Haloo..
nggak nyangka pas scroll pesan terkirim di email, Aku menemukan cerpen ini. Hehe,
Jadi keinget waktu itu, jiwa menulisku begitu membara. Aku bahkan mencari alamat email atau website yang bisa dikirimi tulisan.
Dari sekian banyak cerpen, Aku merasa, cerpen ini yang paling mengena.😁
Berlatar saat dulu, Aku mencicipi yang namanya mondok di pesantren, sambil menempuh pendidikan perkuliahan. Aku mulai mengenal dunia luar dengan banyak manusia di dalamnya.
Semoga kalian suka dengan cerpen ini🥰
Note: Satir adalah kain pembatas antara putra dan putri yang terdapat di aula pesantren, tempat santri mengaji.
😘😘😘
Aku menatap langit-langit kamar, sulit rasanya menutup mata dan membiarkan tubuh ini beristirahat. Aku melirik kanan kiriku. Kawan-kawanku sudah tidur dengan nyenyak. Bahkan beberapa diantaranya mendengkur dengan keras. Aku menghembuskan nafas berat.
Hmmhhh…! Wajah itu selalu membayang. Wajah lelaki dibalik kain berwarna hijau aula. Entah milik siapa wajah itu, yang jelas sudah dua minggu ini mengusik ketenanganku, membuat Aku susah tidur.
Aku menarik selimutku. Menutupi seluruh tubuhku dari kaki sampai kepala. Aku mulai memejamkan mata. Walaupun masih 100% tersadar, ku coba untuk tidur. Aku biarkan wajah itu hilir mudik. Tidak Aku hiraukan.
***
Aku duduk di gazebo depan gedung F. Gedung tempat Aku kuliah pagi ini. Beberapa teman sekelasku duduk berjejer di sampingku. Mereka asyik bercakap-cakap. Begitupun dengan Aku. Aku menyikut lengan teman di sebelahku. Dia hanya mengangguk.
“Ehh Umii…” Aku memulai. Umi adalah kawan sekelasku di Jurusan dan kawan sekelasku di Madrasah Diniyah Pondok.
“Iya Fa?” Dia menengok ke arahku. Kami beradu pandang.
“Kamu tau santri putra yang suka duduk di tiang tengah aula??”. Kulihat alis Umi berkerut. Mungkin heran dengan pertanyaanku. Ahh biar saja!!. Sesaat dia tampak berfikir.
“Emm tadi malem nggak duduk di tiang ya??” tanyanya. Aku mengangguk.
“Kalau nggak salah, namanya Ramdan. Kalau nggak salah lhooo Faa… Emang kenapa? Suka yaaa?? Hehe”. Umi memandangku penuh selidik.
“Hei-hei.. Bukan gitu! Aku cuma pengin tau aja kok” Sanggahku. Umi tertawa. Entah apa yang Dia tertawakan.
“Iya-iyaa, Aku percaya Fa! Makanya kenal semua temen pondok donk. Masa sudah hampir dua tahun, belum kenal juga sih. Payah ahh!!” Umi menepuk-nepuk pundakku. Aku tersenyum kecut. Dalam hati membenarkan perkataan Umi barusan.
Tapi bagaimana lagi. Kalau diminta kenal semua kawan perempuan, okelah, Insya Allah Aku sudah kenal semua. Tapi kalau kawan yang putra, jujur saja, Aku belum bisa.
Dosen matakuliah Etika Bisnis –ku tampak sedang berjalan menuju ruang kuliah. Aku dan kawan-kawanku segera berlari menuju kelas sambil tertawa-tawa. Seperti anak SMA saja!
***
Aku dan Mua, kawan kelasku, berjalan beriringan menuju Koperasi Mahasiwa (Kopma). Kami melewati segerombolan kawan-kawan dari jurusan lain yang tampak sedang mendiskusikan kegiatan kelas mereka. Aku melepas sepatuku begitu hendak memasuki teras Kopma. Bangunan Kopma berada di jajaran gedung Sekretariat Ormawa (Organisasi Mahasiswa). Bercat hijau seperti halnya warna kampusku. Begitu masuk, terlihat berjajar sebuah mesin fotokopi dan sebuah komputer lengkap dengan printernya. Seorang lelaki, mahasiswa juga, tampak sedang sibuk melayani pelanggan. Aku dan Mua duduk di bangku yang sudah disediakan. Menunggu giliran dilayani.
