Senja itu hendra berdiri tepat di sudut ruang kerja sambil memandang langit langit .
Tatapan mata yang kosong seakan menerawang jauh hingga ia tak sadar seorang lelaki masuk keruangan itu dan menyapanya.
Pak hendra , panggil seorang lelaki muda yang tak lain supir pribadinya.
Tersontak ia menoleh sambil berkata, aduh kamu ngagetin saja din , katanya pada supir yang bernama udin.
Udin langsung menjawab , bapak melamun sih saya panggil panggil gak jawab, sudah waktunya pulang pak, katanya .oh ya mari kita pulang ajaknya.
Di tengah perjalanan ia bertanya pada udin ,
Menurutmu pantaskah aku menikah lagi?
Udin langsung menoleh kebelakang. mengapa tidak pak, kan ibu sudah pergi di panggil tuhan, anak anakpun sudah besar, tak ada salahnya jika bapak menikah lagi untuk saling mengasihi dan menjaga satu sama lain. saya rasa anak anakpun gak bakalan keberatan . karna selama ini bapak selalu menjaga kehormatan keluarga, kata udin .
Hemmm , hanya itu yang terlontar dari mulut hendra.
Dalam lamunan yang kian dalam, benak di penuhi dengan pertanyaan, hendra masih bertanya tanya, tentang sesosok perempuan di balik jendela yang terlihat tempo hari.
Siapakah dia ??? gumannya,
Udin sontak kaget karna medengar majikannya mengguman sendiri.
Dalam kebisuan malam , rupanya hendra tak mampu memejamkan matanya, beranjak ia dari tempat tidur menuju ke jendela, sambil memandang di balik tirai, lagi lagi ia terperanjat , karna sosok perempuan itupun tengah berdiri di dekat jendela,
Adakah ia penduduk baru di komplek ini? lagi lagi pertanyaan yang mengisi otaknya.
Akhir pekan
Hari dimana anak anak hendra berkumpul,
Tiba tiba si cikal bersuara, ayah sepertinya dirumah ini ada yang kurang ya katanya.
Disambung sama yang tengah, memang ada yang kurang, karna kita sarapan dari luar , dan makanpun dari luar, setiap hujung minggu, si bibikan cuti.
yang kecil ngimbuh , ah kamu makan mulu di urusin sambil nyubit pipi yang nbr dua,
Hendra berkata, terus yang kurangnya apa???
sontak bertiga menjawab bersamaan.
Kami mau masakan suri rumah setiap ahir minggu .
Hendra menatap satu persatu anaknya sambil berkata, kalau ada jodoh ayah akan cari calon ibu untuk kalian, sambil beranjak dari kursi dan berlalu.
Senja di hujung minggu
Seperti biasa hendra berjalan mengelilingi komplek. dia berdiri tegap di depan salah satu rumah yang sempat ia melihat wanita di balik jendela.
dalam hati ia berkata, seandainya aku mengetuk pintu, adakah wanita itu yang akan membukakan pintu? atau seorang lelaki?
belum terjawab pertanyaan itu, tiba tiba sesok bayang hitam keluar dari pintu, wanita bercadar yang keluar dengan membawa seember air, rupanya wanita itu mau menyiram bunga.
Masha allah ,, bidadari surga yang tak bersayap rupanya.
Sepertinya rasa ingin tau dan perasaan yang telah di singgahi rasa kasih , akhirnya hendrapun menghampiri wanita itu.
Asslamualaikum , terdengar salam yang keluar dari bibir hendra,,
Walaikum salam, jawab wanita itu. sambil menunduk wanita itu bertanya ,
Ada apakah gerangan pak , tanya nya dengan nada lembut.
Sepertinya detak jantung hendra semakin menguat , sehingga terbata bata dia menjawab ,
ma maaf , bolehkah saya bertanya , adakah anda yang selalu berdiri di balik jendela?
perempuan itu hanya menganggukan kepala.
Kemudian ia berkata, maaf pak saya mesti masuk, tak baik ngobrol lama lama , nanti menjadi fitnah katanya, dan ia pun masuk .
