Sandra menutup pintu ruang kantor yang baru saja selesai di bersihkannya. Ia kembali menelusuri setiap pintu yang ia lewati, memeriksa kembali pintu-pintu apakah ada yang belum terkunci. Ia berhenti di sebuah pintu, dilihatnya seseorang masih sedang bekerja. Sandra lalu mendengar seseorang berkata,"Masuk".
Di dalam ruangan ia melihat salah seorang karyawan yang bernama Bu Vita masih bekerja, ia lalu bertanya,"Ibu lembur? apakah mau saya buatkan minuman hangat?".
"Buatkan aku kopi susu dengan sedikit gula", jawabnya dengan mata yang masih mengarah ke komputer.
Sandra lalu berjalan ke pantry untuk membuatkannya minuman yang dimintanya, setelah selesai ia kembali tempat Bu Vita. Sandra memberikan minuman itu dan pamit pulang. Bu Vita hanya menganggukkan kepalanya saja seraya mengucapkan terima kasih, Sandra lalu menyerahkan kunci ruangan kepada salah seorang satpam sambil mengatakan bahwa Bu Vita masih bekerja.
Sandra sudah dua tahun ini bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Di perjalanan pulang ia melihat seorang kakek tua yang sedang duduk disalah satu kursi di taman yang biasa ia lewati. Sandra lalu mendekati kakek itu.
"Selamat malam Kek, hari sudah malam, apakah kakek tersesat? kalau iya, saya akan mengantarkan Kakek pulang", sapa Sandra.
"Selamat malam juga Nak, saya sedang menunggu supir saya datang, saya tadi berkeliling sebentar untuk menghilangkan kebosanan, karena terlalu asik saya sampai lupa waktu", jawab kakek itu.
"Apakah Kakek mau saya temani sampai supir kakek datang?", tanyanya lagi.
Sambil tersenyum Kakek itu menjawab,"tidak perlu dan terima kasih, oh ya, Kakek punya sesuatu untukmu", ia lalu menyerahkan plastik yang berisi sebotol minuman.
"Tadi Kakek beli minum, untuk jaga-jaga jikalau Kakek haus, tapi karena supir Kakek sudah datang ambillah minuman ini, Kakek sudah tidak membutuhkannya lagi".
Dari jauh terlihat seorang pria menghampiri mereka, pria itu lalu membungkukkan badan sebagai salam hormat.
"Kakek pulang dulu, terima kasih sudah menemani pria tua ini", ia berdiri dan menepuk bahu Sandra.
"Saya juga berterima kasih karena Kakek sudah memberi saya minuman ini, kebetulan sekali saya haus", jawab Sandra. Sandra juga membungkukkan tubuh saat kakek itu berjalan meninggalkan dirinya.
Sandra duduk kembali di bangku taman dan meminum habis minuman yang diberikan kakek, rasa minuman itu sungguh segar, rasa capek ditubuhnya pun sirna, setelah membuang sampah pada tempatnya, ia melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Sesampai dirumahnya, ia mandi lalu tidur. Pagi hari ia bergegas mandi, ketika berjalan ke kamar mandi, ia merasakan ada yang aneh, ketika ia melihat kearah tangan dan kakinya ia berteriak, tubuhnya tidak kelihatan, ia lalu menuju ke sebuah kaca besar yang terletak di dekat lemari pakaiannya. Benar saja, ia tidak kelihatan, bayangan dirinya tidak ada!.
Sandra terduduk lemas, "bagaimana ini", sambil terisak ia bertanya pada dirinya sendiri. "Mengapa aku begini, apa salahku?".
"Ya Tuhan, pekerjaanku, aku akan kehilangan pekerjaanku". Sandra merenung meratapi nasibnya.
Kakek itu, ya aku harus menemukannya, pikirnya, ia lalu mandi, walau tidak terlihat aku tetap harus mandi dan berganti baju. Ia lalu keluar dari rumah itu mengunci pintunya.
"Tapi dimana aku dapat menemui Kakek?, ah iya aku akan menunggunya disekitar taman".
