Aku Adalah seorang mahasiswi biasa saja yang berkuliah di kampus elit. Seperti yang kalian duga... awal masa kuliahku sangat sulit dan juga menyakitkan. Ada beberapa orang yang menggangguku karena aku adalah rakyat miskin.
Namaku adalah Ryana. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan juga saudara-saudaraku. 2 kakak laki-laki dan 2 adik perempuan.
Setelah di semester pertama aku mengalami penderitaan itu. Saat awal semester dua aku mengalami hal yang tak pernah aku duga sebelumnya.
Dimulai dari saat itu...
Aku dan teman sejurusanku sedang menata ruangan seindah dan sekreatif mungkin dalam rangka hari kebudayaan. Kegiatan ini dilakukan setiap tahunnya.
Para mahasiswa di perbolehkan membuat karyanya sendiri baik makanan, pakaian, atau manik-manik untuk di jual di hari itu. Hari kebudayaan berlangsung selama 1 Minggu setiap jam 18.00 s.d Selesai.
Saat aku sedang asik di pojokan pura-pura merapikan meja. Sovia, ketua kelas kami memanggilku. Dia berkata, "Ryana...apa kamu bisa membantuku?"
Aku menoleh dengan spontan dan mendengarkannya berbicara. Lantas aku mengangguk dan segera menghampirinya.
"Apa yang bisa aku bantu?" Ujarku dengan mata semangat. Sebab aku sangat ingin keluar... aku merasa sangat sumpek dalam ruangan ini.
"Tolong belikan lem dan beberapa barang yang sudah aku tulis disini." Ujar Sovia sambil menyerahkan kertas dan beberapa lembar uang.
Aku menerimanya dan membaca apa saja yang aku beli.
"Jika uangnya kurang, gunakan uangmu dulu yah." Ujarnya dengan santai.
Melihat itu aku sudah tahu kalau mereka memang berencana membuatku sibuk.
Aku pun menjawabnya. "Baiklah."
Lalu aku keluar dari sana dengan perasaan kesal bercampur sedih. Aku tidak tahu kapan mereka akan menggangguku.
Aku berjalan dengan lelah ke toko yang ada di belakang kampus. Itu adalah toko khusus untuk keperluan kampus.
-----------------------
Baiklah aku sudah kembali dari membeli beberapa barang itu.
Saat berjalan menuju ruang kelas. Aku melihat seseorang di depan tak sepatuku. Awalnya aku tidak menyadarinya dan aku berjalan melewatinya. Namun tak lama kemudian aku sadar dan segera menghampiri rak sepatuku.
Aku tahu tak mungkin ada yang mencuri karena rak sepatunya terkunci... Namun aku melihat sebuah kertas di selipkan di lubang kecil yang terdapat di sebelah penutup raknya.
Aku mengambilnya dan hendak membuangnya. Aku yakin itu adalah surat hujatan lagi seperti surat lainnya yang sering ia terima belakangan ini.
Namun keinginan untuk membaca suratnya terbesit dalam benakku. Setelah menghela nafa panjang aku pun membuka suratnya dengan perlahan dan membacanya.
ISI SURATNYA:
Dear Ryana
Haii... aku penggemarmu... kamu sangat keren dan membuatku kagum pada pandangan pertama... Aku menyukaimu...
From : Anonim_
Setelah membaca itu... aku hanya bisa membelalakkan mataku. Aku berpikir, "mungkin saja ini hanya salah satu akal-akalan mereka untuk menggangguku."
Lalu aku memutuskan untuk meletakkan surat itu di atas rak sepatuku. Aku pun melanjutkan perjalananku ke kelas. Hari kebudayaannya akan diadakan Minggu depan. Jadi kami semua punya banyak waktu untuk mempersiapkannya.
Aku pikir itu adalah surat baik terakhir yang datang padaku. Namun selama 1 Minggu itu satu persatu surat terus terselip di rak sepatuku. Karena merasa sangat tidak nyaman. Aku pun membalas suratnya.
Isi suratnya...
Dear Anonim
Jika kamu sebegitunya mengagumiku dan menyukaiku. Maka... di hari terakhir kebudayaan temui aku dan nyatakan perasaanmu. Aku akan menunggumu di perpustakaan. Jika kamu tidak datang... aku anggap kamu hanya bermain-main. Terima kasih.
From: Ryana.
Dengan harapan mendapat balasan. Aku pun menyelipkan surat itu di tempat surat lainnya biasanya di selipkan. Aku dan beberapa temanku pun menikmati hari kebudayaan yang sedang berlangsung...
