Siang itu Himawan berteduh di sebuah gubug tua di tengah hutan. Hujan turun begitu deras, sehingga dia terpaksa mencari tempat untuk berteduh. Himawan adalah seorang karyawan si sebuah Dealer motor, dia di tugaskan untuk menagih para nasabah yang membelot angsuran.
Himawan tidak tahu harus berteduh dimana lagi kalo bukan di gubug ini, sebetulnya Himawan agak merinding melihat suasana di sekitarnya, bayangkan saja, langit gelap, hujan turun deras dan sesekali gemuruh disertai petir, membuat suasana nampak mencekam. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa,semoga tidak di ganggu oleh makhluk makhluk halus yang tak kasat mata.
Perutnya pun ikut ikutan bergemuruh, dilihatnya waktu melalui jam tangannya, dan sudah menunjukkan pukul 2 siang. Himawan juga akhirnya teringat, bahwa dia belum melaksanakan sholat dhuhur," Mau sholat dimana nich.." gumannya dalam hati, akhirnya Himawan memberanikan diri untuk memeriksa sekelilingnya. Himawan berjalan kesana kemari, hendak mencari air untuk berwudhu, dan beruntung sekali, di belakang gubug ini, ada sebuah wadah yang Himawan yakin, tempat air ini memang digunakan untuk berwudhu. Himawan agak curiga, jangan jangan gubug ini ada pemiliknya.
Berjalan kembali kedepan dengan perasaan sedikit lega, dia memberanikan diri mengetuk pintu gubug tersebut yang sudah rapuh.
" Permisi,..assalamualaikum...?" Himawan mengucapkan salam, tapi rupanya salam dia tidak ada balasan dari dalam. Terlintas dalam pikirannya untuk menerobos langsung kedalam, karena waktu sudah hampir habis untuk melaksanakan sholat dhuhur, tapi hati nuraninya tidak mendukungnya.
Bingung bercampur penasaran, Himawan memberanikan diri membuka pintu tersebut dari luar.
" Assalamualaikum,..permisi.., "teriaknya bermaksud memanggil pemilik rumah.
" waalaikumsalam...." Sebuah suara menyahut salam dari Himawan. Himawan merasa lega, setidaknya dia masih bertemu orang di tengah hutan seperti ini.
Keluarlah seorang kakek dengan baju yang sedikit kusam. Himawan tidak henti hentinya mengucapkan syukur, dia sedikit lega.
"Maaf Kek, saya menggangu, saya kehujanan dan terpaksa berteduh disini, semoga kakek tidak keberatan." Himawan berbicara dengan sopan dan ramah terhadap kakek yang mempunyai gubug.
" Oh iya..iya.., tentu saja tidak keberatan,...mari masuk.." kakek itu mempersilahkan Himawan untuk masuk ke gubugnya.
" Terima kasih Kek," ucap Himawan.
" eee...maaf Kek, kalo tidak keberatan, bolehkah saya numpang sholat di sini?" lanjutnya, meminta ijin pada pemilik gubug untuk melaksanakan sholat.
"oh....iya,..tentu saja boleh..., mari mari saya antarkan .." kakek itu mempersilahkan Himawan dan menunjukkan dimana tempatnya, dia juga memgantar Himawan ke tempat tadi untuk mengambil air wudhu.
" Mari mari Nak,..." ucap kakek itu.
" Terima kasih Kek,.."
Gubug itu sangat kecil, hanya dua ruangan saja, satu ruang yang di gunakan untuk ruang tamu, dan satu ruangan lagi di gunakan untuk berbagai macam ruangan,dari kamar tidur, dapur dan tempat sholat .
Tidak ada apa apapun benda berharga dalam gubug itu, tidak televisi, kulkas, maupun barang rumah tangga yang lain. Sebuah kotak diletakkan di sana, sepertinya kotak itu adalah kotak serbaguna yang di gunakan untuk menyimpan pakaian dan juga di atasnya berfungsi sebagai meja.
Himawan merasa prihatin dengan keadaannya," ternyata masih ada orang yang hidup dalam kekurangan di zaman sekarang ini. Zaman dimana barang barang elektronik menjadi barang pokok yang wajib di miliki setiap orang, baik ricecooker, mesin cuci, kulkas, kompor gas, motor dan lain lain.
Setelah selesai mengerjakan sholat, Himawan sengaja menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kakek pemilik gubug.
" Perkenalkan Kek, nama saya Himawan." ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan kakek itu.
" Saya Harun..." jawab kakek itu.
" Kalo boleh saya tahu, kakek disini tinggal sendiri apa ada yang lainnya.?" lanjut Himawan dengan rasa penasaran.
" Saya tinggal bersama istri dan satu cucu kami."
" Oh...kalo boleh saya tahu, dimana mereka sekarang Kek?"
" Mereka sedang ke masjid di sana,...mungkin karena hujan, jadi mereka belum pulang." jawab kakek itu .
