Kelas dingin, nan bersih, padahal ga ada AC, dan bahkan tadi pagi aku baru saja bolos piket :v
06.00 WIB.
Masih terlalu pagi untuk melaksanakan tugas piket, sebenarnya memang aku saja yang pemalas.
Mungkin aku masih belum terlambat untuk mengerjakan piket kelas.
Aku hanya duduk melamun didalam kelas, suasana dingin ini semakin menggoda sifat malasku untuk segera beraktifitas.
Jika aku malas, kenapa aku datang pagi pagi sekali?
Mungkin itu sebuah misteri Ilahi.
Sekali lagi aku hanya menguap lebar denga puas, tak peduli untuk menutup mulutku dengan telapak tangan, toh, ga ada orang.
Suasana dingin, ditambah hanya aku, dan beberapa batang sapu dipojokan kelas yang sudah siap bekerja.
Mungkin aku masih punya waktu buat mengerjakan PR Fisika penuh rumusku....
Tunggu, aku tak bisa mengerjakannya sendiri, aku butuh temanku yang bernama Lin, dia seorang perempuan yang cerdas, dan berkaca mata.
Dan, dia pacarku, hanya kami berdua yang tahu.
Aku sering minta contekan PR, serta jawaban saat Ujian padanya.
Untunglah dia Dermawan....
Namun beberapa waktu terakhir, dia bersikap aneh, aku bahkan beberapa waktu ini sering tertimpa sial, dan kesialan itu terjadi pagi ini...
Dan tidak hanya itu, salah satu sahabat dekat Lin juga meninggal tragis, karena kecelakaan kemarin...
Dan satu lagi!
Sialnya Lin malah belum datang pagi ini untuk aku mintai contekan, tenang, bukan salahnya, tapi salahku saja yang datang terlalu cepat.
Aku melirik sebatang Sapu yang teronggok, sedang bersandar pada dinding pojokan kelas, berwarna biru.
Huh!
06.10 WIB.
Sepertinya aku harus segera mengerjakan tanggung jawabku, tanpa menunda nunda, tapi.
Seharusnya aku tidak sendiri!
Aku segera bangkit dari bangku'ku, berjalan cepat menghampiri jadwal piket yang sedikit berdebu.
'Edi'
Dia salah satu temanku untuk mengerjakan piket kelas pagi ini, sekaligus teman sebangku, namun dia, ya, belum datang, entah apa yang sedang dia kerjakan.
Aku segera berbalik, kali ini aku kembali menghampiri tumpukan Sapu yang sedari tadi menunggu untuk segera dipergunakan.
Aku meraih satu Sapu berwarna Merah.
*wuusshh....
Aku mengayunkan Sapu itu sekali, lalu mengembalikannya ketempat semula.
"Selesai!" ujarku senang, tentu saja, jika aku menyapu seluruh ruangan ini, maka petugas piket yang lain tidak akan bekerja karena kelasnya sudah bersih dahulu!
Lagi pula, menyapu itu tidak lebih dari kegiatan mengayunkan Sapu diatas lantai.
Sudahlah, tugasku sudah selesai, dan aku anggap itu sebagai keberuntungan, mengingat dua bulan yang lalu, aku sama sekali tidak mengerjakannya.
Dan dengan sesegera mungkin aku kembali ke'bangku milikku, untuk mengklaim daily reward di'game yang sering teman temanku mainkan.
Memang di'Sekolah memiliki fasilitas Wi-Fi yang memadai, untuk memungkinkan para murid bisa mengelola internet, dengan baik.
(sebenarnya nggak sih)
(aku lebih suka nonton anime, atau main game online)
Aku meloloskan handphone milikku, dan dengan gesit, jari jariku langsung membuka aplikasi tersebut.
"Bagus, dapat bonus potion health" ujarku pelan.
Pagi ini, aku sudah mendapat dua keberuntungan, memang benar pepatah itu.
'Bangunlah, sebelum rezekimu dicuri swiper, eh maksudku dipatok ayam'
Aku mengambil buku PR Fisika yang untungnya tidak ketinggalan, dan keberuntungan lainnya datang lagi untuk yg pagi ini.
Sepertinya, kesialanku akhir akhir ini sudah habis!
