Gubrak!!
Yuvin tak sengaja menyenggol meja di laboratorium milik ayahnya yang berada di ruang bawah tanah.
Tes...
Setetes cairan berwarna hijau pekat tumpah karena goncangan yang terlampau kuat saat kaki Yuvin menyenggol kaki meja tadi.
"Yah, tumpah!" panik Yuvin, berusaha untuk meraih benda bening berbentuk tabung kecil itu.
Namun posisinya tampak tak menguntungkan. Bukannya mencegah benda cair itu agar tak tumpah terlalu banyak, malah kepalanya yang tersiram seluruh cairan hijau yang tersisa.
"Anjir, baunya gak enak," maki Yuvin sambil mengacak-acak rambut agar benda cair berwarna hijau pekat itu lenyap dari kepalanya.
"A-apa yang ... Akh!"
Yuvin memekik saat tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut. Saking peningnya, lelaki yang masih duduk di bangku SMA itu pun sampai tak sadarkan diri.
Hari pun berlalu.
Yuvin mulai menggerakkan kelopak mata saat sinar matahari menyorot langsung ke arah wajahnya.
"Ugh... " lenguhnya sambil memegangi kepala.
Yuvin bangun dengan tatapan kosong. Sontak pandangannya langsung tertuju ke arah jam dinding yang menggantung di ujung ruangan laboratorium, tempatnya tidur semalam.
"Astaga! Jam 7 kurang!! Aku bisa terlambat!"
Bergegas Yuvin mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
"Pa, Ma, Yuvin berangkat," pamit Yuvin yang melewati ruang makan begitu saja.
Namun kedua orang tuanya hanya diam saja. Sibuk dengan ponsel di tangan masing-masing. Yuvin yang sudah biasa dengan hal itu pun tetap melangkah keluar rumah tanpa menunggu jawaban dari keduanya.
"Huh, selalu saja sibuk dengan ponsel. Memangnya lebih berharga siapa? Aku atau ponsel itu?!" Yuvin terus mengomel dengan sikap kedua orang tuanya di sepanjang jalan.
Sementara itu...
"Ma?" tanya Yudha, papa Yuvin.
"Iya, Pa?" Mama Isna balik bertanya, sambil menoleh.
"Yuvin panggil gih, suruh sarapan."
"Baik, Sayang."
Wanita paruh baya itu pun meletakkan ponsel di atas meja, kemudian menaiki tangga untuk menuju kamar anak lelakinya.
Di SMA Pelita Bangsa.
Dugh!
Yuvin yang masih kesal dengan respon kedua orang tuanya tadi, menendang kaleng kosong di dekat kakinya dengan keras. Kini ia sudah ada di halaman sekolah. Untung saja bel masuk kelas belum berbunyi, jadi pak satpam masih mengijinkannya untuk masuk.
Bugh!
Klontang... Klontang...
"Woy, siapa yang lempar kaleng minuman ke punggung gue?! Seragam gue kotor ini!!" sungut seseorang sambil celingukan.
Orang tersebut tak lain adalah kakak kelas Yuvin yang punggungnya menjadi sasaran pendaratan kaleng minuman yang ditendangnya tadi.
"Mampus gue!" Yuvin gelagapan, bingung mencari tempat sembunyi sambil berusaha menutupi wajah dengan sebelah tangannya.
Namun nihil yang ada di sana hanya dirinya. Murid-murid yang lain sudah masuk ke kelas masing-masing. Mengingat 3 menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi.
"Gak ada orang kok, Joe," ujar Zaki, yang berjalan di samping Joe.
"Lah, iya. Di sini cuma ada kita yang dateng terlambat," Joe mengiyakan ucapan Zaki, sambil melihat kanan kiri.
"Jangan-jangan... " Zaki menduga-duga.
"Jangan-jangan apa?"
"Sekolah ini ada hantunya lagi. Hiii... " sahut Zaki, bergidik ngeri.
"Ngawur! Mana ada hantu muncul pagi-pagi begini?" sewot Joe sambil menoyor kepala sahabatnya.
Pketak!
"Santuy kali, Bos," Zaki memegangi kepalanya sambil manyun.
Teettt... Teetttt...
Bel masuk kelas telah berbunyi, membuat semua siswa yang belum berada di dalam kelas segera memasuki kelas mereka masing-masing.
Tak terkecuali tiga siswa yang masih ada di halaman sekolah.
"Huft... Selamat gue. Untung bel-nya keburu bunyi." Yuvin menghela nafas lega.
"Gawat! Bisa kena setrap ini."
Yuvin pun segera berlari menuju kelasnya yang ada di lantai dua.
Namun terkejutnya ia saat sampai di depan kelas.
"Pak Rendra?!" pekiknya terkaget.
"Tumben baru bel sudah masuk kelas aja. Huh, hari ini adalah hari tersial!" dengus Yuvin.
Tok Tok
"Permisi... " sapa Yuvin sambil mengetuk pintu.
