawah, kita juga tinggal serumah dengan keluarga pak lurah, jadi aman ya sobat.
Beliau bapak lurah yang sangat baik, untuk urusan makan pembantu yang menyiapkan, kami hanya iuran untuk berbelanja, makanan kamipun disiapkan sama dan satu meja bersama keluarga pak lurah, serasa keluarga baru di sini. Aku duduk sambil meminum jus jerukku di teras, tak lama hpku berdering, panggilan dari abah. Aku tau apa yang akan di bahas, jadi kuputuskan pindah ke kamar agar aman.
Lama aku mengobrol, hingga tak kusadari air mataku menetes, aku cepat usap agar tak ada yang melihat, namun apa daya, tetesan itu lebih sering muncul dan kini berubah menjadi anak sungai. saat panggilan berahir, air mataku belum mau berhenti, hingga ema teman baikku mwndekat dan memelukku.
"ada apa nat?" tanyanya lirih, aku belum sanggup menjawab, dan hanya terus menangis.
Hingga sesaat tangisku reda aku mulai berbagi kisah dengan ema.
"ceritakan saja nat, kalau bebanmu beray, tugasmu akan terbengkalai di sini" ucapnya menennangkanku, aku ambil nafas panjang dan mulai bercerita.
"abahku, abah memberi kabar, ada seorang laki laki yang akan meminangku, aku belum siap ema. abah bilang, mas andi itu mengutarakan niatnya kerumah dan ingin segera melamarku. Aku tidak mau ma, aku bulum siap." entahlah kapan aku siap, serasa aku masih ingin menikmati masa sendiriku.
"ya tinggal tolak aja lah nat,"
"gak segampang itu ma, abahku bilang mas andi melamarku karena amanat dari ayahnya, ayahnya wafat seminggu yang lalu, saat sebelum meninggal beliau berpesan pada mas andi untuk menikahi aku ma, jadi aku haris gimana? ini amanat ma? tapi aku gak bisa, gak bisa menikah kalau hamya sekedar karena amanat. Bisa jadi saat amanat sudah terlaksana pernikahan bisa saja hancur, yang terpentingkan amanat sudah tersampaikan. Aku takut ma.. hiks hiks" aku kembali menangis tersedu dipelukan ema, saat ini aku hanya berdu di kamar, jadi aku bebas mengutarakannya.
"berat juga nat, aku bingung mau kasih solusi, joba shalat istikharah nat, agar Allah memberi petunjuk" ucap ema sambil memegang pundakku dan menegakkanku untuk duduk menghadapnya.
"iya kau benar, aku akan coba shalat istikharah, semoga ada petunjuk. terimakasih ema, aku mulai tenang."
**###**
Satu minggu setelah kesedihanku itu, kini aku mulai memiliki titik terang, aku bermimpi ada ular dengan dua kepala sedang mematuki ular ular kecil, aku pukul ular berkepala dua itu kemudian ular itu pergi. Mimpi itu sangat menakutkan, dan aku bercerita pada beberapa teman tentang mimpiku, kata mereka ular itu menandakan jodoh, tapi entah lah, kalau memang iya mungkin itu artinya dia bukan jodohku.
Saat mimpi keduaku muncul, itu lebih jelas terasa, ada seorang laki laki berdiri menghadapku, lalu lama kelamaan dia menghilang ditelan kabut, ya mungkin itu jawaban dari pertanyaanku.
Tak lama setelah mimpi mimpi itu muncul, ada panggilan di hp ku, no baru.
"Assalamualaikum," natali
"Waalaikumsalam, dek, ini mas andi"
Deg, hatiku langsung tak mau diam, mereka sibuk menabuh dadaku, rasaya sesak, aku belum siap memberi jawaban.
"oh iya mas andi, ada apa?" ah aku bingung memulai dari mana
"sehat dek"
"Alkhamduillah sehat mas"
"Nat!! masih lama? suruh rapat kerja nih sama pak kordes, kumpul!" seru rara teman kknku.
