Sudah 1 bulan sejak terjadinya percobaan pembunuhan yang di lakukan seseorang kepada Rangga.
"Gimana sudah ada perkembangannya?" tanya Rangga.
"Belum ada tuan, kata pihak kepolisian tidak ada bukti-bukti atau jejak yang tertinggal disana, polisi cukup kesulitan karena ditempat kejadian tidak ada saksi yang melihatnya" jelas Dimas
"Sudah jelas pasti kelakuan Sofian, dia pasti iri karena kekalahannya bulan lalu" ucap Rangga dengan penuh emosi. Sofian adalah CEO sama seperti Rangga, Sofian dan Rangga memang sering bersaing dalam mengembangkan perusahaan masing-masing.
"Tidak ada bukti yang mengarah ke Pak Sofian, Tuan. Saat itu dia sedang melanjutkan perjalanannya ke Surabaya, dan mobilnya terekam CCTV saat memasuki TOL. dalam panggilan telponnya pun tidak ada yang mencurigakan tuan" jelas Dimas lagi.
"Aakhhh ... Seandainya saya bisa tembus pandang, sudah ku cari tau sendiri. hmmm, ya sudah, kalau ada perkembangan terbaru, segera beri tau saya"
"Pelakunya masih belum ketemu yah?" Tanya Bu Risda yang memasuki kamar Rangga.
"Belum nyonya" jawab Dimas.
"Sabar sayang, pasti Polisi bakal menangkap pelakunya" Bu Risda mencoba menenangkan putra satu-satunya, yang terlihat cukup emosi pagi ini.
"Kita sarapan dulu yuk, mama sudah siapkan Pancake kesukaan kamu. Dimas juga wajib ikut makan"
"Ngga usah Nyonya, saya tidak enak"
"Ngga usah sungkan begitu, kamu sudah dianggap keluarga sendiri disini. sudah 8 tahun kamu menemani Rangga dalam menjalankan bisnis papanya. dari Rangga belum tau apa-apa, sampai sekarang menjadi CEO terkenal di Indonesia" ucap Bu Risda.
"Terima kasih banyak Nyonya"
Setelah selesai makan, Rangga dan Dimas bergegas menuju kantor. ternyata di tengah perjalanan ada jalur yang ditutup karena akan ada perbaikkan jalan.
Dimas kemudian memutar arah mobilnya memasuki gang kecil. entah kenapa Dimas merasa kalau ban mobilnya terasa berat. dia menepikan kendaraannya untuk melihat keadaan roda bannya.
"Ada apa?" tanya Rangga yang masih sibuk mengurusi kerjaannya melalui laptop yang dia bawa.
"Sepertinya bannya bocor tuan, bengkel juga masih lumayan jauh dari sini" jawab Dimas
"Astagaa, kenapa kamu tidak cek dulu sebelum berangkat?"
"Saya lupa tuan. tunggu sebentar tuan, saya telpon bengkel dulu" ucap Dimas lalu berjalan kebelakang mobil untuk menelpon bengkel langganan Bosnya.
belum sempat dia memencet nomor telpon bengkel, tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Dorrr Dorrr..
Dimas yang terkejut lalu berbalik kearah depan mobil, dia melihat dua orang misterius itu lagi sedang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Dimas pun berlari untuk melihat keadaan Rangga. "Astaga, tuan" Dia sangat kaget saat melihat Rangga sudah tergeletak berlumuran darah.
Karena mendengar suara tembakan, beberapa orang yang tinggal disana kaluar rumah mencari sumber suara itu.
Mereka mulai mengerumuni mobil Rangga. Dan salah satu warga menawarkan bantuan. "Sini biar ku gonceng naik motor ke Rumah Sakit terdekat"
Dimas lalu mengiyakan, dan beberapa pria kini mencoba mengangkat Rangga ke motor dan Dimas duduk dibelakang Rangga. Dimas berusaha melilitkan jas yang dia bawa ke dada Rangga, agar Rangga tidak kehabisan darah.
Setelah sampai Rumah Sakit, Rangga lalu dibawa ke UGD. Sebelum memasuki ruangan Rangga mendengar suara mamanya menangis memanggil namanya, dia juga samar-samar melihat sosok wanita yang melahirkannya itu.
"Rangga, bangun sayang. jangan tinggalin mama" kata terakhir yang Rangga dengar sebelum pintu tertutup.
"Nyonya kenapa ada disini" tanya Dimas, dia cukup penasaran dengan kehadiran Bu Risda secara tiba-tiba, padahal dia belum memberi tahukannya.
