"Setiap aku melihatmu, aku sulit menerima kenyataan jika kamu bukan milik ku".
Pahit bukan, jika mencintai seseorang yang telah di miliki orang lain. Itu jugalah yang di rasakan Jiso, dia hanya bisa memendam perasaan yang dia miliki kepada Nara istri dari sahabatnya sendiri yaitu Yonbin.
Pagi itu Jiso datang ke rumah Yonbin, mereka berencana untuk pergi bersama ke sebuah acara.
"Aku benci senyum itu", gerutu nya dalam hati
"bagaimana kabarmu? sepertinya kamu masih betah melajang ya? hihi.."celetuk Nara saat menyambut Jiso datang kerumahnya.
"Dasar tidak tahu diri, apa kamu tidak merasa sudah mencuri hatiku lalu bagaimana aku bisa memberi hatiku kepada orang lain", Jiso mengoceh dalam hati sambil tersenyum menanggapi perkataan Nara.
"Duduklah, aku akan memanggil dia", Nara bergegas pergi memanggil Yonbin suaminya.
"Tolong jangan pergi, aku tidak butuh pria laknat itu, tolong dengarkan hatiku", lagi-lagi dia hanya bisa mengoceh di dalam hati, raut wajah Jiso seperti tidak rela melihat Nara pergi meninggalkan nya di ruangan itu sendirian.
Tidak lama setelah itu Yonbin menghampirinya di ruang tamu.
"Kau sudah lama menungguku?", sambil merangkul pundak sahabatnya Yonbin tersenyum lebar.
"Tidak aku baru saja datang"
Nara pun tidak lama setelah itu keluar dengan mengenakan pakaian yang berbeda sepertinya dia juga akan pergi. Dia memakai dress berwarna putih sepatu flat berwarna hita. Nara terlihat begitu manis.
"Apa kau ingin ikut dengan kita?" tanya Jiso kepada Nara sembari memandangnya dengan penuh kekaguman.
"Tidak aku akan pergi ke panti hari ini", Nara menjawabnya dengan senyum yang membuat siapa saja terpesona.
Nara dan Yonbin memang belum di beri keturunan di pernikahan mereka yang sudah menginjak tahun ke 5.
Meski begitu tampak rumah tangga mereka terlihat tetap harmonis dan baik-baik saja.
"Apa kau pergi sendirian? bagaimana kalau kita pergi bersama aku akan mengantarkan mu terlebih dahulu" Jiso menawarkan tumpangan kepada Nara.
"Hei, hei , sepertinya kau lebih perhatian kepada istriku" celoteh Yonbin menggoda Jiso.
"Dasar bangsat" umpatnya dalam hati sambil melirik Yonbin.
"Sudahlah kalian ini seperti anak kecil saja, kamu tenang saja temanku sudah menungguku di depan oh ya hati-hati ya jangan pulang terlalu malam".
"Baiklah sayang kamu juga hati-hati", Yonbin serambi mencium kening Nara.
"Bajingan satu ini memang selalu membuatku iri" Jiso terlihat menahan emosinya.
Malam setelah acara selesai, Yonbin terlihat masih mengobrol dengan rekan bisnisnya.
"Hei Bin..ayo kita pulang sekarang"
Yonbin terlihat menghampiri Jiso,
"pulanglah lebih dulu, aku masih ada yang perlu di bahas dengan mereka, kau tenang saja nanti aku bisa naik taksi".
"ok baiklah" jawab Jiso seraya meninggalkan nya pergi dari ruangan itu.
Ditengah perjalanan sepertinya telah turun hujan, Jiso terlihat memelankan laju mobilnya.
Dan tak sengaja dia melihat Nara sedang berteduh di depat toko yang sudah tutup, dengan sigap dia berhenti dan memastikannya lagi apa itu benar-benar Nara.
Ternyata memang benar itu Nara, dengan cepatnya dia turun dari mobil dan berlari menghampiri Nara.
"Kanapa kau sendirian?dimana Bin?" tanya Nara sembari melihat ke arah mobil Jiso.
"Nanti saja ku jawabnya, sekarang kita masuk ke mobil dulu dan ku antar kau pulang " teriak Jiso karena hujan sudah mulai deras.
Tanpa berfikir lama Nara menuruti sabahat suaminya tersebut, dengan menggunakan blazernya Jiso berusaha melindungi wanita yang dia cintai itu dan terus memandangnya.
Di dalam mobil Jiso masih saja memandang Nara yang sedang menata sebagian rambutnya yang terkena air hujan.
"Aku benci kenyataan ini"
"Aku benci perasaan ini"
"Aku benci fikiran ini", kata-kata yang terus terulang dalam benaknya saat memandang Nara.
Tangan Nara melambai di depan matanya, lalu menyadarkan nya.
"Apa kau sedang melamun?, apa ada masalah?".
"Hah, tidak o iya dimana temanmu yang berangkat denganmu tadi? Jiso mengalihkan pembicaraan dan mulai menjalankan mobilnya.
"Kamu ini, seharusnya aku yang lebih dulu bertanya, dimana Bin? kenapa dia tidak pulang bersamamu?"
"Apa dia tidak memberi tahumu kalau pulang agak telat dia masih disana karena ada yang masih perlu di bahas dengan rekan kerja kami"
"Tidak, dia belum memberi tahuku" sambil melihat smartphone nya Nara terlihat sedikit cemas.
"Si brengsek itu memang keterlaluan" kali ini Jiso menggerutu lirih.
"Hah, apa yang kau katakan tadi?" sepertinya Nara sedikit mendengar meski kurang jelas.
"Tidak apa-apa, hujan nya sangat deras" laki-laki itu mengalihkan pembicaraan.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?"
Medengar itu Jiso terlihat gugup,
"hah iya, silahkan!
"selama 5 tahun terakhir aku mengenalmu sebagai sahabat suamiku, aku juga menganggapmu sebagai sahabatku juga"
"suamiku selalu cemas karena kamu sampai sekarang masih melajang, hmmm...
"apa kamu......
"kenapa?tanyakan saja jangan ragu" Jiso terlihat sedikit tegang.
"sebelumnya aku minta maaf, apa kamu..., hmmm apa kamu......
"penyuka sesama jenis?dan diam-diam mencintai Bin?
Bak tersambar petir, Jiso dengan tiba-tiba menginjak rem mobilnya.
"Bisa-bisanya...KAMU"--------