Aku adalah keturunan asli Tionghoa, namun sejak aku kecil keluargaku sudah tinggal di Indonesia.
Mungkin ada alasan tertentu atau bisa jadi orang tuaku kurang kreatif saat memberi nama pada anak-anaknya.
Kakak pertamaku bernama Mei Hua, kakak keduaku bernama Mei Yin, dan aku yang merupakan anak bungsu diberi nama Mei Ling.
Keluargaku adalah pemilik salah satu toko bahan bangunan terbesar di kota ini. Kami memiliki beberapa cabang toko, salah satunya berada di ruko yang juga menjadi tempat tinggal keluargaku.
Dulunya kedua kakakku yang sering bergantian membantu menjaga toko, namun semenjak keduanya menikah kini hanya tinggal aku yang masih berstatus sebagai mahasiswa yang menjadi harapan papa dan mama untuk membantu menjaga toko.
Sebenarnya pekerjaan menjaga toko tidak melelahkan, sebab aku hanya harus duduk di meja kasir dan menerima pembayaran dari para pembeli. Selebihnya akan ditangani oleh para karyawan. Tapi hal ini yang membuatku lama kelamaan merasa bosan.
Tak terasa satu bulan telah berlalu aku membantu papa dan mama, aku juga mulai terbiasa dipanggil 'Cici' oleh para pembeli. Meski awalnya agak aneh sebab kebanyakan orang yang mengenalku memanggil Ling-Ling.
Karena toko berada di lantai 1 sedang tempat tinggalku di lantai 2 ruko ini, alhasil tiap kali ingin naik ke atas untuk makan siang atau pun istirahat aku akan menukar sendalku dengan sendal rumah yang biasanya ku simpan pada rak sepatu yang berada di depan tangga.
Namun hari ini ada yang berbeda, di dalam sendal rumahku yang berbentuk karakter beruang penyuka madu berwarna kuning terselip sebuah gulungan kertas putih lengkap dengan pita merah muda.
Sebelum mengambil gulungan kertas tersebut aku sempat menengok ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang melihatku. Sebab area ini masih area umum yang bebas dilalui oleh para karyawan.
Bergegas aku menuju ke kamarku, tujuanku hanya satu ... memastikan siapa pemilik gulungan kertas itu yang ku duga adalah sebuah surat.
Dan benar saja itu adalah sebuah surat, dan ditujukan untuk gadis bermata sipit. Jika aku tak salah, di rumah ini yang bermata sipit dan masih gadis hanyalah aku.
------------------------------------------------
Teruntuk Kau, si Gadis bermata sipit
Untukmu yang selama ini hanya bisa aku kagumi dari jauh ...
Maafkan aku yang terlalu pengecut, hingga hanya untuk menyapamu saja aku tak berani.
Lewat surat sederhana ini, aku ingin berterima kasih, sebab dengan senyum manismu di balik meja kasir rasanya hari-hariku yang berat terasa lebih ringan.
Tetaplah bersinar Ling, kamu bagai cahaya dalam hidupku.
Dariku, yang mengagumimu.
-------------------------------------------------
Setelah membaca surat itu, secara impulsif aku lebih menjaga jarak dengan semua karyawan pria di tokoku.
'Sebelum aku tahu siapa pengirimnya, aku tetap harus waspada,' batinku.
Dan 3 hari kemudian, gulungan kertas yang sama kembali hadir di tempat yang sama seperti sebelumnya.
------------------------------------------------
Teruntuk Kau, si Gadis bermata sipit
Ingin rasanya aku mengenalmu lebih dalam.
Dari yang kulihat, kamu gadis yang cukup menyenangkan.
Tapi sepertinya harus kuurungkan niatku,
Mengingat jauhnya bentangan jarak sosial diantara kita.
Kalo ini aku hanya ingin kau tahu, aku suka melihatmu tertawa. Suara tawamu yang renyah dengan ujung mata yang semakin sipit, kamu terlihat makin cantik.
Teruslah tertawa Ling, kamu cantik saat tertawa.
Dariku, yang mengagumimu.
-------------------------------------------------
Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku meremas kertas tersebut setelah kubaca. Mungkin orang lain akan merasa tersanjung saat mendapatkan surat seperti ini, namun entah mengapa firasatku mengatakan jika diteruskan hal ini akan menjadi bencana bagiku.
Dan benar saja, hari-hari berikutnya si pengirim surat semakin intens. Yang membuatku tak nyaman sebab isi suratnya mulai mengarah ke hal-hal yang sensitif dan berbau ancaman.
Seperti hari ini, dan ini adalah surat ke 10 dalam 3 bulan aku menjaga toko.
------------------------------------------------
Teruntuk Kau, si Gadis bermata sipit
Apa kamu benar-benar ingin membuatku cemburu?
Setelah sekian lama kamu tak menampakkan tawa mu, mengapa kemarin dengan mudahnya kamu tertawa dengan pria lain di hadapanku?
Ling, egoiskah aku jika aku hanya ingin kau tertawa untukku?
Ling, egoiskah aku jika aku hanya ingin kau tertawa karenaku?
Apa yang harus kusingkirkan? Tawamu? atau dia yang membuatmu tertawa?
Dariku, yang mengagumimu.
-------------------------------------------------
Dan sejak surat ke 10, aku memutuskan untuk berhenti tertawa ketika menjaga toko.
Aku jadi kehilangan konsentrasiku, sebab yang kulakukan saat menjaga toko hanya mengamati satu per satu karyawan pria di sekitarku.
