Ada keyakinan di wilayah Kalimantan selatan tentang kisah kota Saranjana yang terkenal dengan kemajuan teknologi,arsitekturnya dan kekayaannya yang melebihi negara maju manapun didunia,terletak di kabupaten kotabaru namun hanya orang yang di ijinkan saja yang bisa melihat kemegahan kota tersebut,sebagian orang mempercayai pulau itu memang ada nyatanya.
Namun belum bisa dibuktikan dengan kajian ilmiah sama halnya dengan pulau atlantis yang hilang pada peradaban yang paling hebat pada masanya yang dikait-kaitkan dengan kota saranjana yang mana kemajuan teknologinya melebihi negara maju mana pun.
pada tahun 1980 ada kasus yang menghebohkan masyarakat kalimantan selatan khususnya wilayah kotabaru karna ada yang memesan berbagai mobil alat berat untuk pembangunan wilayah kotabaru yang didatangkan dari jakarta dengan dibayar kes, dan sipengirim tidak menemukan alamat yang di tujukan.
Yah,begitu lah cerita yang di dengar dari mulut kemulut masyarakat setempat.Sebagai jurnalis program stasiun tv menguak misteri dunia, Alya kurang meyakini cerita masyarakat setempat yang meyakini benar adanya pulau tersebut jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Hanya saja keluarganya hidup dilingkungan yang mempercayai hal sejenis ghaib. Mereka percaya bahwa kita manusia itu hidup berdampingan dengan mahluk ciptaan tuhan yang lain contohnya mahluk yang tak kasat mata.
maka dari itu orang tuanya selalu mewanti-wanti jika melakukan perjalanan untuk meliput selalu berhati-hati dan mematuhi larangan yang ada, dan jika merasa asing dengan wilayah tersebut jangan sampai kita mengambil apapun dari tanah atau tempat orang yang tidak kita kenal apa lagi orang yang mencurigakan karna bisa saja itu membawa petaka bagi dirikita sendiri.
Ya kedua orang tuanya memang sedikit cerewat jika bersangkutan dengan dengan keselamatan putrinya, tapi dia tau itu untuk kebaikannya dan dia hanya khawatir dengan keselamatan putri semata wayangnya,bisa di memaklumi, namun ke khawatiran mereka terlalu berlebihan untuk putri meraka yang sudah hampir menginjak kepala 3, ya bisa dibilang Alya tidak muda lagi.
Dan untuk kali ini Alya ingin membuktiakan apa dia bisa melihat kota yang tak terlihat itu untuk bahan liputannliputannyatimnya, kali ini Alya membawa sekitar 25 orang kru berangkat dari jakarta menuju kalimantan selatan menuju kotabaru.
Yang rencananya berangkat hari ini, kedua orang tua nya merasa khawatir setiap melihat kergian putrinya keluar daerah.
" Apa da barang yang belum dikemas " sang ibu mendekati putrinya.
" Apa ayah perlu mengantarmu ke bandara atau kalau perlu kita sekeluarga pergi ke banjarmasin bersama menjenguk nenekmu disana" sang ayah menipali percakapan anak dan ibu tersebut.
"Hee.....Ayah, aku buakan anak kecil yang perlu kau antar jemput lagi,aku bisa berangakat sendiri,lagi pula bulan lalu ayah sudah mengunjungi nenek bukan,jika ada waktu aku akan mampir sebentar kerumah beliau" Alya menenangkan kekhawatiran kedua orang tuanya.
"Zidan dan yang lain sudah menunggu ku di bandaran,aku berangkat dulu ya" Alya keluar dari dalam rumah menuju bandara.
Ya,ayahnya berasal dari banjarmasin yang merantau ke jakarta untuk urusan bisnisnya dan ibunya yang sama-sama merantau dari pulau jawa tepatnya dari banyuwangi, bertemu dijakarta dan terlahirlah Alya buah hati semata wayang mereka, dan memilih menetap di Jakarta dengan alasan pekerjaan.
Satu hari penuh perjalan dari Jakarta, Banjarmasin dan akhirnya mereka sampai di Kotabaru dan menginap di rumah warga sekitar yang jaraknya bersebrangan dengan pulau yang dipercayai oleh warga setempat dengan kota saranjana.