"Oh sedang sibuk ya dek? ya sudah lanjut dulu saja, nanti mas kabari lagi."
"iya mas, maaf ya, wassalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb"
hufffff,, rapat oh rapat, kau menolongku.
sejak kejadian itu mas andi hanya bertukar pesan singkat denganku, hingga ahirnya pembahasan menuju ke permasalahan itu, aku takmau perpanjang lagi bebanku, jadi kuputuskan segera memberi jawaban.
Kusampaikan padanya maaf sebesar besarnya, aku belum bisa menerima niat baiknya, ku coba jelaskan sehalusmungkin agar tidak melukainya. Ini memang amanat, tapi pernikahan atas dasar amanat belum tentu aku bisa menjaganya, bisa jadi setan menghasutku dan saat emosi melanda aku menyalahkan amanay itu. ah entahlah, aku belum bisa menikah. ku katakan padanya, bila kita berjodoh pasti kita akan bersatu tanpa penghalang.
**###**
45 hari berlalu KKN ku pun berahir, kini aku mulai sibuk dengan tugas ahirku, ya skripsi yang jadi prioritas utamaku. Sejak aku KKN aku sudah tidak membantu di kantin lagi, kini aku hanya fokus dengan proposal dan skripsi. akumeneliti tentang anak jalanan, kondiai paikologisnya dan bagaimana mengatasi masalah psikologisnya. Ah berat ku rasa, untung selalu ada tama yang membantuku dan siap mengantar jemputku di tempat penelitian.
Tama begitu baik padaku, dia teman satu jurusan dan satu kampungku, wajahnya lembut dan meneduhkan, bagi wanita sangat cocok jadi imam, dia santri hafidz yang selalu menjaga akhlak, walau sering mengantarku tapi aku selalu jaga jarak dengannya, membonceng motorpun di hadang dua tas di tengah, tasku dan tasnya. hehe lucu memang, tapi aku suka. ya aku suka pada tama, yang selalu ada untukku.
Tama begitu berjasa atas kelulusanku, ya kini aku lulus dan mendapat gelarku dengan ipk 3.87. itu sudah membanggakan bagi abahku yang tidak tau menau penilaian anak kuliah, yang dia tau angka terbesar ya 10, bukan 4.
kini aku mulai tinggal di kampung, dan bekerja sebagai seorang penyuluh, walau melenceng dari jurusanku, namun aku ada bekal agama dari hasil ondokku. Aku bekerja sebagai penyuluh agama di KUA, jadi aku selalu berkutat dengan hal hal pernikahan.
Kini sudah 6bulan aku bekerja, bulan depan sudah memasuki ramadhan, ah senangnya bisa berpuasa bersama keluarga. Takbir bergema, anak anak bahagia menabuh bersama saat malam pembuka bulan ramadhan, bahagianya bisa bertemu lagi dengan bulan suci. Aku ambil wudhu dan melaksanakan shalat mahrib, setelahnya aku mengaji di ruang tengah di rumahku, abah sedang ada tamu entah siap, aku mengaji dengan suara pelan. "shadakallahuladzim" kututup muskhafku, taklama abah memanggil.
"nata, kemari nak sebentar."
"iya bah" aku mendekat dengan masih mengenakan mukenah atasku, aku duduk di sebelah abah, aku sejenak menerka keadaan apa ini, dan sepertinya akan terulang lagi.
"nata, ini mas Abi, mau mengobrol sebentar" ucap abah masih duduk di sampingku. Kami mengobrol seputar pekerjaanku, dan pada ujungnya belum kutemui titik terang pembahasan apa ini karena mas abi undur diri dan pamit pada abah. Kami hanya mengobrol singkat diselingi abah yang menyahut candaan sekilas.
Semalaman aku berfikir di dalam kamar, hingga abah mulai mengajakku berbincang di ruang tv.
