Hai semuanya... 🤗
perkenalkan saya Star... 😊
Semoga Kaka semuanya terhibur dengan cerpen yang sedang Star buat untuk perlombaan ini ya... 😉
Tanggal pembuatan : 09 - 05 - 2022
Namaku ada Melondri, ya itu namaku! gak percaya? sudah ku bilang namaku Melondri.
Aku cukup lelah sih... Entah kenapa orang tuaku malah memberikanku nama itu, ya! nama yang kerap kali membuatku mendapat nyinyiran yang sama sekali tidak ingin kudengarkan dari teman - temanku.
Bagaimana tidak? gara - gara nama itu, aku sering dipanggil si melon! bahkan ada yang berani mengataiku sibulat buah melon!
Hello... Apakah kalian tidak mempunyai kaca mata ya? aku ini adalah seorang gadis cantik yang mempunyai tubuh tinggi.
Hal yang paling tak kusukai ialah, aku jadi disangka gadis gendut oleh orang - orang yang belum pernah melihatku. Itu benar - benar membuatku sangat muak.
Singkat cerita, aku kini dipindahkan oleh orang tuaku kesebuah sekolah yang terkenal cukup Elit. Dengan malas aku memperkenalkan diriku sebagai anak baru ketika masih berdiri didepan bersama sang guru.
"Halo semuanya! perkenalkan namaku Melondri! semoga kita semua bisa berteman baik ya..." ucapku.
Aku dapat melihat dengan jelas, jika mereka sedang menahan rasa geli dihati karna ingin tertawa. Cuman, aku berpura - pura acuh saja.
Oke! dulu mungkin aku gadis yang menghiraukan semua perkataan orang lain terhadapku hingga keluarlah petasan pedas dari bibirku. Tapi sekarang aku lebih memilih menjadi gadis tuli terhadap hal buruk yang orang lain katakan.
Kini aku sudah duduk disebuah kursi kosong yang ditunjuk oleh sang guru. Aku duduk pada satu meja kosong di dekat jendela. Kebetulan teman se mejaku sedang sakit, jadi aku tidak butuh banyak bicara hari ini.
Entah mengapa aku merasa tidak nyaman dengan tatapan seorang pria yang sejak awal aku datang, ia sudah melihatku dengan tatapannya ya... Bisa dibilang tidak biasa sama sekali.
"Tu orang kenapa sih? apakah aku mirip dengan sosok orang yang sudah berhutang miliaran rupiah padanya tapi belum dibayar?" heranku.
Aku memilih tak menghiraukannya, sekuat tenaga aku berusaha fukus untuk memahami pelajaran yang diajarkan hari ini.
"Dasar pria gak ada kerjaan! heh! kamu harusnya perhatikan guru dodol! masak dari tadi perhatiin aku terus," umpatku dalam hati.
"Liat saja nanti! aku pasti akan membuat perhitungan kepadamu," geramku.
"Kriingg..."
Hais... Bisa gila aku kayak gini! udah berapa kali bel tanda berganti pelajaran berbunyi hingga waktu istirahat tiba, dia masih tetap diposisinya.
"Sepertinya pria itu sudah tak waras," batinku lalu bangkit untuk pergi ke kantin.
Niatnya aku ingin membuat perhitungan dengannya. Namun, karna tak ingin membuat masalah dihari pertamaku bersekolah, akhirnya aku memutuskan untuk memendamnya saja.
"Hey! kamu mau kemana?" tanya suara berat pria saat aku hendak melangkahkan kakiku keluar kelas.
Saat aku hendak membalikkan tubuhku keasal suara, mataku langsung membulat sempurna saat mengatahui siapa yang berbicara denganku.
"Cck! ternyata kamu rupanya! pria yang sudah membuatku tidak fokus saat belajar tadi, sekarang kamu malah berani berbicara denganku! sorry ya! aku tidak ada waktu untuk berbicara dengan orang gila yang tak ada kerjaan sepertimu," dengusku.
Para siswa dan siswi yang mendengar ucapanku langsung berhenti melakukan aktivitas mereka, semua sorot mata jadi tertuju padaku.
"Lihatlah gadis baru itu! dia sangat berani menyinggung primadona sekolah kita," ucap salah satu siswi.
"Iya! kita aja yang udah lama satu kelas dengannya aja tidak pernah bicara dengannya," ucap siswi lainnya.
"Apa? dia primadona sekolah? pantas saja wajahnya sangat tampan hingga banyak yang mengaguminya," batinku.
"Tapi aku gak peduli! mau dia primadona kek! primadono kek! bodo amat," geramku.
