Sudah sejam aku mengayuh sepeda memutari kampung ini, tapi belum ada tanda-tanda akan ketemu alamat yang kucari. Bolak-balik kubaca lagi alamat yang tertera, aku yakin benar di daerah sini alamatnya. Kampung Dadakan, jalan Marmut, nomor delapan.
Aku menatap ke langit, sampai kujadikan telepak tanganku sebagai pelindung saking teriknya. Aku yakin ini hampir masuk waktu Duhur.
Sepeda kutuntun ke pinggir sebuah kebun. Di mana di sana berdiri pohon rambutan yang berdaun rindang. Kusandarkan sepeda tuaku di sana, lalu duduk. Tak ada yang bisa kumakan, meski cacingku meronta. Kuabaikan saja. Cacing-cacing itu sudah hebat, sudah terbiasa.
Bajuku basah karena keringat mengalir deras. Tidak heran jika bajuku banyak titik-titik hitamnya di bagian punggung. Itu pasti sisa-sisa endapan keringat itu.
Kuselonjorkan kaki, terlihat di sana sandal usangku. Bagian alasnya masih kuat sebenarnya, tapi selempangnya nyaris pisah. Aku sudah berencana akan menyambungnya dengan cara membakar sedikit dengan korek. Begitu meleleh akan kusatukan dan kutekan kuat-kuat. Tadi buru-buru, sampai lupa dengan niat itu.
Bagaimana kalau nanti beneran putus? Sepertinya bakal repot pulangnya. Aku akan memakainya hati-hati, supaya kalau putus, setidaknya saat sudah kembali ke rumah.
,
Sudah lumayan lama aku duduk. Tidak paham berapa lama, tapi keringatku memang sudah kering. Aku harus bergegas, harus segera kutemukan alamat itu secepatnya.
Baru hendak berdiri, seorang pria paruh baya lewat dengan gerobak yang sarat muatan. Gerobak itu berisi berbagai macam rongsokan. Aku segera mendekat padanya.
"Maaf, Pak. Tau alamat ini?" Kusodorkan sebuah KTP pada pria itu.
Pria itu memperhatikan nama, foto, juga alamat yang tertera di sana.
"Di situ." Pria itu menunjuk pada sebuah ruas jalan. Mataku seketika berbinar, sepertinya aku telah menemukan titik terang.
"Tadi saya sudah ke situ padahal. Tidak ada nama jalannya."
"Dulu ada, plangnya roboh ketabrak mobil. Sampe sekarang belum dibuatkan lagi."
,
Aku berdiri di depan sebuah rumah. Rumah yang paling bagus di antara rumah-rumah sebelahnya. Rumah tinggi dua lantai dengan pohon palem di depannya.
Sudah sekitar sepuluh menit aku di sini. Rasanya gamang setelah kudengar salak anjing yang membuat nyaliku ciut. Aku pernah punya pengalaman buruk dengan anjing. Binatang itu pernah menggigit sandalku. Sandal itu rusak parah, hingga aku tidak bisa lagi memperbaikinya.
Namun, mengingat perjalananku yang panjang. Sejak dari rumah, hingga sejam sudah berkeliling kampung ini. Tentu aku tidak mau berakhir sia-sia hanya karena seekor anjing.
Kupencet bel seraya melirik dari lubang pintu besi. Barangkali akan ada seseorang yang keluar dan membukakan pintu. Hasilnya nihil. Aku memberi jeda hingga beberapa menit, lalu kembali memencet bel itu. Masih nihil.
Lelah, aku duduk di dekat bak sampah. Membayangkan sedang apa si tuan rumah di dalam sana, sampai tidak bisa membukakan pintu untuk tamu.
Tak berselang lama seorang perempuan muncul dari balik pintu besi itu. Dia menoleh kanan kiri sampai akhirnya menemukanku. Pandangannya memindaiku, seperti memeriksa dengan sinar tembus pandang.
"Bapak yang tadi memencet bel?" tanyanya.
"Benar." Aku berdiri dan mendekat.
"Ada perlu apa?"
Aku segera membuka dompet dan membaca sebuah nama pada selembar KTP.
"Saya mau mencari Bapak Guna Darma."
"Bapak siapa?"
"Saya Sarkum. Saya cuma mau mengembalikan dompet yang saya temukan."
Perempuan itu seperti berpikir. "Baiklah, silakan masuk."
