Sudah beberapa kali Abimana mendapati Aluna, istrinya duduk bengong dengan tatapan kosong, sering menangis tanpa sebab dan sulit tidur pasca keguguran, maka ia membawa Aluna ke dokter.
"Maaf, pak ... istri bapak mengalami PTSD, saya bisa rekomendasikan psikiater terbaik untuk istri bapak," jelas dokter pada Abimana.
"Psikiater? Dokter jiwa ... yang benar aja, Dok. Cuma keguguran bisa bikin sakit jiwa?"
"Ini bukan sakit jiwa yang gimana-gimana, pak. 3 tahun saya menangani bapak dan ibu, hingga ibu berhasil hamil, giliran hamil malah keguguran ... itu pukulan yang sangat dahsyat bagi sebagian orang, apalagi kalau misalnya sering ditanyain perihal kehamilan, wah ... ibu Aluna pasti sangat sedih. pak."
"Ta-tapi saya malu kalau harus ke dokter jiwa, apa kata orang nanti, Dok?"
"Gangguan yang dialami istri bapak kalau tidak ditangani bisa mempengaruhi kesehatan fisiknya. Pak, jangan pikirkan apa kata orang, bagaimana pun istri bapak berhak menjalani hidup yang sehat dan bahagia."
***
"Oek, oek ..." Aluna yang baru saja lelap, terkesiap mendengar tangisan bayi.
"Bim, bangun. Bayi kita nangis," Aluna menggugah suaminya.
"Bayi? Kamu lupa kalau baru saja keguguran. Sudah tidur lagi saja, aku capek banget," sahut Abimana, sambil berbalik, menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.
Aluna bangkit dan mencari sumber suara 'bayi'nya.
"Sayang? Astaga pantas saja bayiku menangis, kamu pasti kedinginan," gumam Aluna sambil menuju taman kecil di halaman rumahnya. Baru saja ia berjongkok ingin meraih 'bayi'nya, terdengar suara tangis di tempat lain. Aluna bingung dan berpindah ke mencari bayinya, begitu terus hingga beberapa kali.
"Aluna, ngapain kamu disitu?" Abimana menghampiri istrinya.
"Bayi kita menangis, tapi aku tidak menemukannya, Bim," sahut Aluna sambil terus mencari keberadaan bayinya.
"Ck, bayi apa? Tidak ada suara apapun, cuma jangkrik. Ayo masuk, nanti kamu sakit," Abimana yang tahu Aluna sedang berhalusinasi, meraih tangan istrinya.
"Tapi bayi kita menangis terus dari tadi, mungkin dia lapar, Bim."
Tidak ingin berdebat, Abimana menggendong Aluna masuk ke dalam rumah.
"Aluna, tidak ada bayi. Kamu minum obat dulu, ya."
***
"Papa, kenapa kau tidak menginginkanku? Aku sedih pa, kini papa tahu bagaimana rasanya berharap tapi tidak bisa mendapatkan, haha. Kalian tidak akan memilikiku jika belum meminta maaf padaku," suara anak kecil lelaki dengan wujud seperti casper itu membangunkan Abimana.
"Hah, siapa yang bicara padaku?" gumam Abimana sambil mengusap kepalanya.
"Kenapa, Bim?" tanya Aluna.
"Tidak tahu, aku seperti mendengar suara anak kecil. Ah, aneh, kok seperti nyata begitu, ya?" Abimana kembali berbaring.
"Papa, kenapa kau tidak menginginkanku?"
"Papa dan mama tidak akan memilikiku jika belum meminta maaf padaku."
"Padahal aku ingin merasakan kasih sayang papa dan mama, tapi kenapa aku disia-siakan?" suara itu kembali menyambangi pendengaran Abimana dan membuatnya terbangun.
"Apa PTSD bisa menular? Kenapa gejalaku mirip Aluna, sih?"
Setelah 3 malam berturut-turut suara itu mengganggu tidurnya, Abimana memutuskan konsultasi dengan psikiater yang menangani Aluna.
