Gadis bermata belo itu duduk di atas tangga kayu seraya mengayun-ayunkan kaki dan bersenandung kecil. Pendangannya sejak tadi mengarah ke satu arah, kemana lagi kalau bukan jalan setapak bewarna merah di depan sana.
Setiap hari, setidaknya sekitar satu jam ia menunggu. Berharap seseorang yang membelenggu hatinya muncul membawa serta janji yang pernah mereka ikat di tepi sungai Batanghari tujuh tahun silam. Sungai terpanjang di Sumatera telah menjadi saksi senja itu sepasang kekasih mengurai janji.
Tak disangka, janji itu bak rantai besi mengingat kuat hati gadis lugu itu. Ia tak akan melanggar, baginya janji sebuah hutang yang tak boleh dilupakan. Demi membayar lunas ia rela mendapat julukan perawan tua, padahal umurnya barulah dua puluh lima tahun. Maklum saja, di kampung umur segitu harusnya sudah menikah dan memiliki dua atau tiga anak.
Sebenarnya jauh di sudut hati terdalam ia menahan sakit tak terperi. Suara sumbang orang-orang kadang menggoyahkan tekad, menggores hati, dan menimbulkan luka.
Seperti kejadian dua hari lalu saat ia tak sengaja melintasi kerumunan ibu-ibu sedang membicarakan sosok yang memenuhi hati dan pikirannya selama ini. Siapa lagi kalau bukan anak orang terkaya di kampung ini.
"Oh, kabarnya Radi sudah jadi Dokter, ya?"
"Iya Sinar. Sudah setahun," jawab salah satu kerabat Radi.
"Alhamdulillah, semoga Radi mengabdi di kampung kita ini," sahut Makcik Sora, tetangga Makwo Sinar.
"Aduh, Sora, jangan kita berharap banyak. Radi sudah mencicipi enaknya hidup di kota mana mau dia balik ke kampung ini. Mungkin dia akan menikahi salah satu dari gadis kota itu lalu menetap di sana." Kerabat Radi, Makwo Sinar dan Bibi Sora serempak tertawa. Mereka tak menyadari baru saja ada hati yang patah.
Nabila tergesa menuju rumah panggungnya. Dengan mata basah gegas ia masuk kamar.
Ditekannya kuat-kuat tempat bersarang hatinya itu. Berharap dengan melakukan itu rasa sakitnya sedikit berkurang. Oh, alangkah menyedihkan perkara patah hati. Sebongkah daging di dalam sana terluka, hanya saja tak berdarah.
Nabila bukannya tak laku. Kalau diingat-ingat, tak terhitung jari pemuda menggilainya. Dari kampung sini sampai kampung seberang. Beberapa kali lamaran pemuda yang datang ia tolak secara halus. Jangan sebut ia pemilih. Sebenarnya wajar bila ia melakukan itu. Nabila di kampung ini adalah simbol kecantikan. Selain memiliki paras ayu, baik pula budi pekertinya. Sifatnya yang paling menonjol, ia amat setia memegang janji. Pantang baginya berkhianat sekalipun akan dilemparkan ke dalam api berkobar.
"Nabila!"
Suara Atun membuat dara cantik itu munyusut cairan bening di sudut matanya. Nabila tak ingin membuat hati emak risau, terlebih dengan statusnya saat ini. Bila melihatnya bersedih, bertambah-tambahlah duka wanita tua itu. Mendengar guncingan tetangga saja Atun hampir tak sanggup lagi. Nabila tak ingin menjadi anak durhaka dengan terus-terusan membuat hati emak lara.
Bila bukan karena janji pemuda berkulit seputih susu itu, tak sudi kiranya Nabila tetap melanjang hingga hari ini.
"Ada apa, Mak?" sahut Nabila sambil menuruni tangga.
"Kemarilah, Nak." Atun melambaikan tangan seraya membenarkan kain tengkuluk di kepalanya.
Nabila patuh. Ia mendekati wanita tua itu. Berdua mereka duduk di bawah pohon mangga beralaskan tikar rumbia.
"Tadi Emak dengar Wak Sinar ngomong Radi baru saja tiba." Atun beralih dari tangannya yang sibuk membersihkan umbut rotan, menatap wajah Nabila.
Air muka Nabila berubah cerah bak mentari pagi. Wajahnya berbinar seakan kebahagiaan itu tepat di depan mata.
Atun mengunyah sirih perlahan, lalu mengeluarkan air semerah darah dari mulutnya.
Dalam hati wanita tua itu tak tega melanjutkan kata-katanya. Ia khawatir pucuk-pucuk di hati Nabila layu seketika. Meskipun pada akhirnya Nabila pasti tahu.
"Mak, benarkah itu?" tanya Nabila menggoyangkan lengan emaknya.
"Iya. Radi pulang tapi .... "
"Aku akan ke rumahnya sekarang, Mak," potong Nabila cepat sembari merapikan gelungan rambut dan selendangnya.
Nabila berjalan cepat, sesekali berlari kecil menapaki jalan tanah becek selepas hujan semalam. Roknya terciprat lumpur tak ia pedulikan. Saat ini ia hanya ingin secepatnya bertemu Radi, lalu menagih janji pemuda itu yang memintanya menunggu.
