"Andai aku bisa tembus pandang dan tak terlihat, mungkin aku bisa melihat apa yang terjadi malam itu," batin Wasabi seraya mengepalkan tangannya.
Dia sedikit menyesali apa yang dia lihat sebelum Aiko menjadi korban pembunuhan. Aiko dibawa ke sebuah ruangan ketika semua orang sudah pulang meninggalkan kelas malamnya.
Wasabi adalah detective muda yang berhasil mengungkap beberapa kejadian misteri di kampusnya. Perampokan, pembunuhan dan penggelapan uang. Dan kini dia sedang dihadapkan kasus pembunuhan yang korbannya adalah Aiko, temannya di kampus.
.
.
.
Di ruangan Presdir kampus.
Wasabi meminta Presdir kampusnya untuk memanggil beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ia curigai malam itu.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kalian membawa masuk Aiko ke dalam kelas tari. Aku yakin tewasnya Aiko ada hubungannya dengan kalian," ucap Wasabi kepada dua laki-laki dan satu wanita yang sedang duduk di depannya.
"Heh Wasabi sushi kalau tidak tahu jangan asal ngomong!" Hardik Han, laki-laki yang Wasabi lihat malam itu, dia merangkul Aiko menuju ruang senam
"Begini ya Mister Wasabi, kami memang ke ruang tari dengan Aiko malam itu setelah pelajaran tari selesai," ucap Ryn seorang wanita yang ditunjuk sebagai ketua tim tari di grup mereka.
"Ya benar kami berlatih hingga malam karena kami sebentar lagi ada pentas jadi kami berlatih terus dan terus. Kami pulang sebelum tengah malam," ungkap Alex dengan lantang
Wasabi mengamati sikap ketiga orang didepannya seraya membaca kebohongan dari raut wajah atau cara bicara semuanya.
"Wasabi, saat kami masuk ke ruangan itu. Apakah saat itu kau lihat Aiko sedang berontak atau ada sikapnya yang terlihat ketakutan? Hah jawab! Tidak kan?" ucap Ryn
"Tidak, aku memang tidak melihat adanya keterpaksaan. Tapi...
"Hemm aku rasa kau hanya buang-buang waktu kami. Lebih baik kau selidiki lebih dahulu dan temukan bukti. Permisi pak Predir saya undur diri. Saya ada pelajaran di kelas lain yang lebih PENTING dari tanya jawab omong kosong ini," ucap Han seraya beranjak dari duduknya dan diikuti teman lainnya.
"Baiklah lebih baik kalian mengikuti kelas dahulu," ucap Presdir kepada tiga orang mahasiswa dan mahasiswinya.
"Wasabi, soal kasus ini aku rasa biarlah kepolisian yang mencari tahu. Jika kau ingin membantu silahkan tetapi temukan dulu bukti yang ada," ucap Presdir
"Baiklah aku akan temukan bukti itu segera meskipun cctv tidak dapat merekam aksi mereka,"
.
.
.
Wasabi duduk di meja perpustakaan kampus seraya mengamati beberapa foto Aiko yang dipotret sebelum jasadnya diangkat.
Siang itu dia telah menyelesaikan kelas dan dia mengisi kekosongan waktu dengan menyelidiki sebuah kasus kematian.
Saat Aiko ditemukan, dia berada di ruangan kelas tari dan terkunci. Darah kental berwarna merah yang menghiasi lantai telah sedikit mengering.
Terdapat luka tusukan yang robek menganga besar. Tidak ditemukan sidik jari pelaku. Sementara saat itu CCTV yang ada di depan ruang tari sedang dalam perbaikan, sehingga tidak ada jejak yang memberatkan ketiga orang yang dicurigai Wasabi.
Saat mengamati sebuah foto, Wasabi mendekatkan matanya, segera ia mengambil kaca pembesar untuk memperbesar sesuatu yang menarik perhatiannya. Wasabi menemukan sebuah manik payet kecil berwarna silver di dekat tempat Aiko terbaring tewas.
