“Sudah lama?” suara seseorang yang amat ku kenal terdengar di belakangku. Aku segera menoleh, ku temukan senyum hangat yang masih sama seperti beberapa tahun lalu. Tatapan penuh cinta, hangat tapi menyejukkan. Semuanya masih sama seperti dulu, hanya saja status kami yang berbeda sekarang.
“Aku baru datang,” jawabku seraya tersenyum ramah. Pria itu mengulurkan tangannya padaku, aku pun menyambutnya.
“Sudah makan?” Pertanyaan itu selalu terdengar ketika kami bertemu. Mungkin karena ia sangat tahu jika aku orangnya susah makan. Dan aku pun punya penyakit lambung akut yang sudah ada sejak lama.
“Sudah.” Jawabku singkat. Saat ini aku berada di sebuah acara pernikahan yang tak jauh dari rumahnya.
“Apa kabar?”
“Allhamdulillah baik, kakak apa kabar?”
“Aku baik, tapi tak sebaik dulu.” Ujarnya sendu. Ada semacam luka yang tersirat di matanya. Atau segenggam kerinduan? Ah entahlah, aku tak berani menebak.
“Harusnya Kakak lebih bahagia sekarang.” Kataku seraya melepaskan jabatan tangannya. Aku tak ingin bersentuhan lama dengannya, karena sekarang ia bukan lagi milikku.
“Kamu bahagia?” ia menatapku dalam. Aku mengulas senyum,
“Aku bahagia. Tidak ada alasan untukku tidak bahagia,”
Ia terdiam. Menatapku dengan sendu, aku tahu perasaannya padaku masih sama seperti dulu. Aku tahu, hatinya masih tetap milikku meski kami sudah tak bersama. Aku tahu, matanya memendam beribu kerinduan yang tak bisa di ungkapkan. Aku tahu, tapi aku memilih untuk pura-pura tidak tahu. Karena, ada hati yang harus di jaga. Aku tak ingin menjadi penyebab luka bagi orang lain.
“Ayah ....” seorang anak perempuan berlari ke arah Reyhan. Dengan cepat ia mengangkat anak perempuan itu ke dalam gendongannya. Bocah kecil itu anak Reyhan bersama wanita pilihan mamanya. Nama anak itu Reyna. Tahukah kalian? Reyna itu sebenarnya gabungan antara namaku dan Reyhan. Reyhan Nadia.
Dulu kami berencana akan memberikan nama itu pada anak kami kelak. Tak di sangka, kami harus berpisah. Tapi entah kenapa Reyhan tetap menamai anak mereka dengan nama Reyna.
Dulu, kami saling mencintai. Tapi karena status yang tak sepadan, membuatku harus melepaskannya. Reyhan harus menerima wanita pilihan mamanya. Aku hanya anak petani miskin, sedangkan Reyhan anak juragan perkebunan teh yang ada di desa kami. Cinta kami harus kandas karena perbedaan status yang tidak sebanding. Aku berjuang dengan keras untuk melupakannya dan menerima cinta yang baru.
“Beri salam pada Tante Nadia.” Kata Rey pada anaknya, membuatku menyudahi kenangan menyakitkan beberapa tahun lalu.
“Halo Tante.” Sapa anak itu dengan wajah manis. Aku tak kuasa untuk tidak mencubit pipinya yang bulat.
“Halo juga Reyna. Makin gendut ya sekarang.” Ujarku tanpa menurunkan tangan dari pipi gembulnya.
“Tante juga semakin cantik.” Ujarnya tersenyum, memperlihatkan sederet giginya yang rapi.
“Hey, siapa yang mengajarimu merayu? Apakah ayahmu?”
Reyna menggeleng, “ Ayah mana bisa merayu. Bahkan aku tak pernah mendengar ayah mengatakan ibuku cantik. Ibu juga bilang, ayah itu seperti es batu.” Katanya dengan polos. Aku terpaku, menatap wajah polos anak berusia lima tahun itu dengan sayu. Sedetik kemudian, aku mengalihkan pandanganku pada Reyhan yang juga ikut terdiam.
Yang aku tahu, pria ini sangat manis enam tahun yang lalu. Ia tak segan merayuku dan menggodaku. Kata-katanya yang manis, dan perlakuannya yang hangat. Semuanya masih terpatri indah dalam kubangan kenangan yang tak bisa ku lupakan. Apakah pria itu berubah sekarang? Atau ia bersikap demikian hanya denganku? Apakah pria ini tidak bisa meletakkan hati pada wanita yang ia nikahi selama enam tahun ini?
