AMOROLYMPUS
By Epitychia × Nyx' Mara
Dahulu kala, terdapat tempat di suatu tata sistem surya yang jauh dari peradaban dunia manusia disana adalah tempat para dewa bersemayam. Tempatnya penuh dengan keajaiban, petualangan, tantangan, kekuatan dan sihir.
Olympus namanya, dari banyaknya para dewa, ZEÚç adalah dewa tertinggi yang memiliki 7 istri. Zeus, Poseidon dan Hades adalah 3 dewa yang paling kuat diantara dewa dewa lainnya. namun, dari banyaknya dewa yang berkekuatan tinggi, hanya ada sosok yang terlahir tanpa kekuatan apapun, banyak dewa berprasangka bahwa ia adalah jelmaan kutukan dari sesuatu,.. entah apa.
Eridanes.. ia terlahir di dunia para dewa tanpa adanya kekuatan di dalam dirinya. Hingga hal besar terjadi, pengasingan... para dewa lain memutuskan untuk membuangnya dari dunia tempat para dewa. Pengasingan berjalan selama beberapa jam, di sertai deru air mata yang terus mengalir bak air terjun karena kedua orang tua Erdi yang bersedih. Selepas menahan rasa sakit yang di alami ibunda akibat kecewa, akhirnya ia pun terpaksa melepas anak semata wayangnya itu.
[ Sesampainya di bumi, dan beberapa tahun kemudian ]
Udara, suasana, dan tempat tinggal baru mewujudkan harapan hidup bahagia dengan tenang pikir Erdi. “Hei kau! siapa namamu!? makhluk aneh, cara jalan dan tatapan mu sangat mengerikan. Cepat pergi dari sini!!” ucap warga cemas terhadap datangnya sosok baru di lingkungannya,.. "kupikir akan jauh lebih baik, ternyata tak ada bedanya" batin Erdi. Lambat laun lingkungan di sekitar Erdi mulai menjadi tenang, tak banyak lagi ejekan yang ia dengar.
Namun suatu ketika, ada beberapa penduduk desa yang mendatangi rumahnya dengan berbondong bondong membawa kayu bakar dan membawa tombak trisula. Tanpa Erdi ketahui banyak beredar rumor aneh tentangnya hingga rumor itu menyebar... warga pun semakin khawatir sampai - sampai mereka berpikir untuk mengusir bahkan ingin mengaraknya, jika ia melawan dan enggan pergi dari desa “SAYA MANUSIA NORMAL!” sepakan Erdi. Para warga bergidik takut mendengar teriakannya,... “Bohong itu hanyalah tipu muslihatnya saja!” “Apa yang selama ini kalian lihat tidak lah salah, mulai dari tingkah laku, caranya biacara pun aneh. ITU SAMA SEKALI BUKAN LAYAKNYA MANUSIA NORMAL!!” sontak salah seorang warga.
Tak lama dari pemberontak itu, sang hartawan memerintah “Arak dan habisi lah ia, sampai menjadi abu.” “SERANG!”. Kemudian salah seorang warga maju dan menyeretnya hingga ke Guillotine Head, di tempatkannya kepala Erdi di sebuah lubang besar di papan yang di atasnya memiliki semacam pisau besar yang amat tajam, dengan melihat dua belah tangan Erdi yang gemetar, sang warga bergegas menaruh tangannya di dua sisi lubang kecil, dalam hitungan mundur pisau itu akan menyayat leher Erdi. Sorak hitung mundur warga pun terdengar “SATUU.. DUAA... TIIG-” ...“BERHENTI!” dengan raut lemas dan pasrah Erdi mendongak tuk melihat, seorang gadis datang. Dengan lirikan sengit mebawa busur, dengan dagu terangkat, berjalan dengan angun nan gagah di ikuti aura dingin yang mencekam... “Ah sial!” rilih sang gadis “Ada kegaduhan apa ini? berani beraninya mengganggu tidur lelap ku!!?” sontak gadis pendekar 'Cih, dasar ceceguk sialan." gumamnya.. Seketika para warga tertunduk diam sama sekali tak berkutik dengan kedatangan salah seorang gadis ksatria, yaitu Aquila. “Ah a-anu kami berkumpul tuk menghukum mati dia karna... k-karna ia adalah ancaman besar untuk kami!” Jawab si Kepala Desa dengan kepala tertunduk ketakutan, “y-yal betul dia adalah monster dengan tubuh dan tingkah laku mengerikan. Ia jelas ancaman besar untuk kami!” ujar salah seorang warga.