Payet tersebut akan bersinar jika terkena cahaya lampu atau sinar dan seingat Wasabi ada dua orang yang saat itu memakai pakaian berpayet. Yaitu Han dan Alex.
"Kemungkinan Han dan Alex pelakunya. Saat itu mereka memakai rompi yang berpayet, rompi untuk event tari mereka," ucap Wasabi sedikit berpikir
"Jika Han tersangka pembunuhan itu, motif pembunuhan ini bisa saja karena Aiko menolak cintanya, lalu apa motif Alex," gumam Wasabi yang berpikir sendiri
"Arghhh andai aku bisa tembus pandang. Mungkin bisa saja penyelidikan ku jauh lebih mudah," gumam Wasabi sedikit kesal.
Tak berapa lama langit yang cerah berubah menjadi gelap. Kemudian ada cahaya kilat yang menyambar dan disusul dengan suara menggelegar.
Duor
Wasabi terkejut hingga dia sedikit tersentak. Setelah itu dia mengelus dada dan kembali mengamati foto. Dia masih memegang sebuah foto dan mengamatinya dengan kaca pembesar
"Eh lihat kaca pembesar itu melayang," beberapa mahasiswi saling berbisik dengan apa yang mereka lihat dari kejauhan.
"Melayang," pikir Wasabi seraya melihat dirinya sendiri
"Hah...Aku...aku tembus pandang?" batinnya sedikit senang tapi juga bingung..
Segera saja Wasabi beranjak dari duduknya dan bersembunyi di lorong rak-rak yang sepi. Setelah itu wujudnya muncul kembali
"Haha, apakah aku benar-benar bisa tembus pandang?" gumam Wasabi dan mulai menghilangkan wujudnya menjadi tak kasat mata. Dia begitu senang dengan apa yang diharapkannya terkabulkan.
.
.
.
Wasabi memakai kekuatan barunya, kekuatan tembus pandang dan dia mulai menyelidiki kasus pembunuhan itu dimulai dari Han lalu Alex dan kemudian Ryn.
Dikamar Han banyak sekali baju yang berserakan di kamarnya. Dan Wasabi menemukan sebuah foto Aiko yang dirobek kemudian disatukan kembali yang terpajang di meja belajar Han
"Ini foto Aiko dan Han. Aiko memakai cincin yang sama dengan Han hemm rupanya mereka pasangan dan bisa saja mereka terlibat pertengkaran dan berakhir dengan pembunuhan. Hanya tebakan aku pun tidak yakin," batin Wasabi.
Setelah dari rumah Han, Wasabi pergi ke tempat kost milik Alex.
"Tidak ada apapun yang kudapat. Ok selanjutnya rumah Ryn.
Sesampainya di rumah Ryn yang besar dan mewah bak istana. Wasabi masuk ke kamar Ryn yang bernuansa pink. Jelas terlihat dari rumahnya yang besar dan tingkah Ryn yang sedikit angkuh.
"Aku sudah lelah, sebaiknya besok aku kembali lagi kemari," ucap Wasabi berniat meninggalkan kamar Ryn. Namun sesuatu menarik perhatiannya dari meja belajar milih Ryn. Wasabi kemudian tersenyum setelah menemukan jawabannya.
Sebuah bandana dengan payet-payet kecil berwarna silver. Tak berapa lama Ryn datang ke kamarnya lalu berganti pakaian. Dia tidak tahu jika Wasabi ada didalam kamarnya.
"Astaga dia ingin berganti pakaian," ucap Wasabi yang kemudian berbalik membelakangi Ryn.
