~Sesuatu akan bernilai indah, manakala di dalam hati penilainya telah dipenuhi oleh bunga-bunga cinta~
***
Namaku Namaretta. Orang-orang biasa memanggil ku dengan panggilan "Nama". Aku adalah putri sulung bangsawan Ogart yang kisahnya telah melegenda.
Kisah hidupku menjadi legenda di mulut banyak orang di saat usiaku masih sangat belia, enam belas tahun.
Di desa ku setiap gadis yang sudah mencapai umur lima belas tahun ke atas maka ia diperbolehkan untuk mengikuti pesta Lovo. Pesta yang memang diperuntukkan bagi para anak muda menemukan pendamping hidupnya.
Aku sangat menantikan Pesta Lovo ini karena seperti para gadis muda lainnya, aku pun sepanjang lima belas tahun awal usiaku telah melalui masa pengurungan.
Pengurungan adalah proses isolasi anak perempuan ke sebuah tempat terasing yang berjarak cukup jauh dari desa. Di mana di tempat itu, kami tinggal bersama para Nanny yang bertugas untuk menjaga kami agar tak keluar dari area itu.
Pengurungan ini dialami oleh para anak perempuan sejak ia lahir hingga usia lima belas tahun. Pengurungan ini memang tak menyakitkan. Karena bagaimana pun juga kami masih bisa melihat matahari, bermain di tanah lapang, bersenda gurau, dan juga kegiatan lainnya. Asalkan kami masih berada dalam area isolasi.
Meski begitu, karena masa pengurungan ini pula kami jadi hampir tak pernah bertemu dengan Ayah, Kakak laki-laki, atau pun semua manusia lain yang berjenis laki-laki.
Hanya ibu dan kakak perempuan yang telah lulus dari pengurungan ini saja lah yang selalu datang untuk menjenguk kami. Biasanya agar kami juga mengenal ayah dan kakak laki-laki kami, para ibu senantiasa membawa foto mereka.
Sehingga dengan begitu ketika kelak kami lulus dari pengurungan ini, kami tak akan terlalu canggung untuk bertemu dengan keluarga kami yang lelaki.
Tahun lalu, aku lulus dari masa pengurungan. Sayangnya, ketika malam pesta Lovo berlangsung hari itu, aku jatuh sakit. Sehingga aku tak berkesempatan untuk menghadiri pesta itu.
Aku menangis seharian karena telah melewatkan malam penting itu. Sahabatku, Gena memamerkan cincin lovo yang ia dapatkan dari lelaki idaman nya.
Cerita Gena, lelaki idamannya adalah seorang pandai besi terkenal di desa tetangga. Usia lelaki itu berkisar dua puluh tiga tahun. Selisih delapan tahun dengan usia Gena yang benar-benar baru lulus dari masa pengurungan.
Gena bercerita kalau dua purnama berikutnya, ia akan menikah dengan Oreg, si pandai besi. Aku pun memberikan selamat kepada sahabatku itu. Meski dalam hatiku aku merasa sedih dan sedikit iri karena tak memiliki nasib baik seperti Gena.
Lihat saja. Aku harus menunggu enam purnama berikutnya lagi untuk bisa mengikuti pesta Lovo. Pesta Lovo ini memang diadakan dua kali setiap tahunnya. Kecuali keluarga kerajaan yang bisa merayakannya kapanpun juga.
Dan, enam bulan berikutnya, aku pun akhirnya bisa mengikuti pesta Lovo yang sangat kunanti-nantikan itu.
Sayangnya pada pesta kali itu, Gena telah ikut pergi dengan suaminya ke desa seberang. Gena telah menikah dengan Oreg pada tiga purnama yang lalu.
Bersama dengan sebelas pasangan muda-mudi lainnya, Gena pun mengikat suci hubungannya dengan Oreg si Pandai Besi.
Memang, pernikahan di desaku hanya boleh dilangsungkan pada malam bulan purnama. Jadi, semua pasangan yang hendak menikah akan dikumpulkan pada satu tempat terpisah di tanah lapang. umumnya pesta pernikahan itu dihadiri oleh para penduduk yang telah menikah.
Sementara untuk penduduk yang belum menikah, maka mereka akan menghadiri pesta Lovo. Seperti aku contohnya.
Sore tadi, sebelum menghadiri pesta pernikahan kenalannya, Ibu telah mempersiapkan sebuah gaun cantik berwarna keemasan.
Kata ibu, gaun itu adalah gaun yang telah turun menurun dipergunakan oleh ibu dan para perempuan keluarga pihak ibu setiap mereka menghadiri pesta Lovo.
Dengan gaun itulah ibu berhasil memikat hati Ayah. Hingga akhirnya mereka menikah dan melahirkan putri tunggal yaitu aku.
Mulanya aku enggan mengenakan gaun keemasan itu. Karena aku merasa malu bahkan sebelum aku memakainya. Bagaimana bisa tidak malu, jika dengan melihat warna keemasannya saja aku sudah bisa membayangkan akan menjadi pusat perhatian di pesta Lovo nanti. Padahal aku adalah seorang gadis yang pemalu!
