Namaku Lily, usiaku 14 tahun.
Masih muda bukan? Ya, aku masih sangat muda untuk menerima bahwa ada penyakit yang menggerogoti tubuhku secara perlahan. Tak lupa, permanen.
Bagaimana menurut kalian tentang penyakitku ini? Tentu saja sangat mengerikan. Aku menderita kanker otak stadium akhir.
Bagaimana? Kalian merasa ngeri?
Karena penyakit itu, aku tidak bisa sekolah lagi. Aku mengalami kelumpuhan, masa hidupku berkurang drastis, rambutku yang dulu tergerai indah kini merontokkan dirinya hingga habis tak bersisa.
Kini, aku hanya seorang gadis botak penyakitan yang hanya bisa duduk diam di kursi roda untuk menunggu ajal datang menjemput.
Aku juga ingin mempunyai teman. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang sahabat. Tidak peduli mereka tulus padaku atau tidak.
Ayahku telah lari meninggalkanku dan Ibu, kemudian menikah dengan seorang janda kaya karena tak tahan akan kemiskinan.
Aku dan Ibu hanya bisa merelakan kepergiannya disaat aku baru mengetahui bahwa penyakit jahat itu sudah masuk stadium kedua di tubuhku.
Sungguh kasihan.
Aku dan Ibu sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana yang dibeli oleh Ibu menggunakan uang tabungan kami.
Dan untuk mencukupi makan sehari-hari kami, khususnya diriku, Ibu bekerja serabutan dimana-mana.
Ibu selalu pergi pagi dan pulang sore.
'Ah, Ibu. Aku ingin sembuh. Aku ingin agar bisa bekerja dan membahagiakan Ibu,' batinku sendu dan tanpa sadar air mataku berjatuhan.
Ya. Aku sangat membenci tubuhku, dasar lemah! Penyakitan! Tak berguna! Apa gunanya aku lahir di dunia ini kalau hanya membuat Ibu menderita? Aku adalah anak yang sangat durhaka. Aku anak yang jahat. Apakah bisa aku membenci Tuhan juga?
Aku selalu memohon kepada Tuhan agar disembuhkan dari penyakit ini. Aku ingin bekerja dan membuat Ibu bahagia di hari tuanya. Bukan begini jadinya.
Walaupun aku sedikit bersyukur karena sampai sekarang masih bernapas dengan baik, dan juga melihat keadaan Ibu. Walau tak bisa berbuat apa-apa.
Makan saja harus disuapi. Entah sampai kapan aku akan menjadi manusia penyakitan ini? Seumur hidup? Sampai mati?
Aku ingin tubuhku menjadi kuat, dan bisa membuat Ibu beristirahat dengan baik terus-menerus.
Tapi kenapa tubuhku semakin lama, semakin lemah?
Air mata yang tadi kuhapus, kini mengalir lagi. Bahkan lebih deras. Aku terisak.
krieett!!
"Lily? Astaga Lily! Kamu kenapa? Anak Ibu kenapa?" tanya Ibuku sambil mengelap air mata dan ingus yang keluar.
Ibuku yang baik. Ibuku yang suka khawatir. Aku sayang Ibu.
Sadar kalau Ibu sudah datang, aku menjadi semakin sedih. Tangisanku makin keras. Ibuku sontak memelukku.
"Cup, cup. Anak Ibu kenapa nangis?" tanya Ibu sekali lagi.
"Terimakasih, Ibu," ujarku masih terisak.
"Sama-sama, anak manis. Udah dong nangisnya, ya. Nanti kalau anak Ibu tidak cantik lagi bagaimana? Nanti Ibu jadi sedih," ujar Ibu membuatku makin memeluknya erat.
"Lily janji! Nanti kalau Lily udah sembuh. Ibu pasti bahagia kan? Tidak nangis lagi?" tanyaku tiba-tiba.
Aku merasakan tubuh Ibu menegang.
"Iya, Ibu janji. Tidak akan menangis lagi demi anak manis ini," balas Ibu mengelus kepalaku yang hanya tersisa beberapa helai rambut.
"Nah, sekarang kita makan. Lily lapar kan? Ayo makan, biar nanti tubuhnya jadi kuat, terus sembuh." Aku menerima suapan dari Ibu seraya mendengar kata-kata yang seperti penyemangat bagiku.
**************
Sebuah kertas kecil dan pena yang macet berada di depan Lily.
Ketika sebuah kertas koran terbang dan jatuh pada pangkuan Lily membuatnya sadar dari imajinasinya.
Hari sudah siang. Lily sendiri sedang menunggu kedatangan Ibunya nanti sore.
Ketika ia membuka koran itu, ia menemukan sebuah artikel kecil di sudut kanan bawah koran.
"Surat kecil untuk Tuhan."
Begitulah judulnya. Lily yang penasaran membaca artikel itu.
