Ini kisah ku saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 9. Aku Diky, seorang pria yang pendiam dan tidak begitu bergaul dengan yang lainnya.
Disaat sekolah, aku tidak pernah berpikir dalam masalah percintaan yang ku pikirkan hanya belajar, belajar dan belajar.
Berbeda dari teman sekelas ku, dia bernama Rachel. Sosok wanita populer yang selalu berkumpul dengan teman wanita di kelasku meski Rachel populer tapi dia tidak mau untuk dekat dengan pria apalagi berpacaran.
Kadang kala aku mencuri pandang kepadanya, dia pun bersikap dingin menatapku dan itulah Rachael.
Sampai suatu hari, penyakit maag ku kambuh membuat ku harus memeriksa keadaan diriku di rumah sakit.
Saat di rumah sakit secara tidak sengaja aku bertemu Rachel dan saat ingin meninggalkan rumah sakit secara tidak sengaja Rachel menjatuhkan sebuah buku kecil dalam keadaan terbuka.
Aku yang melihat itu sontak mengambil buku dan secara tidak sengaja, aku melihat tulisan bahwa Rachel memiliki penyakit kanker Darah.
Ditengah aku membaca itu, Rachel datang dan dia dengan ramah meminta buku yang ku baca untuk dikembalikan. Aku pun mengembalikan nya.
Sekolah ku memiliki kebiasaan untuk melepaskan sepatu didalam kelas dan menaruhnya di rak belakang kelas dengan rak sesuai absen kelas.
Keesokan harinya saat aku ingin menaruh sepatu tiba-tiba ada sesuatu disana dan itu ialah sebuah surat bergambar hello Kitty dari Anonim yang mana bertuliskan.
Diky, Ayo kita berpacaran! Aku menunggu jawaban mu dibelakang sekolah sepulang nanti.
Melihat itu aku pun penasaran, siapa yang mengirim kan surat jahil itu.
Meski begitu, sepulang sekolah aku pun datang ke halaman belakang sekolah dan ternyata yang mengirimkan surat itu Rachel.
Dan, aku pun meminta klarifikasi kepada nya dan dia pun bersungguh-sungguh.
Aku pun belum mempercayainya maka dari itu, aku bertanya alasan dirinya ingin berpacaran dengan ku.
Lalu, Rachel pun berbicara jujur bahwasanya dia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi lantaran penyakit yang diderita nya semakin memburuk.
Rachel sangat ingin mengetahui rasa nya berpacaran. Selain itu, Rachel mengatakan bahwa aku adalah teman sekolah pertama yang mengetahui penyakit nya dan dia mengatakan juga bahwa aku harus bertanggung jawab.
Memahami itu, aku pun menyetujui nya dan kami pun berpacaran. Tentu hal itu membuat semua teman-teman sekolah iri dengan ku bahkan ada yang memusuhi ku.
Meski begitu aku tidak mempedulikan nya.
Selama berbulan-bulan, kami berpacaran seperti layaknya anak muda lainnya seperti menonton bersama, makan bersama dan sebagainya.
6 bulan pun berlalu, tiba-tiba Rachel tidak masuk sekolah selama berhari-hari bahkan aku tidak bisa menghubungi nya. Aku pun menjadi panik dan mencari sosok nya.
Saat aku berkunjung ke rumah nya, ibu nya mengatakan bahwa Rachel sedang rawat inap di rumah sakit.
Mengetahui itu, aku sontak pergi ke rumah sakit dan setibanya disana, Rachel masih terlihat riang. Aku pun bersyukur akan hal itu dan sejak itu, aku terus menemani nya di rumah sakit.
Di rumah sakit, aku pun memberikan motifasi dan bimbingan belajar dan suatu hari, aku juga melihat nya menangis sendiri saat aku ingin mengunjungi nya dan aku hanya bisa terdiam disisi pintu luar ruang rawat inap.
Dan, disuatu hari aku mengunjungi kamar rawat Rachel dan dia sudah tidak ada disana. Lalu, ibunya Rachel masuk kedalam ruang dan menemui ku serta memberitahu bahwa Rachel sudah meninggal dunia beberapa jam yang lalu.
Mendengar itu, aku hanya bisa menangis dan menyalahkan diri ku.
Lebih dari itu, aku harus melawan rasa pedih ku untuk menghadiri acara pemakaman nya. Meski itu berat, aku harus menghadapi nya.
Setelah pemakaman usai, ibu Rachel memberikan buku harian Rachel yang mana dalam buku itu berisikan cinta yang tulus kepada ku.
Memahami itu, aku pun menangis lantaran selama ini, aku beranggapan bahwa Rachel hanya berpura-pura.
Dan, saat itu aku barulah mengetahui apa itu arti cinta.