Kemudian wanita itu duduk didepan meja rias sambil membersihkan wajahnya. Wasabi masih disana. Dia ingin keluar tetapi tidak mungkin karena jika dia keluar maka pintu itu akan terbuka lebar dan membuat kecurigaan Ryn. Wasabi pun menunggu Ryn hingga wanita itu pergi tidur
Ryn telah berganti pakaian dengan kaos tanpa lengan. Wasabi menemukan bukti baru yang membuatnya yakin.
.
.
.
Keesokannya kembali ke ruangan Presdir, Wasabi mengumpulkan tiga orang kemarin yang terlihat bersama Aiko sebelum kematiannya.
"Langsung aja deh tidak usah berbelit," pinta Alex
"Silahkan Wasabi," perintah Presdir kampus.
"Awalnya aku mengira Han dan Alex pelakunya, rupanya pelaku pembunuhan itu adalah seorang wanita," ungkap Wasabi
"Wanita?" ucap Alex dan Han bersamaan kemudian mereka menatap Ryn
"Maksudmu Ryn? Aku yakin dia tidak seperti itu," ucap Han
"Ya, pelaku pembunuhan itu adalah Ryn, dia cemburu karena kau dan Aiko berpacaran? Benar kan dugaanku Nona Ryn,"
"Ck semua orang juga tahu jika Aku menyukai Han, dan dugaanmu itu tidak bisa dijadikan alasan tanpa bukti kongkrit," desis Ryn dengan senyumnya merasa menang. Dia bersikap sangat tenang.
"Bukti? Dia memakai sebuah kalung dengan bandul cincin. Yaitu cincin yang sama dengan cincin yang dipakai Han. Bagaimana cincin pasangan itu ada ditangan Ryn. Aku tebak Aiko dan Han baru saja menjalin hubungan, lalu apakah Aiko akan menyerahkan cincin itu ke tangan Ryn?"
"Ya benar aku memakai kalung yang berbandul cincin dan Itu cincin yang berbeda," ucap Ryn
Han mulai mengerutkan keningnya dan meminta Ryn untuk memperlihatkan cincin itu padanya. Tanpa ragu Ryn menyerahkan cincin itu ke tangan Han. Karena ia pikir tidak ada nama yang terukir di cincin itu jadi semua orang berhak memiliki.
Setelah cincin itu si berada di genggaman Han, pria itu segera berlari mengambil air panas yang terletak di sudut ruang Presdir. Kemudian Han memasukkan cincin tersebut ke dalam air. Beberapa saat kemudian ia menggenang kan air mata. Tiba-tiba tubuhnya menggigil dan membutuhkan kehangatan.
"Ryn... aku tidak menyangka kau melakukan ini," ucap Han menatap tajam kearah Ryn
"Han aku tidak mengambil cincin Aiko, itu cincin lain yang-" ucapan Ryn terhenti karena Han menyelanya
"Ini cincin yang sama yang kuberikan untuk Aiko dan tidak ada yang bisa menyerupainya karena aku memesannya khusus. Ukiran nama itu akan terlihat disaat cincin menerima suhu panas. Lihat!...cincin ini memiliki nama dan itu Aiko!" ucap Han dengan kesalnya.
"Aku....aku...," Ryn mulai bingung
"Mau beralibi apa lagi kau!" Hardik Han
"Astaga bagaimana ini tamat sudah riwayat ku ," batin Ryn
Wasabi sedikit lega karena kekuatan tembus pandangnya, dia dapat mengungkap pelaku kejahatan.
Beberapa menit kemudian petugas kepolisian menangkap Ryn dan berterima kasih kepada Wasabi.
"Wasabi terimakasih atas usahamu dalam melakukan penyelidikan. Untuk kedepannya saya mengharapkan kerja sama yang baik. Jika berkenan bergabunglah dengan kami sebagai detective muda," ucap Inspektur Hendra
"Sama-sama inspektur, suatu kehormatan mendapatkan gelar detective. Saya bersedia bergabung dengan tim kepolisian sebagai seorang detective," ucap Wasabi dengan senyum menawan.