Heyo! Sapaan yang sudah sangat lama tidak ku gunakan. Bangun di jam segini, bahkan mengetik sebenarnya sama saja minta diomelin. Tapi, sebuah rasa tenang dan nyaman..emang gak memandang waktu dan situasi kan?
Roda kehidupan memang terus berputar, tapi kita tak tau seberapa cepat roda itu berputar atau seberapa besar roda itu sebenarnya.
Roda kehidupan terus berputar, berputar yang secara logika harusnya stabil dan merata, tapi yang dirasakan justru sebaliknya. Merasa penderitaan berjalan lebih lama dan kebahagiaan hanya berjalan sesaat dan itupun dalam kurun waktu yang sangat lama.
Apa alasannya, sampai sekarang aku sendiri juga belum tau.
Terkadang kita memang melupakan masa lalu, melupakan semua rasa sakit dan penderitaan bahkan pengkhianatan dan kekecewaan yang kita rasakan di masa lalu.
Tapi sebenarnya, masa lalu tak seburuk itu kok. Menurutku, karena aku sudah berulang kali tersadarkan oleh masa lalu.
Semua hal dilakukan didasarkan oleh sebuah alasan. Hal yang ku yakini, sampai saat ini. Tapi sayangnya, aku masih belum bisa menempatkannya..ah gak. Bukan menempatkan. Me.............nyesuaikan? Melakukan? Mengedepankan? Ah intinya itu. Pada diriku sendiri.
Aku tak tau banyak hal bahkan tentang diriku sendiri. Jadi saat aku tau mengenai diriku, itu karena orang lain yang mengatakannya padaku. Aku memang tau beberapa, beberapa mengenai apa yang ku lakukan dan alasannya walau itu dalam arti negatif.
Selain itu, tidak.
Mungkin aku tau, mungkin aku sadar, tapi diriku menolak atau enggan untuk mengetahuinya. Entahlah kenapa.
Salah satu isi jurnal ku, Jurnal yang ku tulis mungkin tahun lalu. Mengingat tak terdapat tanggal di situ. "Sampai kapan kalian akan diam dan mempertahankanku?" Pertanyaan yang entah kenapa begitu sesuai.
Aku yang menulis jurnal itu sendiri, dan aku juga yang baru memahami apa arti dari kalimat itu belum lama ini. Aneh kan? Perasaan yang menyadari, tapi pikiran menolak untuk mengerti.
"Diam" Diam akan semua perilaku dan sikapku. "Mempertahankan" Tak muak atau pergi meninggalkanku.
Terkadang saat drop atau tenggelam memang kita tak bisa berpikir dengan tenang, tapi rasanya yang terjadi padaku justru sebaliknya. Aku sadar mengenai sikap buruk ku pada saat aku tenggelam.
Sok tau, egois, hanya menginginkan perhatian, bahkan sampai memanfaatkan. Dan aku tak menyadarinya.
Tak pernah ku pikirkan, bahkan tak pernah ku rencanakan. Terjadi begitu saja sampai aku heran kenapa kalian tetap bersamaku walau tau sikapku seperti gitu.
Awal aku ingin mengetik, karena aku teringat akan suatu situasi dimana kalian begitu mempertahankanku. Walau kini, itu berbalik menamparku. Begitu hina nya aku begitu mengharapkan perhatian dan kasih sayang tanpa membalasnya sedikitpun. Bahkan justru membalasnya dengan rasa sakit dan penderitaan.
Hina, busuk, tak berguna.
Semua perkataan yang begitu mempertahankan diriku, aku bahagia karenanya. Bahagia, entah dalam arti hina dimana aku begitu menginginkan perhatian, atau dalam arti dimana aku...benar benar terharu dan senang karena ada yang tulus pada ku.
Banyak hal terjadi belakangan ini, dan jujur saja aku sudah banyak menghancurkan. Menghancurkan, tapi seakan lari begitu saja dan mengundur nya.
