Manusia dilahirkan sebagai dewa bagi diri mereka sendiri. Bumi, tempat manusia berpijak seakan telah digoyang oleh kutukan yang membuat manusia tak mampu lagi mengendalikan diri mereka. Semuanya berawal ketika hujan bulan Desember tahun lalu mengguyur kota Jakarta.
“Nak, apa yang terjadi?” tanya wanita paruh baya pada anaknya.
Ben merupakan salah satu korban yang diakibatkan oleh hujan. Dia berubah menjadi sosok monster yang mirip manusia. Para ilmuwan menyebutnya Monsuta.
“Selamat pagi, Ben,” sapa Lenka, sahabat karibnya.
“Selamat pagi, Lenka.”
Udara dingin dan awan tebal menghiasi langit Jakarta pagi itu.
“Sebaiknya setelah selesai kuliah kita harus langsung pulang ya Ben. Jangan sampai air hujan ini membuatmu sakit lagi.”
Sepulang sekolah, benar saja. Hujan turun dengan gencarnya. Lenka melihat Ben yang kebingungan tanpa payung ditangannya.
“Mau kuantar?” tanya Lenka.
“Tidak usah. Rumahku dekat. Kamu pulang duluan saja, Lenka.”
Lenka pulang bersama payung yang dengan sigap melindungi majikannya. berbeda dengan Ben. Dia terpaksa berlari menyisir hujan yang menghalangi jalannya. Sesuatu yang aneh mulai terjadi. Tepat ketika air hujan beradu dengan kepalanya, dia merasa hal aneh terjadi. Tubuhnya kaku, hilang kendali.
Sesampai di rumah, dia merasa ada bagian lain dalam dirinya. Segala sesuatu yang dulu dia sukai kini ia benci. Dulu yang dia benci kini dia sukai. Salah satunya adalah suka daging manusia.
“Ben, waktunya makan.” seru mamanya.
Ben keluar kamar dalam keadaan masih sadar. Sesampai di meja makan, dia menghirup bau busuk. Sangat busuk. Rupanya itu adalah bau makanan yang mamanya persiapkan.
“Ma, Ben tidak jadi makan. Ben tidak lapar.”
Ben kembali ke kamar dan tidur dengan lelap. Paginya, dia mendapati dirinya bersimbah darah. Baju penuh darah, sampai mulut yang penuh dengan darah segar.
“Apa yang terjadi padaku? Kepalaku pusing!” Ben meraung kesakitan.
Mamanya yang tengah asyik nonton TV kaget dengan jeritan anak semata wayangnya.
“Nak, kamu kenapa?” Tak ada jawaban. Tatapan Ben hanyalah sorotan kosong. Dia menatap mamanya dengan air liur mencucur.
“Da…daging...daging…daging….”
“Nak, apa yang terjadi?” Mamanya tersungkur ke lantai, berjalan mundur perlahan. Namun sia-sia. Ben menatap mamanya dengan penuh nafsu dan membunuhnya demi melampiaskan rasa laparnya.
Ben kenyang. Mata merahnya berubah lagi. Dia sadar.
Air mata mencucur ketika ia mendapati mamanya dalam keadaan tak bernyawa.
“Pemirsa. Akhir-akhir ini banyak terjadi penyerangan oleh manusia yang mirip vampire. Dia membunuh, bukan hanya meminum darah manusia. Mereka memakan daging sampai tak tersisa. Peneliti tengah mencari sebab musabab dari tragedi ini. Untuk saat ini, berhati-hatilah pada mereka, Monster Monsuta. Pemakan manusia.”
Lenka berdiri ngeri dengan berita yang baru saja dia saksikan.
“Pagi, Ben. Kamu dengar berita tadi pagi? Ih, ngeri banget. Dunia ini mulai tak beres ya.”
Diam. Ben terdiam seribu bahasa. Dia meninggalkan Lenka sendirian.
Beberapa bulan berlalu. Peneliti mulai mendapat pencerahan. Dari sampel yang mereka dapatkan dari Monsuta yang mereka musnahkan, peneliti mendapatkan suatu yang aneh. Partikel asing. Mereka menyimpulkan partikel itu berasal dari meteor yang beberapa waktu lalu melintasi bumi. Para peneliti menyimpulkan partikel tersebut berbaur dengan air hujan, dimana waktu hujan bersamaan dengan waktu meteor melintas.
“Lenka!” Hati Ben berdebar-debar. “aku bukan manusia lagi. Aku adalah bagian dari mereka, Monsuta.” Ben tertunduk mengakui identitasnya. Dia malu.
“Aku tau, Ben. Karena kita sama.”
Ben terkejut.
“Hujan kala itu yang membuat kita berubah seperti ini. Andai hari itu tidak hujan, kita tak akan jadi monster, kan? Ben. Maukah kau bekerjasama denganku? Kita tangkap seluruh Monsuta di kota ini, sebelum kesadaran kita hilang.”
Ben meng-iyakan ide Lenka. Mereka memburu Monsuta di Jakarta.
Para Monsuta tersebar secara tidak merata di berbagai penjuru kota. Ben dan Lenka memulai dari pinggiran kota. Berbekal senapan lengkap, panah, dan pedang, mereka mencari Monsuta dengan mengandalkan insting. Para Monsuta akan merasakan kehadiran yang lain melalui suara detak jantung. Petualangan mereka dimulai dari hujan kematian bulan Desember.