Pak Rendra yang sedang mengabsen, menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Yuvin. Dengan dahi mengerut ia membenarkan kaca matanya yang melorot. Lalu kembali menunduk, membaca daftar nama siswa-siswi satu persatu.
Yuvin hanya melongo.
"Sial! Pasti gue gak boleh masuk kelas."
Dug!
Yuvin sempat menendang pintu sebelum pergi dari sana. Seluruh isi kelas terperanjat karena ulahnya. Namun Yuvin tak peduli.
"Pak, pintunya berhantu, ya?" celetuk salah satu murid.
"Paling cuma cicak. Mana ada hantu pagi-pagi begini. Lagian hantunya bakal kabur duluan lihat saingannya berat-berat di kelas ini. Apa lagi kamu, tampangmu seremnya aja sudah melebihi hantu," kelakar Pak Rendra yang disambut gelak tawa seluruh isi kelas.
Yuvin yang masih bisa mendengar tawa dari kelasnya merasa semakin merasa kesal. Langkah kaki membawanya ke kamar mandi, perlu buang hajat.
Syurrr...
Setelah selesai, Yuvin pun mencuci tangan di wastafel yang di depannya terdapat cermin.
Yuvin menengadah ingin mengamati sekusut apa wajahnya hari ini.
"Loh? Mana bayangan gue?!" Yuvin menyentuh cermin di depannya yang tak memantulkan bayangan dirinya sama sekali.
Mungkin cermin itu rusak. Pikirnya.
"Gak mungkin!" Yuvin menggeleng.
Ia melihat lagi dengan seksama, sambil menyentuh wajahnya. Dilihat beberapa kali pun nihil. Dia tetap tidak menemukan bayangannya di cermin.
Kemudian pikirannya mulai melayang, mengingat kejadian di laboratorium ayahnya tadi malam.
"Ah!" pekiknya.
"Apa mungkin cairan hijau yang bau itu adalah ramuan tembus pandang? Penemuan baru yang pernah papa bicarakan dengan rekannya tempo hari..." Yuvin berargumen.
"Wah, kalo bener, pasti ini bakal seru. Hehehe." Senyum miring terukir di wajah Yuvin.
Lelaki itu berjalan dengan angkuh menuju kantin. Ia ingin menguji apakah benar argumennya tadi.
Set!
Yuvin mengambil salah satu snack yang berjajar di meja kantin. Mpok Lila, sang penjaga kantin yang sedang menggoreng bakwan diam saja, sedang fokus memperhatikan wajan.
Set!
Yuvin mengambil 5 bungkus makanan ringan dan satu minuman dingin di dalam kulkas.
Blam!
Mpok Lila terkejut saat pintu kulkas yang tiba-tiba tertutup tanpa ada siapapun di sana. Sedangkan Yuvin sudah berjalan ke halaman belakang sekolah.
Mendudukkan diri di bawah pohon sambil menikmati makanan ringan itu. Setelah tak tersisa, ia pun berniat menguji keadaannya yang tembus pandang sekali lagi.
Yuvin menuju kelas. Langsung masuk dan duduk di bangkunya yang kosong saat pak Rendra sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas.
"Wah, beneran canggih sih, ini. Hahaha." Yuvin merasa bangga pada dirinya sendiri.
Ekor matanya tiba-tiba menangkap sosok gadis imut yang selama ini menjadi tambatan hati. Namun dulu gadis itu pernah menolak pernyataan cintanya. Yuvin mendapat ide jahil.
Didekati gadis yang bernama Cindy itu. Lalu...
Cup!
Yuvin langsung mendaratkan kecupan di pipinya. Yang membuat gadis itu sontak terperanjat dari tempat duduk sambil memegangi pipi.
Suara decitan kursi dan meja mengalihkan atensi pak Rendra yang fokus mengajar.
"Ada apa, Cindy?" tanya pak Rendra menatap Cindy dengan heran.
"A-anu... E-enggak, Pak. Maaf," Cindy menunduk menahan malu. Terlihat pipinya yang memerah.
Hal itu malah membuat Yuvin makin sumringah.
Cup!
Yuvin mengecup bibir Cindy sebelum keluar dari kelas lagi.
"Kyaaaa....!"
Lelaki itu masih sempat mendengar jeritan Cindy sebelum sempat menuruni tangga. Senyum kemenangan tak henti-hentinya luntur dari wajah tampannya.
"Satu lagi. Hal yang paling ingin gue lakuin dari dulu," gumamnya pada diri sendiri.
Yuvin memasuki ruang kelas kakak kelasnya. Dimana Joe sedang mempresentasikan tugasnya di depan kelas.
Yuvin menatap kakak kelas yang sering membully-nya itu dengan tatapan kebencian.
"Kesempatan emas."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Yuvin melangkah mendekati Joe. Setelah itu...
Set!
"Hahahaha... "
Gelak tawa memenuhi ruangan. Bersamaan dengan Joe yang menaikkan celananya yang tiba-tiba melorot sampai mata kaki dengan menahan malu sampai ubun-ubun.
"Hahaha!" Tawa Yuvin yang tak sengaja didengar oleh Joe.