"Hm, yah ... secara tidak langsung, meski bukan penyakit infeksi, studi terbaru menyebut stres bisa memang menular dari satu orang ke orang lainnya, pak. Apalagi bapak dan ibu tinggal serumah, bapak juga mungkin lelah dan tertekan menghadapi ibu, jadi bisa saja terjadi begitu, pak."
***
Sementara obat dan terapi yang diberikan untuk Aluna tampak memberi efek baik, terbukti istrinya sekarang bisa tidur nyenyak, berbeda dengan Abimana. Pria tampan itu masih saja terganggu suara-suara aneh ... sampai ia memikirkan sesuatu yang mungkin adalah penyebabnya.
"Aluna, mumpung week end kita ke Malang, yuk?"
"Mau nostalgia waktu masih pacaran ya, Bim?"
"Yah, lagian kita sudah lama tidak liburan. Kita perlu healing, Lun."
"Ayo!"
Kota Malang menyimpan banyak kenangan bagi Abimana dan Aluna, sebab kota itu mempertemukan mereka di kampus yang sama dan kemudian menjadi sepasang kekasih.
Kini mereka melakukan napak tilas perjalanan mereka dulu, ke kampus, kantin bahkan kos-kosan mereka dulu pun tidak lupa mereka sambangi.
"Lun, aku mau jujur ... aku berpikir, apa yang kita alami akhir-akhir ini tidak lepas dari kesalahan kita dulu," ujar Abimana, saat mereka berdiri disebuah klinik yang tampaknya sudah tidak terpakai lagi. Aluna tahu bangunan itu, karena merupakan salah satu saksi kisah cinta mereka sekaligus saksi atas kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan dulu.
"Maksudmu kejadian itu ada kaitannya dengan ..." Aluna ragu mengungkapkan isi hatinya.
"Iya, keguguran yang kamu alami, PTSD, suara tangisan bayi, suara anak kecil yang kudengar ... pasti ada alasannya."
"Hm, a-apa karena kita pernah menggugurkan janin kita di klinik ini?" suara Aluna terdengar seperti menahan perih.
"Iya. Maafkan aku Aluna, maafkan aku yang egois dan terlalu takut menghadapi kehamilanmu saat itu. A-aku ..." Abimana terisak.
Aluna memeluk Abimana, "Bukan hanya kamu, tapi kita, Bim. Ah, andai saja waktu itu kita tahu bagaimana sulitnya sekarang kita melakukan segala cara agar bisa mendapatkan buah hati tapi bukannya bersyukur, malah menolak kehadirannya, kita telah menyia-nyiakannya, Bim."
Abimana mengambil sebotol air dari ranselnya dan berdoa sambil menyiramkan tempat yang dia yakini sebagai tempat pembuangan janin mereka dulu, janin berusia 9 minggu hasil hubungan pacaran yang kebablasan.
"Maafkan papa dan mama, nak. Maafkan kami telah menyakitimu dan sempat menolak kehadiranmu. Sungguh kami menyesal. Kami tahu kamu kecewa tapi sungguh jika tahu akan begini, kami tidak akan melakukannya. Tolong, maafkan kekhilafan kami, nak."
"Bim, apa sebaiknya kita memberinya nama? Agar bisa kita sebutkan dalam doa-doa kita," usul Aluna.
"Ya, aku sudah siapkan. Nama anak kita Abrisam bin Abimana, artinya anak lelaki Abimana yang tampan dan lembut," ujar Abimana diangguki Aluna.
"Nah, Abrisam bin Abimana, anakky ... meskipun kami belum sempat memelukmu, tapi kami sangat mengasihimu. Jadilah pelita kecil untuk papa dan mama, hingga saatnya kita bertemu," imbuh Abimana lagi.
Kedua suami istri itu pun pulang meninggalkan lokasi bekas klinik denga perasaan nyaman. Sejak kunjungan itu ada rasa damai menyelimuti mereka, tidak ada lagi tangisan bayi, tidak ada lagi mimpi aneh, mereka bahkan tidak lagi mengunjungi psikiater.