Aku mengikuti perempuan itu. Sepedaku kutinggal di pinggir jalan. Tentu saja aman, maling seperti apa yang akan mencuri sepeda tua. Bahkan penampilannya saja tampak seperti rongsokan.
"Duduk, Pak. Saya akan panggilkan Tuan." Perempuan itu pergi.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu datang lagi dengan seorang pria gagah yang klimis.
"Ini tamunya, Tuan," kata perempuan itu pada pria gagah tersebut.
Aku segera berdiri dan mengangguk hormat. Tak lupa juga tersenyum.
"Silahkan duduk, Pak."
Aku kembali duduk, bersiap-siap. Sebentar lagi pasti akan ada rentetan pertanyaan.
"Ada perlu apa, Bapak mencari saya?" tanya pria gagah itu.
Kukeluarkan sebuah dompet dari kantong plastik. Aku ingat sekali, itu kantong plastik bekas pembungkus mie instan kemarin sore.
"Ini, Pak." Kusodorkan isi bungkusan plastik itu.
Pria gagah itu membukanya. Detik berikutnya, wajahnya tampak senang. Terlihat dari senyum yang terkembang dan wajah yang berseri.
"Bagaimana ini bisa ada sama bapak?"
"Saya menemukannya di tong sampah pasar, saya kerja jadi tukang sapu di sana. Tapi maaf, tidak ada uangnya sama sekali. Hanya KTP dan entah apa lagi itu."
Pria gagah itu memeriksa isi dompetnya. Seolah memastikan tidak ada benda yang hilang. Tentunya selain uang.
"Ya, ada beberapa kartu ATM dan STNK mobil."
"Barangkali kartu-kartu itu masih berharga, maka saya antarkan kepada Bapak."
"Ya, ya, tentu saja ini sangat berharga. Uang yang hilang tidak seberapa. Masih lebih banyak yang di dalam kartu ini. Sebenarnya saya sudah membuat laporan kehilangan. Tapi kalo ketemu, ya, saya senang sekali."
"Kalo begitu, saya permisi, Pak. Tadi pamitnya cuma sebentar sama keluarga."
"Bapak tinggal di mana?"
"Saya tinggal di kampung Pencil."
"Lumayan jauh, saya ambil kunci dulu. Biar bapak saya antarkan."
"Tidak usah, Pak. Saya bawa sepeda. Kalo diantarkan malah bingung itu sepedanya gimana."
"Oh, gitu."
Pria gagah itu kemudian merogoh saku celananya.
"Ini diterima, ya, Pak. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah menolong saya." Pria gagah itu meletakkan lipatan uang di telapak tanganku.
Aku terdiam, terasa ada sesuatu yang salah di hati.
,
Di bawah pohon rambutan, kuhitung uang pemberian pria gagah tadi dengan teliti. Kukibas-kibaskan uang itu supaya tidak ada yang menempel. Tiga ratus ribu, jumlah yang sebanding dengan jauhnya alamat itu.
Setelah menyimpan uang itu ke dalam saku, aku kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini aku akan mampir di warung sembako Pak Jamil. Akan kubelanjakan uang itu di sana. Kebetulan, beras, minyak dan teman-temannya sudah hampir habis.
,
Aku meletakkan kantong belanjaan di atas meja. Tampak Mujib putraku baru bangun tidur. Ia menguap dan mengucek-ucek matanya.
"Dapet, Pak?" tanyanya.
"Dapet."
"Berapa?"
"Tiga ratus rebu. Tadi sempet mau putus asa, ternyata plang nama jalannya roboh. Untung ketemu orang."
"Bagus, lah. Lain kali aku akan nyopet yang lebih jauh lagi. Biar Bapak bisa sekalian jalan-jalan."
"Isi dompet itu ada berapa?" Mendadak aku ingin tahu.
"Cuma sejuta doang. Uangnya udah kukasih Bu Samsul. Udah kubayar bulan lalu sekalian bulan ini."
"Oh." Lega, kontrakan ini sudah terbayar. Bu Samsul pasti berhenti menggedor pintu kontrakan ini dengan gagang sapu. Entah bulan depan.
Aku menuju dapur untuk mencari korek api. Akan segera kureparasi sandalku, tadi putus saat perjalanan pulang.
Bersambung📽
cerpen lain di kbmapp ya