"Al,apa kau bisa menghubungi ibu mu" Zidan sahabat Alya berjalan ke arah Alya seraya duduk di sampingnya.
" Kondisi siyal yang buruk" Alya menyahut sambil menoleh kearah lawan bicaranya.
" apa kau khawatir dengan besok" Zidan mencoba mencari topik pembicaraan.
"Aku lebih khawatir jika besok ada yang bangun siang dan menghambat kegiatan besok" Alya mencoba menggoda temannya.
" hei........Kau anggap aku apa" Zidan tersenyum.
Mereka berdua melihat pemandangan langit malam yang berhias bintang yang jarang dia nikmati di jakarta dan bercanda gurau.
dinginnay dini hari menyapa kru yang bersiap-siap pergi ke lokasi pulau seberang yang di yakini warha setempat sebagai kota saranjana.
terik matahari mulai menyapa mereka yang sendang duduk di atas kapal pengakut penumpang yang membawa kepulau seberang.
Hanya keheneningan yang menyelimuti mereka,larut dalam pikirannya masing-masing.
"kita sampai" pemadu jalan tersebut turun terlebih dulu.
Semilir angin pantai menyapa mereka yang mulai menyiapakkan barang bawaan dan mulai akan menjelajah kedalam hutan.
" Ingat,jangan sampai tertinggal atau terpisah dari rombongan mengerti" pemandu jalan memberi instruksi.
Bagi penduduk lokal tidak semua orang bisa melihat kota megah tersebut hanya orang-orang pilihan yang di ijinkan saja yang bisa melihat kemegahan kota tersebut.
Alya memulai perjalanan dengan perasaan was-was dia tidak pernah se tegang ini saat ikut meliput kegitan yang mirip seperti ini sebelum nya di daerah lain.
Mereka mulai memasuki hutan belantara dengan dipandu penduduk setempat yang memang bisa menemukan kota megah tersebut.
Hari terlihat lebih gelap dari biasanya karna cahaya matahari mulai tidak bisa menebus rimbunnya pepohonan tersebut.
Sayup- sayup terdengar suara ketukan seperti orang sedang menebang kayu,namun Alya tidak tau sumber suaranya berasal dari mana, Alya mencoba berpikir positif mungkin saja ada warga yang datang selain mereka yang memasuki hutan.
" Apa kau mendengar" Zidan berbisik di telinga Alya.
"Em......" alya mengangguk dan menjawab singkat sambil memegang erat tangan sahabatnya tersebut dan aneh suara itu semakin mengencang,mereka seperti mendekati sumber suara.
Saat rombongan di depan semakin jauh meninggalkan mereka, mereka masih tidak sadar.
"kenapa rombongan di depan semakin jauh meninggalkan mereka kita" salah satu kru tersadar saat melihat rombongan merek tertinggal.
Mereka mencoba berlari untuk mengejar ketertinggalan mereka namun dalam sekejap mereka terkesima dan sudah berada di tengah-tengah kerumunan orang yang terlihat rupawan tidak mereka kenal.
Mereka terpesona dengan kemegahan taman kota yang tersaji dimata mereka, dan masih berdiri mematung.
" kita berhasil" Alya membuka suara.
" kita tidak mimpi bukan" salah satu kru menyahut.
"hanya kita berlima saja mana yang lainnya" Alya mengecek keberadaan kru lainnya.
" sepertinya hanya kita berlima yang diijinkan menginjak tahan ini" Zidan menimpali dan matanya masih fokus dengan melihat sekeliling.
terheran-heran dengan arsitektur bangunanannya berlapis emas yang menyilaukan mata, gedung-gedung pencakar langit menjulang mengalahkan burj khalifa yang ada didubai,menara-menara menjulang tinggi mebelah langit biru, uamg dari mana semua ini jika dipikir akal manusia beptapa mustahilnya ini.
Alya ingat saat ayah nya bercerita dari kisah nenek moyangnya, bahwa ada perbedaan waktu yang jauh antra dunia manusia dan mahluk ghaib. dan ayah nya pernah bercerita tentang kota saranjana jika kita memasukinya, jangan makan dan minum disana jika masoh ingin kembali pulang.
" Jangan lepas dari pandangan ku" Zidan memegang erat tangan Alya, yang ditakutkan kan hilang dalam keramaian.
