"Coba tebak ya! Ikan, ikan apa yang bikin ngeri?!" Gono, teman sekelas ku kembali melempar tebak-tebakan.
Gono memiliki postur tubuh gempal berisi. Dengan muka asli khas orang oriental. Dia senang sekali melempar tebak-tebakkan setiap kali ada jam pelajaran kosong seperti sekarang ini.
Sebenarnya Gono memiliki nama asli yang bagus. Thomas Sugiono. Namun, karena ia memiliki kepribadian yang kelewat humoris, ditambah tingkah yang sesekali konyol, pun didukung dengan penampilan fisiknya yang rata-rata, akhirnya nama indahnya itu harus menganggur tak terpakai. Tidak "Thomas". Tidak "Gio". Melainkan "Gono".
Gono pun tak marah jika kami, teman-temannya memanggilnya "Gono". Katanya, "Asal jangan panggil gue 'Bego-no' aja!"
Hahaha. konyol sekali bukan, jawabannya itu? Dia memang temanku yang humoris.
Jadi, kembali ke saat ini, ketika hampir seperempat penghuni kelas XI IPS 2, memfokuskan perhatiannya pada Gono.
Beberapa dari kami memberanikan diri untuk menjawab tebak-tebakkan yang dilontarkan oleh Gono tadi. Aku pun sebenarnya ikut memikirkan jawaban untuk tebakan itu. Meski dalam pandangan kawan-kawanku, aku tampak sedang tertidur.
"Ikan hiu!" Tebak Edo, teman sebangku Gono.
"Salah!" tukas Gono.
"Ikan paus!" Tebak Doli, temanku yang lain.
"Salah!"
"..."
"..."
"ooh.. Ikan gergaji pasti!" Tebak Dinda, pacar Doli.
"Eh, emang ada ya ikan gergaji?" tanya Doli.
"Ada, Say. Itu loh, yang mulutnya panjang dan bentuknya kayak gergaji. Cuma aku lupa namanya apa.."
"oohh.. Gimana, Gon? Bener ikan gergaji?" masih terdengar suara Doli yang menuntut jawaban pada Gono.
"Tetep salah!" tukas Gono, dengan nada kemenangan yang kental terasa.
"Jadi apa dong? Udah ah. Nyerah aja. Kalau udah Elu yang ngasih tebakan, gak bakal ada deh yang bisa ngasih jawaban bener!" sahut Edo menyerah kalah.
"Yakin nih gak ada yang mau coba jawab lagi?" tanya Gono memastikan.
"Iya.." koor semua orang yang menyimak tebak-tebakan Gono.
"Jadi, jawabannya adalah....." Gono sengaja menggantungkan jawabannya selama beberapa waktu.
"IKAN TERI!" Jawab Gono kemudian, setengah berteriak.
"Lho, Kok ikan teri sih? ikan kecil gitu mana bisa bikin ngeri, Coy!" Geri mencebik kesal.
"Iya! gak masuk akal banget! Itu sih justru ikan dedemenan nya emak gue tahu. Digoreng iris cabe ijo setengah kering rasanya asli maknyusss!" Teo si gembul ikut dalam obrolan.
"Wuu! Elu tuh, mikirin nya soal makanaaann melulu! Inget perut, Bro! Itu perut udah kayak gentong! diet, napa! diett.." Cecar Edo.
"Sial, Lo! mending gua begini. Daripada Lo, perut ama muka rata semua!" umpat Teo.
"Eh. udah dong! Tiap hari kerjaannya ribut terus. Jadi, No, ko ikan teri sih jawabannya?" sambung Echa, ketua kelas XI IPS 2 sekaligus wasit, eh, hakim di setiap perselisihan di kelas ini.
"Kenapa Ikan teri bisa dibilang ikan yang bikin ngeri...? soalnya.. Ikan teri nya Teri-ak 'MALIING! MALIING!' Hahahahahaaa!!" tawa Gono pecah seketika.
Disambut koor "huu" dari teman-teman sekelas.
Aku yang tadinya pura-pura tiduran pun tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Memang, teman sekelas ku yang satu itu selalu saja bisa memancing tawa.