Tap! Tap! Tap!
Lin datang, dan muncul diambang pintu kelas, membawa secercah harapan, untuk membantuku lolos dari hukuman guru fisika kami yang, suka ga itung itung, kalo kasi hukuman.
Karena hukuman paling ringan yanh pernah dia berikan cuma lari bolak balik dari sabang sampai merauke, itu baru yang paling ringan!
Dan untungnya, Lin selalu membantuku.
"Lin!" aku kembali bangkit dari bangku yang terletak dibaguan paling belakang.
Aku menghampirinya, kali ini, kondisinya tidak seperti biasa.
Rambut sebahu miliknya berantakan, baju seragamnya sangat kusut, ditambah lingkaran hitam yang mengelilingi matanya.
Terlihat tidak pas dengan Kacamata persegi yang terlihat miring, dipakainya, seperti habis begadang.
"Kamu kenapa?" tanyaku cemas, bagaimana tidak, seorang gadis imut, nan cerdas dalam kondisi seperti itu, apa lagi dia sath satunya harapan untuk PR-ku.
Nafasnya terdengar berat, tubuhnya lemah, dengan pakaian yang tidak rapi.
Aku membantu menuntunnya, menuju bangku
"Kamu kenapa?" tanyaku sekali lagi.
Aku masih menunggu jawaban darinya, dia hanya tersenyum kecut, sambil menarik sebuah catatan tipis, dari tasnya yang tidak diresleting.
"Aku nomer 12...." ujarnya lemah, sambil mennunjukkan catatan itu padaku.
"Apa maksudmu, bukankah kau absen nomer 4?" tanyaku memastikan.
Dia terbatuk, lalu meloloskan tasnya dari punggung, lalu memberikannya padaku bersama dengan catatan itu.
"Jangan tulis namaku!" ucapnya memperingatkanku.
Aku menerimanya, apa mungkin ini jawaban dari PR Fisika milikku?
Lalu dia bangkit, seraya mengucapkan...
"....aku mau mencuci muka dulu.." lalu pergi meninggalkanku, langkahnya tertatih tatih, membuatku merasa prihatin.
Ku'letakkan tas milik Lin, lalu aku geledah seluruh isi tasnya, tenang, nanti aku kembalikan.
Barang yang kucari segera ketemu, 'Buku Fisika Lin' dengan sampul kelinci, dengan nuansa berwarna pink.
Tentu, aku mencontek jawaban dari PR Lin.
Dan, catatan ini?
Simpan ajalah.....
***
Set!
Baiklah, goresan terakhir di PR Fisika, baiklah, aku harus segera mengembalikannya.
Memang, saat aku masih menulis PR, beberapa temanku sudah datang, namun Lin, sepertinya belum kembali.
Aku sudah mengembalikannya, dan disaat yang sama, Lin juga sudah kembali, wajahnya lebih segar, dan cantik.
Dia terlihat lega, dan puas.
Entah apa maksudnya....
"Kamu sudah selesai, Zura?" tanya Lin, ya benar, namaku Zura, entah itu nama dari negara mana.
"Aku sudah mengembalikannya, ke Tas'mu" ujarku.
"Terima kasih!" dia tersenyum manis, entah apa maksudnya, apa dia naksir?
Sepertinya tidak, mana ada cewek yang suka padaku?
Krriiiinnngggg!!!!!
Bel masuk kelas, telah berbunyi.
Pelajaran pertama, Fisika.
***
"Mana PR-mu?" tanya Taka, si ketua kelas, dia laki laki, tinggi, dengan kacamata bundar, serta rambut tipis, dan rapi.
Terlihat menyebalkan.
Aku menyerahkan buku PR-ku padanya, dan dia menerimanya, jujur, dia bukan seorang pengecut.
"K-kau sudah selesai?" tanya Edi, teman sebangku'ku.
"Dah," jawabku singkat, dia bergidik, wajahnya dipenuhi rasa takut, tubuh ya menggigil tidak karuan.
Saatnya hukuman.
"Dimana PR-mu?" tanya Taka, laksana sebuah ancaman yang bisa membunuh nyawa Edi.
"Belum," jawabnya terang terangan
Lantas Guru Fisika kami bangit dari meja guru.
***
Waktu Istirahat.
