Aku adalah Anna, seorang guru sekolah pelajaran MTK, biasanya guru MTK adalah guru yang paling menyebalkan, namun berbanding balik denganku.
Mereka semua menyukaiku, aku tahu bagaimana posisi mereka saat pelajaran MTK yang terakhir, rasanya ingin sekali menguliti guru itu hidup-hidup, namun, tidak! karena aku juga bercita-cita menjadi seorang guru MTK, dan aku mencapainya.
Aku telah menikah dengan Faisal, seorang CEO di perusahaannya, kami telah menikah selama lima tahun, kalian pasti tidak menyangka jika aku belum mempunyai anak sampai saat ini juga.
"Mah, ada apa?" tanyaku saat melihat mamah mertuaku seperti panik.
"Anna, tidak! tidak apa-apa, mamah hanya sedikit lelah" jawab mamahku, aku tak mengerti dengan jawabannya.
"Mamah pergi dulu ya, kamu di rumah saja jangan kemana-mana" ucapnya, dia selalu seperti itu saat dia akan pergi, bahkan perginya sampai malam. Namun aku tidak keberatan, karena mamahku adalah mamah terbaik di dunia, tak seperti kata orang mertua itu rata-rata semuanya jahat, namun bagiku, dia tidak seperti itu.
Karena ada urusan, rumah ku tinggal sebentar, di tengah jalan aku melihat mertuaku sedang bersenang-senang dengan seorang anak kecil, hatiku sangat sakit melihatnya.
Mungkin itu anak orang lain, jadi mamah sangat antusias dengan anak kecil.
Aku pun memilih untuk keluar dari mobilku, aku menghampiri mereka.
Aku langsung berlari saat seseorang itu menghampiri mamah mertuaku.
"Hiks hiks hiks"
"Kenapa kalian begitu jahat?"
"Aku sangat mencintai kalian berdua! tapi apa ini?"
Anna tidak menyangka mertuanya bisa selicik itu, saat dirinya akan menghampiri mertuanya, suaminya dan wanita lain baru saja keluar dari supermarket, dengan tersenyum dan tertawa.
Hati Anna begitu sakit melihat pengkhianatan mereka berdua, tidak di sangka jika mertuanya bisa melakukan hal itu.
"Hiks hiks hiks, andaikan aku tidak sebodoh dulu? apa itu anak mereka?" tanya Anna menerka.
"Jangan menangis" ucap seseorang yang berada di belakang Anna.
"Hapuslah air matamu" ia duduk di samping Anna, dengan menyodorkan sapu tangan pada Anna.
"Terima kasih"
"Anda kenapa menangis di sini? ini tidak cocok untuk anda" ucap pria itu, Anna menatap pria itu dengan tajam.
"Apa maksudmu?! aku tidak boleh di sini? ini tempat keluarga yang berbahagia, begitu?!" teriak Anna meluapkan amarahnya.
"Kalian kenapa begitu kejam?! aku memang tidak bisa memiliki anak! tapi apa kalian pernah sedikit saja berempati padaku?!" lanjut Anna dengan masih berteriak.
"Maafkan aku, aku hanya bercanda, nona."
"Perkenalkan, namaku Salim"
Anna tetap tidak bergeming, ia masih berusaha untuk tidak marah pada orang lain.
"Kita berteman?" tanya Salim menatap Anna.
"Kau seorang cabul?! bahkan baru beberapa menit kita bertemu, tapi kau telah mengajakku berteman? dasar aneh!"
Anna memilih untuk pergi keluar, di sini hanya akan terus marah-marah pada orang lain. Salim tersenyum melihat wanita yang dia cari selama ini.
Keesokan harinya, Anna terbangun, dirinya harus pergi ke sekolah mengajar.
Sampai di sekolahan, entah bagaimana murid murid itu tersenyum lebar sekali, membuat wajah Anna sedikit teduh.
"Kita mulai pelajaran nya ya" Anna mulai membahas pelajaran.
Entah bagaimana bisa Salim me kelas Anna, dirinya mengendap-endap.
"Selamat pagi Bu guru" sapa Salim tersenyum lebar, Anna menengok ke belakang, matanya terbelalak saat melihat Salim ada di belakangnya.
"Kita bertemu kembali" Anna langsung murung, hari cerahnya harus terganggu oleh Salim.
Pulang dari sekolah, Anna langsung ke rumahnya, meskipun dirinya sedih karena mertua dan suaminya mengkhianatinya, tapi dia berpikir jika mereka berdua seperti itu karenanya.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Faisal suami Anna.
"Ya, aku lelah, aku akan mandi sebentar"
"Baiklah, setelah itu kau harus layani aku dengan service yang bagus, oke?" tangan Faisal nakal meraba ke tubuh istrinya. Biasanya Anna akan sangat suka, namun, sekarang berbeda, tersenyum saja dia paksa.