Dan, setelah ibu dan ayah berangkat pergi ke pesta pernikahan dan meninggalkanku sendiri di rumah. Aku sibuk mencari gaun lain yang bisa kukenakan ke pesta. Namun aku tak memiliki gaun lain yang pantas untuk kukenakan.
Akhirnya, mau tak mau aku pun berangkat ke pesta Lovo pertamaku dengan mengenakan gaun keemasan itu.
Aku pergi ke pesta Lovo dengan seorang anak tetangga ku yang bernama Irin. Dia seorang gadis cantik bermata sipit dan berkulit putih.
Saat Irin menjemput ku, ia tampil cantik dalam balutan gaun berwarna biru langit.
Penampilan Irin membuatku sangat iri. Mengingat kulitku berbanding terbalik dengan warna kulitnya yang putih bersih. Warna kulitku cenderung berwarna kuning kecokelatan.
Meski begitu, aku sangat bersyukur saat melihat penampilan Irin yang sempurna malam ini. Karena dengan begitu aku merasa yakin tak akan menjadi pusat perhatian orang-orang dalam pesta Lovo nanti. Begitu kiranya isi benakku.
Dan, berangkatlah kami berdua ke pesta Lovo dengan diantarkan oleh kereta kuda milik ayah Irin.
Lokasi pesta letaknya ada di alun-alun desa. Begitu kami sampai di sana, kelap kelip lampu neon yang berwarna warni telah menyambut kami.
Hiruk pikuk stand makanan pun berjajar rapih di sepanjang sisi jalanan yang sengaja diatur membentuk dua jalan yang terpisah itu.
Terdapat dua jalanan terbuka dalam pesta Lovo. Jalan sebelah kanan khusus diperuntukkan untuk para perempuan. Dan jalan sebelah kiri yang khusus diperuntukkan untuk para lelaki.
Kedua jalan ini dipisahkan oleh taman bunga Sedap malam yang tumbuh memanjang di sepanjang jalan.
Sesekali, aku dan Irin berhenti untuk membeli panganan yang ada di pinggir jalan. Irin lah yang lebih sering membeli jajanan. Sementara aku yang terlalu gugup karena banyak pasang mata lelaki di seberang jalan yang melirik ke arah kami.
Hingga tak sampai setengah jam kemudian, seorang lelaki tampan berjalan menerobos pohon sedap malam dan menghentikan langkahku dan Irin.
Aku yang merasa sangat gugup, tak memiliki cukup keberanian untuk mengangkat wajahku. Aku sempat mengira lelaki itu adalah lelaki yang telah kunanti-nanti sepanjang malam ini. Namun, harapanku pupus, ketika kemudian lelaki itu mengulurkan mawar merah kepada Irin.
Bunga mawar memang menjadi cara seseorang memilih pendamping dalam pesta Lovo ini. Entah lelaki ataupun perempuan, jika sekiranya ia menyukai seseorang di pesta Lovo ini, maka ia bisa menawarkan bunga mawar yang sudah dibelinya di awal stand untuk kemudian diberikan kepada orang yang ia sukai.
Dan Irin pun akhirnya pergi dengan pemuda itu ke pusat alun-alun, di mana di sana telah berkumpul juga pasangan lainnya. Di pusat alun-alun, mereka bisa melihat pameran yang sangat meriah. Juga bermacam-macam hiburan lainnya.
Biasanya jika setelah berjalan-jalan bersama di pusat alun-alun, pasangan lelaki dan perempuan merasa cocok maka keduanya akan melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Namun jika setelah berjalan bersama di alun-alun, mereka tak merasa cocok, maka keduanya akan berpisah jalan.
Setelah kepergian Irin, aku melangkah sendirian di tengah keramaian pesta. Aku merasa sedih, karena setelah dua jam lamanya aku berjalan, aku tak kunjung menerima bunga mawar dari lelaki manapun.
Ada seorang lelaki yang aku sukai penampilannya, Namun aku tak memiliki keberanian untuk menerobos taman bunga dan menghampiri lelaki itu. Alhasil aku hanya bisa menggigit jariku ketika kulihat lelaki itu memberikan bunga mawar miliknya pada seorang gadis lain.
Selama satu jam berikutnya, aku akhirnya memutuskan untuk duduk saja pada bangku panjang yang berada di salah satu sisi jalan.
Dalam keramaian pesta yang mengelilingiku, aku justru menikmati kesendirianku. Ku pandang langit yang tampak cerah dengan berjuta bintang dan rembulan nya yang bulat sempurna.
Dalam hati aku mengulum doa untuk kedatangan si dia yang kunanti-nantikan kedatangannya.
"Hey, kamu! cepatlah datang! aku sudah letih menunggumu!" Bisikku kepada angin.
Selama beberapa waktu aku duduk di bangku itu, aku terus memandangi rupa bulan purnama di langit sana. Cahaya nya yang terang memperindah bentuknya yang bulat sempurna.