Kemudian Aquila menoleh, melihat seorang pria gagah perkasa tertunduk gemetaran dengan nafas terengah-engah, dengan tangan dan kepala terperangkap. Melihatnya dengan tatapan memohon bantuan,.. “Apa aku tak salah dengar?” ... “ini yang kalian sebut monster!?... Bukan kah sebaliknya? Tanpa pikir panjang dan mencari tahu yang sebenarnya, kalian malah main hakim sendiri!” sontak Aquila “Perbedaan yang asing bukan berarti menjadikan itu ancaman, menerimanya dan saling menghargai itulah yang harusnya kalian lakukan.” “Bukan kah sekarang terlihat jelas siapa monster sebenarnya?”
Para warga mulai meragu dengan rawut wajah was - was, salah seorang bangsawan memerintah.. “TAK ADA KEJELASAN IA DATANG DARI MANA, TINGKAH LAKU YANG ANEH SUDAH PASTI PERTANDA BURUK! SERANG DIA!!” ... dengan gesit Aquila membuka rantai gembok yang mengunci tangan dan kepala Erdi.
[Peperangan pun terjadi beberapa saat.]
Dengan arogannya salah seorang petinggi desa menyerang Aquila dari belakang, mengendap endap hinga *CTASS!* tombak runcing yang amat tajam menusuk ke punggung kanan Aquila, Erdi yang melihatnya perlahan terjatuh, dengan cepat berlari dan mengkap Aquila.
tes.. tes.. tes. isak tangis Erdi melihat Aquila hampir terbunuh.
Rasa sesal terus menghantui Erdi "Andai dengan sigap aku dapat melindungi mu, pasti ini tak akan terjadi" isak batin Erdi,.. “Hey kita belum kalah, a-aku memang tak baik baik saja, tapi kau harus tetap berdiri tegak melawan mereka.” ...“Pergilah dan menangkan pertarungan ini dengan adil. Yang aneh bukan berarti harus dibuang benarkan? Tapi jujur saja.. melainkan aneh, kau itu unik!” ujar Aquila dengan lembut. Tutur kata Aquila menggejolakan gelora relung jiwa Erdi hingga kekuatan terdalam Erdi pun terbit. Di kendalikan nya angin dan tanah hingga meremukan tubuh para warga di dekatnya, melalui telepati Erdi menguasai tubuh monster laut mengiringnya hinga ke darat dan meng ngoyak - ngoyak pasukan prajurit desa "?*KTRAAKK!!* gemuruh suara dari inti bumi pun terdengar, mengeluarkan api yang mengelegar menghangusan para penyerang di sekitarnya.
“E-ERDI BERHENTI!. cukup.” ...dengan mata merah menyala Erdi menoleh melihat sang belahan jiwanya “ku mohon, berhentilah” bisik lirih pinta Aquila.. mendengar permohonan Aquila Erdi pun luluh, seiring jiwa nya yang mendamai... Kekuatan yang Erdi keluarkan sudah melebihi kapasitas nya, dengan tertatih tatih Erdi bergegas menghampiri Aquila dan terjatuh dalam dekapannya tak di sangka dua jiwa melebur menjadi satu hingga mentari berlabuh menyaksikannya, deruan haru Aquila mengalir menetes mengenai pipi Erdi seolah membasuh luka yang ada.
Gemilang cahaya mulai mengelilingi nya, memperlihatkan rupa asli.. sayap megah nan indah pun mulai mengisi ruang angkasa, pancar sinar mata yang membiru... Erdi menatap para manipulator itu dengan tatap tenang yang menusuk relung jiwa. Membangkitkan mereka yang mati dalam perasaan takut, para warga pun tunduk di hadapannya, mengetahui bahwa Erdu bukanlah monster melainkan dewa kuat nan perkasa, ia pun berkata.. “Tak adil bila kalian menyebut ku kacau, padahal kalian tak memberiku ruang tuk melakukannya dengan benar.” “Membabi buta tanpa tau apa yang kalian lakukan terhadap siapa, adalah gegabah. gerakan yang hanya memperoleh masalah baru lainnya. lantas apa guna dari paradigma itu?”
