New York, 24 December 2016
"Maafkan aku honey, aku lembur malam ini." Aku memegang handphoneku dengan tangan gemetar, takut jika seseorang diseberang sana marah karena lagi-lagi aku mengingkari janji.
"Oh..." Aku merasakan nada suaranya menurun, "Tidak apa-apa, kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Hubungi aku jika sudah selesai, aku akan menjemputmu."
"Terimakasih, Dave." Aku mematikan panggilannya dan menghela napas. Aku tahu Dave-kekasihku itu sebenarnya tidak baik-baik saja. Aku meninggalkan dirinya sendirian di malam natal, padahal aku sudah berjanji akan menghabiskan natal tahun ini bersamanya. Tunggu, malam natal? Sepertinya aku melupakan sesuatu tapi aku tidak tahu apa itu. Ah sudahlah, kurasa aku terlalu banyak pikiran.
"Amy, kau tidak pulang?"
Aku menoleh pada Lucy, rekan kerjaku dan tersenyum padanya, "Sebentar lagi, aku hanya tinggal merevisinya saja. Kau pulang duluan saja, Lucy."
"Ah, baiklah kalau begitu. Jangan paksakan dirimu, aku pergi," Lucy melambaikan tangan padaku dan berlalu menuju pintu keluar. Aku hanya bisa tersenyum menatap kepergiannya. Aku harus segera menyelesaikan semua berkas ini agar aku bisa menemui Dave tanpa memikirkan pekerjaan.
Dave Evans, memikirkan pria itu hanya membuatku mabuk kepayang. Aku masih mengingatnya dengan jelas bagaimana dulu aku bertemu dengannya. Saat itu aku singgah di coffee shop karena suntuk akan pekerjaan. Dan seorang pria bersurai pirang platina menghampiriku dan memberikan secangkir kopi latte dengan gambar setangkai mawar diatasnya. Aku bahkan belum memesan apa pun saat itu. Ku akui kopi racikannya memang enak dan pria itu tidak membiarkanku membayar apa yang sudah masuk ke perutku.
Masih terekam jelas di ingatanku ekspresi pria itu saat mengatakan bahwa aku adalah pelanggan ke seribu dan berhasil mendapatkan kopi gratis. Yah, aku tentu tidak percaya. Jadi esoknya aku kembali lagi ke coffe shop itu berniat ingin membeli lagi dan mambayarnya dua kali lipat. Namun aku malah mendapat kopi gratis untuk kedua kalinya. Dan sejak hari itu aku sering kali mampir untuk menikmati secangkir kopi.
Aku baru mengetahui dua minggu setelahnya bahwa pria itu bernama Dave Evans dan ia pemilik usaha coffee shop itu. Aku sudah menduganya. Dan satu bulan kemudian pria itu menjadi kekasihku.
Aku juga ingat bagaimana dulu Dave menyatakan perasaannya padaku di bawah pohon natal di pusat kota. Ia datang dengan bunga buket besar dan sebuah cincin. Aku selalu merona jika mengingat itu, karena saat itu malam natal dan banyak orang yang menyaksikan. Tunggu, malam natal? Itu berarti hari ini adalah hari anniversary satu tahun aku bersama Dave?
"Astaga, bagaimana ini?!" Aku mengacak rambutku dan merutuki diri sendiri. Rasa bersalah menyelimutiku, aku benar-benar tidak ingat. Dave pasti sangat kecewa padaku. Tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Aku harus segera menyelesaikannya.
Dua jam kemudian....
"Ahh... akhirnya selesai juga, aku harus menghubungi Dave." Aku bangun dan merenggangkan tubuhku. Rasanya tubuhku lelah seharian ini hanya duduk dan menatap monitor. Aku dengan cepat membereskan barangku dan pergi menuju lantai bawah.
Sebuah mobil hitam sudah terparkir tepat di depan pintu masuk, aku yakin itu milik Dave. Tapi bagaimana bisa Dave sudah tiba padahal aku baru menghubunginya 5 menit yang lalu. Apa ia sudah lama menungguku? Ku harap tidak.
Namun sepertinua Dave sungguh marah kali ini, biasanya ia akan menungguku di samping mobilnya dan membukakan pintu untukku. Tapi kali ini ia bahkan tidak keluar dari mobilnya. Aku harus meminta maaf dengan benar nanti kepadanya.
"Hai babe, kau sudah lama menunggu?" Aku bertanya setelah membuka pintu mobil dan mendekat ke arah Dave lalu mencium pipi nya.
"Tidak."
Hanya jawaban singkat sudah membuktikan bahwa Dave benar-benar marah kepadaku. Sebuah ciuman pipi biasanya langsung meredakan amarahnya, namun kali ini sama sekali tidak berhasil. Aku harus memikirkan cara lain.
Dave langsung melajukan mobilnya sesaat setelah aku sudah duduk dengan benar dan memasang sabuk pengaman. Aku tidak sengaja melirik ke arah tengah spion dan melihat ada beberapa kotak hadiah dan sebuket bunga. Dave pasti sudah menyiapkan semuanya dan aku telah mengacaukannya. Bahkan aku sama sekali tidak ingat dan tidak menyiapkan apapun.
