Tak terasa sudah cukup lama aku menatapnya tanpa rasa bosan, ya aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan membuat gambaran dirinya melalui secarik kertas menggunakan pensil dan melukisnya semampuku, aku bisa menggapai hatinya, namun aku memilih menjauh untuk membiarkan harapanmu terwujud, yang bisa kulakukan hanya mendengar curhatanmu tentang dia yang kusayangi.
...
"hey bro" sapa fahmi lalu datang menghampiri malik yang sedang duduk sendiri.
"cantik ya dia?" melihat kearah mika, tak mendapatkan jawaban, fahmi menepuk pundak bagian kiri malik, "hey jawab", dengam kesal.
"apa perlu aku jawab" tegas malik
" ah sudah lah" fahmi berdiri dengan kesal yang sedari tadi menunggu odah yang Selesai berdandan.
sedang asik berbicara, malik dikagetkan dengan kedatangan rania, seorang gadis SMP, yang menyimpan perasaan pada malik.
"kak malik" sapa rania sambil menahan rasa malunya,
"hmm sudah kuduga, ternyata" fahmi berdiri menyindir malik yang sibuk merapikan tali sepatunya.
"apasiii" kesal Malik yang disindir terus olehnya.
fahmi hanya tersenyum meliat sahabatnya yg kesal padanya, pada saat itu juga muncul odah dari dalam kamar
"yukk" merayu fahmi yg tampak kesal menunggunya, "ah y sudah ayo berangkat" ketus fahmi pada odah
meraka pamit meniggalkan dua sejoli beda usia yang sala satunya sedang dimabuk cinta, di iringi kebisingan motor fahmi yang kendarainya pagi itu..
"kak nanti pengen kado apa?" . "tak perlu, ada kado kamu datang ke acara perpisahan nanti pun sudah cukup" jawab Malik dengan melempar senyum kearahnya
"seriusss" tanya rani yang belum mendapatkan kepastian, kali ini pun malik hanya membalasnya dengan senyuman lalu berpamitan padanya untuk mengajar.
Di kelas tersebut mika menunggunya untuk memulai kelas bersama, "hmmm telat, ini ni dola kalian,jangan di contoh ade ade" malik hanya mengangkat sebelah alisnya saat mendengar mika menyindirnya,
"dari mana saja" mika yang dibumbui rasa penasaran pada malik.
"tadi itu ada tadi ada ngobrol sedikit"."ketemuan sama rania ya" salah satu siswi menyela malik, dan suara kelaspun di penuh dengan sindiran meggelitik kepada Malik.
plakkkkk… mifta mengeplak meja, "ssssst diam semua masi bocah juga".
Malik yang mendengar hal itu hanya bisa menyernyitkan dahi dan merasa tergelitik dengan siswa siswanya.
pelajaran pun di mulai, dengan membuka bab 5 di bawah arahan mika, malik yang mendapat tugas untuk mendokumentasikan segala kegiatan para mahasiswa,lalu malik mengeluarkan ponsel dan memotret dari segala arah.
malik merekam beberapa moment menurutnya penting untuk dikenang nantinya, mika pun memperhatikan malik dengan gestur yang tidak seperti memotret,karena sesuatu hal mendesak ia pun membuka jaket KKN nya dan menitipkannya pada mika, lalu beranjak pergi kearah toilet.
mika dengan rasa penasarannya mengambil ponsel dari kantong jaket malik, namun betapa kagetnya ia saat melihat isi galerinya.
saat malik datang, ia menyadari sebelum pergi, ia merasa lupa mengunci ponsel, sehingga ia pun terpaksa mengentikan proses yang sama sekali belum mencapai titik akhir, dengan sigap ia menggapai jaket dan memeriksa kantong, dan merasa lega karena ponsel terkunci.
selesai jam pelajaran, mika memberanikan diri bertanya pada malik mengenai hal yang di temukan diponselnya tadi "lik, kan cuma disuruh poto knapa ada video ya?"
Malik tersentak mendengarnya, iapun akhirnya sadar, mika baru meliat isi galerinya.
belum mendapatkan jawab mika menepuk bahunya, "lik, masi sadar?" dengan nada sedikit naik
"hahhha, itu cuma salah pencet aja tadi, bakalan di hapus kok ini liat" sambil menghapus file yg di saksikan oleh mika sndiri.
"jadi jangan geer dulu ya kacamata" lanjut Malik.