Aku mangayun-ayunkan flashdisk-ku untuk mengusir kebosanan. Sedangkan Mua memainkan gadgetnya. Aku melirik ke arah lelaki yang sedang melayani pelanggan. Sekejap Dia juga melirik ke arahku. Mata kami beradu pandang beberapa detik. Dia tersenyum. Aku mengangguk dan membalas senyuman itu. Kemudian Aku mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Mau ngeprint atau fotokopi Mba?”. Aku kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Segera saja Aku menengok ke sumber suara. Rupanya lelaki tadi yang bertanya padaku. Untuk menghilangkan kagetku, Aku segera berdiri dan mendekat. Aku berdiri tepat di hadapannya. Kami hanya dipisahkan oleh sebuah lemari kaca setinggi dadaku dengan lebar setengah meter.
“Ngeprint Mas!”. Aku menjawab dan segera saja kuberikan flashdisk-ku pada Dia. Dia mengangguk.
“Nama foldernya apa Mba?” tanyanya sambil klik sana-sini.
“Faza”. Jawabku singkat. Dia melirik ke arahku sekilas. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi krekk-krekk pada printer. Kemudian keluarlah kertas. Ajaibb!.
Kini tumpukan makalahku siap untuk dijilid. Lelaki itu, entah siapa namanya, dengan cekatan mulai menjilid makalahku. Aku memandang keluar jendela. Lelaki itu terdengar bertanya sesuatu, entah bertanya padaku atau pada seorang wanita yang kini sudah ada di sebelahnya. Aku menengok sebentar ke arahnya dan kembali memandang keluar jendela.
“Berapa Mas?”. Tanyaku begitu makalahku selesai dijilid.
“3500 Mba”. Aku mengambil uang dari balik tasku dan kemudian memberikan padanya.
Setelah Mua mendapatkan makalahnya juga, Aku dan Mua segera meninggalkan Kopma. Menuju kelas selanjutnya.
Pikiranku melayang ke waktu saat aku menunggu makalahku selesai dijilid. Tadi dia bertanya padaku atau teman di sebelahnya ya? Dia kaya nyebut nama pondok juga. Batinku. Aku sedikit menyesal karena tadi tidak memastikan Dia bertanya padaku atau bukan.
“Fa, kamu tadi ditanya sama mas-mas itu kok diem?”
“Enghh?? Jadi Dia tadi tanya ke Aku tha?”. Mua mengangguk.
“Aku tadi lagi nggak fokus sama mas-mas tadi… Terus gimana ya Mu??”. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Udah nggak apa-apa… Tadi juga Mas-nya nggak jelas tanyanya…”. Mua menepuk pundakku. Perasaan bersalahku sedikit berkurang. Sedikit!!.
****
Aku memasuki aula. Belum ada yang berangkat rupanya!. Aku mengambil sebuah meja mungil sepanjang satu meter dengan tinggi hanya 30 sentimeter, dari pojok aula. Kemudian membawanya menuju ke depan. Untuk meja Ustadz. Setelah itu, Aku menuju ke belakang, menarik kain berwarna hijau tua, yang akan membagi aula menjadi dua bagian, bagian santri putra dan bagian santri putri. Aku menariknya hingga mendekati meja Ustadz. Kain ini lazim disebut satir. Selain sebagai pembatas ruangan, satir juga berfungsi sebagai pencegah kontak mata secara langsung antara putra dan putri, sehingga pandangan terjaga.
Aku duduk di pinggir menempel ke tembok. Aku menyandarkan tubuhku. Menunduk memandangi kitabku. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain berangkat untuk mengaji juga.
