Hai semuanya 🤗
Saya Star... 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan Cerpen Star ini 😊.
Tanggal pembuatan : 11 - 05 - 2022
Malam sudah semakin larut, seorang pria sedang berjalan ditempat yang sangat sunyi. Ia baru saja pulang dari tempat pengajian untuk mengajarkan anak - anak belajar membaca kitab.
Matanya tak sengaja menangkap sosok yang samar - samar terlihat seperti bayangan yang ada dibalik batang pohon.
"Apa itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Karna penasaran ia mencoba untuk mendekat, tapi langkahnya terhalang oleh sebuah pohon yang besar.
Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana tidak? sosok tersebut seperti berada didalam sebuah ruangan kaca dan ia hanya mampu melihatnya dari luar saja tapi tak dapat menyentuh.
"Masak iya hantu warna hijau sih," batinnya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal, sedangkan satu tangannya sedang ia gunakan untuk memegang kitab yang baru saja ia ajarkan malam ini.
Setelah mengumpulkan keberanian, ia memberanikan diri untuk memastikan apa yang dilihatnya itu adalah sebuah kenyataan dan benar saja, saat ia sudah melewati batang pohon itu sosok tersebut masih ada diposisi semula.
Pria kecil itu tampak duduk bergetar sambil memegangi lututnya. Wajahnya saja sudah ia benamkan dengan dahi yang ia tempelkan pada kedua lutut kakinya dengan tangan yang memeluk kedua kakinya yang ditekuk.
"Assalamualaikum," ucap sang ustad.
"Aaa... Setan!!!" pekiknya lalu bangkit dari duduknya dan itu sontak membuat sang ustad jadi ikut terkejut sambil mengusap dadanya.
"Eh! rupanya pak ustad," ucapnya cengengesan sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal lalu menunduk malu.
"Astagfirullah... Kamu toh Dul rupanya! ustad kira siapa... coba! ngapain sih kamu malam - malam disini? mana sendian lagi," tanyanya.
"Anu ustad! saya tadi abis kejar maling sandal di Musalla! eh! dia larinya sampai sini, terus saya jadi kehilangan jejak deh." jawabnya.
"Oh... Sekarang udah ketemu?" tanyanya lagi.
"Gimana mau ketemu pak ustad... Malingnya aja kabur," jawabnya.
"Sendalnya maksudnya," jelasnya.
"Atu kalau malingnya kabur dibawa sama sendal - sendalnya atu ustad..." herannya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya kesana - kemari.
"Oh iya ya! lupa ustad!" ucapnya sambil menyengir kuda.
"Yasudah... Mendingan sekarang kita pulang aja ya... Ngapain juga malam - mama masih disini," ajaknya.
"Tapi ustad," ucapnya menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?" tanyanya.
"Anu ustad!" ucapnya mencoba memberi tau apa yang bergantung dibelakang pak ustad.
"Anu apa?" tanyanya lagi merasa heran dengan tingkah pria yang umurnya terpaut lebih muda darinya tampak mematung melihat sesuatu yang ada dibelakangnya.
"Itu ustad! dia warna merah, bulet - bulet, banyak rambut keribonya ustad! kayak orang yang abis kerestrum gitu," beritahunya sambil terus menunjuk kebelakang dengan jari telunjuknya.
Sang ustad yang merasa penasaran jadi ikutan untuk melihat kearah yang ditunjukkan oleh bocah tersebut.
Saat ia sudah membalikkan wajahnya kearah sana, ia sangat terkejut. Bagaimana tidak? waktu sudah larut malam begini, bocah itu masih saja sempat - sempatnya tidak mau pergi hanya karna ingin mencicipi buah rambutan yang sudah matang itu.
"Ya ampun... Hanya karena itu kamu gak mau pulang?" ucapnya sambil terkekeh pelan dengan satu tangan mengusap wajah.
"Hehe! iya ustad! lagian perut Abdul laper ustad," beritahunya lalu suara kokokan perutnya pun mulai terdengar setelah ia mengucapkannya.
"Hadeh... Ada - ada saja kamu ini," ucapnya dan Abdul hanya menyengir kuda.
Tanpa pikir panjang ustad langsung menarik tangan Abdul untuk berjalan mengikutinya tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya.
"Eh - eh! ustad! kok Abdul malah diseret - seret gini sih?" tanyanya dengan tubuh yang hampir tumbang karna belum siap menerima teriakan mendadak dari pak ustad.
"Katanya kamu lapar kan?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya.
"Iya ustad! emangnya kenapa?" responnya.
"Ya ustad mau ajakin kamu makan diwarung makan yang ada didekat sini, mau gak?" tawarnya.
Mata Abdul jadi berbinar - binar dibuatnya, dengan cepat ia langsung menganggukkan kepalanya sambil berkata "mau banget ustad! makasih banyak ya ustad."
"Sama - sama," jawabnya lalu kembali fokus menarik tangannya hingga sampai ke warung yang akan mereka singgahi.
Diwarung ustad mulai menceritakan kejadian aneh mengenai matanya sebelum menjumpai Abdul dan Abdul sangat terkejut saat mendengarnya.
Abdul pun mengusulkan agar pak ustad menguji kembali penglihatan pak ustad di Musalla yang ada dikampung mereka.
Ia pun setuju karna itu bertujuan untuk menangkap maling sandal yang akhir - akhir ini membuat para jama'ah pemilik sandal merasa resah.
Keesokan harinya sesuai rencana mereka sudah menaruh sebuah triplek berukuran besar disisi Musalla tempat biasa para jama'ah menaruh sandal mereka.
Saat para jama'ah sudah melaksanakan sholat dengan khusyuk, ia yang bersembunyi disudut lain Musalla mulai melihat kearah triplek tersebut yang seperti dinding kaca.
Matanya jadi sedikit menyipit saat melihat bayangan seseorang yang datang sambil membawa sebuah karung, setelah memastikan kondisi aman dengan cara melihat kiri kanan, baru rencana yang tak seharusnya untuk ditiru itu dilakukan.
Setelah mencari cara untuk memergokinya akhirnya ia pun berhasil menahan si pencuri sendal, ternyata pelakunya adalah seorang remaja pria.
Pas sekali para jama'ah yang baru saja selesai sholat dapat melihat siapa biang yang selama ini mencuri sendal mereka.
Untung saja ia dapat mencegah keinginan para jama'ah yang ingin menghakiminya sendiri, tapi saat mengetahui alasan ia mencuri barulah ada belah kasihan yang muncul dibenak mereka.
Ternyata ia hanya hidup dengan adik kecilnya yang masih berumur lima tahun dan sekarang adiknya sedang sakit jadi sudah tentu memerlukan obat bahkan makanan untuk kesembuhannya.
Beberapa jama'ah malah ada yang berinisiatif untuk membantunya, semenjak hari itu sendal yang biasanya sering hilang kini tidak pernah diambil lagi.
Rakyat dapat merasa tenang dan ia jadi merasa sangat bersyukur memiliki mata yang dapat tembus pandang hanya dalam keadaan darurat saja.
🍃 The and 🍃