Bukh..bukh...ciaaaat....dugh..bugh...bugh..., "Hah, selesai juga", Imel mengelap keringat yang mengalir deras di wajahnya.
Prok..prok..prok, terdengar riuh suara tepuk tangan di ruangan itu.
"Anak Bapak tambah hebat", berjalan menghampiri anak satu-satunya sambil membawakan air minum.
"Terima kasih Pak, semua ini berkat didikan Bapak juga", Imel tersenyum kemudian meminum air yang diberikan oleh Bapaknya tadi.
"Hilangkan lah keringatmu dulu, setelah itu ada yang ingin Bapak bicarakan", Kata Pak Ramdhan.
"Baiklah Pak, teman-teman dan adik-adik semuanya, latihannya selesai sampai di sini dulu ya, besok kita sambung lagi", ujar Imel.
Imel memang adalah seorang guru silat termuda di kampung itu, tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang cantik, tidak akan ada yang akan percaya bahwa ia adalah seorang guru silat. Bapaknya yang bernama Pak Ramdhan adalah salah seorang pesilat yang disegani. Banyak yang berguru padanya, tapi sedikitpun ia tidak sombong, Pak Ramdhan adalah guru silat yang religius.
Begitu juga dengan Imel anak perempuan satu-satunya Pak Ramdhan takut sekali anaknya diganggu orang, oleh karena itu dari umur lima tahun ia sudah membekali diri anaknya dengan ilmu bela diri, Imel dilatihnya menjadi seorang gadis yang hebat.
Setelah membersihkan dirinya, Imel lalu menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk di meja makan, tapi sebelum itu hidungnya mengendus bau masakan kesukaannya.
"Hmm, bentuk kotak-kotak, rasanya enak, gurih dan semerbak serta mengundang selera, sepertinya kalau ada makanan ini, cowok ganteng lewaat", Imel dengan santainya mengambil sepotong tempe hangat di atas meja.
"Apa bener?, Ibunya Imel melirik anaknya yang asik mengunyah tempe sambil tersenyum.
"Makanlah sampai puas, Ibu sengaja memasak tempe goreng kesukaanmu agak banyak", kata Ibunya lagi.
"Terima kasih ya Bu, Ibu memang yang terbaik", Imel memeluk Ibunya
"Bapak, engga di bilang yang terbaik juga nih", Pak Ramdhan memperlihatkan raut wajah yang cemberut sambil melirik Imel.
"oooh, tentu dong, Alhamdulillah Imel diberi orang tua yang terbaik", Imel nyengir kuda melihat wajah Bapaknya.
"Oh ya , katanya ada yang mau Bapak bicarakan?", lanjut Imel lagi.
"Bapak dengar kamu mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sekolah elite di kota, dan Bapak dengar juga kamu menolaknya, Bapak ingin tahu apa alasanmu?", tanya Pak Ramdhan dengan wajah yang serius.
"Imel ga mau jauh dari Ibu dan Bapak", jawab Imel dengan santainya.
"Mau sampai kapan kamu dekat terus dengan Ibu dan Bapak?, ada saatnya kamu harus hidup mandiri, setidaknya apabila waktu itu tiba kamu harus mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang, pergilah, dan jika kamu kangen dengan Ibu dan Bapakmu ini, kamu bisa pulang kapanpun kamu mau", Pak Ramdhan berbicara dengan suara yang bergetar.
Sesaat Imel terdiam, ia mengerti maksud Bapak dan Ibunya, tapi ada rasa tidak rela dihatinya bila harus berjauhan dengan kedua orang yang sangat disayanginya itu.
Baik Bapak dan Ibu Ramdhan sebenarnya tidak tega membiarkan putri satu-satunya jauh dari pandangan mereka, tapi demi masa depan anaknya mereka mau tak mau harus mengikhlaskannya.
"Kapan Imel akan berangkat", pertanyaan Ibu memecahkan keheningan.
"Tiga hari lagi Bu, sebenarnya masih ada waktu seminggu lagi, tapi Imel tidak mau terlalu mepet dengan hari masuk sekolah, paling tidak Imel sudah menemukan tempat kos terlebih dahulu, mudah-mudahan bisa mendapatkan tempat yang dekat dengan sekolah", jawab Imel.
