Keheningan malam mulai mencekam. Sunyi, sepi menyelimuti tubuh yang merebah dipembaringan. Hewan malam saling bersautan seperti melodi pengantar tidur. Mata mulai sayup meminta untuk dipejamkan. Namun Sifa masih sibuk dengan buku bacaanya. Tenggelam dalam cerita yg ditulis dg apik.
Melihat lampu kamar yg masih menyala, Aminah berinisiatif melihat anaknya. Dan ia melihat anak semata wayangnya masih sibuk membaca.. Kreek suara pintu kamar yg terbuka membuat Sifa sejenak menoleh kearah sumber suara. "Fa.. kok masih belum tidur juga. Bukannya besok kamu mulai masuk kuliah."
"Ya ma. Bentar lagi. Lagi seru nih ceritanya"
"Kan bisa dilanjutin besok bacanya. Lagian besok kamu kan baru masa pengenalan kampus. Biasanya anak baru itu jadi bulan-bulanan senior"
"Itu sih cerita lama Ma. Kalau sekarang ada senior yg masih berani main fisik ntar bisa dihukum lho. Emangnya mama gak pernah lihat apa diTV udah banyak senior yg main fisik akhirnya jadi tersangka. Mama sih nonton gosip melulu"
"Ya ya.. Anak mama emang paling pinter deh kalau disuruh cari kesalahan orang. Ya udah mama tidur dulu ya. Met malam sayang" Aminah mengusap pucuk kepala Sifa, mencium keningnya kemudian keluar menuju kamarnya. Tak lama Sifapun segera bangkit dari duduknya. Meletakkan kaca mata besarnya dan segera menuju kamar mandi. Setelah selesai iapun segera tidur.
Kokok ayam jago saling bersautan. Menandakan hari mulai pagi. Sifa segera bangun, membereskan tempat tidurnya kemudian kekamar mandi membersihkan diri & bersiap ke kampus.
"Met pagi Ma, Pa.." sapa Sifa kepada kedua orang tuanya yg telah duduk dimeja makan. "Pagi juga sayang" jawab mereka serentak. "Fa.. kamu kok masih pakai kaca mata besar itu lagi. Kan mama udah beliin kontak lens."
"Emangnya kenapa ma kalau pakai kaca mata besar"
"Ya ampun Sifa. Masak kamu gak tau sih. Kalau kamu pake kaca mata besar itu terlihat cupu. Apalagi pakai seragam hitam putih kyk gitu. Udah kayak diTV aja. Gak sekalian rambutnya jg dikepang 2?"
Mendengar perkataan mama, Sifapun mengerucutkan bibirnya "Mama kok gitu sih. Ngatain anaknya sendiri cupu. Lagian mau pake kontak lens atau kaca mata kan sama aja fungsinya Ma. Buat alat bantu penglihatan"
"Ya ya mama minta maaf. Mama kan cuman mau anaknya tampil cantik. Siapa tau ada yg kesengsem. Lagian umur udah 19tahun kok gak pernah deket sama cowok. Kamu normal kan Fa.."
"Tuh kan mama ngatain Sifa lagi. Ma.. Sifa itu baru 19 tahun bukan 91 tahun, jadi mama gak usah nuntut Sifa deket sama cowok. Ok? Lagian apa sih fungsinya pacaran? Yg ada banyak negatifnya Ma" Sifa meminum segelas susu dg sekali tegukan. "Sifa udah sarapannya. Mama bawel terus. Bikin bad mood aja" Sifa kemudian mencium tangan kedua orang tuanya dan segera melangkahkan kakinya menuju jalan raya. Ia berdiri ditepi jalan untuk menunggu angkot. Dan tak lama angkotpun datang. Ia segera masuk dan duduk dibangku bagian pojok. "Kampus ya pak" kata Sifa pada sopir angkot.
