Paijo terbangun dalam keadaan terkaget-kaget. Bagaimana tidak, saat ia membuka mata mendapati dirinya kini berada ditempat yang berbeda dengan ingatannya semalam.
Paijo masih terdiam. Sesaat setelah membuka mata, didapatinya seorang wanita paruh baya terlihat berumur 40 tahunan, menatap dengan senyuman manis diwajahnya. Dari busana yang dipakai menunjukkan seorang pelayan.
"Selamat siang.. Tuan muda baru bangun. Apakah tidurnya pulaskah semalam?"
Paijo tidak menjawab dan masih berusaha mencerna situasi saat ini. Dilihatnya sekitar tampak sebuah ruangan mewah, seperti sedang dihotel. Spring bed, cover bed, bantal dan guling semuanya berwarna biru, warna favoritnya, juga harum aromanya. Ruangan juga terasa lebih sejuk dengan adanya AC.
"Ini dimana?"Kalimat pertama yang keluar dari mulut Paijo.
"Ini dikamar tidur Tuan Muda. Tuan Besar dan Nyonya sedang keluar, ada urusan. Beliau berpesan untuk melayani Tuan Muda jika sudah bangun. Saya sudah menyiapkan air hangat untuk Tuan Muda mandi dan sebentar lagi akan saya siapkan makan siang juga. Silahkan Tuan Muda minum dulu susunya mumpung masih hangat," ujar Si wanita sambil menunjuk ke arah meja didepan sofa, terdapat segelas susu dan beberapa buah-buahan dimeja. "Kalau begitu, saya pamit undur diri Tuan Muda." Si wanita sambil membungkukkan badannya.
Paijo masih terbengong, dunianya seolah berputar. Seingatnya semalam ia masih tidur beralaskan tikar, didepan tv hitam putih kesayangan dan masih berada di rumahnya yang berdinding anyaman bambu. Mengapa sekarang berada di sebuah ruangan mewah? Apa ia diculik? Tapi jika diculik, bukankah seharusnya ditempatkan di ruangan yang tertutup seperti penjara? Atau ia dijual oleh orang tuanya? Tapi orang kaya mana yang mau memungutnya? Dengan tampang pas-pasan, apalagi sudah berumur 15 tahun dan tak ada kelebihan apapun! Berbagai macam pikiran menghantuinya.
"Eh.. Tunggu! Ibu tahu nama saya tidak?" Sergah Paijo sesaat sebelum Si wanita pergi meninggalkan kamar.
Si wanita kemudian berbalik dengan wajah terheran-heran.
"Tuan Muda Paijo, panggil saya Bibi saja, saya cuma pelayan disini,"jawab Si Bibi sambil tersenyum. "Sekali lagi saya pamit undur diri Tuan Muda." Ujarnya kemudian menghilang dibalik pintu.
Mendengar jawaban dari si pelayan, membuat Paijo makin bingung. Apalagi setelah tahu namanya masih sama seperti nama aslinya.
"Ini pasti mimpi!" Gumam Paijo pelan. Dicubit pipinya keras, dan "Aduuhh.. Sakit ternyata! Masa mimpi kok sakit dicubit?" Gerutu Paijo saat ini.
Tak ingin berlarut-larut dalam angan yang masih tak jelas, Paijo memutuskan untuk mengakhiri pikiran liarnya. Dalam hati kecilnya justru senang karena sekarang berstatus sebagai anak orang kaya, terlepas dari motif dibelakangnya.
"Yey..yey.. Aku sekarang anak orang kaya!" Teriak lepas Paijo sembari melompat-lompat di atas ranjang, sekaligus menjadi hiburan tersendiri baginya.
Setelah puas melompat-lompat seperti anak kecil, baru disadarinya bahwa perutnya mulai memberi tanda lapar. Diliriknya jam dinding telah menunjukkan jam 11 lebih. Pantas saja Si Bibi tadi menyapanya 'selamat siang', ternyata waktu terasa lebih cepat setelah menjadi orang kaya, begitu pikirnya.