"Iya, benar juga, Ibu akan mempersiapkan semua kebutuhanmu,l", Bu Ramdhan berjalan ke dalam kamar Imel dengan air mata yang berlinang, sedari tadi ia menahannya, ia tidak mau Imel melihat dirinya bersedih.
waktu keberangkatan Imel pun tiba, semua tetangga teman-teman termasuk anak murid dan juga orang tuanya mengantarkan kepergian Imel. Mereka semua menyemangati Imel.
Imel ke kota naik bis, membutuhkan waktu kira-kira tiga jam untuk sampai di kota, ia lalu langsung mencari alamat sekolahnya, setelah sampai di depan sekolah ia terperangah melihat gedung sekolahnya yang luar biasa megah. Dengan semangat empat lima ia bertanya pada salah seorang penjaga pintu sekolah itu tentang kos-kosan yang tidak jauh dari sekolah. Bapak itu memberi tahu Imel kebetulan sekali memang ada kos-kosan kosong yang dekat dari sekolah, beliau lalu memberikan alamat kos-kosan itu kepada Imel.
Setelah mengucapkan terima kasih Imel berjalan menuju tempat itu, diperjalanan ia melihat seorang pemuda yang di pukuli oleh tiga orang preman yang berbadan besar.
Melihat hal itu jiwa superhero nya berontak, ia pun berteriak,"Hei!, kalo berani jangan keroyokan dong!, sini satu-satu hadapi aku!", ia segera memasang kuda-kuda.
"Hahahaha, ga salah ni, kamu udah ngaca belum?, kamu pasti kesasar ya Dik, sekolah SD kelas berapa kamu?, beraninya mau menghadapi kita-kita", kata salah seorang preman itu sambil tertawa.
(SD katanya, ga liat apa aku segini kerennya), Ia lalu tanpa banyak kata menyerang preman itu dengan beraninya, bagh..bugh..bagh..bugh...ciaat...ciaat..dugh..dugh., tubuhnya yang mungil itu dengan lincah menyerang ketiga preman itu tanpa ampun. Walaupun tubuhnya mungil tapi tenaganya melebihi Samson Betawi.
"Bagaimana Mbah, masih mau main-main sama anak SD", teriaknya gimanapun juga ia sedikit sakit hati disamakan dengan anak SD.
"Ugh, anak ini dikasih makan apa ya sama orang tuanya, pukulannya kuat sekali, badanku remuk serasa ditabrak bison", gumam salah seorang preman itu.
"Awas ya, urusan kita belum selesai", kata preman yang satunya sambil berjalan tertatih-tatih.
"Tuh kan ga di sinetron, ga di film, pasti ada aja kata-kata seperti itu, bosan aku, mengapa harus nunggu nanti sih, pakai kata awas segala, sekarang aja Mbah Bro, mumpung aku lagi bersemangat", teriak Imel lagi.", (Belum tau apa gini-gini aku sudah sabuk hitam) katanya dalam hati.
Ia lalu menoleh ke arah pemuda yang tadi sedang dipukuli, alangkah terkejutnya ia, ketika melihat pemuda itu sudah menghilang, ia menepuk jidatnya dan berkata", aduh mimpi apa ya aku semalam, siang-siang udah ketemu demit".
Imel kemudian bertemu dengan pemilik kos, walaupun agak mahal, ia lega juga menemukan tempat kos yang dekat dengan sekolah. Setelah istirahat sebentar ia menemui Ibu kos untuk menanyakan apakah di daerah ini ada yang membutuhkan tenaganya, bagaimanapun ia harus mencari pekerjaan sampingan.
Ibu kos memberitahukan bahwa pemilik warung makan mungkin membutuhkan bantuannya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menemui pemilik warung, Alhamdulillah Imel langsung diterima bekerja di tempat itu. Hari-hari menjelang sekolah ia pergunakan untuk bekerja di warung.
Hari masuk sekolah pun tiba, Imel dengan bahagia memasuki halaman sekolah, tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang imut membuat kaum Adam melirik dirinya. Imel tidak memperdulikan hal itu. Bagi Imel prioritas utamanya adalah sekolah. Setelah melihat dan mengetahui ruang kelasnya ia dengan santai menuju ke kelasnya, di lorong sekolah ia mendengar suara riuh. Ternyata semua anak cewek sedang mengerubungi seorang cowok.