Kami sekelas sedang menonton Edi yang berlari lari kecil mengelilingi lapangan.
Mereka rela meninggalkan jam istirahat mereka.
"15!" teriak teman temanku bersamaan, termasuk Lin.
Mereka menghitung banyaknya Edi berlari mengelilingi lapangan ini, namun aku hanya diam.
"20!" teriak mereka setelah beberapa putaran.
Huh!
Mending balik ke-kelas.
Aku berjalan melewati teman temanku, dan segera kembali ke'kelas.
***
Teman teman yang lain masih pada nonton Edi yang sedang menjalani hukumannya.
Dasar sadis....
Hmmm, aku sedang tidak ingin kekantin hari ini, aku masih terbawa suasana aneh, yang terjadi pada Lin.
Tadi pagi dia datang dengan pakaian kusut, dan konisi berantakan, keadaan itu terlalu untuk seorang siswi yang cerdas.
Dan, aku juga aneh, karena berani meminta contekkan padanya....
Namun, yang membuatku bingung adalah buku catatan yang dia berikan padaku.
Aku akan mengambil buku catatan itu lagi, kalau tidak salah aku tadi hanya meletakkanya didalam laci, dan...
Aku merogoh laci'ku semakin dalam....
"Ini dia!" umpatku pelan.
Buku itu agak kusam, terlihat sudah tua dan buruk, aku membuka halaman pertama.
Tulisan buruk yang ditulis menggunakan bolpoint.
ekh!?
Tulisannya bahkan lebih jelek dari pada punyaku.
Namun ini aneh, ini tidak mungkin tulisan tangan milik Lin, ini pasti perbuatan jail, anak nakal lainnya, dan jika dipikir pikir, aku juga anak yang sering melakukan pelanggaran.
Tulisan itu berbunyi, "Kuis"
Tertulis lebar dan besar hingga memenuhi halaman buku.
Aku membalik halaman itu lagi.
"Cara menggunakan Buku kuis, kamu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sahabat dibuku bla bla bla...."
"Kuis pertama, Kuis Sahabat"
Hmm, baik....
Tak usah dibaca.
Aku membalik halamannya sekali lagi....
"Pertanyaan pertama...."
1. Siapa nama Sahabatmu?
Hmm, sahabatku? mungkin Lin, tapi tadi pagi dia berpesan bahwa jangan menulis namanya.
Mungkin itu yang dia maksud...
Baiklah....
Aku mengambil bolpoint milik Edi yang belum dia rapikan...
Aku mencoret coret, mengisi serta menjawab pertanyaan tersebut...
'Edi' tulisku.
Baik....
Lalu kubalik lagi halaman berikutnya.
"Pertanyaan kedua"
2. Kendaraan apa yang dipakai Sahabatmu untuk pulang-pergi Sekolah?
Hmm...
Kendaraan?
Edi, berangkat sekolah menggunakan angkot kota, dan aku hanya berangkat dengan jalan kaki.
Baik,
'Angkot kota' tulisku.
Kubuka lagi halaman berikutnya...
Krriiiinnnggg!!!!!
Bel masuk kelas telah berbunyi, ok, tak apa, aku bisa melanjutkannya dirumah.
***
Kriiiinnnggg!!!!
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, menandakan bahwa hari kami disekolah hari ini telah usai.....
Dan tentunya kami harus pulang dong!😆😆
Seperti biasa, aku hanya menggendong tasku, dan berjalan santai melewati ambang pintu kelas, menuju gerbang.
Lin berjalan mendahuluiku, dia terlihat sangat senang, dia bahkan berjalan sampai sedikit loncat loncat.
Dan bahkan aku bisa sedikit mendengarnya bersenandung.
"Hosh, hosh, hosh....kenapa kau meninggalkanku?" tanya Edi menghampiriku.
"Kau lambat" jawabky singkat,
"Dah lah, nanti aku ditinggal angkot langgananku!" teriaknya lalu berlari mendahuluiku.
Tentu dia terlihat terburu buru, tidak dengaku yang santai, karena rumahku cukup dekat dengan Sekolah ini.
kurang lebih 200 meter.
Tap, tap, tap..
"Sampai jumpa besok lagi" sapa penjaga gerbang, setelah aku meninggalkan Sekolah.
