Aku sedang duduk lesehan di teras rumahku. Pandanganku tertuju ke arah langit yang cerah. Burung-burung beterbangan di atas sana dengan siulan yang memanjakan telingaku.
Aku memejamkan mata sejenak dan ingatanku kembali pada sosok lelaki yang sudah menemaniku selama 3 tahun. Lelaki yang sangat baik dan juga dewasa. Lelaki itu selalu memanjakanku dan tak pernah membiarkanku terluka sedikit pun.
Reyhan, itulah namanya.
Hubungan kami sudah berakhir sejak sebulan yang lalu. Hubungan yang aku kira akan bertahan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, namun nyatanya harus kandas di tengah jalan.
Sempat aku bertanya, dimana letak kesalahanku?
Apa kurangnya diriku?
Namun lelaki itu hanya diam dan meninggalkanku seorang diri di atas bukit yang menjadi tempat favorit kami berdua.
Bukit itu sangat indah ketika siang hari. Pemandangan kota yang terlihat samar-samar dari atas sana, membuat kami selalu nyaman bercengkrama dan berbicara tentang segala hal.
Kami akan selalu menghabiskan waktu di sana seharian penuh. Menyusun rencana masa depan yang selalu membuat kami tertawa bila membayangkan. Namun hari itu, hari yang selalu aku tunggu-tunggu setiap akhir pekan itu, meninggalkan luka mendalam di hatiku.
Kata putus yang terdengar sangat menakutkan bagi setiap pasangan.
Dia pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Meninggalkanku sendiri ketika hujan mulai turun rintik-rintik.
Aku berteriak memanggil namanya, namun tak sekalipun ia menoleh ke arahku.
Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Reyhan bagai di telan bumi. Hilang dan tak berbekas.
Orang-orang berkata bahwa cinta itu harus dikejar. Ya, tentu saja aku melakukan itu. Bukan karena aku merendahkan diriku sebagai seorang wanita, namun aku hanya seorang yang berusaha memperjuangkan kebahagiaan.
"Kakak!"
Teriakan itu membuyarkan lamunanku. Lamunan yang selalu membuatku terluka lagi dan lagi.
"Loh, kenapa sudah pulang, Dek? Hari masih pagi, tapi kau sudah kembali ke rumah. Pasti kau bolos, kan?" tanyaku menghakimi adik kecilku itu.
Bocah cilik yang selalu membuatku tertawa dengan tingkahnya.
"Ye ... Kakak, ini sudah siang. Pasti melamun lagi, kan?" tanyanya padaku yang seketika kaget.
Aku buru-buru melihat jam di layar handphone milikku dan ternyata benar bahwa sekarang sudah pukul 1 siang.
"Berapa lama aku melamun?" batinku kebingungan.
Adikku buru-buru melepaskan sepatu miliknya di rak sepatu yang ada di teras rumah kami.
"Andre, nanti langsung ganti baju dan makan. Jangan main dulu!" teriakku padanya yang sudah berlari ke depan tv sana.
"Astaga! Anak itu sudah kelas 6 SD, tapi masih berantakan," ucapku sambil memperbaiki letak sepatu sekolahnya yang berwarna hitam itu.
Aku menata kembali rak sepatu yang terlihat berantakan. Maklum saja, aku adalah orang yang sangat strik soal kerapihan.
Ssssyuuuhhh
Sebuah kertas jatuh dari celah sepatu milikku yang sudah tak pernah aku gunakan sejak beberapa bulan lalu karena sudah tak muat di kakiku.
"Apa ini?"
Aku perlahan membuka lipatan kertas itu dengan santai karena aku pikir mungkin saja kertas tagihan listrik rumah kami, bisa jadi.
Namun sedetik kemudian, aku terdiam mematung. Nama itu, nama yang sudah mati-matian aku lupakan tengah tertulis indah di bagian paling atas tumpukan kalimat di sana.
Tanganku bergetar dan mataku berkaca-kaca ketika membaca paragraf per paragraf yang ditulis sangat rapih.