"Ya neng" jawab sopir itu sambil melajukan kendaraanya. Sifapun segera mengambil buku lalu membacanya. Hobi Sifa adalah membaca buku. Hal itulah yg membuat teman sekolahnya dulu menjulukinya si cupu kutu buku. Sifa tak punya banyak teman disekolahnya dulu. Hanya Nindi yg menjadi sahabat sekaligus teman sedari kecilnya. Dreeett bunyi getar dari hp Sifa menandakan ada panggilan masuk. Iapun segera menjawab panggilan itu. "Ya Nin.. Ada apa"
"Fa.. Ntar tungguin gue digerbang ya.. gue baru siap-siap nih. Takut ntar telat sendiri"
"Terus lo mau kalau gue juga telat gitu? Ogah.. Yg ada gue jadi bahan bullyan lagi.. Lo sih cantik banyak yg belain. Lha kalau gue? Boro boro ada yg bela. Lihat gue aja pada jijik"
"Kok gt sih ngomongnya Fa.. Biarpun lo gak secantik gue tp lo kan pinter. Jadi kalau telat bisa cari alesan yg logis.. hehehe bercanda Fa.. Ya udah gue jalan sekarang deh biar gak telat" terdengar bunyi sepeda motor Nindi dan kemudian panggilanpun berakhir.
20 menit berlalu. Sampailah Sifa ditempat tujuanya. "Ini pak ongkosnya. Terima kasih" Sifa menyodorkan uang kepada sopir angkot dan kemudian berjalan menuju gerbang kampus. Terlihat banyak mahasiswa yg berlalu lalang. Ia kemudian berjalan menuju sebuah kursi panjang untuk menunggu Nindi. Setelah 5menit menunggu Nindipun datang dg nafas yg masih ngos-ngosan. Melihat kedatangan Nindi, Sifapun segera memanggilnya sambil melambaikan tangan ke udara. "Nin disini"
"Untung aja gak telat Fa. Makasih ya udah nungguin gue" kata Nindi sambil mengatur nafasnya. Namun nafasnya belum setabil tiba-tiba sirine sudah berbunyi nenandakan waktu berkumpul untuk mahasiswa baru. Merekapun segera berlari menuju lapangan. Berbaris berkelompok sesuai tanda yg telah disiapkan oleh panitia.
Apel pagi telah dilaksanakan secara hikmat. Tidak ada teriakan atau kekerasan apapun dari panitia. Mahasiswa baru disuruh duduk. Sedangkan panitia mulai menjelaskan tentang jadwal kegiatan & logistik yg akan dibawa besok. "Pagi semua.. Hari ini kita akan ada materi tentang pengenalan kampus dan belajar lagu-lagu pergerakan. Kita nanti naik ke Auditorium lantai 3. Sebelum kita bubar apa ada yg mau ditanyakan?" Semua mahasiswapun terdiam. Tidak berani menunjukkan wajahnya. Takut jika tiba-tiba senior itu berubah buas seperti harimau. Namun tiba-tiba Sifa mengangkat tangannya. Membuat semua mata tertuju kepadanya. "Ya. Kamu yg pakai kaca mata. Silahkan bertanya" kata senior itu. Sifapun segera berdiri "Kak saya mau tanya. Toiletnya dimana ya?" Semua pesertapun terbahak mendengar pertanyaan Sifa. Namun senior lain datang dg wajah seram "siapa yg nyuruh kalian semua ketawa? Kamu yg berdiri coba ulang lagi pertanyaannya" tunjuk Farhan sang senior galak, kepada Sifa. "Toiletnya dimana kak?" Ulang Sifa dg suara yg dipelankan. "Kamu itu mahasiswa. Ngapain tanya hal gak penting kayak gitu. Memangnya 4 mata kamu belum cukup buat lihat penunjuk arah itu. Sudah jelas disana ada tulisan toilet & anak panah." Kata Farhan sambil menunjuk tulisan toilet. Sifa yg secara tidak langsung dihina senior itupun tersulut emosi "Kakak menghina saya yg pake kaca mata? Memangnya ada yg salah dg pertanyaan saya? Bukankah teman kakak tadi mempersilahkan kami untuk bertanya? Ini sudah tahun 2022 kak.. Bukan saatnya lagi mahasiswa baru ditindas oleh senior. Kalau kakak ngajak adu argumen ayo.. saya gak takut. Bukankan kita sebagai manusia dibekali dg otak yg sama"
Suasana menjadi tegang. Namun belum sempat Farhan menjawab, datanglah Budi yg mencoba menengahi. "Kak Farhan dan dek siapa namamu?" Tanya Budi "Sifa kak"
"Ya.. Sifa.. kak Farhan, biarkan Sifa ke toilet dulu. Barang kali Sifa sudah kebelet. Nanti setelah ini dilanjut lagi debatnya".