"nata, tadi mas abi datang mengutarakan keinginannya melamarmu nak, dia belum berani langsung mebahasnya karena ingin lebih dekat dulu denganmu. Kamu sekarang sudah mengalami dunia kerja, abah mama sudah bahagia bisa melihat kamu wisuda dan kini bekerja, itu kebahagiaan buat abah karena perjalananmu bisa sampai sini dengan mulus. Kini abah berharap, kamu bisa pertimbangkan niat baik mas abi, abah juga ingin melihat kamu bahagia nak." ucap abah dengan perlahan
"iya bah, coba nanti nata shalat iatikharah dulu, abah bantu nata juga ya, nata ingin imam nata mampu menjadi imam yang baik buat nata dan anak anak kelak, jadi nata berusaha mencari petunjuk yang terbaik ya bah."
ya sekarang aku sudah mulai dewasa, umurku sudah 24tahun, saatnya aku mulai terbuka pada lawan jenis, tapi tak di pungkiri aku masih mengharap tama yang datang padaku.
"ah tidak tidak, jangan berfikir jauh nat" ucapku sangat pelan sambil menggelengkan kepala.
Kini bulan ramadhan masuk pertengahan, aku selalu malaksanakan shalat istikharah memohon petunjuk, selama ini masih samar, dan mas Abi juga sangat hati hati mendekatiku, aku lebih menghargai usahanya.
Tiba dipenghujung ramadhan, tepat tanggal 29ramadhan, keluarga mas abi datang meminangku, aku gugup dan bingung. Aku menangis di kamar mama, mama menasehatiku, aku masih bimbang, dan mama berpesan agar aku minta waktu untuk lebih dekat dan saling mengenal. Ahirnya kuputuskan untuk menemui mereka.
Abah memulai percakapan, hingga abah langsung pada inti tujuan keluarga mas abi datang.
"mas abi, ini nata masih bingung, ada gerangan apa mas abi memboyong keluarga bertamu kemari? mas abi mungkin bisa jelaskan ke nata?"
"begini dek, maaf sebelumnya. Selama sebulan ini mas terus mendekati adek bertujuan untuk lebih kenal adek, lebih memantapkan niat mas buat meminang adek Mas jujur, mas sangat kagum pada adek yang selalu menjaga akhlak adek, adek yang selalu menjaga amanah orangtua untuk tidak berpacaran. Perkenankan mas untuk jadi imam adek dunia dan akhirat, mas akan berusaha selalu memperbaiki diri selalu agar pantas menjadi imam adek, mas berharap adek bersedia menjadi istri mas, menjadi ibu dari anak anak mas, mas sangat bahagia bisa mengenal adek dari ibu mas dan abah adek, mas berharap adek bisa pertimbangkan niat mas ini dek." ucap mas abi panjang lebar.
"memang nak abi mau menerima nata? nata ini anak kuper mas, gk bisa masak, kakinya banyak baudnya (kiasan) maklum anak pondok jadi pernah gatal gatal" sau abah mencairkan suasana.
aissa abah bikin aku malu, sejujurnya bekas luka gatal dulu sudah sepenuhnya menghilang, ah abah bikin malu, runtukku dalam hati.
"Insha Allah abi ikhlas menerima dek natali dal keadaan apapun bah, abi malah bersyukur bila dek nata bersedia hidup susah payah bareng abi" ucap mas abi merendah.
"Bagaimana nata? itu mas abi insha Allah siap." ucap abah memutuskan kediamanku.
"emm...' aiss dikana kata kataku tadi? kata yang sudah aku persiapkan untuk menjawab mas abi?? duh gusti.... runtukku dalam hati.
"bagai mana nata? kok melamun?" abah
"eh insha Allah bah" jawabku cepat.
"Alkhamdulillah.." kor semua keluarga di ruang tamu
Apa?? aku jawab apa tadi? ya Allah apa benar ini jodoh hamba? hingga Engkau menuntun lidah ini mengucap insha Allah?. gejolak hati nata saat semua keluarga sedang berbincang tersenyum dan sesekali meledekku dan mas abi.