Belum ada 1 hari. Ternyata suratku sudah di balas. Dengan segera aku membuka suratnya dna membaca isinya.
Dear Ryana
Baiklah. Tunggulah aku di perpustakaan di akhir hari kebudayaan.
From : _Anonim_
Aku membelalakkan mataku membacanya. Apakah dia serius. Pikiranku kacau. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang lain.
Aku tidak ingat mengenal para pria yang dekat denganku.
-----------------------_---_----------
Saat aku sedang bertepuk tangan di keramaian sambil menatap beberapa orang yang sedang tampil di depan. Tiba-tiba ada yang mencolek pinggangku. Aku sangat terkejut dan melihat ke berbagai arah. Namun semuanya nampak biasa saja.
Aku berpikir mana mungkin ada yang menyukai gadis biasa sepertiku. Kemudian terbesit pikiran tentang tuan "Anonim" yang katanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.
'ah tak mungkin' pikirku tak percaya. Lalu aku pun melanjutkan kegiatanku. Karena kebisingan selama hari kebudayaan membuatku melupakan si Tuan "Anonim".
Malam harinya aku hendak pulang bersama salah seorang teman karibku.
Ana berkata, "Apa kamu tidka melupakan apapun di kampus?"
Aku mengingat-ingat sebentar dan sepertinya tidak ada yang terlupakan karena aku tidak membawa apapun.
"Aku tidak melupakan apapun." Ujarku pasti. Lantas aku pun berjalan bersama temanku. Namun baru dua langkah aku berjalan, kakiku berhenti dan segera berbalik.
"Ada apa?" tanya Ana dengan terkejut.
"Aku melupakan hal penting." ujarku dengan tergesa-gesa.
Ya aku melupakan janjiku dengan si Tuan "Anonim". Ini sudah jam 11 malam. Dan hari kebudayaannya akan dianggap berakhir jam 12 nantinya.
Aku sangat takut... aku harap si Tuan "Anonim" tidak pergi meninggalkannya. Ini pertama kalinya ia meyakini sesuatu dengan teramat sangat. Aku berlari dengan cepat melewati lorong-lorong dan tangga karena perpustakaan ada di lantai 5.
Hingga akhirnya aku sampai di depan pintu perpustakaan yang sudah terkunci. Sepertinya petugas sudah menutup pintunya karena sudah waktunya.
Dengan perasaan yang sangat sedih aku pun terduduk di depan pintu itu sambil memeluk lututku dan mulai menangis. Hingga tanpa ku sadari ada sosok yang duduk di sebelahku dan memelukku.
Karena.aku terlalu sedih aku pun menoleh seadanya hingga akhirnya aku menyadari bahwa itu adalah seorang pria. Aku pun berusaha memberontak dan tak mau di peluk.
Namun ia malah mengeratkan pelukannya dan berbisik.
"Tenanglah Ryana. Aku adalah penggemarmu."
Aku sangat terkejut namun juga senang. Sambil semakin menangis aku memeluknya balik.
"Tenanglah," bisiknya lembut.
"Maafkan aku..." Ujarku penuh penyesalan.
"tidak apa... aku baru menunggumu 2 jam kok. Itu tidak lebih lama dari saat aku menunggumu selama ini." Bisiknya lagi yang membuatku semakin mengeratkan tanganku memeluknya.
"Aku sudah datang... artinya kamu bersedia menjadi milikku kan." Ujarnya lagi yang membuat hatiku bergetar. Benarkah ini seorang Varu menyatakan cinta padanya?.
Varu adalah bintang kampus yang memiliki banyak kelebihan. Ada puluhan mahasiswi yang mengaguminya dan menginginkannya. Ia bahkan tak pernah sekalipun mengharapkan agar dirinya bisa bertutur sapa dengan Varu.
"Iya..." ucapku pelan sambil menyembunyikan wajahku di bahunya. Aku merasa sangat malu sekaligus senang. Siapa sangka seseorang yang tidak sengaja ia tabrak dulu jatuh cinta padanya. Sangat tidak terduga bukan. Orang yang sangat asing dan tidak masuk dalam perhatian kita ternyata menyukai kita.
Itu lah akhir kisah tidak terdugaku yang pertama. Setelah kejadian itu ada puluhan kejadian tak terduga lainnya.
Dear Pembaca
Janganlah kalian memosisikan diri kalian seolah kalian adalah manusia yang tidak beruntung.
Karena Tuhan pasti mempunyai Sejuta keberuntungan untukmu yang akan di hadiahkan padamu pada waktunya.
From: Sang Kritikus