Artikel itu berisi sebuah cerpen tentang seorang pria berumur 17 tahun yang menderita penyakit kanker otak yang sama dengannya, karena putus asa, ia menulis sebuah surat dan membentuknya menjadi kapal kecil, kemudian menghanyutkannya di air sungai.
Lily ingin sembuh. Dia ingin mencoba seperti yang dilakukan oleh tokoh cerpen itu.
Diambilnya pena dan menuliskan beberapa bait kata, kemudian membentuknya menjadi kapal kecil.
Karena hari ini hujan, Lily melemparkan kapal kecilnya itu kedalam selokan. Lily berharap, surat itu akan Tuhan temukan dan akan dibaca.
Tapi, dua hari telah terlewati. Tubuh Lily makin melemah.
Ia meminta pada Ibunya agar membelikan dirinya 3 balon. Ibunya menyanggupinya.
Lily kembali mengulangi kata-katanya dan menuangkan ke dalam kertas itu. Setelah selesai, Lily mengikatnya pada balon yang telah ditiup oleh Ibunya.
Lily melepaskannya ke udara. Ia kembali berharap surat itu ditemukan oleh Tuhan. Tapi, kekecewaan mendatanginya lagi.
Sepertinya, Tuhan tak ingin membantunya. Lily menangis.
Rambutnya telah rontok sepenuhnya. Tubuhnya makin lemah, bahkan untuk menulis saja, Lily hampir tidak sanggup.
Lily kembali mencoba untuk ketiga kalinya. Saat menulis, Lily merasakan kepalanya pusing.
Tiba-tiba, setetes cairan merah jatuh pada kertas yang baru selesai ditulis oleh Lily.
Tetesan itu kembali berlanjut, dan makin deras. Ibunya belum pulang.
Lily menggerakkan kursi rodanya dengan susah payah agar dapat meraih obat penghilang rasa sakit di samping kasurnya.
Begitu ingin mengambil gelas dan obatnya, Lily terjatuh dari kursi roda.
Matanya memandang teguh ke arah gelas air itu, tangannya mencoba menggapai gelas itu. Tapi sayang...
Pyarr!
Gelas itu jatuh dan pecahan beling berserakan. Tangan Lily yang terkena beling mengeluarkan darah dengan sangat banyak.
Pandangannya berkunang-kunang. Hatinya merasa sakit karena hidupnya yang malang.
"Apakah aku tak bisa membahagiakan Ibu lagi?"
Pandangannya menggelap seketika. Tapi samar-samar, ia mendengarkan seseorang berteriak memanggil namanya...
"Lily! Anakku!"
Ibunya.
*******
Ibu Lily menangis histeris dihadapan makam Lily. Beberapa orang telah pulang dari pemakaman Lily.
Ya, Lily telah berpulang. Tidak ada lagi anak yang menderita. Tidak ada lagi Lily yang merasakan sakit. Tidak ada lagi Lily yang menangis.
Kini, Lily telah sembuh sepenuhnya. Lily sudah tersenyum. Lily sudah bisa berlari dan berjalan. Lily sudah bahagia.
Lily yang malang telah tenang.
*******
Ibu Lily membuka pintu kamar yang reyot itu dan berjalan memasukinya. Itu kamar anaknya. Anak semata wayangnya. Anak kesayangannya.
Ibunya selalu masuk dan menangis di kasur Lily. Kini, Ibunya ingin merapikan meja yang sudah mulai berdebu.
Ketika sedang merapikan kertas-kertas bekas hasil remasan tangan Lily, Ibunya menemukan sebuah kertas yang terlipat rapi, tapi ternodai oleh beberapa tetes darah. Tapi tak menutupi tulisan di atas kertas itu.
"Letter for God."
Ibunya membuka kertas itu dengan perlahan, kemudian membacanya dengan pelan.
| Hai, Tuhan.
Ini aku Lily. Apakah kau mengingatku?
Aku menderita penyakit yang sangat jahat, kata Ibu.
Apakah Tuhan bisa menyembuhkan penyakit ini?
Aku ingin sembuh. Aku ingin membahagiakan Ibu di hari tuanya.
Ayahku pergi meninggalkan aku dan Ibu karena tak tahan dengan kemiskinan yang melanda kami.
Aku mohon pada-Mu, Tuhan.
Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti pada orangtua, bukan menjadi anak yang durhaka seperti ini.
Aku selalu ingin marah pada Tuhan. Kenapa suratku yang pertama dan kedua tak Tuhan balas?
Tapi, aku juga bersyukur kepada Tuhan karena mau memberikan waktu yang lama untukku, walau tak bisa berbuat apa-apa.
Aku menyukai senyum Ibu. Tapi aku tak menyukai air mata Ibu. Aku mohon, buatlah Ibuku bahagia, Tuhan.
Dan aku hanya ingin sembuh.
Dari Lily yang manis, kata Ibu.
Untuk Tuhan. |
Air mata Ibunya tak tertahankan ketika selesai membaca surat itu. Ibunya menangis terisak.
'Lily, anakku yang manis.'