" Masjidnya jauh dari sini Kek?" Himawan belum tahu ada masjid di tengah hutan ini.
" Tidak,...masjidnya jauh dari sini , kira kira jaraknya 2 kilometer."
"Apa mereka jalan kaki Kek?"
" iya,...mereka itu sudah biasa jalan kaki, bahkan bukan hanya ke masjid saja, ke pasar pun jalan kaki, maklumlah Nak, tidak ada angkot yang mau memasuki hutan.
Himawan tersenyum pahit mendengar jawaban jawaban dari Harun, kakek tua itu.
Hujan masih saja belum berhenti, Himawan bingung dan takut kalo hujan ini tidak akan berhenti sampai malam. Bunyi perutnya tidak dapat dia sembunyikan, rasa lapar sudah tidak dapat dia tahan.
" Oh...Sanak lapar rupanya..." kakek itu mengetahuinya.
Himawan tersenyum kaku," Hehehe...iya Kek..." dia terpaksa terus terang kalo dia lapar.
"Tunggu sebentar...Saya baru saja tadi pagi memetik pisang." kakek itu berkata dan kemudian keluar melalui pintu belakang.
" Tidak usah Kek, merepotkan Kakek saja..." kata Hikaman berbasa basi, padahal sebetulnya dia memang mengharapkannya.
" Sampai kapan hujan akan berhenti ya..?" gumannya . kemudian merogoh saku dan mengambil handphone nya.
" Mana ada sinyal lagi...." keluhnya.
Tak lama, kakek itu datang dengan setundun pisang yang sudah tua , sebagian berwarna kuning, sebagian lagi berwarna hijau. Dengan mahir, kakek mengambil pisang yang sudaj matang, kemudian memberikannya pada Himawan. Dengan malu malu, Himawan mengambil pisang itu lalu memakannya.
" alhamdulillah..." gumannya pelan.
" maaf ya Nak, kakek hanya bisa menyediakan pisang, sebab hanya ini yang kakek punyai untuk makan hari ini."
Himawan hampir saja keselek, mendengar ucapan kakek, mulutnya masih penuh dengan pisang, rasa lapar membuat Himawan bersifat tamak.
Diambilnya air putih yang Himawan bawa dari rumah, air putih itu hanya tinggal setengah, kini air itu habis di teguk olehnya.
" Terima kasih ya kek,...rasa lapar saya sudah hilang."
kakek itu membalas dengan senyum senang,
" Sama sama Nak."
" Boleh saya tanya Kek?" tanya dia, jujur saja, Himawan menjadi tertarik untuk tahu bagaimana kehidupan sehari hari kakek Harun ini.
" Sanak mau tanya apa,...silahkan..kalo kakek bisa pasti akan saya jawab." jawab kakek itu dengan ramah.
" hehe..." Himawan tersenyum canggung, tapi bukan berarti dia mengurungkan niatnya untuk tahu kehidupan kake ini.
" Saya mau tanya, tadi kata kakek, kakek hanya makan apa yang kakek dapatkan hari ini, apakah kakek tidak makan nasi?"
kakek itu tersenyum sebelum menjawab
" Sebetulnya kakek makan nasi,tapi hanya kadang kadang saja, namanya juga hidup di dalam hutan, semuanya tidak bisa didapatkan dengan mudah.
" lalu istri dan cucu kakek juga seperti itu?" tanyanya lagi.
" ya..begitulah..." jawab kakek itu
Himawan jadi agak sedih mendengar pengakuan kakek. Tapi dia masih belum puas untuk menggali lebih dalam lagi kehidupan kakek ini.
" apa kakek tidak mau hidup lebih baik dari ini?" tanya himawan lagi.
" Siapa yang tidak mau hidup lebih baik, ...tentu saja kakek mau, tapi kakek hanya ingin hidup dengan damai, tanpa harus disusahkan dengan urusan dunia, apalagi hanya untuk sekedar mengisi perut...masalah makanan itu sama saja buat kakek, yang penting kita tidak kelaparan untuk mempertahankan raga kita..." ucap kakek itu panjang lebar.
Himawan sedikit tersentuh mendengar apa yang Harun ucapkan.
" Lalu...apa kakek tidak takut tinggal di hutan dengan gubug tua ini untuk berlindung dari bahaya, misalnya saat hujan badai, atau gangguan dari hewan liar yang membahayakan.? rupanya pemuda itu masih belum puas dengan penasarannya.
" kalo masalah hidup dan mati, kakek hanya bisa pasrah sama Tuhan saja, ..mati itu kan datang kapan saja, baik kita tinggal di istana, atau gubug tua seperti ini, jika memang takdir kita akan mati, ya kita tidak bisa menolakkan?"
Malam itu Himawan memikirkan apa yang kakek Harun ucapkan. Perkataan itu membuat Himawan sadar, bahwa hidup dan mati itu sudah termasuk takdir.
****(selesai)