Seorang wanita yang baru saja melintas di benakku datang menghampiri. Terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna merah yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berwarna kuning keemasan, tergerai indah sebatas pinggang. Hak tinggi berwarna senada dengan gaunnya terketuk ketika ia berjalan, semuanya sangat sempurna. Berbeda denganku yang hanya mengenakan gamis biasa dengan jilbab panjang yang membungkus rambutku. Sendal biasa tanpa hak, wajah pun biasa tanpa make up tebal seperti wanita yang berdiri di hadapanku.
“Hai, Nadia. Apa kabar? Masih sendiri juga rupanya.” Ujar Safira, istri Reyhan dengan senyum yang terselip di sudut bibir.
“Sepertinya Allah belum mengizinkan saya berdua, mbak.” Kataku seraya tersenyum. Berusaha tak tersinggung dengan ucapannya.
“Tidak sedang mengharapkan suami orang lain ‘kan?” ketusnya. Tangannya bersedekap, dengan wajah tak suka.
“Safira! Jaga bicaramu!” Reyhan memperingatkan. Ia tampak tak suka dengan sikap istrinya.
“Kenapa? Ada yang salah? Bagaimana aku tidak berkata seperti itu? Sedangkan wanita ini mendatangimu dan mengganggumu.”
“Aku yang menemuinya. Nadia tidak menggangguku, jangan bicara yang tidak-tidak!” Reyhan berkata dengan kesal.
“Ayo pergi!” Reyhan menarik lengan Safira dengan kasar. Reyna terlihat ketakutan, ia masih berada dalam gendongan sang ayah.
“Maafkan Safira, Nad.” Kata Reyhan dengan tulus. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kenapa minta maaf? Aku melakukan hal yang benar. Aku mencegah agar suamiku tidak di rebut.” Teriak Safira dengan keras. Sontak saja semua yang ada di sana menoleh ke arah kami.
“Kau benar-benar keterlaluan!” Ucap Reyhan dengan geram. Ia segera menarik Safira menjauh. Aku hanya menghela napas lelah, sembari menatap kepergian mereka di iringi dengan tatapan para tamu undangan yang ternyata sedang menatapku.
Aku segera mengambil tas dan beranjak meninggalkan tempat ini. Rasa malu dan sakit membuatku ingin cepat pergi dari sini.
“Hey, mau kemana?” sebuah tangan menggenggam jemariku. Membuat aku mengurungkan langkah yang hendak terayun meninggalkan pesta meriah dan mewah ini.
“Mas Rizal,” aku tersenyum kaku. Aku melupakan pria yang datang bersamaku.
“Kita belum mengucapkan selamat pada pengantin.”
“Maaf, aku lupa.” Aku tertunduk malu.
“Dasar pikun.” Ia menjitak kepalaku pelan. Aku mengangkat kepala, menatap pria yang ada di hadapanku dengan lembut. Dia tunanganku, calon suamiku, dia masa depanku.
“Bertemu dia lagi?” tanya Mas Rizal khawatir. Aku mengangguk,
“ Maaf, aku terlalu lama bertemu sahabatku. Bagaimana hatimu?” aku mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Hatimu masih aman ‘kan? Tidak goyah dan berbalik mencintainya? Aku takut.” Ujarnya dengan wajah sedih.
“Hatiku aman, masih kokoh dan tetap untukmu.” Kataku malu. Wajahku memanas, mungkin saat ini sudah merah seperti kepiting rebus.
“Jangan kembali mencintainya, karena aku bisa mati nanti.”
Aku terkekeh, pria ini selalu saja membuatku salah tingkah.
“Dia hanya masa lalu, mas adalah masa depanku.” Aku berkata serius.
“Benarkah?” aku mengangguk pelan. Tanpa membutuhkan waktu lama, ia menarik tubuhku dalam dekapannya.
“Aku mencintaimu, aku takut tak bisa memiliki hatimu. Aku takut hatimu masih tertawan di hatinya, aku takut bukan aku yang ada di hatimu.”
“Aku mencintaimu, mas. Dia Cuma masa lalu, yang hanya akan tersimpan di ruang yang berbeda. Tujuanku hanya kamu, bukan dirinya.” Mas Rizal semakin mempererat pelukannya. Membuatmu merasa aman dan sangat di cintai.
Mantan, hanya akan menjadi kenangan. Tak kan berubah menjadi masa depan. Ia akan tetap tersimpan dalam ruang tertentu, yang tersimpan rapat dan tak kan ku letakkan dalam kubangan kerinduan.