Kini tak ada sehari pun yang terlewatkan tanpa ada surat darinya. Dan selalu berada di tempat yang sama, pada sendal rumahku yang berada di rak sepatu.
Isi suratnya semakin hari semakin menakutiku. Orang misterius ini, sekarang tidak hanya menuliskan pujian-pujian, tapi dari isi suratnya sepertinya ia semakin posesif padaku.
Hingga tepat di bulan ke 6 semenjak aku pertama kali menerima surat anonim tersebut, apa yang ku khawatirkan selama ini terjadi.
Hari itu hujan turun dengan derasnya, aku yang sejak kemarin merasa tak sehat harus beristirahat di kamar sedangkan kedua orang tuaku kala itu harus pergi keluar kota.
Toko sengaja ditutup oleh papa dan para karyawan diliburkan atas permintaanku. Tentu saja aku tak menyampaikan alasan utamaku, aku menjadikan sakitku sebagai alasan. Aku tak ingin ada karyawan toko saat orang tuaku tak ada di rumah.
Ting ... Tong ...
Bel pintu berbunyi.
Bergegas aku turun dan membukanya, ternyata yang datang adalah Bagas, sopir pribadi papa.
"Permisi Ci' ini kunci mobilnya dan saya izin masuk untuk mengambil tas saya," ucapnya sopan.
Aku hanya mengangguk, kemudian berlalu lebih dulu menaiki tangga dan masuk ke kamarku.
Kesalahan terbesarku, aku lupa jika saat ini aku hanya sendiri di rumah dan Bagas juga termasuk karyawan pria.
Meski dia bukan karyawan di toko.
Dan benar saja ... beberapa menit kemudian pintu kamarku dibuka oleh seseorang.
Kepalaku yang sangat pusing membuatku tak menyadari jika kini seorang pria yang terkenal pendiam, tak banyak tingkah, dan juga pemalu sudah duduk ditepi tempat tidurku.
Belaiannya di lenganku membuatku terperanjat.
"Bagas?!" Teriakku.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Keluar!" Bentakku.
"Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu? Aku khawatir sebab sudah 2 hari kau tak mengambil surat yang selalu ku simpan di rak sepatu," ujarnya lembut.
"Jadi kau pengirim surat itu?"
Bagas mengangguk. Kini dia yang semula duduk sudah berdiri dan mulai mendekatiku yang sejak tadi sudah menjauh darinya.
Setiap Bagas maju selangkah, maka aku akan mundur 2 langkah.
"Apa maumu?"
"Aku hanya ingin menemanimu. Aku tak tega membiarkan kamu sendiri dalam keadaan sakit," ucapnya.
"Pergi!!!" Bentakku mengusirnya.
"Ling ... apa maksudmu? Kamu tak menginginkan kehadiranku?" tanyanya.
"Tentu saja tidak. Saat papa kembali akan ku adukan segalanya agar kau di pecat!" Ujarku.
Bisa kulihat jika kini kedua tangan Bagas mengepal.
Lalu dengan gerakan cepat, Bagas menarik tubuhku dan menjatuhkanku ke atas tempat tidur dengan kasar.
"Sebelum kau menyingkirkanku, akan kubuat kau tak akan bisa pergi dariku," ucapnya sembari menyeringai.
Dan saat itu adalah saat aku kehilangan kehormatanku.
Kehormatan yang kujaga selama 21 tahun diambil secara paksa oleh si pengirim surat di rak sepatu.
Tak ada erangan kenikmatan yang mengiringi hentakan demi hentakan yang Bagas lakukan saat penyatuan paksa kami.
Hanya isakan tangis dariku yang menggema di ruang kamarku. Langit pun ikut menangisi kemalanganku lewat semakin derasnya hujan yang turun.
Hingga Bagas sampai pada pelepasannya, dan pergi meninggalkanku begitu saja.
Kini, setahun telah berlalu. Aku masih menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Bukan tanpa alasan aku merahasiakannya, sebab pria yang harusnya kumintai pertanggung jawaban turut menghilang bersama kehormatanku.
Aku masih ingat ... keesokan harinya setelah petaka itu terjadi, papa menyampaikan kabar jika Bagar mengundurkan diri melalui sambungan telepon.
"Bagas di mana pun kau berada, ketahuilah jika aku di sini masih menunggumu."
"Bukan karena aku ingin membalas perasaan cintamu, tapi aku ingin menuntut janji yang torehkan pada surat terakhir yang kutemukan di rak sepatu."
------------------------------------------------
Teruntuk Kamu, si Gadis bermata sipit
Ling maafkan aku.
Maafkan kekhilafanku.
Sungguh aku tak bermaksud menyakitimu.
Aku hanya tak ingin menjauh darimu.
Tapi maaf Ling, sekali lagi aku harus memilih untuk menjadi pria pengecut.
Aku harus pergi, tapi bukan untuk meninggalkanmu.
Aku harus pergi, dan memantaskan diriku untukmu.
Kumohon percayalah, sekali saja percayalah.
Tunggu aku Ling, aku akan kembali secepatnya dan mempertanggung jawabkan segala yang kulakukan.
Aku mencintaimu ... sungguh cintamu telah menguasai relung hatiku.
Tunggu aku, aku pasti kembali setelah pantas dan siap untuk mendampingimu di sepanjang sisa hidupmu.
Dariku yang mencintaimu, Bagas.
---------------------------------------------------
💕💕 End 💕💕