realita dan imajinasi saling berbenturan tak berbentuk jelas apa yang sebenarnya di tunjukan. jari-jemari ini terus bergerak menari, mengikuti otak yang tidak mau berhenti berpikir. angan-anganku yang semu mulai menciptakan bayangan-bayangan realita kejadian seutuhnya. Waktu demi waktu terus bergulir dan aku harus terus berpikir untuk menyelamatkan nyawa seseorang. seorang pembunuh yang senang bermain dengan nyawa menarikku mengajak untuk bermain. terdapat kesamaan dari setiap korban, semua korban mati ditenggelamkan di bak mandi.
menarik fakta yang ada menjelaskan bahwa pembunuh ini terobsesi dengan ekspresi dan ketakutan dari korban yang mati secara perlahan. tak mudah untuk menemukan lokasi korban berikutnya dan siapa target berikutnya hanya waktu yang bisa menjawab semua itu. pembunuh memilih korban secara acak tidak terkait dengan keluarga atau teman. semua korban yang dipilih, semuanya adalah perempuan. Aku ingin mendalami jiwa dan pikiran si pelaku, Kenapa dia suka membunuh seorang wanita dengan cara ditenggelamkan kepalanya.
semua hipotesa dan pemikiran ku tahan sambil melangkahkan kaki untuk Menelusuri jejak pelaku. pelaku terus menyeret ku memasuki gravitasinya memanduku menuju ke arahnya. cara dia membunuh korbannya yang khas seakan-akan mengisyaratkan bahwa dirinya lah yang telah membunuh korbannya Tidak ada orang lain selain dia.
aku terus melangkahkan kaki menuju ke tempat yang tidak aku ketahui terus melangkah Setapak demi setapak. aku bingung Siapakah aku ini ini dan apa motivasinya melakukan ini semua. apakah untuk sekedar hiburan atau untuk membalaskan dendam masa lalu terhadap wanita Aku tidak tahu. sekarang yang kurasakan hanya duniaku seakan-akan sudah diambil oleh-olehnya. Detik demi detik hanya kasusnya yang terus-menerus kupikirkan hingga aku melupakan kan segalanya.
*********
waktu terus bergulir tanpa bisa mengungkap identitas si pembunuh berantai ini. korban pun bertambah ,seorang wanita berusia 25 tahun dengan kondisi kepala tenggelam di bawah bak kamar mandi di sebuah apartemen. semua orang sibuk melihat CCTV ke kamar wanita itu, tetapi aku berpikir bahwa seorang pembunuh berantai yang cerdik seperti itu tidak mungkin akan terlihat di CCTV.
aku mulai melihat dan menelusuri balkon korban yang terhubung dengan dunia luar. akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk bahwasanya jendela wanita itu dibuka paksa. Aku berpikir bahwa pelaku sudah menunggu wanita itu dalam waktu yang cukup lama. saat wanita pulang kerja dan saat lengah si pembunuh berantai tersebut melancarkan aksinya. mulai terlihat bayang-bayang adegan-adegan pembunuhan di otakku berputar seperti layar film. si pembunuh sudah menunggu korban berada dibawah kasur tempat tidurnya. Hal ini terbukti karena aku menemukan jejak, karpet yang yang membentuk tubuh pelaku, akibat tekanan dari tubuh membentuk cetakan tubuh pelaku.
dari sini aku mengetahui bentuk fisik pelaku. pelaku tidak lebih tinggi dariku, tingginya sekitar 168 cm dilihat dari bentuk cetakan tubuhnya di karpet Kemungkinan dia bertubuh kurus.
aku menanyakan siapa saja yang menginap di apartemen yang selantai dengan wanita ini. tetapi admin apartemen hanya memberikan identitas palsu, karena si pembunuh berantai memberikan identitas palsu pada admin apartemen.
hal ini yang membuatku merasa semakin ditarik ke pusat gravitasinya. semuanya masih samar tanpa adanya jawaban. Aku akhirnya mencoba usaha terakhirku dengan bertanya kepada semua orang di apartemennya selantai dengan wanita itu seperti apa sosok orang yang telah membunuh wanita itu.
Aku hanya bisa menggambar sketsa wajahnya saja sesuai keterangan orang-orang di sana. seorang pria berusia 35 tahun dengan hidung pesek, warna kulit yang putih, rambut sedang dengan gaya potongan menyamping, serta pipi yang tirus.
setelah aku mendapatkan informasi seperti itu aku putuskan sendirian untuk melihat CCTV dari sudut pandang si pembunuh, letak dimana dia merasa aman untuk berpergian bebas adalah tangga darurat. akhirnya aku sudah menemukan identitas si pembunuh itu dasarkan data wajah yang ada di kepolisian.
selama ini dia hidup Sebatang Kara menjauhi keluarganya. seorang pria psikopat yang mencari kesenangannya dengan membunuh para wanita.
akhirnya aku tahu tempat berikutnya dia akan melancarkan aksinya. bermodalkan dengan pemikiran dan instingku mengatakan bahwa dia sudah merasa terancam karena identitasnya sudah dipublikasikan di media. maka dia akan mengubah targetnya menjadi wanita yang berusia muda sekitar 15 tahun sampai 5 tahun.
anak-anak adalah korban yang mudah, karena mereka tidak tahu mengenai hal-hal yang berbahaya saat ini. anak kecil tidak bisa membedakan mana realita mana Fantasi dan si pembunuh berantai tetap harus terus membunuh untuk memuaskan hasratnya.
kuputuskan hari itu menyuruh semua orang bersiap, menjaga semua sekolahan, untuk membantu anak-anak pulang dengan aman.
ini memang tujuanku dari awal, memaksa si pelaku untuk melakukan aksinya terhadap anak-anak jalanan, karena dia tidak bisa membunuh anak-anak yang bersekolah.
aku sudah mengikuti seorang anak jalanan wanita berusia 12 tahun, yang biasanya berjualan tisu di pinggir jalan. aku memilihnya karena si pembunuh menyukai korban yang bisa memberontak dan sehingga pembunuh bisa melihat wajahnya tersiksa secara perlahan.
terlihat sosok bayangan di kegelapan Gang sudah mengintai wanita muda tersebut. anak kecil itu pun menuju ke arah Gang yang sama untuk buang air kecil. kupersiapkan Siapkan senjata revolverku bersiap menembak si pelaku.
Aku hanya bisa bertaruh, Apakah dia si pembunuh atau tidak, yang jelas aku percaya pada instingku saja. saat wanita muda itu didekati lelaki yang ku duga pembunuh berantai itu tanpa pikir panjang ku tembakan peluru penghakiman tepat mengenai dada kirinya.
sekarang semuanya dipertaruhkan di sini, Apakah aku menangkap orang yang benar atau tidak. selangkah demi selangkah wajah orang yang ku tembak tersebut mulai terlihat.
coba tebak Apakah aku berhasil menembak pelaku, ataukah hanya seorang Gelandangan yang ingin menawari anak itu makanan.