Harapanku tentang pendamping di malam itu hampir sudah akan kugantungkan kembali di ujung hatiku. Aku sudah pasrah jika aku harus kembali menunggu sampai enam purnama berikutnya untuk bertemu dengan pendamping yang ditakdirkan untukku.
Tapi syukurlah, di saat aku sudah hampir menyerah, tiba-tiba saja aku mendapati pandanganku yang tertuju pada purnama di langit sana, telah terhalang.
Dan, saat ku fokuskan pandanganku pada apa yang telah menghalangi pandanganku, aku pun terkejut. Karena aku mendapati sosok lelaki berparas manis yang sedang tersenyum manis kepadaku.
kuamati ada lesung pada kedua pipi pemuda itu.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya pemuda itu seraya mengarahkan tangannya ke bangku kosong di sampingku.
Seketika itu juga aku langsung menunduk malu. Dengan suara pelan, aku pun menjawab, "Silahkan".
Selama beberapa saat aku hanya menunduk memandangi genggaman tanganku yang terasa dingin. Sementara pemuda di sampingku kurasa terus melihat ke arahku.
Ba-dump. Ba-dump.
Jantungku bertalu-talu.
Ba-dump. Ba-dump.
Sebuah perasaan hangat mengaliri seluruh tubuh dan benakku.
"Namaku Purr, siapa namamu?" tanya pemuda itu kemudian.
"Nama. Dari Namaretta," sahutku dengan suara sangat pelan.
"Namamu Nama? nama yang unik. Jadi.." ucapan pemuda itu tertahan. Saat kulihat pemuda itu mengeluarkan sekuntum mawar merah kepadaku.
"Terimalah mawar ini, Nama," ucap Purr kembali.
"Entah kenapa, sejak aku menatapmu duduk sendiri di sini, aku merasa yakin kalau kamu adalah pendampingku," tutur Purr kemudian.
"Bagaimana menurutmu, Nama? Tidakkah menurutmu malam ini adalah malam bagi kita berdua? Malam bagi Purr dan Nama," Ucapnya lembut.
Aku tertegun. Sementara jantungku tak henti-hentinya berdegup sangat cepat. Dengan malu-malu, aku meraih bunga yang disodorkan Purr kepadaku.
Aku menjawab ucapan Purr dalam diam, dengan sebuah anggukan pelan.
Kemudian, kami berdua pun menikmati cahaya purnama berdua. Di tengah keramaian yang terlampau bising ini, aku akhirnya tak lagi merasa sepi. Karena Purr telah menemaniku menikmati cahaya purnama dari tempat duduk kami.
"Sungguh. Malam ini, bulan terlihat sangat indah, bukan?" Ucap Purr seraya menatapku dengan pandangan lembut. Sebuah senyuman hangat, ditujukannya kepadaku.
Malam hari itu, Purr menemaniku berjalan ke pusat Alun-Alun. Tak banyak hal yang kami bincangkan. Bahkan kami pun masih segan untuk sekedar bergandengan tangan.
Aku selalu menangkupkan tanganku dalam genggaman kecilku. Sementara Purr kulihat bersedekap hampir sepanjang waktu.
Dan, setelah satu jam menikmati waktu bersama Purr, kami pun berpisah jalan. Mulanya Purr ingin mengantarkan ku pulang. Tapi etika kebangsawanan mengajarkanku untuk tetap menjaga jarak dengan lelaki yang tak memiliki hubungan darah denganku.
Akhirnya, aku pulang menaiki kereta sewaan, sementara Purr bersikeras turut mengiringi kepulangan ku hingga aku sampai di rumah.
Malam itu, aku bermimpi sangat indah.
***
Keesokan harinya, sebuah iringan dari keluarga kerajaan tiba-tiba saja datang ke rumahku. Belasan mobil pengangkut cindera mata terparkir bersusun di jalanan depan rumah.
Banyak tetanggaku yang merasa heran dengan kejadian ini. Keluarga ku pun mulanya sangat terkejut dengan kejadian ini.
Tapi setelah aku melihat sosok yang kukenal berdiri paling depan pada rombongan kerajaan itu, seketika itu juga senyumku pecah.
Purr kembali datang membawa buket bunga mawar yang sangat cantik.
"Nama, Tidakkah menurutmu malam nanti bulan juga akan sangat indah? Aku kembali datang untuk menjemputmu," ucap Purr kemudian.
Dan, malam itu, meski bulan purnama tak lagi bulat sempurna, aku merasa malam itu bulan terlihat sangat indah. Oleh sebab Purr dan aku yang akhirnya melangsungkan pernikahan.
Disaksikan berjuta bintang dan purnama yang meski tak sempurna, kami pun mengikat janji suci.
Aku telat mengetahui identitas Purr yang sebenarnya. Karena ternyata dia adalah Putra Mahkota kerajaan Endwell, Purrocleo Oghur.
My Purr.🥰🥰
***