Living in past memories is a helpless sense of loneliness.
Kalimat itu terus saja terngiang dalam benak seorang gadis yang sedang memandangi tanah basah karena hujan. Ia masih di sini, tetapi bayang-bayang dalam benaknya sudah kemana-mana. Gadis itu masih mengingat ketika ia masih menginjak sekolah menengah pertama. Tak ada beban, segalanya berlalu dengan cepat. Tapi kini? Ah ia bahkan tak bisa menjelaskan segala sesuatu yang terjadi satu tahun terakhir.
Arabella Cyrina, nama sederhana dengan ribuan kisah seperti benang kusut. Seorang gadis yang masih berharap segalanya berlalu dengan cepat dan bahagia. Layaknya bunga tabebuya menunggu fase kembang, gadis itu masih menantikan hari itu tiba. Hari dimana segalanya akan baik-baik saja.
Arabella menghela nafas panjang. Menyaksikan pemandangan dari balkon kamar sangat membosankan. Bukan, lebih tepatnya memilukan. Bagaimanapun, ia belum bisa menerima halaman buku kehidupan yang berbanding terbalik dari sebelumnya.
"Arabella." Panggilan dari sang ibu mengharuskan Arabella menemuinya. Dengan gontai, ia menghampiri sang ibu yang sedang menonton televisi lantas duduk di sebelahnya.
"Ada apa, Ma?"
Arabella menyomot camilan favoritnya dari tangan sang adik membuat bocah berumur sepuluh tahun itu mengomel. "Kalau mau, beli sendiri jangan asal ambil!" marahnya justru membuat Arabella semakin ingin menjahili sang adik. "Jangan pelit-pelit jadi adik, nanti tambah pendek," ucap Arabella lantas menjulurkan lidah. "Mana ada, Kak Ara tuh pendek!" ucap Natasya--adik Arabella--tidak terima.
"Sudah, kalian berdua kalau ketemu selalu aja ribut. Acara masak favorit mama jadi gak kedengeran nih." Kini Agatha--ibu Arabella--bersuara kesal. "Maaf Ma, ngomong-ngomong Mama kenapa manggil Ara?"
"Mama cuma memastikan kalau kamu belum tidur." Agatha memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan pada sang buah hati. "Tolong kamu belikan handsanitizer sama sabun cuci tangan cair di minimarket. Mama lupa kalau persediaan kita sudah mau habis. Sisa uangnya nanti boleh kamu belikan snack atau apa." Arabella tersenyum sumringah mendengar perkataan sang ibu. "Asal jangan beli es krim."
Senyum Arabella hilang seketika. Rasanya seperti diterbangkan ke langit ke tujuh lalu dijatuhkan hingga dasar Palung Mariana. Sakitnya melebihi dicuekin gebetan. Asal kalian tahu saja, es krim adalah jajanan favorit Arabella. Kalau disuruh memilih antara jalan dengan gebetan atau pergi ke kedai es krim. Tentu saja ia memilih jalan dengan gebetan. Karena jalan dengan gebetan adalah hal yang impossible.
"Kata Mama boleh beli apa aja tapi kok gak boleh beli es krim? Ara pengen es krim, Ma," ucap Arabella merengek. "Nothing es krim, big no! Gak baik buat kesehatan," tegas Agatha membuat nyali Arabella menciut. "Ya sudah, Arabell ke minimarket dulu," ucap gadis itu lantas beranjak menuju pintu rumah.
"Mau kemana kamu?" Langkah Arabella terhenti lantas berputar seratus delapan puluh derajat. "Ke minimarket, Ma. Emangnya kemana lagi?" tanya Arabella malas. "Maskernya mana? Jangan lupa, virus corona masih mengintai!" ucap Agatha membuat Arabella mendengus. "Corona mulu, corona mulu. Kapan musnahnya coba? Sudah berbulan-bulan masih aja mengancam," gerutu Arabella lantas mengambil masker dan memakainya.
"Arabell ke minimarket dulu, Ma."
Arabella meninggalkan rumah dengan perasaan campur aduk. Gadis itu menyusuri jalanan dengan santai. Meski demikian, hatinya masih terasa kalut. Ia masih menginginkan keadaan seperti dulu, sebelum pandemi menyerang planet tempat tinggalnya.
Menepis semua kesedihan dalam hatinya, Arabella menyusuri halaman depan minimarket. Gadis itu mengambil handsanitizer yang sengaja ia bawa usai mengambil masker tadi, lantas beranjak memasuki minimarket. Tak ingin berlama-lama, ia mengambil beberapa handsanitizer dan sabun cuci tangan cair lantas menyusuri rak yang terdapat susu kotak dengan berbagai varian rasa. Arabella mengambil dua buah susu kotak varian rasa taro dan strowberry juga beberapa snack lantas mengantre di depan kasir.
