"Andai saja aku punya kekuatan menghilang & teleportasi.. Pasti setiap malam aku akan datang memelukmu. Sejenak menutup mata melihat kenyataan bahwa sampai detik ini aku tak pernah memiliki hatimu." Ucap Rara kala malam melanda. Rara adalah seorang mahasiswi berumur 23 tahun yang masih setia menyendiri menunggu Ardi membuka hati untuknya. Ardi adalah cinta pertamanya sekaligus cinta dalam hatinya. Pasalnya sampai saat ini Ardi masih belum menyadari bahwa perhatian Rara bukan sekedar perhatian seorang sahabat tetapi perhatian seorang wanita kepada lelaki yang dicintainya. Memang benar kata orang, ketika perempuan dan laki-laki bersahabat pasti diantara keduanya ada yang memendam cinta. Dan itulah yang terjadi antara Rara dan Ardi.
Sinar mentari mulai menembus jendela kaca dikamar Rara. Menimbulkan sedikit cahaya yang menyilaukan mata. Rara-pun mulai membuka mata untuk menyambut pagi. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dia menabrak tembok saat menuju kamar mandi. Namun bukan sakit yang dirasa, justru ia menembus dinding itu. Mata Rara secara sepontan membuka sempurna. Bagaimana tidak? Dia bisa menembus tembok? Kekuatan apa ini? Dengan rasa tak percaya ia tabrak lagi dinding kamar mandi, dan hal yang sama terjadi lagi. Dia mencoba mencubit dirinya sendiri, merasa ini hanya mimpi. Tapi cubitan itu terasa sakit & nyata. "Hah.. Ini beneran..? Apa yg kuimpikan semalam jadi kenyataan.." Rara berguman kemudian buru-buru mandi dan melakukan rutinitas seperti biasa.
Sesampainya dikampus Rara melihat Ardi berjalan dari arah berlawanan. Diapun teringat akan ucapanya semalam. "Apa sebaiknya aku coba kekuatanku buat ngikutin Ardi ya. Biar puas berduaan. Mumpung aku bisa ngilang." tanpa sadar Ardi sudah berada didepannya. "Senyum-senyum mikirin apa hayo..?" sapa Ardi sambil mengibaskan tanganya didepan wajah Rara. "Apa sih kamu bikin kaget aja" jawab Rara. "Oh ya Ra.. Malam minggu besok Maya kan ulang tahun. Kamu bantu aku ngasih surprise ketempat kosnya ya.. pas jam 12 malam. Aku pengen jadi orang pertama yg ngucapin selamat buat dia. Cuman kalau aku sendirian takutnya diamuk ibu kosnya.. kan itu kost khusus cewek."
"Fikir2 dulu ya.. Ntar jadi obat nyamuk lagi.." Rara berjalan menjauh menuju kelas sambil menahan perih didada. Sebenarnya Rara sering memergoki Maya jalan dengan cowok lain. Namun tiap kali dia memberi tahu hal itu kepada Ardi, dia tak pernah mau tahu. Mungkin matanya telah dibutakan oleh cinta.
Waktu berjalan begitu cepat, nampak kilauan cahaya bintang dilangit menandakan waktu malam. Rarapun berinisiatif untuk mencoba kekuatan barunya. Dia memikirkan tempat Ardi dan benar saja dia sudah berada dirumah mewah itu. Melihat Ardi yg sibuk menyiapkan pernak pernik pesta ulang tahun Maya membuat dia hanya diam membisu. Disatu sisi dia sedih karena takut sahabatnya kecewa ketika tahu Maya mendua. Dan disisi lain dia juga sedih meratapi kisah cintanya yg hanya bertepuk sebelah tangan.
Rara hanya terdiam memperhatikan Ardi sampai Ardi tertidur. Kemudian sejenak dia memeluk orang yang dicintainya itu dan kembali kekamarnya. Menangis, menangis dan menagis. Itulah yg dilakukan Rara tiap malam sampai dia tertidur dg isakannya.
Hari berganti hari. Dan malam ini Maya ulang tahun. Ardi telah mempersiapkan kejutan didalam mobilnya. Kemudian menjemput Rara dan langsung menuju kost Maya. "Udah jam 11.30 Ra.. Kita tunggu bentar lagi ya. Ntar kita langsung kekamar Maya bawa ini" Kata Ardi sambil menunjukkan kue ulang tahun, bunga dan kotak kecil. Rarapun hanya mengangguk. Belum lama mereka menunggu, Ardi dikejutkan dengan kedatangan motor yg langsung parkir disampinya. Ternyata itu adalah Maya yg membonceng seorang laki-laki dengan mesranya. Rarapun reflek menggenggam tangan Ardi dan menaruh jari telunjuk didepan bibirnya. Memberikan isyarat kepada Ardi untuk diam. Diapun menggunakan kekuatannya agar dirinya dan Ardi tidak terlihat oleh Maya. Ardi hanya bisa pasrah melihat kekasih yg sangat dicintainya itu bermesraan dg org lain didepan matanya sendiri.
Dengan hati yang tersulut emosi Ardi keluar dari mobil dan langsung melempar bunga kewajah Maya. "Kita Putus" "Aa.. Ardi.. Kok kamu bisa ada di sini. Semua gak seperti yg kamu fikirin. Aku bisa jelasin yank.." Maya begitu terkejut dg kehadiran Ardi. Dia mencoba meraih tangan Ardi namun ditepisnya. Tanpa perduli Ardi langsung tancap gas meninggalkan parkiran. Hatinya yg sangat kecewa membuat fikirannya tak karuan. Dia menaiki mobil dg kecepatan tinggi. Sampai tibalah mereka ditempat sepi yang tidak berpenduduk. Dia mengurangi kecepatan berkendaranya. Terlihat 1 orang laki-laki tergeletak dijalan raya dg motornya dan 1 orang lagi melambai-lambaikan tangan meminta tolong. "Ra.. kayaknya ada kecelakaan deh didepan.. Kita tolong dulu ya." Kata Ardi semakin melambat. "Ar.. bentar.. aku kok gak percaya org itu ya.. jangan-jangan dia begal"
"Jangan suka berprasangka buruk Ra. Siapa tahu beneran kecelakaan. Kasian jam segini jarang ada orang lewat"
"Ya udah kita jalan pelan-pelan aja sambil lihat sikon."
