"Aku antar kamu pulang. Lagian kan rumah kita tetanggaan. Aku juga mau ketemu sama paman sama Tante."
"Hah? Mau apa? Biasanya juga klo disuruh mampir nggak mau tuh."
"Lamar kakak. Jadi istri aku."
~menyebalkan, kakak!~
gadis itu menatap langit-langit kamarnya bosan. menghela napas kesal, bola mata hitam tintanya sesekali melihat ke layar handphone yang tak kunjung mendapati notifikasi pesan. Belum pergi keluar untuk jalan, Hira, gadis ini sekarang sudah lelah duluan rasanya. dia hanya ingin pergi ke luar untuk sekedar minum kopi di kafe, tapi sampai sekarang "adik" laki-lakinya itu tak kunjung datang bahkan untuk membalas chatnya pun tidak sama sekali.
"pokoknya awas saja kalau tidak datang.. kuberi tahu paman dan tante mampus kau. hahaha" batinnya tertawa nista.
tinggg..
Sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone nya. Dengan sigap ia membuka dan membaca setiap kata juga melihat foto yang di kirimkan sang sahabat. tapi, apa yang diperlihatkan di handphone miliknya berhasil menciptakan perepatan di dahi perempuan berparas imut itu.
"berani sekali dia!!" kobaran amarahnya semakin meluap, dengan langkah yang bak mencari mangsa ia berjalan keluar kamar kemudian membanting pintu dengan keras. Langkahnya tergesa menuju mobil di parkiran rumah, kalau saja seruan mamanya tidak menghentikan langkahnya.
"Kamu mau kemana, Hira?"
"Ah, mama, aku mau cari Kelvin ma.."
"Oh.. Kelvin. Yaudah sana jangan pulang malem2.."
Hira yang sudah berjalan menjauh, hanya mengangkat jari jempolnya ke atas.
"Hah~anak itu." Mamanya hanya menggelengkan kepala pelan dengan senyum yang mulai mengembang di bibir. Ia kembali fokus pada tanaman yang tengah disirami.
"Kenapa ma, senyum-senyum sendiri. Lagi seneng ya?" Tanya sang Kepala keluarga yang entah baru datang dari mana.
"Nggak apa-apa pah. Oh ya, kapan acara makam malam sama keluarga andinata buat ngebahas acara perjodohan Hira pah?"
"Ya.. nanti kita tunggu saja." Ucapnya seraya berjalan pergi.
"Serius? Dasar ayah sama anak sama aja. Suka ninggal-ninggalin orang klo lagi ngomong!" Gumam mama Hira kesal.
Hira melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Meskipun dia sedang kesal, tidak ada alasan untuknya mempersingkat hidup dengan mempertaruhkan nyawa pada sebuah mobil yang kini dikendarainya. Meraih headset di kursi samping dan menyelipkannya di daun telinga, ia segera menghubungi Airin, sahabatnya yang tadi memberitahukan keberadaan seseorang di foto chatnya tadi.
"Hallo, lo dimana?"
"Hira? Syukur deh, gue kira lo bunuh diri habis liat foto pacar Lo sama cewe lain, yang gue kirimin." Hira hanya memutar bola matanya bosan mendengar tanggapan tak masuk akal dari orang di seberang telepon.
"Tsk, yang ada, dia yang mati. Liat aja, sebentar lagi gue mau nyekik dia sampe abis."
"Kejam Lo hir!, Gue masih disini. Tapi hir, kayaknya gue salah maksud deh.." ucap Airin ragu masih di seberang telepon.
"Hah? Maksud Lo apaan?" Ia mengernyitkan dahi.
"Mereka nggak kayak lagi kencan."
"Aaaa! Bodo amat gue. Meskipun gitu, dia tetep aja ngebohongin gue dan buat gue nunggu."
"Yayaya, terserah Lo aja. Cepet Lo sini! Kafe antariksa, Deket kampus." Tanpa membalas ucapan Airin, Hira langsung mematikan teleponnya dan fokus pada jalan di depannya.
Sehabis memarkir apik mobil berwarna biru langit itu di parkiran, kaki jenjangnya segera membawanya masuk ke dalam kafe. Matanya menari kesana-kemari, mencoba mencari seseorang yang telah membuatnya menunggu sejam lebih. Lambaian tangan dari salah satu meja disana berhasil menangkap atensi miliknya. Dengan segera Hira kembali berjalan kesana dengan alis bertautan, menandakan ia sedang marah di tambah kesal dan butuh seseorang untuk dihajar sebagai bentuk pelampiasan. Baiklah, itu berlebihan.
"Duduk dulu Hir. tenangin dulu emosi Lo"ucap Airin setengah takut menggapai lengan sang sahabat yang terkepal erat.
"Hah~"pundaknya merendah, ia dengan perlahan duduk di kursi berseberangan dengan sang gadis bermata coklat itu.
"Gue badmood" gumamnya lesu, sembari menelungkupkan kepalanya pada tangan di atas meja.