Sandra lalu menuju ke taman tempat dimana ia bertemu dengan Kakek itu. Dalam perjalanan menuju taman ia melihat seorang wanita diganggu oleh tiga orang laki-laki. Sandra mendatangi mereka, ia lalu mengambil ranting kayu dan melempar ranting kayu ke arah salah satu laki-laki itu. Prak!, "Aduh, siapa yang melempar ranting ini?", tanya pria itu sambil mengelus kepalanya.
"Mana aku tau?", jawab laki-laki yang satunya lagi.
Sandra lalu melemparkan batu ke laki-laki satu lagi, laki-laki itu juga bertanya siapa yang melemparkan batu itu padanya, melihat ketiga laki-laki itu ribut, wanita yang di ganggu oleh mereka bertiga mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Berulang kali Sandra melakukan hal itu, lama kelamaan mereka bertiga menyadari keanehan itu, mereka berlari ketakutan.
Sandra terpingkal-pingkal melihat kelakuan mereka semua, Sandra duduk di kursi taman yang terletak dibawah kursi taman, melihat orang yang lalu lalang melewati taman itu, beberapa anak sekolah melintas didepannya, terlihat salah seorang menindas anak lain yang terlihat lebih kecil dibanding anak yang lain, karena kesal Sandra memukul kepala anak yang nakal itu.
"Aduh, siapa yang berani memukul kepala gue", teriaknya sambil memelototi teman-teman yang ada didekatnya. Teman-temannya saling memandang satu sama lain, setahu mereka tidak ada yang melakukan hal itu.
"Kita tidak ada yang memukul kepala lu", menjawab dengan serentak.
"Lah, lalu siapa yang mukul kepala gue", tanyanya lagi.
Sandra menahan tawanya. Anak yang nakal itu lalu mulai memukul anak yang bertubuh kecil itu seraya berkata", lu ya yang mukul kepala gue".
Dengan gemas Sandra kembali memukul kepala anak itu lebih keras lagi. "Aduh, sakitnya!," anak nakal itu menangis sambil memegangi kepalanya." Ibu!", teriaknya, anak nakal itu berlari di ikuti ketiga temannya, sedangkan anak yang bertubuh kecil itu berjalan sambil tersenyum.
Melihat anak itu tersenyum, Sandra pun ikut tersenyum. Senang rasanya bisa membantu. Siang berlalu, Sandra merasa lapar, ia pergi ke warung kopi yang terletak dekat taman, mengambil satu bungkus nasi dan juga sebotol air minum, semuanya ia masukkan kedalam bajunya agar tidak terlihat, uangnya ia letakkan didekat Ibu yang sedang membuat kopi.
Sandra kembali ke taman, makan dengan tenang. Hari mulai gelap. Matanya menangkap seorang pria sedang mengikuti seorang wanita, dari melihat gelagatnya Sandra tau kalau pria itu punya niat yang tidak baik, sebelum itu terjadi ia mendekati laki-laki itu dan menjegal kakinya. Pria itu langsung jatuh tertelungkup. Dengan santainya Sandra duduk di atas punggung pria itu, setelah dirasa wanita yang akan jadi korbannya itu telah pergi jauh, barulah Sandra berdiri.
Ternyata pria itu pingsan. Sandra pergi menjauh, duduk di kursi tempat ia melihat kakek itu kemarin.
Tak berapa lama ia melihat kakek menghampirinya, hampir saja ia berteriak kegirangan, tapi kemudian ia sadar, ia harus berhati-hati. Kakek lalu duduk disampingnya ditemani supir yang kemarin menjemputnya. Kakek rupanya tidak menyadari kehadiran dirinya.
"Tuan, sebaiknya kita pulang, Tuan sudah berkeliling dari tadi pagi, Tuan pasti lelah sekali, tidak baik udara malam bagi kesehatan, Tuan", kata supir itu.
"Kau itu, aku sudah melarang dirimu untuk memanggil aku tuan, panggil aku kakek, kau sudah aku anggap cucuku sendiri", ujarnya.