Tanpa pikir panjang aku berniat untuk melanjutkan langkah kakiku yang sempat tertunda karna ulah pria itu.
Tapi langkahku lagi - lagi terhenti untuk yang kedua kalinya karna dia malah menahan tanganku.
"Hahaha! pasti dia akan diberi pelajaran oleh primadona kesayanganku!" ucap salah seorang siswi yang menatap sinis kearahku.
"Benar sekali! kali ini gadis itu akan pulang sambil membawa wajah lembab kerumahnya," ucap teman siswi yang berdiri dibelah kirinya.
"Dihari pertamanya sekolah lagi," sambung yang dibelah kanannya.
"Kalian bertiga bisa diam tidak?!! lebih baik, kalian cepat tinggalkan ruangan ini!" bukannya mendapat dukungan mereka malah diusir oleh orang yang tak pernahku sangka sebelumnya, siapa lagi kalau bukan siprimadona.
Karna cuma mereka bertiga yang sejak tadi masih berada didalam kelas, akhirnya hanya tinggal aku dan dia saja.
"Hey kamu gadis baru! mulai hari ini kamu resmi menjadi pacarku! dan aku tidak menerima penolakan!" ucapnya dengan tangan yang masih mencekal pergelangan tanganku.
Aku sangat terkejut ketika mendengar kata - katanya, sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
"Kamu! heh! jangan kau pikir hanya karena kau adalah seorang primadona yang memiliki wajah tampan dan mempunyai hubungan dengan sekolah ini kau bisa sesukamu untuk mendapatkan sesuatu? cih! aku tidak akan pernah mau," tolak ku mentah - mentah dihadapannya.
"Asal kau tau ya! hatiku ini bukan milik siapa pun! dia milikku dan hanya aku yang berhak memberikannya kepada orang yang aku cintai! dan itu bukan kamu," ucapku lagi dengan emosi yang sudah meluap lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa siswi hanya mengolok - olok diriku saat aku sudah keluar dari ruangan. Tapi aku tidak tidak peduli, aku hanya terus berjalan untuk mencari tempat yang membuat pikiranku bisa merasa lebih tenang.
Disisi lain, pria yang baru saja ditolak mentah - mentah masih mematung ditempat. Guandra. Itulah namanya.
🍃 Dua tahun yang lalu 🍃
"Guandra! kamu dimana guandara?" tanya seorang gadis melalui panggilan telpon.
"Aku tidak tau Dri! aku masih terus berlari, larva gunung semakin menjalar kemana - mana," ucap suara dari sebrang.
"Apakah para petugas belum datang untuk membantu?" tanya gadis itu lagi.
"Aku tidak tau Dri! kamu sendiri gimana? kamu baik - baik saja kan?" tanyanya.
"Kamu masih saja sempat memikirkan aku disaat kamu sendiri masih dalam keadaan terancam," ucapku yang kini sudah berlinang air mata.
"Karna yang terpenting bagiku adalah kamu! kesalamatanmu sudah cukup membuatku bahagia! doakan aku saja ya! aku pasti akan kembali untukmu! aku mencintaimu," ucapnya lalu sambungan telpon pun terputus.
🍃 Kembali kejadian awal 🍃
Guandra tanpa pikir panjang langsung mengikuti kemana langkah kaki gadis tersebut setelah cukup lama terdiam.
"Guandra! untuk apa kamu mengejar gadis yang tidak tau malu itu? dia sudah kamu tembak! tapi masih saja berani menolak," ucap salah seorang siswi yang sejak tadi sibuk mengatai Melandri dengan dua temannya.
"Memangnya kamu tau apa?!! ini urusanku dan bukan urusanmu!!! jadi jangan pernah ikut campur jika tidak ingin terkena masalah!!!" gertaknya lalu berlalu pergi.
"Oh iya! sekali lagi kamu dan teman - temanmu berkata hal yang tidak baik kepadanya! kalian pasti akan tau akibatnya," ancamnya dengan sorot mata mematikan hingga mereka sampai tak berani menatapnya lagi, bahkan tubuh mereka saja sampai bergetar hebat.
Disisi lain, seorang gadis sedang duduk disebuah kursi taman sambil melihat pemandangan yang dapat menyejukkan matanya dan meredakan emosinya.
Tiba - tiba aku merasa ada seseorang yang baru saja duduk disampingku. Saat aku memalingkan kepalaku, emosional ku yang sempat mereda mulai bangkit kembali.
"Kamu! untuk apa kamu mengejarku lagi? apakah kamu belum puas melihatku dicaci sejak tadi? apakah kamu belum puas hah?" tanyaku berapi - api.