Setelah melakukan hubungan itu, mereka tertidur pulas, diam-diam Anna menangis, ia sangat tersiksa dengan hal ini.
Setiap hari, Anna terus menyembunyikan kesedihannya, Salim terus berada di dekat Anna saat terpuruk, Anna yang sinis, kini hatinya mulai bersemi pada Salim, wajah tampan yang mampu menghipnotisnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Salim di belakang Anna, ia memeluk tubuh ramping Anna, mencium lehernya.
"Aku sedang menata bunga ini" jawab Anna memperlihatkan bungannya.
Salim mengecup bibir Anna, membuat Anna malu.
"Kau semakin cantik, kau dan bunga ini, sangat berbeda jauh, keindahanmu terus memancar, sedangkan bunga ini akan layu jika sudah saatnya layu"
"Kau sangat pintar merayu, aku ingin sekali memberikan penghargaan" ucap Anna.
Salim menautkan alisnya, "Apa?"
"Bunga ini, boleh aku memasangnya di sini?" tanya Anna meminta izin.
"Terserah, apapun mau mu, akan aku lakukan" Anna memasukkan bunga merah ke saku meja Salim yang berada di dada kirinya.
"Sudah"
"Sangat indah jika kau yang memasangnya" goda Salim.
"Kau terlalu berlebih-lebihan, aku tidak seberuntung itu" ucap Anna sedih.
"Jangan pikirkan suamimu, ada aku di sini"
"Aku tidak memikirkannya, aku hanya-"
"Aku akan membunuhnya jika dia ada dalam pikiran mu" potong Salim dengan cepat.
"Bu-bukan seperti itu! ma-maksudku, a-aku dan dia, sudah dari kecil bersama, kami mendapatkan kasih sayang dari mamah Lisa, aku beruntung mendapatkannya."
"Maafkan aku sayang," Salim menc**m bibir Anna, mereka saling bertautan, lalu menaiki ranjang, bergulat di sana.
"Aku akan pulang sekarang" ucap Anna setelah mereka bermain.
"Apa tidak bisa nanti saja? aku sangat ingin bersamamu terus" rengek Salim
"Kau seperti anak kecil, aku mencintaimu"
"Aku lebih mencintaimu sayang" balas Salim. "Biar ku antar, lagi pula ini masih siang"
"Tapi, bagaimana jika ada Faisal?" tanya Anna khawatir.
"Dia juga berselingkuh, bahkan telah menyelingkuhi mu bertahun-tahun" Salim memprovokasi Anna, dengan mudah Anna mengangguk. Salim langsung men***m Anna dengan ganas, mereka kembali bergulat.
Di depan pintu gerbang, Anna dan Salim sedang berc***an, mereka akan bertemu kembali besok.
"Aku akan merindukan mu"
"Aku juga" balas Anna.
Seseorang menggebrak mobil Salim, membuat mereka terkejut dengan orang itu.
"Keluar!" teriak Faisal mengetuk pintu kaca.
Anna begitu panik, dirinya tidak tahu harus apa sekarang.
"Anna!!!!! keluar kau!" teriak Faisal seperti kesetanan.
"Kau tenang saja, biar aku yang hadapi" Salim menenangkan Anna, lalu dia berjalan keluar.
"Ada apa?! kau benar-benar tidak sopan!" ledek Salim pada Faisal.
"Dimana istriku?! cepat keluarkan istriku!" teriak Faisal dengan nafas tersengal-sengal.
"Istri? kau masih menganggapnya istri? hahaha, aku tidak percaya ada laki-laki seperti dirimu!" Salim meledek Faisal.
"Kurang hajar!" teriak Faisal, ia memukul wajah Salim.
"Berani sekali kau memukulku!" teriak Salim, ia langsung melayangkan tinjunya pada Faisal
"Hentikan!" teriak Anna keluar mobil.
"Anna!!!! sekarang pulang!" desis Faisal pada istrinya.
"Kenapa? kenapa aku harus kembali ke dalam neraka itu?" tanya Anna dengan nada sedih.
"Apa maksudmu?" tanya Faisal tidak percaya.
"Apa maksudku? kenapa kau tidak lihat dirimu dulu?! kau melakukan hal kejam padaku!" jawab Anna masih membuat Faisal kebingungan.
"Appa!!" teriak Lisa, mertua Anna.
"Apa Faisal menyakiti mu Anna?" tanya Lisa dengan menatap menantunya.
"Bukan hanya Faisal, tapi mamah juga! mamah membuat hatiku sakit!"
"Apa maksudmu Anna?" tanya Lisa tidak percaya dengan perkataan Anna
"Kalian masih menyembunyikan hal ini?" tanya Anna.
"Kalian masih akan menyembunyikan anak dari Faisal?"
Lisa menggeleng, namun dirinya hanya bisa menunduk merasa bersalah.