"Aku ingin minta maaf secara langsung, tapi aku gak pernah bertemu dengannya." Padahal aku bisa minta maaf lewat chat atau surat.
"Belum saatnya." Lalu kapan saat yang tepat? Darimana kau akan mengetahuinya?
"Aku masih lelah. Aku sudah berjanji tak akan memaksakan diri." Kalau begitu kapan kau akan memulainya?
"Semuanya membenciku." Kau yang membenci dirimu sendiri dan mengambil keputusan itu sendiri.
Apa kalian membenciku, aku tak mengetahuinya. Kenapa kalian mempertahankanku, aku juga tak mengetahuinya. Sudah ku tanyakan pada beberapa orang, dan malah omelan yang ku dapatkan. Omelan, bahkan tangisan.
Aku tak tau banyak soal diriku sendiri, bahkan aku tak tau apa alasan aku bilang jika aku tertekan atau dihina. Sungguh, aku tak tau alasannya. Karena aku hanya mengatakan apa yang menurutku memang harus ku katakan.
Entah itu berarti tulus, bodoh, atau tak bisa mengontrol diri. Entahlah. Hal yang ku yakini, dan telah ku pahami. Aku ingin bersama cahayaku. Cahayaku, orang orang yang berarti bagiku.
Perlu kah ku sebutkan? Walau jujur aku takut akan ada yang marah nantinya (padahal dah jelas bakal dimarahin).
Aku ingin mewujudkan semua impian itu. Semua impian, mimpi, keinginan, semua rencana yang sudah kita buat bersama. Semua masa depan yang sudah kita lihat dan yakini akan terjadi. Aku ingin membuat semua itu menjadi nyata.
Bersama kalian, baik dengan kondisi dimana aku masih bisa bersama kalian di dunia ini, atau di dunia yang berbeda sekalipun. Tak ku pakai kata "mati", karena aku tau kalian akan marah. Tak ku pakai kata "benci", karena aku tau kalian juga akan marah atau mungkin menangis saat membacanya.
Karena jujur, aku takut kalian membenciku.
Jika memperbaiki berarti merubah, maka aku tak pernah memperbaiki. Tapi jika memperbaiki berarti menyadari dan berusaha untuk menghentikan atau jadi lebih baik, maka itu yang ku lakukan.
Kenapa tak berubah? Karena aku sudah berjanji untuk tak berubah.
Janji, kata yang sangat familiar dan sering digunakan. Dan jujur, aku sudah melanggar begitu banyak janji. Benar kan? Aku tak akan menyangkalnya kok.
Hal yang sudah terjadi memang tak bisa di ubah mau apapun yang dilakukan. Setidaknya...boleh kah aku berusaha untuk tak mengulanginya lagi?
Aku tak tau apa kalian masih mau menerima ku, tapi aku akan berusaha setidaknya..membuktikan jika aku layak bersama kalian. Membalas semua perhatian dan kasih sayang yang kalian berikan. Bukan dalam arti membalas untuk pergi, tapi membalas karena kalian juga berhak merasakan nya.
Aku rindu melihat senyuman dan tawa kalian lagi! Senyuman dan tawa yang sebenarnya, senyuman dan tawa di hati kalian. Bukan senyuman dan tawa yang kalian gunakan untuk memendam. Kalian dan aku tepatnya.
Terlalu terburu-buru memang hal yang tidak baik, tapi terlalu membuang waktu juga tak baik. Dan memaksa untuk terus maju juga tak dapat diartikan baik kan?
Maka dari itu, akan sedikit berbeda dengan aku yang sudah kalian kenal. Tapi, aku akan kembali perlahan. Kembali bangkit dan berjuang, membantu kalian untuk menghadapinya lagi.
Jadi persiapan kapasitas hp kalian karena saya kalo dah kumat tuh keterlaluan.
Akhir kata, apa kalian membenciku? Apa..membenci diri sendiri adalah hal yang memang wajar dan boleh dilakukan?
Boleh aku tetap bersama kalian?