Cornelia merebahkan dirinya setelah meminum obat tidurnya malam ini.
Tapi saat matanya akan mulai terpejam, dadanya mulai terasa sakit dan nafasnya tidak beraturan.
Bayangan akan masa lalu kembali muncul dalam ingatannya.
"Tinggallah dalam kamar mandi sebentar ya manis, akan sangat menyakitkan jika kau melihat bagaimana orang tua mu mati" seseorang yang menggunakan topeng badut tertawa mengerikan
Cornelia berteriak kuat saat bayangan kelamnya datang kembali, ia meremas sprei kasurnya dengan kuat, keringat bercucuran di wajahnya.
Seseorang masuk dan memegang tangannya, menatap sendu Cornelia yang sudah menangis saat dirinya memasuki kamar.
"Paman disini oke, jangan menangis" Paman mengusap lembut punggung Cornelia
"Paman akan menjaga mu disini" Ucapnya lagi
Bibi juga mengikuti paman masuk ke kamar dan menggerutu.
"Mau sampai kapan kau begini, itu sudah masa lalu lupakanlah. Dasar mengganggu saja malam-malam" bibinya melipat kedua tangannya dan menyandarkan dirinya di pintu
"Selena jaga ucapanmu" Hardik paman
Setelah sedikit tenang, Cornelia menghapus air matanya dan mulai berbicara
"Maafkan Cornelia, paman dan bibi karena sudah menganggu malam-malam" Cornelia tertunduk
"Tidak apa Cornelia itu bukan salah kamu, sekarang kamu sudah lebih tenang kan.. sebaiknya kamu kembali tidur" Paman berusaha menenangkannya
Setelah mendapat anggukan dari Cornelia paman dan bibi pun keluar dari kamar Cornelia dan pergi ke kamar mereka.
"Lain kali dijaga ucapannya!" Paman menatap tajam ke arah Selena istrinya
"William, mau sampai kapan anak itu akan begitu terus. Cornelia sudah berumur 22 tahun tapi masih juga mengingat masa lalunya. Dia bisa mati karena obat tidur itu dan kita yang akan di salahkan karenanya" Ucap bibi Selena dengan kesal
"Sekali lagi jaga cara bicara mu Selena, Cornelia sekarang ini butuh kita karena hanya kita keluarganya sekarang. Janganlah buat Cornelia makin terpuruk" Paman William menggelengkan kepalanya
Bibi selena yang tidak ingin mendengar perkataan suaminya lagi bergegas menuju tempat tidur.
--
Pagi akhirnya datang.
Cornelia yang sudah selesai mandi, turun untuk sarapan pagi.
"Pagi paman dan bibi" sapanya dengan ramah dan mengambil sepotong roti
"Bagaimana kuliah mu hari ini?" Tanya paman William
"Hari ini tidak ada kelas paman, Jadi Cornelia hanya akan di rumah saja sekalian menyelesaikan tugas kampus" Cornelia lalu tersenyum
---
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Cornelia yang sudah selesai dengan tugas kuliahnya itu duduk di tepi kolam lalu mengingat kejadian masa lalu yang dikatakan polisi
"Apa kamu benar-benar tidak melihat siapa pembunuhnya?" Tanya polisi sekali lagi
Cornelia yang memang ketakutan saat itu, bahkan tidak melihat ke arah pembunuh.
Cornelia tidak menjawab pertanyaan polisi dan hanya menggelengkan kepalanya dan menangis.
Cornelia mendengus kesal. Sempat terlintas dipikirannya untuk kembali ke 12 tahun yang lalu dan bisa tembus pandang berharap Cornelia bisa melihat siapa pembunuhnya dari kamar mandi dan melihat siapa pembunuhnya. Agar kedua orang tuanya tidak merasa sedih di atas sana karena pembunuhnya yang masih berkeliaran.
Kepalanya pusing dan Cornelia terjatuh di kolam, dipikirannya sekarang mungkin Cornelia akan segera mati tenggelam. Tapi tak di duga seseorang yang dia kenal menolongnya. Itu adalah ayahnya!!
Cornelia masih bisa melihat nya dengan jelas bahwa itu Ayahnya, tapi detik kemudian semua menjadi hitam.
"uhuk.. uhuk" Cornelia terbatuk, mengeluarkan beberapa air dari mulutnya
Dengan perlahan, Cornelia bisa mengenali 2 orang yang mengelilinginya yaitu Ibu dan Ayahnya.
Dia terkejut dan terbangun. Lalu melihat kedua tangannya yang terlihat lebih kecil.
"Aku kembali ke masa 12 tahun yang lalu, baju ini adalah baju pesta ulang tahun ku yang ke 10 dan malam ini juga pembunuhan itu akan terjadi" Pikir Cornelia dengan melihat tubuhnya
"Sayang kamu tak apa kan?" Ibu memelukku dengan erat
---
Cornelia akhirnya sudah rapi kembali. Melihat dress yang dikenakannya sudah berbeda membuatnya berpikir bahwa takdir bisa saja berubah!!