"Nih, gue udah pesenin minuman buat Lo tadi." Sebagai seorang sahabat, Airin sebisa mungkin mengembalikan Hira yang ramah dan baik hati. Iyah, kalian nggak salah baca. Hira bukan gadis manja, dia baik, ramah, pintar. Hanya saja kalau perasaannya sedang kacau balau, dia akan lebih dingin dari kulkas dan datar dari papan. Atau, sebaliknya, seperti sekarang ini. Manja dan kekanakan.
"Mana Kelvin?" Ucapnya to the point setelah tenang akan diri.
"Arah jam 10, meja no. 5 Deket jendela." Balasnya seraya memicingkan mata memberi kode.
Hira menganggukkan kepala. Berdiri beranjak pergi dengan langkah santai. Airin tidak ada niatan sama sekali untuk menghentikan langkahnya.
"Hah~ sebentar lagi dramanya di mulai ya? Ya.. aku hanya bisa doakan.. semangatt hiraa!!"
brakkk..
gadis yang tengah menulis itu terkejut bukan kepalang. melenggakkan kepala guna mencari tau siapa yang menggebrak mejanya dengar keras, ia malah dihadiahi dengan tatapan menusuk tak terelakan.
"ehm. maaf, nona siapa?" Clara, bertanya se-sopan yang ia bisa.
"aku tunangannya Kelvin." ucapnya enteng.
"apa?!"bukan Clara yang histeris, melainkan Kelvin yang baru datang sehabis mengambil minuman. terkejut? tentu saja. dia, kenapa gadis itu ada disini? Secepat kilat Kelvin menggapai lengan Hira dan membawanya menjauh dari sana.
"Hira, kamu ngapain disini?" Kelvin menaikan salah satu alisnya, mencoba menyebarkan aura mengintimidasi khas seorang pria.
"Buat aku nunggu, udah gitu jalan sama perempuan lain, nggak ngabarin apa-apa lagi? Liat, udah gitu kamu nggak panggil aku kakak?!" Hira tak bisa untuk berbicara lo-gue dihadapan pria berbadan tegap berwajah tampan ini.
"Maaf, aku lupa ada tugas kelompok kuliah.. lagian, aku nggak suka Hira, Ini yang kedua kalinya kamu ngegagalin kerja kelompok yang aku buat. Terus, berhenti nyebarin hal yang bukan fakta. Pertama, kamu bilang ke Airin sahabat kamu aku ini pacar kamu. kedua, pas ngerjain tugas kuliah sama Devi kamu tiba-tiba dateng dan bilang kamu pacar aku. ketiga, sekarang, di depan Clara kamu bilang kamu Tunangan aku? berhenti nyebarin hoax, Hira! Dan, aku nggak ada kewajiban buat manggil kamu kakak! Aku ingetin kamu, aku itu lebih tua 1 tahun dari kamu, kalau kamu lupa." Kelvin mengeluarkan segala unek-unek yang lama disimpannya. Ia sudah muak dengan tingkah laku teman masa kecilnya itu. Dia menyesal telah memanggil gadis di hadapannya ini dengan sebutan kakak saat mereka kecil dulu, hanya karena Hira saat itu lebih tinggi darinya. Dan sampai sekarang malah keterusan.
Kelvin pria yang lembut dan sedikit dingin di saat tertentu. Meskipun begitu, ia tak pernah memarahi siapun sampai seperti ini . Ya, walaupun nada yang digunakannya tadi seperti halnya sedang mengobrol ringan tanpa unsur memarahi. bahkan, lebih ke arah nada Putus asa malah.
"Hah~maaf. Aku kelepasan. Yaudah, kamu tunggu disini, aku mau bilang sama Clara buat ngebatalin kerja kelompok tugas kuliah." Kelvin berbalik, berniat melangkah kembali ke meja untuk meminta izin pada teman satu kelasnya di kampus. Namun, gerakan kecil dari Hira yang memegang ujung bajunya membuat ia berhenti melangkah.
"Kenapa?" Tanyanya sedikit dingin tanpa berbalik. Hira menarik kembali tangannya tanpa berbicara sepatah kata.
Setelah menyelesaikan sedikit kendala di kafe tadi, kini sepasang anak manusia itu sudah berada di mobil milik Hira dengan Kelvin yang menyetir. Entah akan dibawa kemana, sedari tadi yang dilakukan Hira hanya menundukan kepala tak berani menatap Kelvin yang sesekali mencuri pandang.
Tringgg.. tringgg..
Suara nada telepon dari handphone Hira. Kelvin dengan santai mengangkat teleponnya melalui headset di telinga. Lagian, gadis itu seperti tidak ada niatan untuk mengangkat teleponnya.
"Hallo?"
'eh? Kelvin, ini kamu? Mana Hira? Kok kalian bisa bareng?'
"Hahaha, emangnya kenapa kak Chandra? Lagian kan aku tunangannya?"ucapnya tanpa beban dengan sedikit penekanan. Ia melirik Hira, ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu. Chandra, adalah kakak tingkat mereka yang tahun ini akan lulus.
Matanya melebar. Apa, apa katanya, tunangan?, apa Kelvin sedang balas dendam padanya? Ia mencoba menutupi reaksinya dengan seolah-olah tak peduli dan melihat ke luar jendela.