Benar dugaan Rara. Itu bukan kecelakaan melaikan begal. Begitu mobil Ardi mendekat 2 begal tersebut langsung mendekat dan menodongkan senjata tajam. "Turun kalian.. Kalau tidak akan aku tembak"
Dor.. bunyi tembakan itu membuat mereka panik & ketakutan. Namun sejenak Rara teringat akan kekuatannya "Tenang Ar, tenang. Sekarang kamu tarik nafas dalam-dalam, genggam tanganku & pejamkan mata" Ardipun melakukannya. Dan Rara langsung menggunakan kekuatannya untuk menghilang & teleportasi menuju rumahnya. Dalam sekejap mereka sudah sampai dirumah Rara. "Buka mata Ar.. kita udah sampai rumah" kata Rara sambil melepaskan genggaman tangannya & segera membuka pintu mobil. Namun tangannya dicekal oleh Ardi yg terlihat kebingungan. "Ra tunggu bentar. Ini mimpi bukan sih. Kok kita udah sampe rumah kamu aja. Padahal seingat aku tadi kita masih dijalan & lagi ditodong preman"
Rarapun segera mencubit tanggan Ardi "Au sakit Ra"
"Kalau sakit berarti kamu gak mimpi. Ya udah aku masuk dulu"
"Tunggu dulu Ra"
"Ada apa lagi sih?"
"Makasih ya buat malam ini. Maaf selama ini gak pernah dengerin kamu soal perselingkuhan Maya. Aku kira dulu kamu gitu karna cemburu & pengen aku putus dg Maya. Ternyata emang Maya beneran selingkuh"
"Emang aku cemburu. Terus kenapa? Gak boleh"
Ardipun terbelalak mendengar jawaban Rara "Hah cemburu..? Emangnya kamu sayang sama aku Ra?"
Rara ingin segera mengungkapkan perasaannya. Menepiskan rasa malu. "Ya Ar.. aku emang sayang banget sama kamu. Bahkan cinta. Tp aku tak pernah menuntut balasan"
Ardipun melepas tangan Rara & membiarkannya masuk kedalam rumah. Bagi Ardi malam ini rasanya seperti mimpi. Memergoki Maya selingkuh, menghilang dari begal, mendapat pengakuan dari Rara.
Sejak kejadian malam itu Rara selalu menghindar dari Ardi. Sampai pada akhirnya Ardi kerumah menemuinya. Tok tok tok "Permisi.. Ra.. Kamu dirumah kan?"
Kreeek pintupun terbuka dan memperlihatkan sosok Meli, ibu dari Rara. "Eh ada Ardi. Masuk masuk.. Rara ada dikamarnya" Ardipun menjawab dg anggukan dan segera melangkahkan kakinya masuk. Ia segera duduk sambil menunggu Rara. "Rara sebentar lagi turun. Ditunggu aja ya. Tante mau ke belakang dulu ambil minuman buat kalian"
"Gak usah repot-repot tan.. aku bentar aja kok. Tante duduk aja. Ada yg mau diomongin"
"Mau ngomong sama tante apa Rara?"
"dua-dua nya"
Kemudian mereka berdua duduk menghadap Ardi. "Sebenarnya maksud Ardi kesini itu buat minta izin tante. Apakah boleh Ardi menjalin hubungan yg serius dg Rara?"
Meli & Rarapun terkejut dg perkataan Ardi. "Maksudnya apa ya? Kok tante jadi bingung. Bukankah kalian berdua itu temenan?"
"Ya tan. Awalnya emang kita temenan. Tapi setelah beberapa hari ini Rara menjauh, Ardi sadar bahwa perasaan Ardi ke Rara itu bukan sekedar teman. Ardi pengen lebih"
"Ooo gitu. Kalau tante sih terserah Rara aja ya. Kalian kan udah dewasa. Pasti udah bisa ambil keputusan yg benar" "Gimana Ra. Kamu mau gak diajak serius sama Ardi?"
Rara hanya tersenyum malu sambil menundukkan pandangannya. Dia tidak menyangka jika Ardi se _gentel_ itu. "Ya udah kalau gitu tante ambil minum dulu."
Selepas kepergian Meli suasanapun menjadi hening. Ada sebuah kecanggungan disana. Sampai pada akhirnya Ardi memberanikan diri mengawali perbincangan "Ra.. Maafkan aku selama ini tak pernah menyadari perasaanmu. Aku baru sadar ketika kamu selalu menghindariku. Rasanya ada yg kosong dihidupku. Aku pengen hubungan kita lebih dari sekedar teman. Aku akan lebih giat bekerja agar bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Dan jika nanti aku udah siap aku akan datang lagi untuk memintamu menjadi istriku"
Rarapun seketika menangis haru mendengar ucapan Ardi. "Ya Ar.. aku mau. Aku akan menunggumu sampai masa itu tiba."
Menunggu bukanlah suatu perkara yg mudah. Namun yakinlah kesetiaan hatimu akan membawamu menuju masa yg indah. Masa dimana dua insan yg saling mencinta disatukan dalam sebuah ikatan *pernikahan.*