"Hari ini aku pindah ke sekolah baru, dan primadona langsung menembak ku. Aku kebingungan karena aku tidak mengenal nya!"
Kala itu semua orang tertuju padaku, menatapku dengan tatapan aneh, Bagaimana tidak, diruang kelas di jam istirahat itu, aku kaget melihat seseorang itu menghampiri ku dan menyatakan sebuah perasaan yang entah mengapa ia dengan menyatakannya.
"Dewi, di depan semua orang disini, di depan teman-teman ku aku ingin mengungkapkan sebuah perasaan yang selama ini aku pendam.
Aku mencintaimu dari semenjak kita bertemu di sebuah tempat wisata di luar kota. Aku disini tidak akan bicara banyak panjang lebar, mengingat waktu istirahat yang sudah mulai habis. Satu yang aku minta dari kamu, maukah kamu menjadi pacarku?, Aku mohon kabulkan lah permintaan ku."
"Ya' dia adalah Ilham Permana, Seorang Primadona di sekolah ku yang baru. Ia memiliki wajah yang rupawan, berbadan tinggi sedikit berotot, memiliki kulit putih, bulu matanya yang lentik, bibir kecil namun sedikit tebal, dengan alis yang tebal, hidungnya mancung, rambutnya cepak, dengan begitu ketampanannya, semua orang yang melihat terkagum kagum. Tak heran jika ia adalah seorang primadona di sekolah ini. "
"Namaku.adalah Dewi ayu Lestari, bias orang memanggil ku dengan sebutan Dewi. Kata orang aku ini cantik, cantik seperti bidadari, Namun perasaan ku biasa saja. Dengan berperawakan tubuh tinggi, rambut panjang yang tergerai lurus, kulit yang putih kuning Langsat, hidung mancung, bulu mata lentik, alis yang tebal, dan memiliki lesung di pipiku. Sehingga banyak orang di kampung halaman ku menganggap aku adalah bunga desa."
"Banyak orang yang menyukaiku dalam diam, Karena enggan mengutarakan nya padaku. Aku tau itu karena banyak teman perempuan ku yang bilang seperti itu."
"Aku adalah seorang pelajar kelas dua SMA negeri di sebuah desa kabupaten Bogor Jawa barat. Aku adalah murid baru di sekolah SMA Karya Guna. Sesuatu hal terjadi Hingga harus pindah ke sekolah ini.
"Kedua orang tuaku berpisah.
Aku diharuskan memilih di antara satu mereka yang kedua sangat aku sayangi.
Aku tidak memilih diantara keduanya, karena untuk apa hanya jadi bahan untuk di perebutkan mereka. Mereka tidakak mengerti perasaanku.
Aku memilih tinggal bersama nenek ku di Bandung, memulai hidup yang baru dengan suasana yang berbeda, sekolah yang baru dengan teman teman baru ku.
Di menyatakan cinta padaku di hari pertama kali datang ke sekolah itu.
Aku mengiyakan dan menerimanya untuk jadi pacarku, meski ragu karena aku belum mengenalnya
.Suatu alasan aku menerima nya, Ya' apalagi kalau bukan karena ketampanan nya.
Di depan umum, ia mengatakan cinta padaku, membuat ku enggan untuk mempermalukan nya.
Ting tong Ting tong, suara bel berbunyi, rupa jadwal belajar kembali dimulai. "Asalamualaikum" . Seperti biasa Guru datang memberikan materi materi pengajarannya, menerangkan pelajaran pelajaran agar mudah di pahami dan diresapi murid muridnya.
Dalam diam ku ,aku belajar dan memahami apa yang di ajarkan guru kepada muridnya, sesekali aku melirik wajah nya yang rupawan dan menatap nya, sesekali tatapan itu bertemu tatkala ia memandangku.
Ting tong Ting tong, suara bel kembali berbunyi. Ia menarik lengan ku membawaku ke sebuah tempat yang sunyi, letaknya tidak jauh dari sekolah baru ku itu.
"halo maaf lepasin tangan ku. Aku tidak mengenal kamu, kenapa kamu tadi menyatakan cinta padaku?"
"Ada suatu alasan kenapa aku menyatakan cinta padamu yang bahkan aku pun belum mengenalmu. Sebelum itu aku mau bertanya kembali padamu, kenapa kamu menerima ku yang tidak pernah kamu kenal?"
