Pagi berganti malam, matahari berganti bulan dan kehidupan gadis ini pun juga harus berganti. Terjun ke dalam lantunan musik malam.
Plakkk!
tamparan keras mendarat di pipi mulus milik Elyn dan pasti meninggal kan bekas yang menyakitkan apa lagi tamparan itu diberikan oleh sang ayah
"kenapa ayah membenci ku? apa salah ku!"
"kau anak tak berguna! kau membuat ayah dan ibu harus berhutang demi sekolahmu! hingga ibu mu tiada! sekarang saat kau dewasa! pergi ke alamat yang ayah berikan! atau kau tau apa akibatnya!"
"i-iya"
"CEPAT LAKUKAN!" bentak sang ayah
Elyn mengenakan gaun yang ayahnya siapkan meski ada keraguan yang cukup besar dihatinya, setelah Elyn turun sang ayah hanya menarik lengannya dan membawa Elyn ke suatu tempat yang nampak tak asing di matanya
"a-ayah k-kenapa k-kita k-ke b-bar?"
"bisa diam tidak!?"
"....."
Elyn hanya bisa bungkam saat sang ayah menguncinya disuatu ruangan entah apa yang ayahnya pikirkan hingga anaknya sendiri dijerumuskan ke tempat seperti ini
"ibu mengapa saat itu kau tak mengajakku bersama mu?"
Kaki Elyn bergetar saat tiba tiba ia mendengar langkah kaki yang mendekat padanya, air matanya tumpah menandakan ia sangat ketakuktan, dan pikiran nya seperti tak mengerti apa yang sedang terjadi
pemuda yang mengenakan hoddie hitam itu hanya berdiri di hadapan Elyn tanpa melakukan apapun. Elyn hanya mematung disana dan berusaha mencerna apa yang sedang terjadi
"h-hey a-apa m-maumu!?"
"jangan takut padaku, kau beruntung aku yang membayar ayahmu"
"apa maksudmu?"
"apa kau pikir aku akan merusak hak mu? tidak! aku hanya membebaskan para wanita yang dijerumuskan ke tempat seperti ini sekarang pergilah"
pemuda itu pergi dengan hoddie hitam yang tak ia buka, Elyn hanya membenahkan rambutnya dan berpikir lagi siapa pemuda itu sebab perasaannya mengatakan kalau Elyn mengenal sang pemuda
Elyn memutuskan kalau ia tak akan pulang ke rumahnya lagi ia takut sang ayah akan mengulangi nya lagi, sebab kali ini memang ia selamat tapi mungkin tidak untuk lain kali
dimalam yang hening, gelap dan sunyi Elyn melangkahkan kakinya, meski hatinya gelisah ia tetap berjalan ke arah yang tanpa tujuan
namun tiba tiba pemuda itu kembali datang dan menawarkan sebuah janji kepada Elyn
"aku akan memenuhi segala yang kau inginkan asal kau setuju dengan syaratku"
"t-tidak! aku saja sama sekali tak mengenalmu!"
"kau bisa mempercayaiku!"
"benarkah?"
"tentu saja"
"baiklah apa syaratmu?"
"kau bisa tinggal bersama ku, namun syaratnya kau akan serumah denganku😒"
"hey apa kau gila!?"
"ya kalau kau tidak mau maka terserah, rumahku luas tapi hanya satu"
"ya baiklah, tapi kau jangan melanggar janjimu!"
"aku tak tertarik denganmu, sekarang ikut aku"
"ya baiklah"
Elyn melangkahkan kakinya mengekor sang pemuda dengan ragu tapi mau tak mau ia harus bertahan hidup.
sesampainya Elyn di rumah pemuda tersebut matanya benar benar terpaku pada rumah yang seperti di dongeng fantasy itu
"megapa kau diam? tak mau masuk?"
"a-ah t-tidak a-ada"
Mereka berdua masuk namun anehnya rumah sebesar ini benar benar senyap, bukankah pada umumnya rumah sebesar ini butuh orang orang untuk mengurusnya? mana mungkin pemuda sepertinya akan mengurus rumah bak istana ini sendirian
"hey mengapa rumah mu sepi sekali? apa tak ada tanda tanda kehidupan?"
"tidak"
"kenapa?"
