Namaku Davinia dan aku tinggal di istana megah bersama-sama ibuku dan bapa tiriku serta saudara tiriku. Sepanjang 2 minggu beradaptasi di istana akhirnya aku mulai terbiasa dengan adat istana yang sungguh menyesakkan. Aku teringat akan kampung halamanku bersama ibu dan ayah kandungku suasana di desa sungguh nyaman dan menyenangkan sampailah saat apabila bapaku meninggal karna penyakit lamanya. Saat itu aku bersedih dan kemudian ibuku membawa ku ke sebuah kota yang indah kemudian ibuku berkahwin dengan seorang bangsawan namun begitu perkahwinan ibuku tetap tidak lama karna beliau terlibat dengan kemalangan. Selepas sebulan ibu dan aku berkabung kami mula hidup Mandiri tetapi ibuku selalu mengeluh Karna ibuku mempunyai paras wajah yang cantik umpama seorang dewi dan hidup ibuku hanya bergantung dengan wajahnya. Aku tau tentang itu dan sebenarnya aku membenci perkara itu tetapi aku sangat sayangkan ibuku Karna tidak pernah menelantarkanku. Tiba lah saat festival di luar istana semua rakyat dibenarkan memasuki istana dan membuat persembahan bersempena dengan ulang tahun raja. Ibuku sangat senang dengan berita itu lalu aku menyaksikan ibuku berlatih bersama kakak-kakak cantik untuk festival itu. Tibalah hari festival aku menyaksikan pelbagai pertunjukan yang sangat luar biasa namun aku kurang suka dengan tatapan seorang bangsawan yang memandangku dengan pandangan sinis. Selepas beberapa hari festival berakhir ibuku dilamar oleh raja, tidak terkata gembiranya perasaan ibuku dan aku juga turut gembira karna apa sahaja yang membuat ibu senang aku juga senang. Apabila memasuki istana semua orang menundukkan kepala tanda hormat kepada raja aku berasa begitu dihormati sepanjang hidupku. Tibalah perkahwinan ibuku aku dihias indah dengan permata mewah dan dipuji oleh Dayang seketika pipiku merona merah kerana terlalu malu untuk dipuji kakak tiri saudaraku semuanya baik- baik belaka,aku bersyukur dengan nikmat ini. Semasa majlis berlangsung sungguh membuat aku kelelahan dan aku keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Tiba - tiba suara lelaki seperti berbisik kepada ku berkata ' Kamu ngapain di sini malam-malam menganggu aja'. Akibat bisikan dengan suara garau basahnya aku merespon dengan menumbuk dadanya. Alangkah terkejutnya aku pria yang aku tumbuk merupakan pria yang pernah menatap sinis diriku. Aku memohon maaf akan kejadian tadi malah dia berkata 'Beraninya seorang rendahan memukul aku tunggu aja akibatnya nanti' dia berkata begitu dengan senyum sanisnya.
Bab 2: Penyiksaan
Setelah pernikahan ibuku berakhir kehidupan ku di istana sungguh nyaman dengan layanan yang penuh hormat bagaikan seorang putri asli kerajaan ini. Pada suatu petang yang indah aku menghabiskan masa dengan berkunjung di sebuah padang yang luas. Aku bersandar di sebuah pohon cendana yang redup sambil membaca buku dan akhirnya aku tertidur. Aku terbangun setelah mendengar teriakan yang sungguh mengerikan dan aku bergegas ke istana. Aku terkejut sekaligus ngak bisa bergerak karna di depanku berlakunya pemberontakan dan pembantaian manusia yang tidak terkira aku segera memutarkan badan ke belakang kemudian ibuku dibunuh di hadapanku. Aku cuba membawa ibuku ke doktor kerajaan namun semuanya sia-sia karna ibuku sudah tidak bernyawa. Tiba-tiba ada seseorang cuba menghayunkan pedang ke arahkan tetapi berjaya dihalang oleh seorang pria sinis itu. Aku ditarik olehnya dan dibawa ke tempat terpencil untuk bersembunyi. Aku melihat sendiri neraka yang di hadapanku. Setelah reda aku keluar meninggalkan pria sinis itu. Aku mencari-cari mayat ahli keluargaku dan seseorang menyapaku di belakang ’Kau masih hidup kakak ku'. Aku memandang ke belakang lalu diseret ke dalam ruangan bawah tanah bersama-sama dayang di istana. Kehidupan ku menjadi dayang istana dimulai aku tidak pernah merasai kasur yang empuk lagi makan dan minumku hanya sisa-sisa saudaraku yang zalim ini. Setelah sebulan aku diperlakukan sebagai hamba abdi aku mengetahui rahsia bahawa saudara tiri ku selama ini yang merancang pemberontakan besar-besaran di istana. Aku begitu marah dan lari ke luar aku menangis sepuas-puasnya di padang itu kemudian aku berjalan-jalan di hutan itu dan aku menjumpai sebuah rumah yang usang tiada berpenghuni. Aku masuk ke rumah itu kemudian mataku tertangkap di sebuah buku lama yang bersinar seakan-akan memanggil namaku dengan lembut. Aku membuka buku itu lalu memandang sebuah cermin yang indah. Terdapat mantera yang disebut oleh bibirku dengan sendirinya.