Paijo segera menuju ke sofa, diraihnya gelas berisi susu hangat sambil makan beberapa buah untuk mengganjal isi perutnya.
"Nikmatnya menjadi orang kaya." Begitulah pekik Paijo setelah menghabiskan susunya.
*
Paijo segera bergegas ke kamar mandi, namun tak berapa lama, ia kembali dengan wajah lesu. Kembali duduk disofa sambil memakan buah-buahan yang tersisa hingga habis. Hingga Si Bibi kemudian datang.
"Tuan Muda, makan siang sudah siap.. loh, Tuan Muda belum mandi juga?" Tanya Si Bibi penasaran.
Paijo hanya mendengus kesal, diajaknya Si Bibi kekamar mandi menemui masalahnya.
"Kamar mandinya gelap, aku tidak menemukan tombol sakelar lampu! lalu bagaimana aku bisa mandi jika tidak ada gayung! Terus kalo BAB dengan closet setinggi ini bagaimana jika kepleset pas jongkok!" Cerocos Paijo kesal.
Si Bibi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dijelaskannya satu persatu cara pemakaiannya dengan sabar. Ternyata lampu tidak dinyalakan dengan tombol sakelar, melainkan dengan petikan jari. Tidak perlu memakai gayung, karena menggunakan selang shower. Dan closetnya adalah WC duduk, bukan WC jongkok.
Paijo hanya melongo mendengarkan penjelasan Si Bibi. Sedikit rasa malu, karena banyak hal yang dia tak ketahui. Segera saja ia menyelesaikan kegiatan yang sempat tertunda tadi.
Selesai mandi, ternyata Si Bibi sudah menyiapkan pakaian ganti didepan pintu kamar mandi. Yang kemudian jadi masalah adalah ketika ingin keluar kamar, Paijo tidak menemukan pintu keluarnya. Semua dinding tampak sama seperti tembok. Sedikit menyesal karena tadi tidak memperhatikan bagaimana Si Bibi keluar masuk kamarnya.
Ketika sedang menyusuri tembok, disalah satu sudut ternyata temboknya bergeser dengan sendirinya! Sontak Paijo kaget. Tapi masih dalam akal sehat, tak mungkin rumah berhantu jika masih siang hari.
Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tak terjadi sesuatu, Paijo mencoba melangkah keluar kamar. Aman! Tidak terjadi sesuatu. Tetapi baru 2 langkah kaki berjalan, tembok yang tadinya terbuka kembali menutup!
"Eh! Aneh!" Begitulah pekik Paijo kembali kaget.
Didekatinya kembali tembok, yang kemudian terjadi adalah tembok kembali bergeser terbuka. Dan saat Paijo menjauh, tembok bergeser menutup.
Paijo senang bukan kepalang, bak mendapat mainan baru. 10 menit waktu yang ia gunakan hanya untuk memainkan buka tutup pintu. Hingga ia menemukan kesimpulan bahwa pintu kamarnya menggunakan sistem sensor langkah kaki yang mendekat dan menjauh.
*
Hal pertama yang ditemuinya saat turun tangga menuju ruang makan, ialah sebuah foto besar, foto keluarga tepatnya, diruang tengah. Ada Bapaknya yang memakai setelan jas dan Ibunya memakai kebaya. Sedang Paijo sendiri sebagai anak tunggal duduk memakai baju batik ditengah, diapit kedua orang tuanya.
Dengan melihat foto itu, sudah cukup menghilangkan fikiran ia sempat diculik tadi. Tetapi masih ada hal mengganggu dipikirannya, bagaimana kedua orang tuanya bisa tiba-tiba jadi orang kaya? Entahlah, yang penting sekarang mengurusi masalah perut dulu, begitu yang ada dibenaknya.