"Selamat datang di Arlen Mart! Jangan lupa jaga jarak satu meter, harap berdiri di belakang garis antrian. Walaupun berjarak bukan berarti tidak sayang ya? Kalau LDR berbeda kota, provinsi, bahkan negara saja bisa, mengapa jaga jarak satu meter tidak?"
Suara yang berasal dari speaker di tiap sudut minimarket ini berhasil membuat Arabella tersenyum. "Ada-ada saja." Ingin rasanya Arabella meneriakkan kata 'bucin' tetapi tidak jadi karena ia masih memiliki urat malu. Alhasil, ia hanya berdiri menunggu giliran.
*
Arabella berjalan dengan santai sesekali melihat langit malam berselimut mendung. Namun, beberapa saat kemudian tetes demi tetes cairan hasil siklus air mulai membasahi bumantara. Dengan langkah seribu, ia bergegas menuju rumah. Usai ia sampai di teras, gadis itu mengatur nafas yang terengah-engah lantas memasuki rumah.
"Aku pulang!" pekik Arabella membuat Agatha menatapnya kaget. "Gak usah teriak-teriak, Kak. Bikin mama kaget aja," omel wanita setengah baya itu. Arabella tersenyum lantas beranjak menghampiri sang ibu. "Eits, mau kemana?" tanya Agatha usai bangkit dari sofa.
"Mau naruh ini di meja, kenapa Ma?"
Agatha menggelengkan kepala mendengar penuturan dari anaknya. "Berapa kali mama bilang? Kalau pulang rumah itu, cuci tangan, ganti baju, abis itu barang-barang kamu ini semprot dulu pakai disinfektan. Virus corona itu gak bisa kita lihat pakai mata telanjang," omel Agatha lagi-lagi membuat Arabella mendengus.
"Ribet amat, pengen balik ke masa lalu aja rasanya," gerutu gadis itu lantas menuruti perkataan sang ibu.
Arabella meletakkan barang bawaannya di wastafel, lantas membuang kantong plastik ke tong sampah. Sebelumnya, ia mencuci tangan dengan sabun. Ia mengambil cairan disinfektan lalu menyemprotkan ke barang-barang yang ia beli. Arabella kembali mencuci tangan lantas mengganti pakaian.
"Tahun apa ini, mau beli susu kotak satu aja ribet banget," gumam Arabella setelah memberikan susu kotak rasa strowberry pada sang adik. "Ara, Ara, kerjaannya kok ngeluh mulu," ucap Agatha membuat Arabella semakin kesal. Ia pun memasuki kamar lantas berbaring atas ranjang.
Tanpa sengaja, netra gadis itu menangkap sebuah buku bersampul kartun animasi kelinci yang terletak dalam lemari kaca di salah satu sudut kamar. Perlahan, ia turun dari ranjang lantas mengambil buku itu. Ia kembali ke ranjang lantas membuka satu persatu halaman buku diary yang merangkap menjadi sebuah album foto.
Bulir-bulir air mata mulai membasahi wajah Arabella. Lagi-lagi ia merindukan masa-masa sebelum segalanya berotasi sebesar minus seratus delapan puluh derajat. Rasa bahagia yang selalu ia miliki bersama sahabatnya, kini berbanding terbalik. Satu persatu sahabatnya mulai menghilang, Arabella belum bisa menerima segalanya.
Hingga sampai lembar terakhir, air mata gadis itu semakin deras. Sebuah foto berisi ia dan gurunya tertempel rapi di sana. Membuatnya terlempar dalam kenangan masa lalu.
"Arabella, saya sangat puas dengan hasil keterampilan kamu. Saya semakin yakin jika nanti kamu akan mendapat nilai seratus ketika ujian nasional."
"Arabella, semangat! Segalanya akan indah pada waktunya."
"M-maaf, Bu Rhena. Arabell belum bisa mewujudkan impian Ibu. Kalau ada kesempatan, Arabell ingin ketemu Ibu."
Buku berukuran A4 itu terjatuh bersamaan dengan Arabella yang semakin terisak. Begitu banyak harapan dan penyesalan yang ia pendam. Ribuan angan ingin ia wujudkan, tetapi rasanya sangat sulit. Semakin keras ia ingin menggapainya, semakin banyak pula rintangan yang ia hadapi.
"Arabella." Suara itu terdengar bersama dengan kemunculan Agatha di ambang pintu kamar Arabella. Wanita itu nampak terkejut melihat kondisi putrinya yang berantakan. Buru-buru ia duduk di tepi ranjang sang putri tanpa mendapat respon apapun dari Arabella. Hanya isakan kecil yang keluar dari mulut gadis itu.