"Saya mau menjenguk teman SMA saya dulu, dia dirawat disini juga. tapi saya melihat ada keributan diluar, dan ternyata Rangga yang terluka" jelas Bu Risda.
Dimas pun tidak menaruh curiga ke Bu Risda, mana mungkin mama kandungnya sendiri yang mau mencelakakan Rangga. apalagi selama ini Rangga dan mamanya terlihat sangat dekat.
Setelah 12 jam berlalu, Dokter yang mengoperasi Rangga keluar dari ruang operasi. "Operasinya lancar, meskipun tadi kita hampir saja kehilangan dia, tapi untungnya dia mampu melewati masa-masa kritisnya. 1 jam lagi kita akan membawanya ke rawat inap"
"Alhamdulillah" ucap Bu Risda dan Om Burhan yang sedari tadi menunggu.
Satu jam kemudian, terlihat Rangga yang masih lemas berbaring keluar dari ruangan bersama para perawat. Rangga dibawa ke bangsal elit dimana hanya orang-orang yang berduit saja yang mampu memakainya.
Keesokkan harinya, "Sofian betul-betul sudah kelewatan, dia benar-benar ingin membunuh ku" ucap Rangga dengan kesal ke Dimas karena saat ini cuma Dimas yang menemani Rangga, Bu Risda dan Om Burhan sedang ada urusan diluar.
"apa tuan yakin ini ulah Pak Sofian?" tanya Dimas yang sedikit mulai meragukan tuduhan Rangga.
"Lalu siapa lagi? cuma dia yang selalu menganggap saya musuhnya. yang lain tidak ada seperti dia" ucap Rangga kembali dengan emosi.
"Loh, tuan ada dimana?" tanya Dimas, karena terlalu serius mengupas kulit apel. dia tidak sadar kalau ternyata Rangga tidak ada ditempat tidurnya.
"kamu bilang apa? jelas-jelas saya masih berbaring ditempat tidur" Rangga kemudian melihat dirinya ternyata tembus pandang atau tidak terlihat. "Apa yang terjadi pada ku?"
"jangan-jangan tuan sudah jadi hantu" ucap Dimas merinding ketakutan.
"enak saja, saya masih hidup. tapi kenapa saya bisa tidak terlihat?" setelah beberapa menit dia akhirnya terlihat kembali.
"tuan apakah saya sedang bermimpi?" tanya Dimas yang masih tidak percaya. lalu mencubit lengan Rangga.
"Aww, kenapa kamu cubit saya? kalau mau tau ini mimpi atau tidak, kamu cubit saja dirimu sendiri"
Dimas lalu mencubit dirinya sendiri. "Ah, sakit. ternyata ini bukan mimpi. tapi kenapa bisa tuan seperti itu?"
"Saya juga tidak tau, tapi keajaiban ini bisa ku pakai untuk mencari tau siapa yang ingin membubuh ku"
"gimana caranya tuan?"
"itu gampang, sekarang saya mau mempelajari ilmu ini dulu, sepertinya kalau saya lagi marah saya akan tembus pandang, tapi kalau saya bahagia, saya akan terlihat kembali" Rangga sangat bahagia mendapat keajaiban ini. "jangan beri tahu siapa-siapa tentang ini" perintahnya.
"Siap tuan"
Selama sebulan pihak kepolisian masih kesulitan mancari siapa pelakunya. dan selama sebulan ini juga Rangga terus melatih kemampuan barunya hingga berhasil menguasainya.
"Tolong hari ini kamu urus semua perkerjaan kantor, saya ingin menjalankan misi, kunci mobil yang saya minta sudah ada kan?" perintah Rangga.
"Ada tuan, tapi tuan mau kemana?" tanya Dimas
"saya mau memata-matai Sofian di kantornya, saya ingin mencari bukti atas kejahatannya"
"Hati-hati tuan"
Sesampainya didepan kantor Sofian, Rangga kemudian mengeluarkan ilmu tak terlihatnya dan berjalan masuk memasuki perusahaan milik Sofian.
selama seharian Rangga terus mengikuti Sofian kemana pun Sofian pergi. hingga hampir menjelang magrib disaat semua karyawan Sofian sudah pulang, dia tetap berada di sekitar Sofian.
"Dia melakukan apa?" gumam Rangga dalam batin. "Pantasan dia selalu kalah dalam Tender, orang dia malah nonton video panas, dan melalukan permainan solo diruang kerja" sambungnya saat melihat ulah Sofian.