"jangan banyak tanya masuk saja ke kamar itu dan beristirahatlah"
"a-ah m-maaf, terima kasih ya"
"...."
pemuda itu hanya diam dan pergi ke kamarnya tanpa bicara sepatah katapun pada Elyn
"apa aku ada salah bicara padanya ya?kata kataku ada menyinggung ya? ah sudahlah"
Elyn pergi ke kamar seperti yang pemuda itu bilang, aneh bukan? belum saling mengenal, belum tau nama, baru juga bertemu tapi mengapa sangat menurut?
nah itu tak bisa dijawab dengan kata kata sebab hubungan adalah sesuatu yang menarik antar 2 manusia meski kita kenal tak kenal, tau tak tau, dan satu atau dua
hubungan menarik kita ia menjelma magnet untuk menyatukan 2 insan maupun lebih.
keesokan paginya Elyn terbangun dan bersiap seperti pada umumnya namun ia melihat secarik kertas saat ia turun ke bawah
"surat? untukku? dari pemuda itu? buka saja lah"
Elyn membuka surat itu dan isinya
"hey namamu Elyn ya? maaf kalau salah tapi aku ada urusan hingga malam nanti jangan mencariku atau menungguku, aku titip rumahku padamu jaga dengan baik jangan biarkan siapapun masuk selain aku dengan kode ketukan pintu cepat 3 kali dan ketukan pintu lambat 5 kali jika kode itu salah maka pintunya tak akan terbuka, sudah aku lock!"
"wah hari ini aku sangat sibuk aku harus mengurus rumah sebesar ini? ah tak apa apa jangan mengeluh! semangat!!!"
Elyn membersihkan rumah bak istana tersebut dengan riang maka pekerjaannya cepat selesai, tidak terasa jam malam pun sudah tiba saatnya orang orang membalut diri dalam selimut dan pergi ke alam mimpinya masing masing namun tidak dengan Elyn ia tak membalit dirinya dengan selimut ia hanya tidur di atas sofa panjang di ruang tamu dan sebentarnya tepat tengah malam sang pemuda tersebut sudah tiba di rumah
"eh kenapa ia tidur disini? apa dia kelelahan? haha maafkan aku"
pemuda itu membelai rambut Elyn dengan lembut lalu membalutkan selimut hangat ke tubuh Elyn
paginya Elyn terkejut sebab seingatnya ia tak menggunakan selimut tadi malam lalu dari mana datangnya selimut ini?
"oh apa dia pergi lagi?"
"mencariku?" kata pemuda tersebut datang secara tiba tiba
"ah kau pemilik selimut ini kan?"
"kalau iya?"
"terima kasih"
"hm...."
"oh ya kau tidak pergi lagi?"
"tidak untuk hari ini"
"oh baiklah, aku ingin bertanya sesuatu apa boleh?"
"tentu saja"
"siapa namamu? kita belum berkenalan"
"oh iya ya, namaku Vincent"
"oh begitu kenapa kau selalu menutup wajahmu?"
"hm... dibalik sebuah perilaku ada pelukkan masa lalu yang menjerat bagai rantai"
"oh maaf"
"Tidak apa apa"
"sekarang kau mau melakukan apa?"
"aku ingin cuti selama sehari..."
"oh okay"
Elyn melangkah ke kamar dan meninggalkan Vincent di ruang tamu dengan TV yang menyala
"apa kau tak ingat aku?" Vincent mengelus sebuah bingkai foto dan bertuliskan 00:00 Clock di ujung bawah bingkai
Dan Elyn yang terduduk diam dikamarnya melakukan hal sama yang membedakan adalah perkataannya
"apa itu kau Vincent ku yang dulu?"
malam larut dan mereka terhanyut dalam dunia masing masing namun sepertinya berkaitan, dan sekarang malam tlah berganti pagi, dan bulan tlah berganti matahari yang mengintip malu malu
paginya Vincent masih tetap di rumah dan tak pergi lagi hingga tengah malam seperti hari pertama, mereka berdua menjalani hari hari seperti biasanya namun ada yang berbeda mereka berdua semakin dekat seperti ada magnet yang terus menghubungkan mereka
dan hari ke 30 Vincet memberanikan dirinya untuk bertanya kebenarannya pada Elyn sebab ia masih ragu
"Lyn"
"apa?"
"saat kecil kau punya teman laki laki culun ya? haha"
"
"loh dari mana kau bisa tau?"
"E-elyn! apa kau Elyn ku yang dulu hah!? apa kau adalah Elyn teman masa kecil ku hah!?"
"V-vincent kau Vincent ku? benar kah itu!?"
"y-ya"
mereka langsung menyambut dengan pelukkan satu sama lain mereka melepas rindu yang sudah bertahun tahun tertahankan
"Cent kau kemana saja!?"
"maaf Lyn ayahku bangkrut jadi---"
"baiklah jangan dilanjutkan!"
"Lyn aku menyayangi mu"
"aku juga menyayangi mu Vincent"
dan di pagi itu air berkilau menghiasi pertemuan mereka, daun dan bunga menari dengan indah diiringi semilir angin, dan tempat itu menjadi saksi hubungan baru antara Vincent dan Elyn