Setelah lewat beberapa waktu kemudian, kegaduhan akibat jawaban Gono tadi pun mereda. Tapi lalu suara Gono kembali memimpin cerita.
"Eh, tahu gak, gua punya Seket edmer loh.." Gono lanjut bercerita. Kali ini ia sengaja mengecilkan suaranya.
Ini membuatku mau tak mau ikut penasaran. Akhirnya aku pun memalingkan wajahku ke arah Gono berada. Mataku sengaja kubuka untuk melihat raut muka Gono ketika berbicara.
"Apaan sih itu? Seket.. seket apa?" tanya Doli kebingungan.
"Seket Edmer, Dol! itu loh.. pengagum rahasia.." terang Gono.
"Secret Admirer, itu mah, Gogoonn!" koreksi Echa.
"Nah, iya itu maksud gua. Jadi, udah tiga hari ini gua nemuin kertas dalam rak sepatu gua. Kejadiannya pas pulang sekolah tuh gua nemuin kertas itu," tutur Gono.
"Kertas tagihan hutang ya, Gon?" celetuk Edo.
"Bukan!" sanggah Gono.
"Kertas ujian Sosiologi kali.. Lu minggu lalu di remed (ujian ulang) kan?" celetuk Doli.
"Bukan, Dol! Masa iya kertas ujian Sosio, kan gua tadi udah bilang, kalo gua udah nemuin kertas-kertas itu tiga kali. Emangnya kita ujian Sosi berapa kali?!" Gono kembali menyanggah.
"Terus, terus?" tanya Dinda, pacar Doli, yang ikut penasaran.
"Ya terus, sekarang gua nanyain deh ke Lu semua. Kira-kira Lu tau gak, siapa Seket Edmer gua ini?"
"Secret Admirer, Gon!" koreksi Echa kembali.
"Iya! Itu dah pokoknya! Jadi Lu punya terduga nya enggak?" Tanya Gono.
"Memangnya kertas nya kayak gimana sih, sampe kamu bisa mastiin dia itu secret admirer kamu, Gon?" Celetuk Sena, 'Barbie'-nya kelas.
"Ya dari tulisannya lah, Sena ku yang cantik.." gombal Gono. Yang kembali mengundang koor "Huuu" dari teman sekelas.
"Nih, kubacain deh ya satu persatu," tawar Gono kemudian.
Gono kemudian mengambil sesuatu dari saku celana abu-abu yang dikenakannya. Dan ternyata, itu adalah beberapa lembar kertas yang telah lusuh.
Gono terlihat menarik napas sebentar, sebelum akhirnya membaca apa yang tertulis pada kertas itu.
"Duhai Pria, aku tengah dirundung demam kini. demam cinta kepadamu," Ucap Gono mengawali.
"Mana-mana, coba lihat!" Pinta Edo seraya merebut kertas yang barusan dibaca oleh Gono.
Sementara itu Gono melanjutkan membaca lembar berikutnya. "Aku berharap, takdir kita akan sering bersua. Layaknya dua kutub magnet yang akan saling tarik-menarik ketika keduanya dipertemukan."
"Duh! dalem amat itu kata-katanya. Yang nulis pasti jago bikin puisi deh!" Dinda nenyimpulkan.
"Lanjut gak nih?" Gono bertanya. Sedikit merasa kesal karena ucapannya lagi-lagi dipotong.
"Iya lah lanjut, Gon! terus lembar kertas yang ke tiga tulisannya apa?"
"Jika esok dunia berakhir, harapku hanya satu. Bersanding denganmu, hingga akhir waktu," ucap Gono menutup kalimatnya.
"Asiiik!" teman sekelas ber "koor" ria.
"Iya kan? Jadi, Lu ada yang tahu, gak kira-kira ini kertas dari siap--"
"Eh, Pak Muhsin datang! Pak Muhsin datang!" suara kencang Bayu seketika itu juga memecah kerumunan di dalam kelas. Begitu mendengar nama Pak Muhsin disebut, yang ada di pikiran hampir semua penghuni kelas XI IPS 2 adalah "Mr. Killer".