" Jangan khawatir" Alya mencoba meyakinkan temannya.
"Mulai" Alya memberi instruksi temannya.
" kamera ku mati" salah satu temannya menjawab disusul anggukan kedua temannya.
" Bahkan posel pun ikut mati" Zidan melohat layar ponsel miliknya.
" kita terjebak disini,bagaimana caranya kita pulang" Alya sedikit panik mengingat kisah ayahnya yang kebayakan dari mereka terlena akan kemegahan disana dan tidak ingin kembali pulang.
" Heei......Apa yang kau bicarakan kenapa harus terburu- buru mencari jalan pulang,aku ingin menikmati pemandangan yang ada di sini" berjalan meninggalkan rombongannya.
" Rio tunggu........kalian bertiga tetap bersama dan jangan terpisah aku akan mengawasinya" salah satu temananya menyusul Rio yang menjauhi teman-temannya.
Seorang laki- laki yang rupawan datang menghampiri mereka
"apa kalian tersesat" tanya laki-laki itu.
" ini bukan temapat yang seharusnya kalian masuk" seorang laki-laki tadi mengintrogasi dengan tersenyum.
" Maaf tuan, kami tidak sengaja memasuki wilayah ini bahkan kami tidak tau bagaimana bisa masuk wilayah ini" Zidan mencoba mencari pembelaan.
" Bukankah tujuan kalian memang mencari tempat ini" masih bertahan dengan senyuman.
Mereka bertiga kalah telak.
" Oh...Seorang reporter " melirik barang bawaan ketiganya.
Nyali Alya menciut saat mulai di tanya apa tujuannya,ketakuatan Alya bagaimana jika dia tidak bisa pualang dan di kurung seperti film-film yang sering dia tonton bukan kah akhir yang menyedihkan bagi dia.
"bair ku beri nasihat anak muda,apa yang sebenarnya ingin kalian buktian pengakuan mansia lain tentang keberadaan kami, apa dengan demikain menjadikan kalian hebat" menasehati sambil tersenyum.
Ketiganya terdiam karna kalah telak,apa yang diakatan laki-laki itu benar yang dicari merek sebatas penagakuan dari manusia untuk manusia yang haus akan pengakuan dari berbagai hal.
"tuhan menciptakan berbagai macam mahluk untuk menlengakapi tatanan bukan untuk mencampuri urusan antar mahluk lain" laki-laki itu memberi nasihat.
" punlanglah selagi masih di ijinkan untuk kembali" jawab laki-laki itu.
"Tapi teman kami masih ada di sini bagaimana kami bisa meninggalkan mereka" Zidan menjelaskan.
"Jangan menunggu kedua teman kalian, karan mereka akan menetap disi,mereka sangat senang dan tidak akan mau pulang" laki-laki itu menyahut.
"bagaimana mungkin" Alya sedikit tidak percaya.
"jika kalian bersikeras menunggu teman kalian bisa dipastiakn kalian bertiga pun tidak akan bisa pulang" jawaban yang mengejutkan bagi ketiganya.
" Berjalanlah lurus ke arah selatan dan jangan menengok kebelakang kalian akan bertemu dengan teman-teman kalian yang lain" laki-laki itu memberi penjelasan.
ketiganya menurut tanpa membantah lagi,setelah meninggalkan keramaian yang ada di sekitar taman kota mereka sayup-sayup memdengar suara kru lainnya mencari keberadaan mereka.
" Kita kembali " mereka ambruk dan terdudk lemas.
Tak lama kru lain menemukan mereka dan langsung membawa mereka pulang ke rumah penduduk setempat karna hari mulai gelap.
Dan akan melanjutakan pencarian besok lagi untuk menemukan dua temannya.
" Mana Rio dan Hafis kenapa tidak bersama kalian" pak Riko ketua tim menayakan keberadaan kedua temannya.
" Mereka tidak akan kembali kata orang itu,karan itu pilahan mereka" jawan Zidan lemah.
~END~
NOTE: cerita ini adalah hasil imajinasi autor,jika ada kesamaan nama orang,tempat dan lain- lainnya itu hanya sebagai penunjang cerita imajinasi autor saja.
Harap dimaklumi.
Sekian dan terimakasih.