"Dah lah, dari pada ngelihat dia mainin begituan, bikin jijik, mending dilanjut besok saja" Gumamnya berlanjut pergi meninggalkan ruangan Sofian.
Keesokkan harinya Rangga ingin melanjutkan misinya lagi tapi kali ini dia ingin mencari bukti kerumah Sofian.
tapi saat dia ingin menuruni tangga di perusahaannya, dia mendengar seseorang seseorang yang sedang berbicara di koridor tangga. suara itu sangat tidak asing.
"Sayang, sampai kapan kita seperti ini. aku ingin cepat menguasai semua ini" ucap seorang wanita dan sepertinya Rangga mengenali suara itu.
"Sabar sayang, aku akan mengakhiri semua ini, dan ini semua bakal jadi milik kita" jawab seorang pria.
Karena penasaran, Rangga mencoba memakai ilmu tak terlihatnya lagi agar bisa mendekati asal suara itu. "Mama, Om Burhan. Apa maksud mereka yah?" gumam Rangga dalam batin.
5 menit yang lalu Bu Risda dan Om Burhan memang sempat singgah dikantornya untuk melihat aktivitasnya.
"Kita pulang saja, samakin lama.disini semakin terasa panas sayang" ucap Bu Risda
Karena sejuta pertanyaan ada dibenak Rangga, dia lebih memilih mengikuti Bu Risda dan Om Burhan. Rangga pun ikut masuk kedalam mobil yang di kendarai Om Burhan. Dan selama perjalanan Rangga semakin tidak mengerti dengan perkataan mereka.
Sesampainya dirumah, Bu Risda dan Om Burhan langsung menuju kamar, Om Burhan berjalan menuju lemari buku.
"Mau ngapain sayang?" tanya Bu Risda.
"Mau memikirkan rencana selanjutnya sayang" Om Burhan kemudian menggeser lemari buku dan terlihat sebuah pintu kecil tepat setelah lemari itu tergeser.
"itu pintu apa? kenapa aku tidak mengetahui kalau ada ruangan seperti itu dirumah ini" gumam Rangga.
Rangga mengikuti Om Burhan menuruni anak tangga yang ada dibalik pintu. Hingga akhirnya tepat diujung lorong, Om Burhan menekan kode yang terdapat di pintu, ruangan itu hanya satu-satunya yang ada disini.
"Aku baru tau, kalau ada ruang rahasia di kamar mama. semenjak kematian papa, kami pindah kesini, tapi mama tidak pernah menceritakan ruangan ini" gumam Rangga.
Pintu itu pun akhirnya terbuka dan ketika Om Burhan menyalakan lampu, betapa terkejutnya Rangga melihat banyakn sekali foto-foto dia, mama dan papanya. Terlihat pula ada foto mama dan papanya yang diberi tanda silang, dan hanya fotonya yang masih tersisa.
"ruangan apa ini? kenapa ada foto keluarga ku disini?" sejuta pertanyaan kini bersarang di benak Rangga. Ingin sekali dia menanyakan semua, tapi dia takut ketahuan.
Namun yang membuat Rangga sangat-sangat terkejutnya adalah saat Rangga melihat isi yang ada di dalam frezer yang dibuka Om Burhan. Rangga tiba-tiba terdiam dan berjalan mundur. "Tidak, itu tidak mungkin" Batinnya.
Tanpa sadar Rangga menjatuhkan foto yang ada di meja samping frezer itu. kejadian itu membuat Om Burhan berbalik kearah Rangga.
"Tenanglah sayang, aku hanya ingin menjenguk mu. dan tunggu anak kesayangan mu menyusul mu disurga" ujar Om Burhan sembari mengambil foto yang terjatuh itu.
Rangga yang terdiam, mencoba menahan nafas agar tidak ketahuan. dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "mama" air matanya menetes. Dia bergegas keluar dari ruangan mengerikan itu.
Setelah cukup jauh dari rumah, dia bersembunyi untuk mengembalikan wujud aslinya. Dia kemudian menghentikan ojek yang lewat, dan memilih kantornya sebagai tempat dia menenangkan diri.
"Tidak mungkin itu mama, kalau dia mama terus siapa yang selalu memasakkan ku makanan?" Rangga mencoba berpikir jernih.
"Ada apa tuan? apa tuan sudah dapat bukti-buktinya?" tanya Dimas.