Piip... Sambungan telepon berakhir.
"Sekarang kita impas, kakak"ucapnya menyeringai.
"Ayo turun.." ucap Kelvin yang kini sudah di samping mobil membukakan pintu untuk si kakak menyebalkan.
"Eh?!" Sejak kapan mereka berhenti?, sejak kapan Kelvin keluar membukakan pintu mobilnya?. Apakah dia melamun sedari tadi?. Tanpa banyak bicara, Hira segera turun, masih dengan kepala menunduk.
"Ini.. bukit waktu kita melihat meteor?"
"Bicara juga akhirnya. Aku kira kamu bisu. Yah.. kau benar. Ini bukit yang waktu itu. Lihat kedepan, pemandangan siang hari tak kalah indah bukan?"
"Hm" ia hanya bergumam pelan sebagai balasan.
"Aku mau nanya sama kamu, kenapa kamu suka aku panggil kamu kakak?"
Hening, Hira tak berniat menjawab. Tapi, dia kasihan juga sama Kelvin jika terus diabaikan.
"Nggak tau, aku suka aja. Aku.. selalu nyaman pas kamu panggil aku kakak." Jawabnya seraya terus menatap pemandangan yang tersaji di bawah di depannya.
"Klo panggilan sayang dari orang yang sama, yang manggil kamu Kakak, nyaman panggilan yang mana?"
"Hah?" Hira membeo, menatap Kelvin dengan tatapan bingung.
"Hahaha, muka mu lucu, hahaha" Kelvin tertawa lepas. Gadis itu memalingkan wajahnya ke kedepan. Ia masih ingat saja awal mereka berjumpa. Waktu itu Kelvin masihlah anak yang pendiam dan cengeng. Dan dengan polosnya ia malah menepuk puncak kepala anak laki-laki itu bersambut dengan panggilan kakak untuk Hira yang sudah terbiasa hingga sekarang ini.
"Aaaa! Kenapa wajahku memerah?"batinnya.
"Oy, kau melamun? Hira, jangan diam terus. Aku kan sudah minta maaf, aku juga udah nepatin janji buat bawa kamu keluar. Kalau kamu terus begitu, ayo, Aku antar kamu pulang aja." Kelvin, sedari tadi dia diam saja, itu bukan karena dia masih marah. Tapi, karena dia sedang berusaha untuk mengembalikan detak jantungnya yang tadi berpacu abnormal.
"Aku bisa pulang sendiri"ucapnya pelan setelah kembali menguasai diri.
"Nggak, aku antar kamu pulang. Lagian kan rumah kita tetanggaan. Aku juga mau ketemu sama paman sama Tante."
"Hah? Mau apa? Biasanya juga klo disuruh mampir nggak mau tuh." Hira kembali memberengut sebal. Pria itu kini mendekati telinga Hira dan berbisik.
"Lamar kakak. Jadi istri aku." Hira yang tak menyadari eksistensi pria itu disampingnya terkejut dan segera mundur beberapa langkah.
"Aaaaa! Kamu itu apa-apaan?!"wajahnya kini telah memerah bak kepiting rebus.
"Hahaha, nggak, nggak, aku bercanda. Ntar aja kerumah kamunya bareng sama ayah ibu. Hahaha" Hira merasa jengkel dengan tingkahnya. Dia benci Kelvin, karena setiap berada dekat dengan pria itu jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari pada biasanya.
"Itu nggak lucu Kelvin!!" Dia menghentikan tawa dan menatap lekat wajah gadis disampingnya. Senyum simpul terukir di bibirnya yang berwarna cokelat kemerahan.
"Kamu cantik" ucapnya tulus. Sejak awal Kelvin memang menaruh rasa pada gadis bersurai hitam panjang itu. Namun ia tak berani, ia takut Pernyataannya akan memperjauh jarak mereka. Lagipula, saat itu tanpa sengaja dia mendengarkan pembicaraan orang tuanya, bahwa dia akan dijodohkan, namun tak tau siapa yang akan dijodohkan padanya.
Hira berdiri, menatap ke arah ke Kelvin yang masih duduk di bawah. Tangan seputih susu itu terulur, menyentuh puncak kepala pria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"Aku menyukaimu, Kelvin andinata" setelah lama, akhirnya dia berucap dengan nada tenang, namun masih tidak bisa menutupi ragu-ragu di Kalimatnya. Disusul dengan senyum manis merekah. Angin menerbangkan sebagian helai rambutnya menambahkan cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan. Semburat merah hadir di pipi Kelvin. Ia, tak salah dengarkan? Setelah berucap demikian Hira berlalu pergi ke mobil meninggalkan Kelvin yang masih tak bergeming.
"Ayo pulang, aku yang menyetir ya? Ehehe" ucapnya lagi, terkekeh pelan.
"Hah? Oy, tunggu aku kakak! Tunggu aku Hira sayang." Biarlah, soal perjodohan itu nanti. Lagipula, perasaan tidak bisa dipaksa bukan. Ia tidak lagi menyukai Hira, melainkan mencintainya. Sampai tuhan berkata mereka tidak bisa lagi bersama.