Aku hanya menunduk dan memainkan jariku selama perjalanan. Dave juga tidak mengatakan apa pun. Aku mendongak saat ku rasakan mobil ini berhenti di basement apartemenku.
"Katakan padaku." Dave berbalik menatapku. Aku terkejut karena Dave tiba-tiba saja berbicara.
"A- apa?" Aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya.
"Katakan padaku apa kau melupakan hari ini?"
"Ahh.... itu, aku..."
Dave menarik wajahku dan membuatku mau tak mau menatapnya. Ku rasakan tangan dinginnya yang menempel di pipiku. Pria ini sangat menakutkan jika sudah marah.
"Katakan!"
"Maafkan aku."
Dave menarik tangannya kembali dan bersiap untuk keluar dari mobil. Aku dengan cepat menahan tangannya.
"Aku benar-benar minta maaf, hiks...." Butiran air mata itu jatuh tanpa kuminta, "Aku menyesal, aku memang kekasih yang buruk."
"Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi, ku mohon maafkan aku," Aku terus menunduk sampai Dave berbalik ke arahku dan memeluk tubuhku. Aku terus menangis membasahi bajunya sampai pria itu mengelus punggungku dan mencium kepalaku.
"Sudahlah, kau tau aku tidak pernah bisa marah kepadamu."
"Kau memaafkanku?" Aku mendongak menatap wajahnya.
"Tentu," pria itu melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku. "Yahh... walaupun kali ini kau sudah melampaui batas, Am"
"Kau tahu kan dalam setahun kita menjadi kekasih, kita tidak pernah benar-benar berkencan. Dan kita bertemu satu minggu sekali, itu pun hanya di waktu malam. Dan disaat anniversary kita, ku pikir aku bisa berdua saja denganmu. Tetapi kau malah sibuk dengan pekerjaanmu. Padahal aku sudah menyiapkan sesuatu" Dave melirik ke belakang, "Aku tidak bisa menahannya kali ini, aku sedikit muak."
"Maafkan aku, kau pantas mendapat yang lebih baik dari pada diriku," Aku sedikit menjauh Dave.
"Tidak, ini memang salahku karena terlalu mencintai seorang workaholic seperti dirimu." Dave mangacak rambutku dan keluar dari mobil.
"Ayo! Hari belum berakhir, kita akan menghabiskan waktu dengan menonton lalu makan dan tidur bersama. Aku rindu makanan buatanmu."
Aku tersenyum menatapnya dan segera ikut menyusul keluar dari mobil.
"Aku akan meminta pegawai apartemen untuk membawakan hadiahmu."
Aku mengangguk dan merangkul tangannya.
"Lalu apa kau menyiapkan hadiah natal untukku?"
Aku mematung mendengar pertanyaan Dave. Aku tidak menyiapkan apapun.
"Ah... iya, tentu saja." Aku tersenyum terpaksa, ku harap Dave tidak menyadari jika aku berbohong.
"Benarkah? Aku menantikannya." Dave tersenyum, senyum itulah yang selalu aku rindukan.
Kami menaiki lift dan menuju lantai 21 tempat aku menetap.
"Aku akan mandi dulu, kau lakukan apapun semaumu." Aku berkata kepada Dave saat membuka pintu apartemen.
"Semauku? Kalau begitu aku ingin mandi bersamamu."
Plak
Aku melempar tas kerjaku dan tepat mengenai wajah Dave. Pria ini benar-benar membuatku kesal. Walaupun Dave sering menginap di tempatku dan aku pun sering menginap di tempatnya, aku tidak pernah mengizinkan Dave berbuat seenaknya.
"Ya ya, aku tahu. Aku hanya bercanda."
Aku menghela napas dan segera menuju kamar. Aku harus cepat dan tidak membiarkan Dave menunggu lagi. Dalam setengah jam aku sudah selesai dengan sweater hijau kesukaanku dan celana pendek diatas lutut.
"Film apa yang akan kita tonton, babe?" Aku bertanya pada Dave yang sudah duduk di sofa depan tv, sedangkan aku menuju dapur untuk mengambil beberapa camilan, bir dan soda.
"Aku bingung, bantu aku memilih."
Aku meletakkan camilan dan bir itu ke atas meja.
"Cake!" Aku terkejut melihat ada sebuah kue berukuran besar disana. Kue kesukaanku dengan banyak sekali toping coklat diatasnya, dan ku yakin di dalam kue itu penuh dengan selai coklat juga.
"Ya, kau suka?"
"Suka, aku sangat suka." Aku mencium pipinya dan berbalik hendak mengambil kue itu lalu memotongnya. Namun Dave menarik tanganku hingga membuatku jatuh terduduk di pangkuannya.
Dave memelukku dari belakang."You smell so good," ucapnya. Aku bergidik geli saat napasnya mengenai leherku.
"Lepaskan Dave, aku ingin makan kue itu," aku berusaha melepaskan tangannya dari perutku. Dave menurut dan membiarkanku mengambil kue itu. Namun setelahnya Dave kembali menarikku, aku pun pasrah dan memakan kueku di pangkuannya.