Agatha mengambil sebuah buku yang terjatuh lantas melihat satu persatu halaman hingga lembar terakhir. Wanita itu terenyuh membaca tulisan tangan anak sulungnya. Tanpa sepatah kata, ia menengok putrinya yang sudah tidak terdengar isak tangisnya. Dengan lembut, wanita paruh baya itu menyelimuti tubuh sang putri lantas mengusap penuh sayang pipi Arabella sebelum meninggalkan kamar anak gadisnya.
*
Arabella terbangun dengan mata sembab. Ia mencuci wajah dan membersihkan diri. Setelah mandi dan hendak membuka pintu kamar, gadis itu terkejut melihat seorang wanita sedang berdiri tepat di hadapannya seraya menyunggingkan senyum.
"Bu Rhena?"
Wanita yang merupakan guru pengajar Arabella ketika sekolah menengah pertama itu tersenyum, lantas menghampiri anak didiknya. Arabella mencium punggung tangan sang guru. "Bu Rhena kok bisa di sini?" tanya Arabella dengan sumringah. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Duduk di ruang tamu aja, nanti ibu kasih tau."
Arabella mengangguk lantas mengikuti Bu Rhena. "Saya masih terkejut dan gak menyangka kalau Bu Rhena di sini," ucap Arabella membuat senyum Bu Rhena mengembang.
"Semua ini karena mama kamu, Arabell," ucap Bu Rhena membuat Arabella bertanya-tanya. "Mama kenapa, Bu?"
Bu Rhena tersenyum. "Kemarin mama kamu telepon ibu. Beliau sudah cerita tentang segala sesuatu yang kamu alami selama ini. Mumpung hari ini ibu lewat sini jadi sekalian aja mampir," jelas Bu Rhena membuat Arabella terenyuh.
"Sekarang ibu saya dimana, Bu?"
"Ibu kamu keluar sama adikmu. Katanya mau beli sesuatu."
Arabella hanya tersenyum menanggapi perkataan sang guru.
"Arabell, kamu pernah lihat bunga tabebuya gugur ketika hujan ataupun mekar ketika siang dan tidak gugur terkena angin?" tanya Bu Rhena tiba-tiba. Arabella mengangguk. "Pernah, Bu."
Lagi-lagi Bu Rhena tersenyum. "Bunga itu ibarat manusia, hujan, siang, dan aliran air ibarat waktu yang silih berganti." Wanita itu menatap lekat netra sang siswi. "Bunga tabebuya mekar ketika siang dan tidak gugur diterpa angin, seperti fase bahagia dalam kehidupan setiap insan. Karena rasa positif yang ia dapat, cobaan seberat apapun, sesering apapun, segalanya bisa terlewati. Hanya dengan satu senyuman."
Arabella menyimak penjelasan Bu Rhena dengan seksama. Sejujurnya, perkataan Bu Rhena membuat gadis itu sedikit tenang.
"Sementara bunga tabebuya yang mekar dan gugur bersama hujan, seperti fase sulit dalam hidup kita. Fase dimana masa lalu terasa lebih indah dibanding masa kini."
"Bunga tabebuya yang gugur itu tak mampu bertahan pada tempatnya, ia semakin terpuruk hingga membiarkan dirinya terjerembab dalam kenangan masa lalu. Ia jatuh, membiarkan aliran air yang menimpa jalan membawanya pergi. Ia masih tidak terima jika hidupnya tak lagi di atas pohon, melainkan berada dalam air yang terus mengalir."
Bu Rhena menepuk pundak Arabella pelan. "Waktu terus berubah, Arabell. Membandingkan masa lalu dan masa sekarang tak ada gunanya. Justru membuat hatimu semakin teriris. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan, tapi bukan berarti kamu harus terjerembab di dalamnya."
"Sejauh apapun kamu menolak, roda kehidupan akan terus berputar. Meskipun tahun ini banyak hal yang terjadi, bahkan berbanding terbalik dari tahun sebelumnya. Anggap kenyataan ini sebagai hikmah kedepannya. Melihat ke belakang memang disarankan, tapi jika itu membuat hatimu teriris lebih baik tidak usah dilakukan."
Bu Rhena berdiri membuat Arabella melakukan hal yang sama. "Ibu pulang dulu, lain kali ibu akan mampir ke sini." Arabella kembali mencium punggung tangan sang guru.
"Ibu bangga punya murid seperti kamu."
Air mata bahagia mulai membasahi pipi Arabella. Ia masih tak menyangka hari ini akan tiba. Terlebih mendengar jika Bu Rhena merasa bangga terhadap dirinya. Pertemuan singkat ini mampu membuat pintu hatinya terketuk sekaligus mengangkat beban yang selama ini dia pendam sendiri.
Roda kehidupan akan terus berputar. Terus melihat ke belakang bukan hal yang baik untuk dilakukan. Sejauh apapun kamu berusaha, hidup akan terus berjalan. Berontak takkan memperbaiki keadaan justru menambah beban yang harus diselesaikan.
18/10/20