Beberapa menit kemudian, seorang santri putra memasuki aula. Aku tidak tahu siapa yang masuk, karena pintu masuknya berbeda. Lagi pula Aku tidak begitu mengenal kawan putra sekelas di Diniyah kelas satu ini. Hanya beberapa saja yang ku kenal. Karena kebetulan dulu saat di Madrasah Aliyah sudah saling kenal.
Aku melirik sekilas kemudian menunduk lagi. Santri putra itu menarik perhatianku begitu dia duduk di samping tiang tengah-tengah aula. Itu lelaki yang biasanya!!! Teriakku dalam hati.
Entah bagaimana mulanya, Aku menjadi begitu penasaran dengan sosok lelaki di samping tiang, yang membuatku sulit tidur. Aku jadi menyesal sudah dibisiki kata-kata itu oleh kawanku.
“Faza, tuh santri putra yang tiap hari duduk di samping tiang, katanya pengin kenalan sama kamu”. Aku hanya melebarkan mataku sebentar kemudian tersenyum. Kawanku itu menyikut lenganku karena Aku tidak kunjung merespon dengan ucapan.
“Oh iya-iya”. Aku merespon sejadinya. Kemudian tidak ada kelanjutan lagi, karena saat itu Ustadz sudah memasuki kelas.
“Hey Faza! Ngelamun aja!!”. Seseorang menepuk pundakku. Aku berjingkut kaget.
Umii..!! teriakku dalam hati. Lamunanku buyar sudah.
“Nunggu yang lain berangkat ngaji, sampe ngantuk nih!” Aku merengut.
“Lha kamuu berangkat gasikkk banget… Hehe”. Umi duduk di sampingku. Setelah Umi duduk, susul menyusul kawan lain memasuki aula.
“Eh Fa… Itu putra yang kamu maksud pagi tadi kan?”. Umi mengarahkan pandangannya ke tiang di tengah aula. Aku pun mengikuti arah pandangannya. Umi beralih menatapku.
“He’em, kenapa Um?” Tanya ku.
“Iya itu Ramdan, yang sering lewat komplekku pakai sarung hitam kalau mau jama’ah di Mushola” Umi menjelaskan. Aku mengernyitkan dahi.
Bukankah santri putra kalau mau sholat di mushola, emang nglewatin komplek putri ya? Dan rata-rata pakai sarung hitam. Batinku.
Aku menggeleng merespon penjelasan Umi. Kini Umi bingung harus menyebutkan ciri-ciri apalagi agar Aku paham.
“Sudah-sudah… Kapan-kapan juga Aku bakal tau Um! Kayak apa orangnya… Hehe”
Umi mengangguk. Namun sepertinya Dia masih ingin membuatku paham siapa pemilik wajah yang tertutup satir itu.
Ustadz memasuki aula. Pelajaran pun dimulai. Aku membuka kitab untuk mengaji malam ini. Akhlaq lil banin. Aku fokus memberi arti pada kitabku seperti apa yang diucapkan Ustadzku. Pak Asyrofi. Sesekali aku melirik ke arah santri putra yang bersandar di tiang.
Suatu hari aku pasti tau misteri wajah dan pemilik wajah dibalik satir itu! Batinku sambil tersenyum di sudut bibir.
***
Aku sedang menulis materi Hukum Pidana saat seseorang dengan tiba-tiba menepuk Pundakku. Aku hanya memejamkan mata untuk merendam rasa kesal dan kaget yang muncul. Kemudian tersenyum begitu melihat siapa yang menepuk pundakku barusan.
“Sibuk aja sih Fa!”. Komentar Ria. Salah satu kawan sekelasku. Dia menaruh tasnya di bangku sampingku. Kemudian memperhatikanku yang sudah melanjutkan menulis.
“Iya nih, Ri… Nambal Hukum Pidana, hehe” Responku singkat.
“Ahh iya!! Hukum Pidana ya? Aku juga belum nambal Fa!” ungkapnya. Sambil tersenyum lebar. Aku tahu kata apa yang setelah ini akan dia ucapkan.
“Nanti Aku ikut nambal ya Fa? Pinjem punyamu”. Nahh kan? Aku tersenyum dan kemudian mengangguk menjawab permintaannya.