Cornelia lalu melihat ke arah dinding dan ia bisa tembus pandang. ia bisa melihat apa yang orang tuanya lakukan dan bukan itu saja saat ia akan membuka pintu tangannya juga ikut menembus pintu!!
Dengan mata terpejam, Dia mencoba menembus dinding itu berpikir bahwa yang dia harapkan selain kembali ke 12 tahun yang lalu bisa terjadi.
"Aku tembus pandang" Cornelia merasa girang sesaat terhenti karena orang tuanya datang memberikan kejutan kue ulang tahun dan kado untuknya. Perayaan sederhana namun sangat berarti.
---
Jam sudah menunjukkan pukul 21.07. Cornelia mengatur nafasnya perlahan dan sudah bersiap diri.
Tadi beberapa menit yang lalu Cornelia sebenarnya sudah menelpon polisi menggunakan telepon rumahnya.
Entah karena macet atau karena telepon itu dilakukan oleh anak kecil polisi belum juga memberikan tanda kedatangannya. Karena bisa saja pembunuh itu tidak jadi masuk karena kedatangan polisi dan polisi bisa menyelidiki kasus ini. Begitulah pemikiran Cornelia yang memang aneh, karena pemikirannya saat ini buntu akibat rasa takutnya.
5 menit kemudian beberapa orang membobol masuk rumah.
Mereka yang sedang menonton dibuat terkejut olehnya. Cornelia kini dengan berani melihat mereka.
"4 orang, dengan topeng badut" Pikirnya. Nafas Cornelia kini tak beraturan.
Salah satunya lalu menggendong paksa Cornelia dan membawanya ke arah kamar mandi
"Tinggallah dalam kamar mandi sebentar ya manis, akan sangat menyakitkan jika kau melihat bagaimana orang tua mu mati" Seseorang yang menggunakan topeng badut tertawa mengerikan
Ditutupnya pintu itu dan bergegas keluar lah pria tadi.
Cornelia melihat mereka dibalik dinding berkat kekuatan anehnya itu, tapi ia tidak bisa melihat siapa pembunuhnya. kekuatan itu hanya membuatnya bisa lihat apa yang dibalik dinding tapi tidak dibalik topeng. Cornelia menangis
Karena merasa orang-orang itu akan mulai menjalankan aksinya, Cornelia dengan berani keluar dan menghapus air matanya untuk menolong orang tuanya
"Polisi tidak akan datang aku yang harus menolong Ibu dan Ayah" Ucap Cornelia
Cornelia menembus dinding dan berlari ke arah ruang tamu dan berteriak "Tolongggggggg" berharap agar tetangga bisa mendengar suaranya
Salah satu pria datang dan menampar Cornelia hingga terhempas cukup jauh, Cornelia hanya bisa merintih kesakitan.
"Aku sudah menguncinya, bagaiamana bocah itu bisa keluar" tanya heran pria yang mengunci Cornelia tadi
"Bagaimana kamu bisa seberani itu untuk berteriak. haa.. " Hardik salah satu pria itu dengan suara yang sengaja dibuat berbeda
"Jangan ganggu putri saya, kumohon" Ibu hanya bisa menangis melihat Cornelia kesakitan
Cornelia dengan cepat menarik topengnya dan terkejut lah Cornelia tak terkecuali Ayah dan Ibunya.
"Kak william" Ayah hanya bisa menatap marah kakaknya itu
"Anak kecil sialan" Ditusuk nya Cornelia menggunakan pisau yang ada di tangannya.
Darah bercucuran, mata Cornelia mulai kabur dan tepat 2 detik setelahnya polisi masuk dengan pistol mereka.
---
Polisi sedari tadi terus meminta maaf karena keterlambatan mereka akibat kemacetan parah yang terjadi.
Dan kedua orang tuanya hanya bisa menangis menatap wajah putrinya yang sudah pucat.
Tampak beberapa perawat berbincang
"Hei bagaimana gadis kecil itu bisa mengetahui kalau ada pembunuh yang akan masuk rumahnya"
"Mungkin saja dia mendengar percakapan pamannya itu" Jawab salah satunya
Di siaran televisi ia dapat melihat bahwa alasan mengapa pamannya berusaha membunuh mereka karena demi harta kekayaan adiknya yang melebihi dirinya, itulah mengapa selama ini pamannya sangat baik padanya. Harta memang bisa membutakan pandangan seseorang.
Cornelia bisa melihat semuanya, roh nya sudah keluar dari tubuhnya dan dia berubah menjadi roh saat dirinya berumur 22 tahun.
Air mata terakhir yang dia teteskan setelahnya menghilang bersama roh nya.
"Kamu akan bereinkarnasi, Ibumu sekarang sedang hamil tapi belum ia ketahui. Kamu ingin bereinkarnasi jadi anaknya kembali?" tanya seseorang dengan senyuman
"Ya" Jawab Cornelia cepat
"Terimakasih telah memberikan ku kesempatan untuk mengubah semuanya dan membuat ku bisa tembus dari dinding" Ucapnya lagi
~~~