"Mamah, kau adalah panutan ku, saat aku berpikir akan mempunyai anak suatu saat nanti, aku ingin menjadi ibu seperti mu, yang menyayangi anak anak, entah itu anak kandung atau bukan" Anna meneteskan air matanya.
"Aku tahu, aku tahu aku tidak bisa memberi mu cucu, tapi perlakuan kalian membuatku sedih, hatiku sakit saat kalian bersama wanita dan anak kecil, dan anehnya kalian mempunyai alasan saat akan keluar"
"Apa hanya untuk bertemu dengan mereka?" tanya Anna.
"Kalian benar-benar keluarga yang jahat, apa salah Anna jika dia tidak bisa hamil? kalian bisa mengadopsi anak jika kalian mau. Tapi kau pengecut Faisal, kau berselingkuh dengan wanita lain dan menghasilkan anak" ucap Salim pada Faisal dan Lisa.
"Bukan keinginan Anna seperti ini, dia juga ingin mempunyai anak. Tapi, dengan teganya kalian membuat hati Anna hancur melihat suaminya berjalan bersama wanita lain" lanjut Salim.
"Apa salah Anna tidak bisa hamil? ini juga bukan keinginannya, jika kalian marah, marahlah pada Tuhan yang menciptakan Anna seperti ini" Lisa dan Faisal hanya menunduk, dirinya terpaksa melakukan hal ini, setelah mengetahui mantan pacarnya hamil, membuat Faisal senang dan langsung menikah saat anaknya lahir.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar mencintai mu, Anna." ucap Faisal memohon dengan memegang tangan Anna.
"Apa itu cukup untuk kesedihan ku selama ini? maaf? aku akan memaafkan mu, tapi tidak dengan cintamu, aku benar-benar muak dengan cinta palsu yang kau berikan, selama beberapa tahun ini, apa cintamu padaku seperti suami istri? aku bahkan ragu saat kau menikah denganku dengan cinta"
"Aku benar-benar mencintai mu, bahkan aku selalu ingin bersamamu, maafkan aku"
"Nak, kembalilah pada kami, kami benar-benar menyesal, kami akan menerimamu, kami tidak akan bertemu dengan anak itu lagi" ucap Lisa memohon, dirinya tidak mau kehilangan anaknya, dia sangat menyayangi Anna.
"Jangan merayu kekasihku! kami akan menikah beberapa hari lagi, jadi pastikan kalian telah memutuskan hubungan kalian bersama Anna, dan ya, Faisal, kau harus cepat menandatangani surat cerai kau dan Anna, aku tidak mau di sebut perebut Istri orang" ucap Salim pada mereka berdua.
Lisa menatap kepergian Anna, ia menatap putra satu-satunya, benar-benar tidak bisa di percaya, dirinya kehilangan putri kesayangannya.
"Maafkan aku nak, mamah benar-benar menyesal" gumam Lisa menangis, dirinya luruh ke lantai.
sedangkan Faisal berusaha membujuk Lisa, mamahnya untuk masuk ke rumah.
Pernikahan Anna dan Salim, akhirnya tiba, mereka sangat bahagia menjalankan pernikahan mereka berdua, rasanya tidak percaya jika Anna akan menikah lagi.
Aku merasa pusing, setelah acara pernikahan, aku benar-benar tidak tahan dengan rasa mual ku.
"Ada apa sayang?" tanya mertua ku, ibunya Salim, bernama Hana.
"Mommy, aku sangat pusing, rasanya mual sekali" ucap ku dengan wajah memelas.
"Istirahat lah, mommy akan memanggil.dokter dulu" mommy membantu ku berjalan keluar kamar mandi.
Dokter kini memeriksa Anna, Salim sampai khawatir saat mommy nya mengatakan jika Anna harus di periksa.
"Hahaha, selamat nyonya, tuan." ucap dokter itu.
Semua orang menautkan alisnya bingung.
"Ada apa dokter? menantu saya baik-baik saja kan?" tanya Hana khawatir.
"Ini seperti biasa nona, anda akan menjadi nenek" ucap dokter, Hana terbelalak begitu juga dengan Anna, dirinya tidak percaya dengan perkataan dokter itu, lalu menyuruhnya untuk memeriksakan kembali.
"Sayang, aku sangat bahagia, kita akan memiliki anak" ucap Salim, ia mencium kening istrinya dengan sayang.
"Aku senang jika kau senang" ucap Anna tak mampu menahan rasa bahagianya.
Di rumah Faisal, Lisa terbaring dengan lemah, setelah kepergian Anna, membuatnya sedih dan tak bisa menjaga kesehatannya.
"Anna hamil, Faisal." lirih Lisa.
"Iya, aku tahu mah,"
"Kita yang terburu-buru, harusnya kita menanti dengan sabar" ujar Lisa sedih karena kehilangan putri kesayangannya.
"Aku bahagia jika adikku bahagia, mah."
"Mamah sangat senang, semoga Anna selalu dilimpahkan kebahagiaan nya"
Tamatttt......