**###**
Kini seminggu telah berlalu, mas abi selali bertamu kerumahku, dan aku kadang ditemani adik sulungku yang kini duduk di bangku smp. Aku mengobrol ringan, namun sepeninggalan mas abi aku masih saja bergulat dengan hati, apa benar mas abi jodohku? hingga mama datang membuyarkan lamunanku, kami mengobrol mengenai suami istri dan mama tiba tiba berkata.
"tau tidak nak, dulu saat kau kecil mama pernah bertemu nak abi, dia anak yang tampan dan shaleh, penurut, sopan, mama sampai berucap. Seandainya saja anak itu jadi menantu mama pasti mama sangat bersyukur" ucap mama sambil tersenyum.
Apa ini permohonan mama yang terkabul? oh ya aku juga pernah berucap dulu saat SD, saat teman temanku menjodohkanku dengan yahya. Aku sangat marah dan aku bilang, aku akanenikah dengan orang yang dijodohkan orangtuaku nanti.
Ya, mungkin ini jodoh yang diharapkan orangtuaku dan yang ku harapkan, entahlah, semoga berkah dan indah, Ami
Waktu berjalan terasa lebih cepat, aku sudah mulai menerima jalan ini. oh ya, Allah telah memberiku petunjuk di hari raya, malam itu aku bertemu dengan mas abi di dalam mimpi, disa aku menjadi makmum shalat subuh dan mas abi menjadi imamnya, terasa sejuk dan indah di kala pembuka hari baru dengan shalat berjamaah. Sejak itu aku yakin iniah jodoh yang Allah berikan dari lidah yang mulus mengucap insha Allah dan mimpi indah yang terlukis malam takbiran itu. Jodoh yang di harapkan orang tuaku dari anak yang shaleh yang mampu mendidik putrinya kelak menjadi istri shalehah dan jodoh yang diharapkan oleh ku tentunya, dengan segala harapan yang baik dan berkah. Amin
**###**
Kini bulan besar tiba, bulan dimana nabi Ibrahim as diutus untuk menyembelih putra tercintanya nabi Ismail.Ya, di hari raya idul adha ini aku akan segera menikah dengan mas abi.
Kami memutuskan untuk tidak terlalu lama menunda pernikahan, niatan baik akan lebih baik bila dipercepat.
Tibalah hari ini, di hari raya yang ke 7 kami menikah, abah dan mama melepasku dengan derai air mata bahagia, aku dan mas abipun ikut menangis bahagi.
"dek, mas akan menjaga adek dari hal tercela, mas akan selalu mengajak adek kepada kebaikan, kita belajar bersama untuk menjadi orang yang lebih baik, membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, memiliki anak jika Allah berkehendak mempercayakan kita, kita didik bersama menjadi anak shaleh shalehah. Seandainya kita belum mampu mengemban amanat itu dari Allah maka mas akan terima dan bersabah, kita berjuang nersama ya dek." mas abi
"iya mas, adek kan belajar menjadi istri shalehah, belajar dan terus belajar hingga menjadi pantas sebagai ibu shalehah untuk anak anak kita kelak, adek kan berjuang bersama mas suka maupun duka, adek akan selalu berusaha menjalani bahtera ini tanpa leluhan dan selalu bersyuku. Mas bimbimng adek menjadi istri shalehah, ridhai adek meraup berkah melimpah dari mas. Bismillah adek akan meniatkan pernikahan ini ikhlas ibadah kepada Allah, semoga kita diberi keberkahan umur, keberkahan rezeki, keberkahan ilmu, serta keberkahan keturunan." Natali
"Amin ya Allah.." jawab abi dan nata.
Sekian
maaf ya, banyak typo.. 😊 masih belajar, ini kisah pertamaku. jngan lupa tinggalkan komentar ya buat koreksi. terimakasih... 😘😘