Kemudian aku mengambil remote tv dan memilih film komedi untuk kami tonton bersama.
"Aku sudah memberikan banyak hadiah untukmu," pria itu melirik di samping meja yang sudah penuh dengan bertumpuk-tumpuk kotak hadiah, "Lalu mana hadiahku?" Lanjutnya sambil menarik wajahku agar menatapnya.
Aku berpikir sejenak dan mendapatkan ide. Aku meletakkan piring yang berisi kue ke atas meja dan berbalik memposisikan tubuhku agar berhadapan dengannya. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya dan mendekatkan wajahku. Aku mencium bibirnya dengan lembut. Namun saat aku ingin melepaskannya, tangan Dave menahan kepalaku, dan tangan satunya lagi menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya. Aku yang belum siap akan hal ini berusaha mendorong dada bidangnya dengan tanganku. Tapi tidak berguna, tenaga Dave lebih besar dariku. Aku membulatkan mataku saat lidah Dave berhasil masuk ke dalam mulutku.
Tut... tut... tut...
Mataku melirik ke arah meja dimana ponselku bergetar, ada yang menelfon.
"Tel... fon," aku berucap disela ciuman Dave, ia pun akhirnya melepaskanku. Aku bernapas lega.
"Selamat malam, Sir." Aku berkata sopan karena rupanya bos ku, Mr. Paul yang menelfon. Sepertinya ada hal yang mendesak sampai-sampai menghubungiku tengah malam begini.
Aku mendengarkan bos ku dengan seksama dan ia memberikan perintah ke padaku.
"Ya sir, akan aku kirim filenya besok pagi." Aku mengakhiri panggilan itu.
"Ada rapat dengan pihak sponsor besok pagi, aku harus menyusun proposalnya. Bisakah kita lanjutkan nanti? Aku akan menyelesaikannya dalam setengah jam." Aku berbalik menghadap Dave untuk mengetahui jawabannya, namun pria itu justru menatapku dengan sendu.
Dave menunduk, meletakkan kepalanya di pundakku.
"Ternyata kau masih lebih mencintai pekerjaanmu dari pada aku ya."
Aku tersentak mendengar pernyataannya.
"Kau kan sudah berjanji tak akan mengulanginya, lagi pula bukankah besok hari natal? Siapa yang bekerja pada hari libur?" Dave masih belum beranjak dari posisinya. Aku pun tidak bisa melakukan apa pun, pekerjaan ini tidak bisa aku tunda.
"Tak bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu, Am?"
"Itu..."
"Kau bisa bekerja sebagai sekretarisku kalau kau mau, kau tahu kan coffee shop ku itu sudah memiliki 50 cabang lebih. Aku bisa memberikan gaji yang sama bahkan melebihi gaji dari kantormu. Atau bahkan kau tidak usah bekerja saja, aku siap memberimu uang sebanyak yang kau mau."
"Tidak, Dave. Bukan itu, aku-"
"Lalu apa?! Kau sungguh tidak ingin berada di sisiku?" Dave menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan matanya yang mulai memerah.
"Dengarkan aku Dave," Aku memegang kedua pipinya, "Aku mencintaimu dan aku ingin selalu berada di sisimu. Aku sebenarnya sudah mengajukan surat pengunduran diriku. Tapi-"
"Benarkah?" Dave langsung berbinar mendengar itu. Aku mengangguk dan menempelkan telunjukku pada mulutnya.
"Jangan memotong ucapanku. Beri aku waktu 3 bulan, Aku harus mencari penggantiku."
"Satu bulan!"
"Hah? Tidak bisa, Aku sudah bekerja selama hampir 5 tahun disana, jadi aku harus menemukan orang yang benar-benar sesuai. Kau tahu kan Mr. Paul itu orangnya sangat pemilih."
"Tapi 3 bulan itu terlalu lama," Dave merengek kepadaku, melihatnya seperti ini membuat perasaanku menghangat.
"Itu sudah sangat minimal, Dave. Mengertilah."
"Kalau begitu selama 3 bulan itu kau harus tinggal bersamaku."
"Apa?" Aku terkejut mendengar permintaanya.
"Tidak menerima penolakan atau aku akan marah kepadamu."
Bisa-bisanya pria ini mengancamku, tapi tak apalah. Tidak ada salahnya kan jika tinggal bersama.
"Baiklah."
Dave girang dan langsung memelukku dengan erat. Aku sampai sesak dibuatnya. Belum lagi wajahnya yang mendekat ke arahku dan membuatku bergidik karena napasnya yang mengenai kulit leherku. Ia mengendus dan memciumnya sekilas.
"Ah, hentikan. Aku harus menyusun proposal sekarang. Lepaskan tanganmu."
Dave terlihat enggan melakukannya, namun aku dengan lembut menjauhkan tangannya.
"Aku akan kembali secepatnya, tunggulah."
"Dan kita akan melanjutkannya?" Dave setengah berteriak melihatku berjalan menuju ruang kerjaku. Aku pun tersenyum dan mengangguk. Tunggu, melanjutkan apa? Ah, menonton film kan?
~End~