Guru Geografiku ini memang terkenal super strict dan tegas. Banyak dari teman sekelasku yang mendapat hadiah hukuman PR tambahan dari guru kami ini.
Alhasil, setiap orang pun langsung menuju bangku nya masing-masing. Menyambut Mr. Killer yang sudah terlihat sangar ketika memasuki ruangan kelas, lengkap dengan kumis baplang nya.
***
Ketika jam istirahat tiba, hampir semua teman-temanku langsung menuju ke kantin sekolah. Aku sendiri memilih untuk mampir terlebih dulu ke toilet.
Tapi, langkahku terhenti di tikungan sebelum berbelok ke arah toilet berada.
Saat itu di lorong tempatku berdiri hanya ada dua orang yang berlalu lewat. Langkahku terhenti ketika aku tak sengaja mendengar suara wanita yang menyebut namaku.
"Jadi jangan salah paham ya, Gon. Kertas itu sebenarnya aku maksudkan untuk Andre.." ucap seorang perempuan di balik tikunagn.
"Andre?" suara Gono terdengar getir.
"Iya.. Tapi aku juga bingung. Kok kertasnya bisa ada di rak sepatu kamu sih? Kamu enggak.." ucapan perempuan entah siapa itu terpotong. Gono buru-buru menyanggah apa yang dipikirkan oleh perempuan itu.
"Enggak! Gua gak suka iseng ngambil punya orang kok!" tukas Gono terdengar berang.
"Terus..Kok bisa ya?"
Aku terhenyak. Tiba-tiba saja aku teringat pada sesuatu hal.
Aku ingat, sepulang sekolah selama tiga hari ini, aku selalu menemukan lipatan kertas di rak sepatuku. Tadinya kupikir itu adalah sampah. Jadi aku asal meletakkan kertas itu di rak orang lain.
Tapi nyatanya dugaanku itu salah besar. Dan kini, diakibatkan oleh aku yang membuang kertasnya secara asal, Gono malah mengira kertas itu ditujukan padanya.
Bagaimana pula ini?
Belum sempat aku memutuskan untuk tetap diam di tempat atau muncul dan melewati Gono untuk masuk ke toilet, tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrakku dari belakang. Ini mengakibatkan aku akhirnya hampir terjatuh ke depan. Tapi buru-buru aku menyeimbangkan tubuh, sehingga aku tak terjatuh.
Namun, oleh sebab tabrakan itu, akhirnya Gono dan perempuan entah siapa itu, pun mengetahui keberadaan ku.
Perempuan yang ternyata Secret Admirer ku itu langsung malu dan berlari pergi menghilang, di balik tikungan.
Sementara itu Gono hanya terdiam memandangiku. Tak kulihat binar humor pada wajah temanku itu lagi.
Suasana pun tiba-tiba saja menjadi hening.
Merasa tak enak hati karena tertangkap basah mendengar pembicaraan privat milik Gono. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta maaf kepadanya.
"Sorry, Gon. Aku gak sengaja.."
PRETt..
Tiba-tiba saja angin di perutku mendadak keluar. Bunyinya cukup nyaring, dan ku yakin Gono pasti juga mendengarnya.
Aku merasa sangat malu, sekaligus juga mulas. Aku yang terkesan cool di mata teman-temanku malah tak bisa menahan kentutku di hadapan orang lain.
Perutku memang sedari tadi sudah kutahan-tahan sampai pembicaraan Gono selesai. Sayangnya suara nya itu begitu tak sabar menunggu titahku.
Ketika aku tak tahu harus bersikap atau mengucapkan apalagi, tiba-tiba saja aku mendengar Gono berkata, "Gua rasa, dengan kentut barusan milik Lu, kita sekarang impas. Jadi, jangan ceritain apa yang barusan Lu denger ke orang lain, Ya!"
"O.. Oke.."
Dan Gono pun berlalu pergi menjauhi toilet. Sementara aku bergegas masuk ke dalam salah satu bilik toilet untuk menyetor hafalan, eh! menyetor feces ku, maksudnya!
***