Aku sangat terkejut saat dia tiba - tiba saja memelukku erat, dan lebih terkejutnya lagi ternyata ia sudah menangis dipundakku.
Aku yang awalnya ingin mendorongnya jadi merasa tak tega.
"Sebenarnya ada apa dengannya," batinku merasa resah.
"Aku gak tau apa aku sedang bermimpi atau tidak! aku gak tau apakah ini kamu atau bukan! seandainya ini hanya mimpi, aku akan tetap bersyukur! setidaknya kerinduanku terhadapmu bisa terobati walau hanya sedikit," ucapnya.
"Maaf! memangnya siapa gadis yang kau maksud itu?" tanyaku yang masih membiarkannya memelukku.
"Dulu kami bertemu di sebuah sekolah yang letaknya tak jauh dari desa yang memiliki gunung Merapi yang masih aktif. Kami berteman sangat baik, bahkan kami sampai telah memiliki rasa antara satu dan lainnya," ceritanya.
"Lalu apa yang terjadi?" tanyaku.
"Sebuah kejadian yang tak terduga terjadi. Gunung Merapi yang biasanya tak pernah menumpahkan isinya itu malah meledak diwaktu yang tak terduga," ceritanya lagi.
"Tunggu!" ucapku lalu mendorong tubuhnya pelan untuk melepaskanku.
"Apakah kau yang bernama Guandra? teman masa SMPku? sampai kita memutuskan untuk melanjutkan jenjang SMA disatu sekolah yang sama?" tanyaku memastikan.
"Benar itu namaku, berarti aku sedang tidak bermimpi! kamu benar - benar Dri! gadis yang selama ini telah lama ku cari," ucapnya lagi.
"Ya ampun... Ternyata ini kamu! dasar! kenapa sejak tadi kamu gak bilang sih... Kamu malah membuatku risih dan terkejut karna main tembak - tembak segala! is... Kelewatan banget..." kesalku sambil memukulinya puas - puas dan dia hanya merintih.
"Udah - udah! sakit tau... Kamu ini kejam banget sih," ucapnya yang mulai mengeluh.
"Habisnya mentang - mentang sekarang kamu udah jadi primadona malah gitu sikapnya," ambekku sambil melipat kedua tangan dibawah dada.
"Iya - iya... Aku minta maaf... Tapi sekarang kamu udah tau kan aku siapa?" tanyanya.
"Yaudahlah... Lagian aku kan gak se amnesia itu kali..." jawabku sambil terkekeh pelan.
"Jadi kalau kamu udah kenal aku berarti keinginan ku tadi diterima kan?" tanyanya lagi yang membuatku hanya menggeleng - gelengkan kepala.
"Ya enggaklah..." ucapku acuh tak acuh dan ia jadi memasang wajah datar.
"Hahaha! datar amat tuh muka bang," tawaku.
"Biarin aja," ucapnya.
"Ya masak aku tolak permintaan orang yang juga aku cintai sih..." ucapku hingga membuatku tersenyum kembali.
"Ya berarti sekarang kita pacaran dong!" senangnya.
"Je... Udah lama kali... Udah setahun malah! sebelum kejadian itu berlangsung," ucapku mengingatkan.
"Oh iya ya!" ucapnya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Oh iya! aku juga mau minta maaf karna tidak terlalu mengenali wajahmu lagi setelah berapa tahun tak berjumpa. Ditambah lagi aku tadi sedang tersulut emosi," ucap mu sambil menundukkan kepala.
"Tak apa yang penting sekarang kamu udah ingat aku, itu aja aku udah berterima kasih karna kamu tak melupakanku." ucapnya sambil menyentuh puncak kepalaku.
"Iya... Bagaimana aku bisa lupa, bahkan aku selalu mendoakan keselamatan mu hingga takdir mengizinkan kita untuk bertemu kembali." respon ku dan dia hanya tersenyum lalu kembali memelukku erat, aku pun balas memeluk tak kalah erat.
Semenjak hari itu, kami jadi sering bersama. Tak ada lagi yang berani mengataiku semenjak Guandra berada di dekatku, itu sebabnya dulu ia sering memanggilku Dri! agar aku terhibur dan melupakan nama depanku.
Melon, ya aku suka sih buah melon... Bahkan mamaku lebih suka... Apa itu sebabnya namaku ditaruh kata melon juga ya? sudahlah lupakan! yang penting aku sekarang sudah bahagia!
Akhirnya kami bisa kembali bertemu setelah cukup lama saling memendam rasa rindu yang cukup dalam, dengan doa yang tak pernah berhenti kami panjatkan.
🍃 The And 🍃