Tak lama, aku kembali melangkah.
Aku masih penasaran
Mungkin angkot Edi sudah berangkat sedari tadi.
Bruuaakkk!!!
Dari kejauhan, aku bisa melihat bahwa Angkot Edi, mengalami kecelakaan, mereka menabrak tiang listrik.
Aku segera berlari menghampiri mereka, bersamaan dengan beberapa warga baru saja keluar dari rumah mereka.
Kuharap mereka tak apa.
5 menit.
Edi sekarang dilarikan kerumah sakit, dia terluka parah, dibagian kepala, lebih tepatnya, dibagian ubun ubun.
Namun anehnya, hanya ia yang terluka, sedangkan lenumpang yang lain malah selamat.
Ada yang mengatakan bahwa Edi duduk dengan tidak benar, dan ada juga yang mengatakan bahwa Edi tidak duduk, melainkan hanya berdiri.
Tempat kecelakaan itu mulai ramai.
Persis seperti hari kemarin, saat sahabat karib Lin, mengalami kecelakaan serupa.
"Kecelakaan lagi?" guru fisika kami datang mengampiri, mengecek keadaan kami.
Aku tak apa, namun temanku sepertinya, entahlah.
***
Setelah keadaan mulai meregang, aku kembali melanjutkan perjalanan pulangku.
Sungguh sebuah kecelakaan aneh.
***
Aku sampai, aku segera masuk kedalam rumahku...
"Kamu tak apa nak?" ibuku datang menhampiriku, memelukku, dan bertanya keadaanku.
Aku mengangguk.
"Syukurlah nak...."
"Tadi ibu dengar ada kecelakaan lagi yang melibatkan murid sekolahmu" dia terlihat khawatir.
Aku mengangguk sekali lagi, lalu meninggalkan ibuku.
Aku segera melepas sepatuku, mengambil buju kuis itu, lalu melempar tasku keatas kasur, masih terpikirkan tentang kecelakaan itu.
Aku membuka halaman pertama sekali lagi, kali ini aku akan membaca peraturan itu sekali lagi.
"Cara menggunakan Buku kuis, kamu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sahabat dibuku ini.
kamu hanya perlu menjawab pertanyaan tentang kehidupan sehari hari sahabatmu.
Maka, kami akan mendatangkan petaka bagi sahabatmu, melalui kebiasaan mereka.."
Aku menelan ludah, segera membuka halaman pertanyaan selanjutnya, tanpa menyelesaikan membaca peraturan tersebut...
Baik...
"Pertanyaan ketiga (terakhir)"
Kali ini adalah pilihan ganda, baik, akanku jawab
3. Mana yang lebih kamu pilih?
A. Pacarmu.
B. Keluargamu.
C. Kamu.
Glek!
Aku kembali membuka halaman pertama, aku melanjutkan bacaan peraturan, yang aku lewati tadi...
"....dipertanyaan terakhir, kamu akan dihadapkan dengan pilihan ganda, kamu harus memilih, jika tidak, maka seluruh jawaban, akan terpilih!
Dan jika kamu memilih salah satu, maka buku ini musnah.
Namun, jika kamu benar benar tak bisa memilih, kamu bisa mewariskan Buku ini, kepada temanmu..
Maka semua jawaban dibuku ini akan terhapus, dan seluruh ingatanmu tentang buku ini, juga akan terhapus...
Waktu kamu adalah 24 jam, untuk segera memilih teman untuk mewarisi buku ini.
Jangan lupa kasih nomer urut kamu ya!"
Selesai.
"Baik, akan kupilih, hmm, siapa ya....."
begitulah, hingga semalaman aku tidak tidur, untuk memilih temanku, dan, akhirnya....
***
Pagi, disekolah.
Mata panda terpasa diwajahku, aku menghampiri Taka.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Taka, namun aku tak peduli.
"Taka ini, untukmu, dan jangan tulis namaku, serta.....
....aku nomer 13"
Begitu dan seterusnya, buku itu akan terus diwariskan, jika tak ada yang memilih salah satu jawaban pada pertanyaan terakhir...
...dan pada akhirnya, Buku ini akan terus terwariskan, dan mungkin akan datang padamu.
*Tamat*