"hari ini aku tidak mengikuti Sofian, aku mengikuti mama dan Om Burhan. Entah kenapa saat ketemu mereka dibawah, aku penasaran dengan mereka"
"Lalu tuan?" tanya Dimas yang penasaran dengan cerita bosnya.
"Aku melihat mayat yang mirip dengan mama di lemari pembeku disana"
"Sepertinya tuan mulai berhalusinasi, apa karena ilmu baru yang tuan dapatkan"
"Ini beneran Dim, aku liat dibahu mayat itu ada tanda lahir seperti punya mama"
"Tapi nyonya kan ada dirumah tuan"
"Itu yang membuat saya penasaran juga, karena 1 tahun lalu Om Burhan menelpon kalau mama lagi penjalani operasi plastik di singapura, dan ingin menghilangkan tanda lahirnya"
Rangga mencoba mengingat-ingat semua hal ganjal yang terjadi 1 tahun terakhir. "Setelah datang dari singapura, mama jadi pintar memasak. padahal sebelumnya dia paling tidak suka mencium aroma bumbu dapur"
"jangan-jangan yang dirumah selama ini, adalah orang yang berpura-pura sebagai nyonya, tuan"
"Kita harus cepat-cepat lapor polisi, karena aku juga mendengar kalau selanjutnya adalah giliranku"
Setelah berdiskusi panjang, komandan kepolisian akhirnya merencanakan penggerebekkan dirumah Rangga pada sore itu juga.
Sesampainya di depan rumah Rangga, terdapat satu mobil asing. "Sepertinya Om Burhan kedatangan tamu" ucap komandan.
Para pasukan kepolisian masuk secara perlahan kedalam rumah yang cukup besar itu. namun tak menemukan Om Burhan Dan Bu Risda dimana pun. "Apa mereka sudah melarikan diri?" ucap Rangga.
"Tingga satu ruangan yang belum kita periksa tuan" Ujar komandan.
Mereka kemudian berjalan menuju lemari buku didalam kamar Bu Risda dan Om Burhan. lalu Polisi mendorong lemari itu, dan polisi yang lain mengarahkan senjatanya kedalam lorong.
ada sekitaran 5 polisi yang ada didepan pintu kamar rahasia itu, dan sisanya bersiap ditangga. polisi sudah bersiap menekan kode yang telah diberikan Rangga.
Terlihat hitungan aba-aba dari orang yang memegang gagang pintu, dan saat jarinya berada dihitungan ke tiga, pintu itu dibuka.
Rangga hanya menunggu di dalam kamar Bu Risda, dia tidak diperbolehkan ikut masuk terlebih dahulu. Dari dalam polisi membawa 5 orang yang ada didalam kamar.
"Sayang, ada apa ini? kenapa ada banyak polisi nak" Ucap Bu Risda.
"Stop memanggil ku sayang, nyonya. Aku bukan anakmu"
"Apa yang kamu katakan nak?"
"Dia benar-benar mama mu Rangga, kenapa kamu tega melakukan ini?" tanya Om Burhan seolah tidak memiliki kesalahan apa pun.
"Mari lihat mayat yang ada di Frezer" ajak komandan.
Rangga, Dimas dan komandan berjalan memasuki ruangan rahasia itu. "Mama" Tangis Rangga pecah saat dia melihat mayat wanita yang telah membeku itu benar mamanya.
"Nyonya" ucap Dimas.
"Kita akan melakukan Tes DNA untuk memastikan ini semua pak" ucap komandan.
"Mama, ma'af kan Rangga yang tidak mengenali kalau orang itu ternyata bukan mama"
Setelah pemakaman Bu Risda yang asli, komandan mendekati Rangga, dia memberi tahu identitas wanita yang menyamar sebagai Bu Risda selama ini. ternyata wanita itu adalah Rosida istri pertama Om Burhan. Rosida melakukan operasi plastik agar terlihat mirip dengan Bu Risda.
"Turut Berduka Cita Tuan" ucap Dimas.
"Terima Kasih"
"Jadi ilmu tuan mau diapakan?"
"Mau ku pakai nyontek ide diperusahaan besar" canda Rangga.
Tak lama datang seseorang mendekati Rangga dan Dimas "Turut Berduka Cita Bro" ucap Sofian sambil menjabat tangan Rangga.
"Terima Kasih, Cepat lah menikah biar tidak main permainan solo lagi" tutur Rangga mengingat kembali kejadia hari itu.
"Maksudnya?" tanya Sofian.
"Sehat selalu bro" lanjut Rangga langsung meninggalkann Sofian tanpa menjelaskan maksud dari perkataannya.