"Kenapa balik bertanya padaku, aku menerima kamu, karena kamu yang memohon sendiri padaku di depan semua orang. Jujur sih, dalam hati ku, aku yakin kamu orang baik, tidak mungkin aku mempermalukan kamu di depan umum.
Aku bicara sejujur jujurnya.
"Kamu lagi!, lagian kamu ngapain berbohong di depan umum dan so kenal lagi?" mengingat ia menceritakan pertemuan ku dengannya di sebuah tempat wisata di luar kota. aku membenarkan pernyataan itu fakta adanya, Tapi aku tidak pernah melihatnya di sana.
"Aku melihat mu disana, aku cinta padamu pada pandangan pertama. Kamu cantik, dan ternyata kamu baik juga ya!" Ia memuji ku dengan tatapannya yang tajam
"Kamu mau kan jadi pacar aku" ia kembali bersama bertanya padaku?" aku kembali mengiyakan pertanyaan nya itu, dalam pikirku, "Jangan sampai aku menyesal di kemudian hari jika aku harus menolaknya.
Kami pulang sekolah bersama, berboncengan menaiki sepeda motor yang di tumpangi menuju rumah nenekku. Ia mengantarkan ku menuju rumah, dan hendak pergi untuk pulang kerumahnya.
Sore hari dirumah nenek ku, aku memasak menyiapkan hidangan makanan untuk dilahap setelahnya.
Aku selalu membantu nenek yang sudah tua renta termakan usia itu dengan niat berusaha membahagiakannya dengan semampuku, Disisa hidupnya, ia tidak memiliki banyak angan angan untuk hidup lebih baik. Ia hanya berdoa semoga umurnya dipanjangkan dan kesehatannya yang lebih penting, mengingat ia memiliki banyak keluhan karena tulang yang tak kuat sekuat masa remaja.
Aku tidak ingin membuatnya repot mengurusi cucunya seperti ku,. Aku selalu berusaha untuk mandiri mengingat aku adalah anak satu satunya anak dari ayah ibu membuat ku tumbuh menjadi anak yang manja. hingga keadaan ini yang menuntut ku menjadi perempuan yang kuat dan mandiri
Malam pun tiba, ku buka gawai ponselku, kulihat sebuah ketikan pena terangkai dalam suatu kata kata menjadi sebuah pesan ,ia bertanya dan menyapaku di sebrang sana.
"Malam, lagi ngapain ni, apa boleh aku berbuat dengan mu!" aku menjawabnya dan hanya mengiyakan nya saja.
Ting Ting suara di layar ponsel ini tiba tiba berdering, aku mengangkat panggilan telp darinya.
Membuka percakapan, saling bicara satu sama lain, bercerita bercanda bergurau bersama, seketika mulai saling untuk mengenalinya lebih dalam di balik orang di sebrang sana.
Hari hari berjalan, bertemu bertatap muka setiap hari, menjadi keakraban keakraban itu mulai dirasa, keharmonisan sebuah hubungan mulai terjalin.
Mulai dari memanggilnya dengan sebutan sayang, perhatian perhatiannya, yang membutuhkan ku mabuk kepayang.
Aku lupa bagaimana hubungan ini di mulai, dengan secercah harapan harapan ku, semoga langgeng selamanya hingga Duduk di pelaminan berdua, hingga maut memisahkan.
"Jadi ini ya alasan kamu menghindari ku selama ini, aku kecewa melihat kamu seperti ini, kamu adalah satu satunya harapan ku, bisa bisa nya kamu berpaling dari ku!" Ujar mantan nya yang selalu mengejar ngejarnya tanpa lelah.
"Diam kamu, jangan pernah dekat dengan lagi dengan ku, aku dan Dewi akan menikah jika kami sudah lulus, kedua orang tua ku menjodohkan ku dengan nya" ia berbicara di depan mantannya itu sambil merangkul bahuku, kemudian memeluk ku.
"Sayang kenapa tadi kamu memeluk ku dengan tiba-tiba dan berbohong dihadapan nya, maksudnya apaan?" Aku bicara dengan nya tak habis pikir dengan tingkah nya.
"Maafkan aku sayang, aku melakukannya karena terpaksa, tidak ada jalan lain untuk membuat nya berhenti mengejar ku".