Bab 3: Dunia berbeda
Satu cahaya terang yang menariku ke dalam cermin ini dan secara tiba-tiba aku menjadi seorang wanita di awal tahun 20an dengan pakaian yang agak sexy. Satu lelaki kacak dan berbadan tegap menarik tanganku dan berlari dengan kencang ke sebuah kereta yang sungguh mewah itu merupakan pertama kalinya aku melihat kereta sungguhan yang tergambar di buku kuno ini. Aku dengan bingung mau ngapain terus memberanikan diri untuk menolak lelaki itu ke belakang sambil memegang tangannya dengan kuat. Lelaki itu kebingungan dan berkata 'Davia kenapa kamu menggoda ku apakah kau tertarik dengan ketampanan ku? Aku akui wajahku yang rupawan ini mampu menundukkan semua perempuan namun aku pikir kau berbeda namun ternyata.....’. 'Diam kamu! Siapa kamu dan kemana mau kamu bawa aku serta siapa davia. Cepat jawab kalau ngak aku bikin kamu ngak punya keturunan’ Kataku sambil mengugut prin itu. 'wow wow wow sabar kamu lupa ingatan kah kamu sama aku adalah sekutu dalam dunia mafia ini dan kamu adalah anak ketua mafia dan namamu davia de Clare. Namaku davin seorang ahli mafia di kota s kamu sama aku awalnya mau dijodohkan tapi daripada dijodohkan kamu lagi tertarik dengan posisi ketua segala mafia di dunia. Kita akan pergi ke markas kita. Aku melepaskan David dengan menghela nafas sambil berbisik ’Di dunia apakah ini dan dunia ini aku dapat bebas dari saudara tiri gila itu'. David memandang aku dengan wajah yang bingung.
Bab 4: Berjumpa rekernasiku
Aku memandang istana yang sungguh suram David mengajak aku masuk ke dalam dan aku mengikutinya dari belakang. Perabot yang cantik serta perhiasan dalaman rumah yang sangat aku ingini sejak dulu ada di depanku. David menunjukkan kamarku dan dia pergi menyiapkan makan malam kami. Sistem keamanan rumah ini sangat ketat dan setiap pegawai memiliki senjata masing-masing. Aku rendahan di atas kasur yang empuk sambil memandang siling yang kosong. Mataku melirik ke kanan bucu kami aku terpandang sebuah laci. Tangan ku menggapai laci meja itu dan sebuah diari milik badan ini tertulis namanya di atas buku ini. Aku membuka buku ini dan seperti Deja vu aku terasa seperti diriku pernah menulis semua ini. Selepas makan malam aku ketiduran sanking lelahnya seharian ini. Aku bermimpi seorang wanita yang cantik persis dewi mendatangi ku sambil tersenyum manis. Wanita itu mengatakan bahawa dirinya adalah diriku di kehidupan yang lalu dan disebabkan kutukan yang terkena akibat ketidakadilan raja yang membunuh sang kekasihnya dia menekat untuk membunuh raja serta keturunannya. Akibatnya raja memanggil penyihir sebelum dirinya meninggal dan aku sebagai dewi diberi kutukan akan rekernasi di setiap hidupan yang akan datang namun tidak akan mengigat semua memori di masa lampau. Aku mencari cara untuk menghentikan rekernasi ini dengan menulis mantra di rumahku dulu serta sebuah cermin yang cantik yang sudah aku bacakan mantra dan rekernasiku yang terakhir akan menyelesaikan kutukan ini Karna aku hanya ingin hidup aman dan damai bersama kekasihku di alam sana.