----------
Reyhan untuk Lily
Lily ... sayang, apa kau merindukanku seperti aku yang sangat merindukanmu sekarang ini? Aku ingin memelukmu di tengah kerapuhanku sekarang, tapi apa bisa aku mendekapmu? Maafkan aku telah memperlakukanmu dengan tak adil.
Lily ... sayang, apa kau terluka karena sikapku dipertemuan terakhir kita 3 minggu yang lalu? Maafkan aku, hem? Aku bertindak sebagai pengecut dengan memaksamu menerima rasa sakit itu.
Lily ... sayang, aku sakit. Aku kedinginan dan mengerang sakit setiap harinya. Maaf aku tak bersikap jujur padamu. Awalnya aku pikir sakit ini bisa hilang dan meninggalkan tubuhku, namun nyatanya ia semakin menjadi dan memakan semangatku dari dalam sana.
Lily ... sayang, setelah pertemuan kita itu aku berubah semakin kurus. Badanku tak lagi mampu memelukmu dan menjadi tempat perlindungan bagimu. Aku tak sekuat dulu lagi.
Lily ... sayang, terima kasih telah menemaniku selama 3 tahun aku di dunia ini. Setiap waktu yang aku lalui bersamamu terasa sangat indah dan mendebarkan. Kau selalu membuatku tersenyum dan memahami apa artinya kesetiaan dan ketulusan.
Lily ... sayang, di setiap waktu dan di setiap nafasku hanya namamu yang selalu aku ucapkan dalam doaku. Aku selalu meyakinkan kepada Tuhan bahwa aku bisa dan pantas menjadi pasangan hidupmu.
Lily ... sayang, Tuhan menjawab doaku dengan cara yang luar biasa. Dia membuatmu bertahan di sisiku meskipun hanya separuh jalan. Tuhan terlalu baik padaku hingga mengizinkanmu berdiri teguh bersamaku padahal itu bukan tempatku. Kau anugerah terindah bagiku selama aku hidup di dunia ini.
Lily ... sayang, bisakah kau menemuiku nanti? Aku tak bisa berjalan dan menggendongmu seperti dulu. Jadi, bisakah sekarang kau berlari ke tempatku?
Datanglah sekarang ke bukit kita berdua. Aku menunggumu di sana.
I love you, sayang.
----------
Tanganku bergetar dengan sangat hebat, kakiku seakan tak bisa menapaki lantai yang terasa sangat dingin hingga membuat tubuhku menggigil.
Aku melangkahkan kakiku sekuat tenaga dan berlari seperti orang yang kehilangan akal sehat menuju bukit yang terletak 30 meter dari rumahku.
Aku terus berlari tanpa henti.
Menerjang kendaraan yang melintas di depan tanpa memerdulikan keselamatanku sendiri.
Langkah kakiku semakin dekat. Aku berlari di rumput hijau yang melambai-lambai seakan telah menungguku datang setelah sebulan aku tak pernah berkunjung ke sana.
Semakin dekat hingga mataku menangkap sebuah pusara yang berada tepat di bawah pohon rambutan tempat kami berdua biasa menghabiskan waktu bersama.
Deg
Deg
Jantungku berdetak sangat cepat. Semakin dekat aku melangkah, semakin cepat pula detak jantungku bahkan aku merasa jatungku akan melompat keluar dari tempatnya.
"Apa ini?"
Tanganku dengan spontan menyentuh pusara itu. Aku dengan perlahan membersihkan sedikit debu yang menempel di sana.
Anak kami tercinta
Reyhan Geraldo
Lahir 4 desember 1998
Wafat 3 maret 2022
"A-apa??? Ti-tidak mungkin!!!"
Badanku luruh seketika dengan kedua tangan yang memeluk erat pusara itu. Di dalam sana terkubur lelaki yang sangat aku cintai, lelaki yang sungguh luar biasa dalam bersikap serta lelaki yang sangat jujur dan menjunjung tinggi harkat wanita.
Dia, kekasih hatiku.
Tamat
❤💔
Next Tantangan Day 2 ada lanjutannya ya kakak2 😘
☆☆☆
Jangan lupa mampir ke novelku ya kakak2.
Judulnya :Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda.
Mengandung bawang yang sangat banyak, tapi romantisnya ngena banget, loh 🤧