Hai ini adalah lanjutan cerita dari cerpenku sebelumnya yang berjudul Masa Orientasi Sekolah. Buat kalian yang penasaran bisa baca dulu cerpenku yg sebelumnya ya.
Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah selesai MOS. Aku ditempatkan di kelas 10 IPA 7 yang berada di lantai 2 kelas pojok deretan gedung kelas 10.
"Ih malas sekali harus satu kelas denganmu lagi!" kata Sania padaku. Ia adalah salah satu temanku di SMP dulu. Sekolah kami yang dulu berada di depan SMA ini. Tak heran banyak sekali teman SMP ku dulu yang bersekolah di sini.
Kami seperti sedang mengadakan reuni mengingat 40% isi kelas ini adalah teman-teman yang sudah aku kenal. Beberapa dari mereka bahkan merupakan teman kelasku dulu.
"Ih sumpah ya malas banget, jauh-jauh deh dari aku. Gila ya, dari kelas 7 kita 1 kelas, apa-apaan coba males banget!" kataku pada Sania. Kamipun tertawa karena percakapan kami itu. Sudah lama ia 1 kelas denganku. Kami sudah berteman dari kelas 7 sewaktu SMP.
Tak lama, terdengar suara gaduh dari luar kelas. Mereka sangat penasaran akan suara itu.
"Ada apa sih gas?" tanyaku pada Bagas, teman kelasku.
"Ada kak Dimas, waskat itu. Kita semua heran kenapa ia kemari." (nb. Waskat: seseorang yang mengawasi jalannya MOS, Mereka membawa baret di lengannya yang menunjukkan jabatannya. Mereka orang yang paling ditakuti dan disegani bahkan oleh kakak pendamping karena mereka membawa mandat dari guru untuk mengawasi jalannya MOS)
"Kan sudah gak MOS."
"Makanya itu,"
Kak Dimas merupakan kakak pengawas MOS memang banyak dikagumi oleh perempuan yang ada di sekolahku. Parasnya yang tinggi tegap dengan wajah tampan dan putihnya berhasil membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Bibirnya yang merah dan alisnya tebal membuat orang yang menatapnya tak akan pernah bisa berkedip melihatnya.
Mata ku terus saja memicing melihat kak Dimas yang datang ke kelasku.
"Kamu Dana adiknya Sad?" Mataku membulat mendengar ucapan kak Dim padaku.
"Iya kak, ada apa ya?"
"Kamu harus dihukum karena mengirim surat ini pada kakakmu sendiri." Aku melihat surat yang tak asing bagiku. Itu adalah surat benci yang ku berikan pada kak Sad sepupuku ketika MOS. Aku memang sengaja memberikan itu padanya untuk mencari aman.
"Tapi MOS nya sudah selesai kak,"
"MOS nya sudah, Tapi kau tau jika kamu masih junior."
"Maaf kak, tapi tak ada peraturan tertulis aku tak boleh mengirim surat itu untuk mas Sad. Aku hanya dihimbau untuk mengirim surat itu ke kakak tingkat."
kak Dimas mendekatkan wajahnya padaku. ia menatapku tajam. Aku sama sekali tak terperngaruh atas tatapannya yang mengintimidasi.
"Bagaimana dengan co card yang tak kamu gunakan di hari ke 2?" aku bisa menindak itu sebagai pengurangan poin bukan?" Aku panik mendengar poin yang dibicarakan kak Dimas. Aku tau potongan poin yang akan dikenakan pada siswa yang melanggar kedisiplinan cukup besar.
Dimas tersenyum licik melihatku yang seperti mati kutu.
Aku berfikir dari mana ia tau hal seperti itu.
"Oke, jadi apa yang akan kakak lakukan untuk menindakku yang mengirimkan surat itu pada kakakku sendiri?"
Kak dimas tersenyum puas mendengar aku mengalah padanya.
"Mulai sekarang, jadi pacar aku!"
Aku terkejut mendengar ucapannya. Aku benar-benar tak menyangka dia akan berkata demikian.
Kulihat mas Sad berlari ke arahku. Dia datang setelah mendengarku dihampiri oleh kak Dimas.
"Dim!" mas Sad berteriak memanggil nama sahabatnya itu.
"Aku tinggu jawaban kamu pulang sekolah nanti. Dan kamu harus menjawab iya jika tak mau aku beri pengurangan poin kedisiplinan." Kak Dimas tersenyum licik dan berlalu dari hadapanku.
Aku masih bengong menatapnya. Beberapa anak saling berbisik mendengar hal tersebut.
"Mas Sad!!!!" Aku yang marah lalu mengejar nya. Mas Sad yang saat itu berada di depanku langsung berlari menghindari amarahku.
Aku tau jika ia yang memberi tau kak Dimas soal surat dan co card itu. Karena hanya dia yang tau akan hal tersebut.
"Matilah aku,"
Aku yang tak akan pernah bisa mengejar mas Sad lalu terduduk di tengah lapangan.
"Kamu itu, kenapa ngasih tau ke kak Dimas sih? baru hari pertama aku disini. Masa aku dah kena masalah.
"Yaudah diterima aja,"
"Diterima gundulmu!"
"Kapan lagi punya pacar kaka kelas!"
"Kamu mau aku dibunuh ibu karena berpacaran?"
"Aku gak akan bilang-bilang janji."
"Gak percaya! suratku aj dibocorin. Apalagi ini nanti."
kak Sad lalu bersimpuh di sana. Cukup jauh karena ia takut aku akan mengejarnya lagi. Beberapa anak berbisik melihat kami. Beberapa teman kelas kak Sad bahkan menertawakan aku dan kak Sad.
"Demi tuhan deh aku gak akan bilang ke tante."
Bel masukpun berbunyi. Aku yang mendengar itu langsung berlari menuju kelas.
"Awas ya, kamu gak akan selamat pulang nanti!" kataku pada mas Sad.
**
"Oke, aku mau. Tapi, aku mau kita pacaran sewajarnya saja."
"Deal," kata kak Dimas padaku. Aku dengan terpaksa menemuinya karena ia mencegatku di pintu gerbang. Kulihat mas Sad disana. Mataku memicing melihatnya. Ia hanya nyengir melihatku.
"Hari ini adalah hari pertama kita jadian." Dia mendekatkan wajahnya padaku dan tersenyum.
***
Hai readers, semoga suka ya sama ceritanya. 😁 jangan lupa mampir ke novelku juga.
-Jodohku Adek Kelas -
Masih dengan tokoh mas Sad dan Dana di dalamnya. Dengan alur yang berbeda. 😅