Saat tiba dimeja makan, Paijo semakin heran, bagaimana mungkin keluarga yang hanya terdiri dari 3 orang, atau 4 orang jika menghitung pelayannya, tetapi tersedia 9 kursi dimeja makan? Apakah sekarang setelah menjadi kaya, Pak RT juga mengajak anak dan istrinya untuk makan disini? Sambil membayangkan wajah konyol Pak RT, yang sering numpang ikut makan malam, dengan dalih ingin mengajak Bapaknya bermain catur. Padahal aslinya adalah sedang dihukum Bu RT makan diluar.
Dan yang lebih mengherankan lagi, dimeja hanya tersedia beberapa lembar roti tawar beserta selai serta segelas air putih.
"Bi, tidak ada nasi kah? Makan roti saja, mana kenyang?" Keluh Paijo yang tidak pernah lepas dari nasi.
"Tidak ada Tuan Muda, jika ingin nasi harus beli keluar dulu." Begitu penjelasan Si Bibi.
"Oh ya, kalo gitu tolong belikan sekarang, karena Aku sangat lapar! Belikan Nasi pecel, ketoprak dua bungkus, jangan lupa baksonya jangan pake mie dua porsi, sate kambing boleh deh, sama jangan lupa es teh manisnya!" Menjadi orang kaya, membuat Paijo kalap, sifat rakusnya muncul.
"Maaf Tuan Muda, Nyonya berpesan dilarang keluar rumah jika tidak ada keperluan yang penting." Sanggah Si Bibi.
"Ini sangat penting, urusan perutku nomor satu!" Paijo tak mau kalah.
"Maaf Tuan Muda, makan saja apa yang sudah tersedia, begitu pesan Nyonya." Si Bibi hanya bisa membela diri.
Tampak raut wajah kesal Paijo. Terpaksa memakan roti yang ada dan menghabiskannya. Terasa hambar dan masih merasa lapar, karena tidak adanya nasi.
"Bi, apa masih ada makanan di kulkas?" Tanya Paijo yang masih kelaparan.
Si Bibi hanya mengangguk dan melongo, saat melihat, roti tawar persediaan 1 minggu habis sekali makan. Bingung dan tak tahu bagaimana nanti dirinya melaporkan masalah ini ke Majikannya.
Sementara Paijo yang kekenyangan bingung harus ngapain setelah makan. Ini belum sehari dirinya merasakan jadi orang kaya. Sedangkan niat saat ingin keluar bermain bola bersama temannya juga mendapat larangan dari pelayannya. Jadilah seharian dihabiskannya, hanya dengan menonton tv layar lebar berukuran 20 kali lipat dari tv yang dimilikinya dulu, hingga ia sempat tertidur.
Kesimpulan terbaru yang Paijo dapat hingga saat ini adalah menjadi orang kaya itu membosankan.
*
Saat malam tiba, dan kedua orang tuanya belum pulang, Paijo kembali makan sendiri dimeja makan. Betapa terkejutnya ia, ketika mendapati dimeja makan hanya tersedia daging ukuran besar, yang aromanya harum, dan sepertinya enak rasanya, tetapi kembali tidak menemukan nasi!
Ditemani piring dengan garpu dan pisau. Dengan alasan ribet makannya, Paijo menyingkirkan itu semua dan langsung melahapnya menggunakan kedua tangannya. Meskipun enak rasanya, tetapi tetaplah kurang kenyang tanpa nasi. Buah-buahan yang tersedia pun dihabiskannya, untuk menambah isi perutnya. Setelah selesai acara makan malamnya, ia putuskan kembali naik ke lantai atas kamarnya.
*
Semilir angin malam menemani Paijo yang sedang berbaring tiduran di balkon diluar kamar tidurnya. Dengan ditemani segelas kopi hitam dan pemandangan bintang-bintang malam hari di langit yang cerah, seolah menambah kesempurnaan hidup Paijo.
Dipejamkan kedua matanya, dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Hidup serasa sudah dipuncak kejayaan. Hingga sebuah suara familiar terdengar.
"Cut! Bagus sekali.. Actingnya natural!" Begitu teriak Sutradara puas sambil mengacungkan kedua jempolnya.
_End_