Imel berjalan sambil menggerutu", aduh, aku kirain ada pembagian minyak goreng gratis, benar-benar deh buang-buang waktu".
"Assalamu'alaikum", ia menyapa teman-teman sekelasnya, seketika ruangan yang semula ramai menjadi sunyi.
Seorang anak perempuan yang seusia dirinya memghampiri dirinya,"Waalaikumsalam" jawab teman sekelasnya secara serentak. Lalu salah seorang anak perempuan menghampiri dirinya sambil berkata,"hai, aku Sasha, aku ketua kelas di kelas ini, kamu murid baru ya, salam kenal".
"Namaku Imel dan salam kenal juga", jawabku sambil berjabat tangan dengannya.
Teman sekelasnya semua memperhatikan dirinya. Ia lalu menuju kesebuah bangku kosong yang terletak dibelakang. Sasha dan juga kedua orang lainnya mendekati dirinya. Mereka mengajak Imel berbincang-bincang.
Hari pun berlalu, saat ia menuju arah pulang sebuah tangan tiba-tiba menariknya, secara reflek tangannya melintir tangan yang tadi memegangnya.
"Aduh-aduh, pelan sedikit kenapa sih, bisa patah tanganku, kamu ini tenaga tidak sesuai dengan penampilan", ia berusaha melepaskan diri dari Imel.
Imel melihat wajah cowok itu, ia pun terkesima, "wah gantengnya, apakah sekarang aku berada di surga", katanya sambil menepuk-nepuk pipinya, Imel tersadar ia lalu mengembalikan ekspresi wajahnya ke seperti semula.
Cowok yang berada didepannya tertegun, (ini cewek kok cepat banget sih berubahnya) katanya dalam hati, (imutnya) batinnya lagi.
"Aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku", katanya lagi.
"Hah, apa?", Imel menjawab sambil setengah berteriak.
"AKU MENCINTAIMU, MAUKAH KAMU MENJADI PACARKU", kali ini kata-kata cowok itu lebih keras dari perkataannya tadi.
Sekolah pun menjadi ramai, cewek-cewek berteriak histeris, mereka tidak rela primadonanya menyatakan cinta kepada cewek yang baru saja bersekolah disitu. Melihat hal itu, Imel menjadi ga enak hati, walaupun sebelumnya ia seperti mendapatkan durian runtuh tapi tetap aja pandangan cewek-cewek di sekolah itu serasa mengirimkan ribuan pedang ke tubuhnya.
"Eh, kutu kucing, kamu ga salah makan obat kan, kamu padahal pusing, tapi pasti yang kamu minum malah obat sakit perut, ayo ngaku", jawab Imel dengan nada kesal.
"Siapa juga yang salah minum obat, perkenalkan namaku Bimo, aku kakak kelas mu, aku sungguh mencintaimu", jawabnya lagi dengan wajah yang meyakinkan.
"Udah deh, ga usah pura-pura, walau wajah Kak Bimo gantengnya ga habis tujuh turunan tetap aja aku ga percaya", dengan melipat tangan di depan dada ia menjawab pernyataan Bimo.
(lucunya, gemes aku) kata Bimo dalam hati.
"Ekhm, sejujurnya sih aku membutuhkan mu untuk menghadapi preman yang memukuli aku kemarin", jawab Bimo sambil sedikit berbisik.
"Kalau minta tolong ga perlu bilang cinta segala dong Kak, Alhamdulillah aku orangnya tidak baperan, kalau iya bisa-bisa patah hati aku setelah mengetahui itu pernyataan palsu. Oo ternyata yang kemarin itu Kak Bimo, syukurlah, aku kira kemarin itu demit yang nongol di siang bolong", Imel berkata sambil terkekeh geli.
"Kau", Bimo sudah tidak dapat lagi berkata-kata.
"Tolonglah aku, sebagai imbalannya kamu tidak perlu memikirkan uang makan, aku yang akan menanggung makan mu dari pagi sampai malam, kalau perlu uang sekolahmu juga", bujuk Bimo lagi.