Sifapun melangkahkan kaki menuju toilet. Sedangkan yg lain diputarkan lagu pergerakan & menyanyi bersama.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Sifa dan teman-temannya baru saja mendapatkan materi pengenalan kampus. Setelah dosen keluar dari ruangan, para panitiapun mulai masuk. Terlihat Budi mengambil alih acara. "Selamat pagi adik-adik" sapa Budi kepada para mahasiswa. "Pagi kak" jawab mereka serentak. "Ok.. Karena kalian tadi udah dapat materi pengenalan kampus. Sekarang kakak pengen kalian pergi kesuatu tempat yg penting dikampus ini. Terutama buat kalian yg suka baca buku. Kakak pengen kalian ambil 1 buku yg ada diperpustakaan yg kalian anggap menarik. Setelah itu kalian baca dan buatlah resensinya. Nanti setelah istirahat dikumpulkan ke panitia. Yg terbaik nanti bisa presentasi didepan dan yg lain harus memberi tanggapan. Khusus buat kak Farhan dan Sifa nanti wajib presentasi karena pagi ini sudah membuat keributan. Semuanya faham?"
"Siap, faham" jawab mereka kompak.
Semua mahasiswa berbondong bondong menuju perpustakaan. Begitu juga dg Sifa & Nindi.
"Mampus lo Fa, disuruh adu debat sama kak Farhan" Kata Nindi menakut nakuti. "Gitu doang ngapain takut. Walapun gue kalah kan juga gak bakal dimakan si harimau itu"
"Hus pelan-pelan. Jangan nambahin masalah. Lagian lo. Hari pertama masuk kampus bukannya cari cowok malah cari masalah. Lo itu seharusnya bersikap manis ke senior. Siapa tau ada yg nyantol" kata Nindi sambil menyenggol Sifa. "Nin.. yg namanya jodoh itu gak perlu dicari. Jika Tuhan menakdirkan, tanpa gue bersikap manispun ntar jodoh itu bakal dateng sendiri. Emangnya lo yg kekampus harus dandan dulu kyk orang mau kondangan. Dah gitu pakai senyum-senyum ke senior lagi"
"Namanya jg usaha Fa"
Tak terasa mereka sudah sampai di perpustakaan. "Fa. Kita mencar ya. Biar cepet selesai tugasnya. Setelah ini kita cari makan"
Sifapun mengiyakan dg isyarat tanganya. Setelah 30menit tugas merekapun selesai. Mereka keluar perpustakaan sambil bercanda. Sifa berjongkok mengambil sepatu yg tertata rapi di rak. Tiba2 ada pesawat kertas menabrak tanganya. Karna penasaran iapun membukanya.
" _Untuk kamu yg berbaju putih. Jagalah hati untukku. Agar suatu hari nanti kesetianku berbuah kebahagiaan. Biarlah aku menjadi tinta hitam. Karena aku ingin membuatmu berharga._ "
Melihat Sifa yg tersenyum membaca kertas itu Nindipun penasaran. Ia merebut kertas itu dan membacanya. "Cie.. yg mau berkorban jadi tinta.. dari siapa nih" goda Nindi. "Mana aku tahu.. Orang iseng kali. Lagian yg berbaju putih kan bukan aku aja. Masak iya zaman sekarang suka orang pake surat. Emangnya gak punya HP apa"
"Iya juga ya. Mungkin menurut orang itu kalau ada yg ribet ngapain cari yg simpel" mereka berduapun tertawa bersama. Berjalan menuju kantin untuk memberi makan cacing yg sudah meronta. Walaupun dalam hati Sifa bertanya "apakah mungkin Tuhan ingin mempertemukanku dg jodohku menggunakan cara yg konyol ini" entahlah.. hanya Tuhan yg tau segalanya.