"ihh yee, ya mana mungkin aku punya perasaan seperti itu" mika pergi meninggalkan malik yang berdiri sendiri.
malik membatin menyesali kelalaiannya tadi sambil memperhatikan mika yang perlahan menjauh darinya, malik lagi lagi dikagetkan dengan kedatangan ana, yang menepuknya dari belakang, lalu membahas perihal hubungan nya dengan ira mahasiswa KKN dari posko sebelah..
"bagaimana hubunganmu?" tanya ana
"hubungan?" jawab malik, "ya dengan ira siapa lagi coba" tegasnya "kita berteman baik dia juga seorang ibu yang baik" puji malik kepada teman ana itu
"kalian saling mencintai?" lanjut ana,
"mungkin" malik menoleh lalu tersenyum menatap ana,
mereka pun berjalan bersama menuju posko, sembari berdiskusi tentang kehidupan masing sebelum di kumpulkan dalam satu rumah yang sering mereka sebut posko
***
malam harinya semua anggota berkumpul, untuk mendiskusikan proker mural dilakukan esok pagi disekolah, mereka sepakat malik yang lebih paham tentang hal itu, ditunjuk sebagai ketua pada proker tersebut.
saat malik duduk sendiri diteras, fahmi pun menghampirinya, sambil membawa dua cangkir kopi, malik yang sadar akan niat sahabatnya, tetap membiarkan fahmi bercerita panjang tentang perasaannya pada mika
"lik"
"yah" malik menjawab sambil menatap langit.
"mika lagi kan?" lanjutnya lalu mengarahkan pandangannya ke fahmi.
fahmi mengangguk dan tersenyum melihat sahabatnya yang tau akal hal tersebut
"nih kopi" ucap fahmi pada malik yang sambil meyeruput kopinya sendiri.
"aku ragu lik, jika mika mau menerima perasaanku" fahmi yang memulai cerita dengan nada penuh kegundahan akan perasaannya
"sudah di coba?, fahmi terdiam, "atau aku harus memulainya dulu" sembari membakar rokok.
"sialan, teman macam apa kamu lik" fahmi yang merasa kesal dengan malik, yang tak tanpak serius menggapi curhatan nya
"aku butuh saran darimu, tolong janga ikut ikutan seperti rian," kesal fahmi, "ikut?" tanya malik dengan penasaran.
"sore tadi" sambil mengelah nafas, ia pun menceritakan apa yang diliatnya sore tadi, tentang rian yg secara terang terangan mendekati mika, fahmi yang tau aka hal tersebut mengerutu kesal seolah saingannya tersebut lebih punya peluang untuk mendapatkan hati mika.
"yaa mungkin saja, tapi siapa yang tau"
"dan bisa jadi mereka besok pacaran" lanjutnya sambil tertawa menatap fahmi yang sedang kesal.
kesal meliat malik tak memberi dukungan, fahmi beranjak dari duduknya,
"ah sudahlah buang buang waktu aku bicara ini" dengan muka kesalnya masuk kedalam rumah dan memutuskan untuk tidur.
sambil memandangi fahmi yang masuk kekamar, malik lalu menoleh kearah sketsa wajah mika yang di lukisnya dua hari yang lalu, dengan wajah yang mengisyaratkan kekaguman terhadap sang pencipta, tiba tiba setetes air jatuh ke lembaran kertas tersebut, sadar akan kemampuannya yang terbatas,ia pun bergumam
"untuk kesekian kalinya aku merelakan orang benar benar aku sayang" sembari mentap bintang "dan membahagiakan mereka tak bisa kusayangi"
kalimat tersebut terus terngiang dipikiran malik ketika memandangi mika baru saja yang sampai dari rumah pak kades,
"loh lik, itu apa?" tanya mika
"apa yang mana?" mika lalu memberi isyarat dengan menunjuk mata sendiri,
"oh hahhah, aku mengantuk rupanya?" sambil menyapu air matanya, namun mika tau apa terjadi pada Malik bersedih karena mantan pacarnya yang membuangnya tanpa alasan.
tak sengaja mika meliat sketsa dirinya pada kertas, namun memilih tak menggubrisnya.
malam pun berlalu, dan matahari yang selalu terang, menampakkan senyumnya pagi itu
Fahmi dan malik berada didepan tembok yang sebentar lagi akan mereka hias dengan cat, "kamu itu enak lik, tak seperti aku yang selalu sial dengan wanita, kamu dengan gampangnya bisa mendapatkan apa yang kamu mau, tertuama dalam percintaan". ketus fahmi pada malik yang saat itu sedang sibuk menentukan sudut awal muralnya, belum sempat membalas perkataan fahmi, erik dan rian pun datang menghampiri mereka.