"Aku sedang menunggu gadis yang kemarin menemaniku disini pulang kerja, aku penasaran", kata kakek itu lagi.
"Aku disini Kek", jawab Sandra.
"Itu kamu Nak, syukurlah, kamu menghilang begini dari sejak kapan?", tanya kakek itu lagi.
"Dari Sandra bangun tidur Kek", jawab Sandra.
"Oh jadi namamu Sandra?*, tanya kakek.
"Iya Kek", jawab Sandra lagi.
"Sandra, maukah kamu ikut Kakek pulang, Kakek akan menceritakan semua yang ingin kamu ketahui", ajaknya.
Karena Sandra penasaran dengan apa yang terjadi padanya, Sandra mengikuti kakek ke rumahnya. Setiba di rumah kakek, Sandra terkejut melihat bangunan yang ada didepannya. Sebuah bangunan kuno, yang tidak begitu terurus.
Sandra kemudian duduk di ruang tamu yang berantakan, ia bertanya dalam hati, apa tidak ada yang membersihkan tempat ini. Kakek lalu duduk dihadapan Sandra. Terlihat jelas wajah tuanya itu terlihat letih.
Kakek itu lalu menceritakan bahwa dirinya adalah salah seorang ilmuwan, ia bekerja untuk pemerintah. Ia sedang mengerjakan sebuah proyek rahasia, sebenarnya percobaannya sudah selesai, hanya saja ia mencurigai salah seorang rekan kerjanya, oleh sebab itu ia mencari seseorang diluar untuk mencoba ramuannya, itupun haruslah orang pilihan yang mempunyai hati yang baik.
Dan pilihannya itu jatuh pada Sandra. Kakek senang karena pilihannya itu tidaklah salah. Kemudian supir kakek itu datang dan ikut duduk di sebelah kakek. Kakek memperkenalkan bahwa pria itu bernama Roger, ia adalah seorang agen rahasia.
Kakek lalu meminta Sandra untuk menemani Roger menyelesaikan misinya dalam membantu pemerintah, karena ramuan yang diberikannya pada Sandra itu bersifat permanen. Tidak ada cara lain selain Sandra harus mengikuti apa yang dikatakan kakek. Sandra menerima permintaan kakek itu tanpa ada rasa terpaksa.
Setelah mendengar kesanggupan Sandra, kakek itu memberikannya selembar kertas yang isinya adalah kakek mewariskan semua harta benda berserta rumahnya kepada Sandra. Kemudian kakek menutup matanya sambil tersenyum. Kakek pergi untuk selama-lamanya.
Kakek dimakamkan tanpa didatangi oleh pihak keluarga, hanya orang-orang pemerintahan saja yang datang, atas jasanya kepada negara beliau dimakamkan di taman makam pahlawan.
Sandra menitikkan air mata, ia sama seperti kakek yang tidak punya keluarga, apalagi dengan keadaannya yang seperti ini sudah pasti apabila ia meninggal tak akan ada yang tau. Hanya menjadi orang yang berguna adalah salah satu caranya untuk menghargai hidup.
Sekitar sebulan setelah kepergian Kakek, Sandra memulai misinya bersama Roger, ia kerja bahu membahu menyelesaikan semua misi. Tanpa terasa benih-benih cinta hadir diantara Sandra dan Roger, mereka akhirnya menikah dan dikarunia tiga orang anak. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan, walau Sandra tak terlihat, suami dan anak-anaknya menyayangi dirinya. Ternyata semua anak-anak Sandra mewarisi invisible nya Sandra, hanya saja mereka bisa berubah menjadi terlihat hanya dengan cara menjentikkan jarinya saja.
Sandra dan Roger memperbaiki rumah kakek, mereka lalu mendirikan yayasan panti jompo yang diberi nama "Pure Heart" didedikasikan untuk kakek yang bernama Washington Heart. Rumah jompo itu pun terkenal dengan keramahan, servicenya yang bagus serta fasilitasnya yang lengkap.
Being Invisible is fun too.