“K-k kami mohon ampunan mu, memang salah mengambil keputusan sebelum mengetahui titik kebenarannya.” “Mohon maafkan lah kami!” ucap salah seorang petinggi desa.. “Benar, kami memang di butakan oleh perbedaan.” “Maaf, semua ini tak akan terjadi bila kami melihat kebenaran dan membuka pintu hati kami” sontak salah seorang warga.
“Kalian tau.. semesta selalu di kelilingi oleh insan insan yang baik, tapi jika kalian tak menemukan nya... maka jadilah salah satunya.” ucap lembut Erdi.
Setelah berbagai peristiwa yang terjadi pada nya dalam semalam, Erdi menoleh melihat Aquila terbaring lemah. Ia pun menghampiri nya perlahan, membelai dengan penuh kasih rambut Aquila, membasuh luka nya dengan kehangatan... di alirkannya secercah cahaya ke seluruh penjuru tubuh wanita malang itu, menyembuhkan luka luar dan terdalam Aquila, hingga hilang tak berjejak.
Sontak Aquila pun tertegun melihat apa yang baru saja terjadi, mendapati respon Aquila.. telapak tangan Erdi membelai kedua tangan Aquila perlahan dengan lembutnya... “Tenanglah.” lalu ia berkata “Aquila,.. melihatmu datang dengan beraninya menolongku, adalah suatu karunia terhebat. mendobrak masuk dan menaruh rasa pada hatiku adalah keahlian mu.” “Aku mencintaimu, bukan karena siapa kamu. tapi karena menjadi apa diriku saat bersamamu.”
Kemudian, dengan lembut Erdi membelai pipi Aquila... dengan kata katanya, ia membuat wanita itu membatu tenang. “Terimakasih.” “Terimakasih telah menjadi binokular dalam hidupku, memperlihatkan jati diriku yang sebenarnya entah kebetulan atau takdir, aku senang yang datang itu adalah kau.”
“Dan bagaimanapun aku adalah dewa yang di asing kan. Karnamu terungkaplah kekuatan yang ada dalam diri ini.” “Aku pun tak bisa terus berada di sini, yang bukan tempatku seharusnya berada,.. a-aku harus pulang.” “kerumahku tempat aku dilahirkan..”
H-hhiks hikss hiks
Perlahan air mata mulai membasahi pipi Aquila... “A-apa!?”
“Setelah yang kita lalui, bahkan setalah pengorbanan yang kulakukan.... lalu setelah semua luka yang kudapat.”
“Dan s-setalah pernyataan itu..”
[ ... ]
Hh-hikss hikss. deru air mata yang mengalir tak ada hentinya terus membasahi pipi Aquila.
“K-kau akan pergi begitu saja?”
“meninggalkan ku? iya?” tanya Aquila sambil terisak isak
Erdi yang mencoba memeluknya, di tepis begitu saja oleh Aquila
“Dimana aku berada kau akan tetap berada di sisiku Aquila.”
“Percayalah seluas apapun jarak yang memisahkan aku tak akan pernah jauh darimu.” “aku pasti akan kembali, sampai jumpa.”
Diawali dengan pertemuan yang tak terduga, berakhirnya perbedaan.. kembali membuat jarak di atanra mereka. Sepulangnya di Olympus, Erdi bertemu dengan ZɛÚC...
“My highness.” Erdi menunduk memberi salam kepada sang pemimpin... “Kau pasti sudah tau apa saja yang terjadi kepadaku selama di bumi“ ... “Dan jika di izinkan, aku ingin tinggal di bumi bersama pujaan hatiku.”
“Aku bersumpah akan tetap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang dewa, meski aku tinggal di bumi." ucap Erdi
Dengan waktu yang cukup lama, tanpa sepatah katapun dari Ζεύς..
“Baiklah, namun ada harga yang harus kau penuhi.” jawab Ζεύς
“Apapun itu akan aku penuhi.” “pasti.” sontak Erdi penuh percaya diri ...“Akan ku hilangan sayap dan kekuatan mu, dan kau akan menjadi lemah.”
“Apa kau bersedia?..” tanya Zɛúc
“Ya. Tentu aku bersedia bila itu harga yang patut ku penuhi, untuk dapat tinggal di bumi.” jawan Erdi tanpa ragu
Bukan. Tak ada lagi pengasingan. Yang ada hanya kebahagiaan, dan kesejahteraan. Setelah rintang pelik yang Erdi lalui, ia mendapatkan kehidupan nya bersama Aquila.. mereka pun hidup bahagia selamanya meski dengan lika liku kehidupan.
[ THE END. ]