"Hm, makan gratis ya, okelah kalau begitu, tapi untuk uang sekolah, aku tidak membutuhkannya, aku tidaklah sebodoh itu Ferguso, Alhamdulillah aku masuk sekolah ini melalui jalur beasiswa", Imel berkata sejujurnya tanpa ada maksud sedikitpun untuk menyombongkan diri.
"Siapa itu Ferguso?", Bimo heran ketika Imel menyebut nama itu. Perasaan ia tidak pernah mengenal nama itu, lagi pula namanya kan Bimo bukan Ferguso.
"Udahlah lupakan saja tentang nama itu, yang pasti dia mungkin sudah menjadi seorang kakek-kakek sekarang", Imel berjalan meninggalkan Bimo yang melihat Imel dengan wajah bengong.
"Ayo mari kita hadapi preman itu hari ini juga, aku tidak suka membiarkan sebuah masalah yang berlarut-larut, tidak akan berhasil dengan baik pada akhirnya", Imel berkata dengan bijaknya.
"Aku tidak mengerti kadang kala perkataan mu itu terdengar seperti omongan orang yang berumur, kadang juga terdengar seperti orang yang sedang kumur-kumur", Bimo berkata sambil nyengir menatap wajah Imel.
Imel menghentikan langkahnya dan dengan santainya ia menendang tulang kering kaki Bimo.
"Aduh!", Bimo berteriak kesakitan, (benar kata preman kemarin, tenaganya tenaga bison) Bimo meringis mengelus kakinya.
"Nah itu mereka, Halo Mbah bro, apa kabar, apakah hari ini kita bermain-main lagi", teriak Imel.
"Gimana kalau damai aja, lagian pasti ada sebabnya bukan, mengapa masalah ini terjadi", Imel mencoba bernegosiasi dengan para preman tadi.
"Lelaki itu sudah menolak cinta adikku, sehingga adikku tidak mau makan dan masuk sekolah", salah satu preman menceritakan masalahnya.
"Maaf Bang, adik Abang itu siapa namanya?", Bimo memberanikan diri bertanya.
"Namanya Lina", Jawab preman itu lagi.
"Maaf Bang, tapi aku tidak mencintai adik Abang", Bimo pun berterus terang kepada preman tadi.
"Mbah bro, cinta tidak dapat dipaksakan, harusnya Mbah bro memberikan pengertian kepada adik Mbah bro", Imel memberikan nasehat kepada preman itu.
"Tidak bisa, dia juga harus merasakan sakit yang diderita adikku", dengan cepat ia langsung menyerang Bimo, tapi Imel yang sedari tadi sudah siap siaga menyerang balik kawanan preman itu. Setelah 20 menit pertarungan itu berlangsung pada akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Imel, preman itu menyerah kalah.
"Terima kasih sudah membantuku, kalau begitu aku akan menanyakan sekali lagi maukah kamu menjadi pacarku?", tanya Bimo.
"Aku mau menjadi pacar Kakak tapi dengan syarat", jawab Imel dengan santai.
"Apa syaratnya, aku pasti akan memenuhinya", dengan percaya diri Bimo menjawab dengan cepat.
"Harus lebih kuat dari Bapakku", Imel tersenyum.
"Kalau boleh tahu apa pekerjaan Bapak Imel", tanya Bimo lagi.
"Seorang pendekar silat", jawab Imel dengan tenang.
"Apakah tidak bisa diganti dengan syarat lainnya?", Bimo mencoba menawar.
"Tidak bisa!, untuk sekarang ini sebaiknya Kakak traktir aku makan, aku lapar", pinta Imel.
"Kamu memangnya mau makan apa?", Bimo berpikir setidaknya saat ini ia ingin mendekati Imel dengan cara menyenangkan hatinya dulu.
"Aku ingin mencoba makan seafood di restoran bintang lima, hehehe", Imel menjawab sambil terkekeh geli.
"Oh Tuhan, ternyata selera makannya sebesar tenaganya", gumam Bimo sambil mengelus dadanya.
Sabar...sabar.
TAMAT
Cerpen ini adalah cerpen terpanjang yang pernah penulis buat. Semoga pembaca tidak bosan ya. Selamat membaca. 😊, oh ya penulis meminta izin kepada kakak penulis senior yang lebih dahulu menggunakan nama Ferguso, tanpa bermaksud menjiplak ternyata memakai nama beliau disela-sela cerita menyenangkan juga..ya