Hendra masih berdiri di halaman itu, tiba tiba muncul seorang lelaki yang telahpun lanjut usia, yang tak lain adalah bapak dari wanita itu tadi,.
Maaf pak kalau saya menggangu , kata hendra
Lelaki tua itu tersenyum sebari berkata, tidak apa apa nak hendra.
Sontak saja hendra kaget, laah kok bapak tau nama saya.
orangtua itu hanya tersenyum , dan akhirnya hendrapun di jemput masuk.
Aisyah
Panggil pak tua kepada anaknya.
Ya ayah , jawab aisyah dari bilik belakang .
Tolong buatkan kopi tuk tamu kita , kata pak tua.
Baik ayah , jawab aisyah.
sambil menikmati secangkir kopi akhirnya hendra buka suara.
Maaf pak , kalau boleh tau , bapak barukah di komplek ini?
Rasanya saya belum pernah ketemu bapak..
Pak tua itu menjawabnya, ya kami dari dusun tadinya, dikarnakan almarhum suami aisyah mewariskan rumah di sini , kami terpaksa tinggal di sini atas permintaan almarhum suaminya.
Hendra manggut manggut sambil berkata, ternyata nasib aisyah sama seperti saya juga , istri sayapun meninggal beberapa tahun lalu.
singkat cerita,
sebulan sudah setelah kejadian itu berlalu, akhirnya hendrapun memutuskan untuk bicara dengan anak anaknya.
Dipagi yang cerah, secerah hati hendra yang tengah berbunga bunga,
hendra memanggil ke3 anaknya.
sontak anaknya pada kaget,tak seperti biasanya.
hendrapun memulai perkataannya.
Ada yang ingin ayah sampaikan pada kalian , kata hendra tanpa ragu.
Apa itu ayah jawab mereka.
kalau tidak keberatan ayah akan menikah lagi,
secara bersamaan mereka menjawab
haaaaaaaaa nikah lagi, sama siapa ayah. , orang mana dia,
kami memang takan keberatan , asal wanita itu mau jaga ayah dan kami
insya allah , hendra menjawab.
Mari kita pergi kerumahnya, mudah mudahan wanita itu tak keberatan menerima ayah dan kalian .
sampai sudah di rumah aisyah dan disambut dengan suka oleh pak tua akhirnya hendrapun buka suara.
Pak , kedatangan saya kemari bersama anak anak, saya ingin melamar aisyah untuk di jadikan istri dan ibu untuk anak anak, itupun kalau aisyah menerimanya.
Saya tak keberatan , kita tanya saja aisyah,
Setelah itu pak tuapun memanggil aisyah .
Ketiga anak anak saling cubit melihat aisyah yang bercadar,
Dengan tak canggung lagi , hendra lalu berkata, bersediakah jika engkau ku jadikan istri dan ibu untuk anak anakku?
Dengan lembut aisyah menjawabnya
Jika allah menghendaki saya tidak keberatan , hanya saja , adakah bapak tidak akan menyesal sedangkan bapak tidak pernah melihat wajah saya?
Sejenak hendra menarik nafas,
Aisyah ,
Secantik apapun wanita itu, jika ia telah meninggal , ia akan menjadi santapan cacing, Seperti apapun engkau, engkaulah yang tercantik dimataku, dan cantik dimata tuhan.
Aku akan menyesal jika aku tak mendapatkan wanita yang cantik akhlak dan budinya , semoga kecantikan budi ada padamu.
Ahkirnya pernikahanpun terjadi tak lama kemudian, aisyah dibawa ke rumah hendra, begitu pula dengan pak tua.
Malam pertama
Dengan hati yang berdebar , hendra berkata , aisyah kita telahpun menjadi harim, dan tak ada salahnya aku membuka cadarmu,
aisyah hanya mengangguk, dengan perlahan hendrapun membukakan cadar.
masha allah cantiknya engkau wahai bidadari tak bersayap, sebari mencium kening aisyah
TAMAT.