Suara riuh kawan-kawanku memasuki ruangan, membuat fokus menulisku goyah. Ku lirik mereka. Bisakah mereka mengecilkan suara?
Aku mendengus kesal. Dengan fokus yang sudah pecah, Aku tetap melanjutkan menulis. Sedikit lagi Aku sudah selesai.
Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 09.10. Dosen belum juga memasuki kelas. Sementara suara kawan-kawanku sudah semakin keras. Beruntung tiga menit yang lalu aku sudah menyelesaikan kegiatan menulisku. Buku catatanku pun sudah berpindah ke Ria.
“Ria… Keluar yuk! Di dalem brisik banget!” Aku berdiri dan beranjak keluar. Aku berjalan menuju tempat duduk di teras gedung F. kemudian Ria menyusul dan langsung duduk di sebelah kiriku. Dia memegang gadget kesayangannya yang berwarna pink. Secara tiba-tiba dia memotretku dan menunjukkan hasilnya padaku. Aku tersenyum dengan kejahilannya itu.
“Faza?” Panggilnya.
“Ada apa Ri?” Aku menatapnya. Siap menerima cerita ataupun pertanyaannya.
“Liat cowok yang di gazebo itu? Yang pakai kemeja warna krem?” Tanya Ria sambil menunjuk ke arah yang Dia maksud. Aku pun mengikuti ke arah yang ditunjuk Ria. Dan segera kulihat sosok di ujung sana.
“Bukankan itu cowok yang ada di Kopma?” Tanpa sadar Aku mengucapkan itu. Aku beralih ke Ria. Dia mengangguk membenarkan ucapanku.
“Kamu di Pondok sekelas dengan Dia?” Tanyanya. Aku berfikir cukup lama. Kemudian tersenyum malu. Karena seberapa lamapun aku berfikir tentang teman lelaki sekelas di pondok, jawabanku hanya satu.
“Nggak tau Ri.. Hehe. Iya mungkin sekelas. Kenapa emang Ri??”. Tanyaku penasaran.
“Nggak kenapa-kenapa sih Fa… Dia kenal kamu, jadi kupikir kamu kenal juga!”. Mataku beralih ke cowok berkemeja krem di ujung sana. Mencoba mengingat-ingat mungkin pernah sekali melihat dia di kelas pondok. Ahh nggak tau lah! Aku membatin.
“Oh syukurlah kalau ada yang kenal Aku. Hehe”. Aku meringis.
“Huuu” Ria memukul pundakku. Pelan.
“Masa ke temen sekelas nggak kenal sih Fa?”. Aku tersenyum kecut. Lagi-lagi ada yang berkomentar seperti itu.
Aku menikmati angin yang berhembus mengibarkan jilbab hijau yang kupakai. Beberapa daun kering, dari pohon di depan gedung F, jatuh ke pangkuanku. Aku memungutnya kemudian kutiup sehingga terbang menjauh.
“Namanya Ramdan, Fa…”. Ria berkata tiba-tiba. Membuat Aku tersentak dari lamunan dan keasyikanku meniup daun kering. Mataku langsung tertuju kembali pada lelaki di ujung sana. Tampak Dia sedang tertawa kecil menerima candaan dari kawan di sampingnya.
“Ramdan?” Gumamku. Saat Aku menyebut nama itu, kedua sorot mata lelaki itu menuju ke arahku. Cukup lama. Kami saling memandang. Aku berkecimpung dengan pikiranku. Mungkin Dia juga begitu.
“Jadi Dia lelaki itu?” Aku bertanya lirih. Bertanya pada diriku sendiri. Aku melihat kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman. Cukup manis. Mungkin senyum itu ditunjukkan padaku. Dengan ragu-ragu, Aku membalas senyum itu.
Dia kembali melayani candaan teman-temannya. Dia tidak tahu. Sebuah misteri tentangnya telah terbuka. Jadi dia? Lelaki yang bersandar di tiang aula… Pemilik wajah itu! Wajah dibalik satir!. Aku tertawa menyadari kebodohanku yang tidak mengenali kawan sekelas di pondok, terutama yang putra. Heeeee.