"lik", sapa erik dengan tersenyum pada malik
"mau di bantu?" lanjut rian menggoda malik
"ini proker bersama tentu saja kalian wajib ikut" sembari meliat fahmi yang berlalu tanpa kata menuju gudang
"ada apa dengannya" tanya erik, " entahlah mungkin saja sedang puber" sambil mengarahkan pandangannya ke jalan
"gara gara rian tuh, yang kepedean di depan mika" sambung erik, rian lalu meraih kepala erik dan menggesek tinju dikepalanya. "bilang apa barusan haaah", "iya iya maaf sakit aduhhh" kesal erik pada rian.
saat sedang asik bergelut dengan erik, rian tak sengaja meliat rania datang membawa makan siang untuk malik, di situlah rian semakin kagum pada malik, yang secara nyata rian mengikuti gaya nya dalam mendekati seorang gadis,
"enak tuhh" mengoda malik dengan candaanya, rania dan malik pun menoleh kearahnya.
"besok besok, bawain aku juga lah, masa cuma malik yang kamu bawakan". "iya kak, besok aku bikin banyak untuk semuanya" ucap rania dengan senyuman.
"nah gitu" sambung erik, rania berdiri beranjak menuju kelas, erik dan rian memperhatikan dari belakang hingga tenggelam dalam keramaian.
"hmm rania adalah bibit unggul yang harus di jaga baik baik" ucap erik sambil membayangkan rania di masa depan rania akan seperti apa.
"hm kamu tau tidak kenapa anak SMA di sebelah, sering datang ke sekolah ini" Tanya erik pada malik,
"coba tanya langsung ke mereka, mungkin saja mereka bisa jawab" malik sambil mengacungkan dagu ke sekolompok anak sekolah di seberang jalan.
"pfffffttt, hahhaha" rian terkekeh mendengar jawaban malik pada erik " iya betul tanya aja sendiri" sambung rian yang asik mengejek erik.
fahmi datang sambil membawa ember berisi cat, "hmm enak ya makan, apa ada yang bisa bantu aku bawa alat dan bahan", mereka bertiga menoleh kearah fahmi yang sedang sibuk meletakkan cat,
malik pun beranjak dari temaptnya."ya sudah aku bantu" ucap malik berjalan menuju gudang di ikuti fahmi dari belakang.
dari sudut lain tampak seorang gadis memperhatikan mereka dari jauh, ia pun mencoba menelaah fakta fakta yang kemarin ia temukan saat membuka galeri ponsel malik, sambil memperhatikan malik yg menuju gudang diikuti fahmi, mika yang bergumam hingga tak sadar di belakangnya ada orang yang siap menerjangnya.
" salah pencet 30 kali ya, kenapa semakin terasa aneh " tiba tiba ia dikagetkan oleh odah yg datang dari belakang, "hiyatttt, jadwal masak oii ingat, malah bengong di sini",
"astagfirullah odahhh" mika yang kesal dikagetkan seperti itu menjitak kepalanya, "aduhhhh", lalu mengelus kepalanya yang baru dijitak mika.
"siapa suru datang bikin kaget, kalau jantungku pecah gimana mau tanggung jawab kamu" sambung mika kesal, "iya iya maaf tidak lagi dehhh" sambil tersenyum.
dari dalam gudang fahmi memberanikan diri mengajukan pertanyaan "lik, kamu suka mika?"
malik terbelalak kaget, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan semacam itu dari fahmi
"hmm seperti kamu belum sadar setelah bangun, tidur lagi sana". sembari merapikan barang barang di gudang.
"jawab" dengan nada sedikit kesal
"kamu mencurigaiku, aku tidak ada sedikit pun persaan pada nya" lalu duduk dan menyilangkan tangan di depan fahmi. "seharusnya kamu tau itu" lanjut malik
fahmi yang tersenyum mendengar hal itu , "hah Untung lah, bukan sahabat ku yg jadi penghalang".
namun di lain pihak, Malik sadar akan peluangnya untuk mendapatkan mika telah habis, iapun berniat melupakannya, namun dia berpikir apa mampu melakukan nya
tiba tiba saja ponselnya berdering, pesan singkat dari ira , malik mebaca pesan tersebut, lalu tersenyum datar dan bergumam " ya mungkin saja bisa"
tunggu part 2 yah