Begitu melihat rumah bercat ungu dengan pagar besi mengelilingi serta hamparan rumput jepang di halaman nan luas itu membuat langkah Nabila terhenti. Ia mengatur napas yang terengah-engah sambil merapikan kembali gelungan rambutnya. Menyadari penampilannya biasa saja, baru ia menyesal. Harusnya tadi ia dandan dulu. Nabila merutuki tindakannya yang tergesa-gesa dan tak sabaran itu.
Semakin dekat langkah menuju rumah tempat kekasihnya berada, semakin kuat pula debaran di dada. Seakan sesuatu hendak melompat keluar. Andai tak malu, Nabila pasti sudah meneriakan nama dokter muda itu. Namun, Nabila bukanlah gadis bar-bar. Meski ia tak bersekolah tinggi, akan tetapi ia tahu tatakrama. Ia ingin merasa pantas bersanding dengan Radi.
Mata Nabila membola, tanpa sadar sesaat ia menahan napas kala sosok yang begitu dirindukan muncul dari balik pintu. Tujuh tahun tak bersua sudah banyak berubah dari pujaan hatinya. Tubuh Radi terlihat lebih berisi dari terakhir mereka bertemu. Wajah pemuda itu juga bersih dengan kumis tipis membuat Radi tampak dewasa.
"Bang, saya sudah siap." Tak lama setelah Radi keluar, menyusul perempuan cantik mengenakan gamis dan kerudung warna biru laut.
Nabila hampir saja tersungkur ke tanah ketika melihat Radi meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Benaknya dipenuhi tanda tanya. Siapa gerangan perempuan itu? Mungkinkah benar omongan orang-orang bahwa Radi sudah menikahi gadis kota. Bila iya adanya, lalu bagaimana dengan dirinya?
Nabila berbalik arah. Tak kuasa hanya sekadar menyapa. Semangat yang tadi menggebu tercabut paksa. Luruh bersama serpihan hatinya. Bila ia tahu akan berakhir kecewa, kiranya lebih baik Radi tak mengucapkan janji setia. Mungkin saat itu sebaiknya ia dan Radi berpisah saja. Untuk apa janji diucapkan bila pada akhirnya tiada menepati.
Tujuh tahun bukanlah waktu sebentar. Banyak hari sudah ia habiskan merajut harapan akan indahnya hidup bersama. Nabila salah mengira, ternyata janji yang diucapkan Radi senja itu tak berarti apa-apa. Lain akan halnya dia. Sebab janji itu, banyak waktu terbuang sia-sia.
Nabila melewati warung Makwo Sinar. Ia sengaja memperlambat langkah mencuri dengar obrolan ibu-ibu yang sedang mengupas pinang.
"Datang, ya, malam ini ke rumah si Siti, ada acara selamatan," ujar Makwo Sinar.
"Acara apa, Sinar?" tanya Makcik Laila.
"Aish, kau ne, ngga tau apa si Radi baru menikah. Jadi selamatan itulah," jawab Makwo Sinar. Wanita bertubuh gempal itu sesaat melirik Nabila, lalu tersenyum mengejek.
Nabila meneguhkan hati dan meneruskan langkah menuju rumahnya. Ia abaikan omongan ibu-ibu tadi. Sesampai di kamar ia tumpahkan segala kesedihan yang menggerogoti perasaannya. Bila tak malu pada tetangga ingin rasanya ia meraung. Impian membina rumah tangga bersama Radi kandas sudah.
"Aku yang salah," lirihnya. Ia meraup wajah dengan kedua tangan. Baginya dirinya yang berharap terlalu banyak. Cinta sebesar itu memang tak layak ia sematkan kepada lelaki yang belum tentu menjadi suaminya. Nabila kian tergugu menyadari kekeliruannya. Masa penantian tujuh tahun hanya menuai kegagalan.
Dirasa lelah menangis. Nabila pergi menuju sumur membersihkan diri. Malam ini ia akan memberikan Radi balasan setimpal. Penyesalan. Ya, ia ingin sepanjang hidup Radi merasakan penyesalan sebab janjinya telah membunuh Nabila secara perlahan.
Selesai membersihkan diri Nabila mengambil baju dan selendang paling bagus yang ia punya. Selanjutnya ia memoles wajah, hal yang jarang dilakukan. Aura kecantikan kian memancar. Tak salah lagi bila ia disebut kembang desa. Melihat pantulan dirinya dicermin ia bergumam.
"Maafkan Nabila, Mak."
Di bawah sinar rembulan ia menyusuri malam seorang diri. Sesekali embusan angin memainkan ujung selendangnya. Dengan langkah pasti Nabila tiba di tepi sungai Batanghari. Ia memperhatikan cahaya bulan menimpa permukaan air. Sekarang sedang musim hujan. Hampir setiap hari rahmat Allah itu turun mengguyur bumi menyebabkan air sungai Batang Hari naik. Pun, warnanya jadi lebih keruh.
Nabila mendekati bibir sungai. Sejurus ia tersenyum pada sang rembulan yang setia ditemani bintang-bintang. Seperti pasangan sejati tak terpisahkan.
Nabila memejamkan mata.
"Maaf meninggalkan Emak dengan cara seperti ini," gumamnya yang langsung terbawa angin.
Di tempat ini mereka pernah mengikat janji, di sini pula Nabila ingin mengakhiri. Rupanya, ia lebih memilih membawa janji itu tenggelam bersamanya.
Bersambung📽
Berng masih muda.