Namaku Stella Yunita Wijaya, orang-orang memanggilku Yuni. Saat ini umurku 17 tahun dan tinggal bersama ayah, ibu dan seorang kakak laki-laki yang saat ini sedang berkuliah di Jogja. Aku hanya seorang gadis biasa yang sehari-hari hanya bisa belajar dan membantu ibu dikala senggang. Kadang-kadang keluar hanya sekedar hang out bersama sahabatku.
Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku saat ini. Bersekolah di SMA dengan tenang, mendapat teman yang baik dan mendapatkan juara 2 seangkatan karena prestasi belajarku.
Suatu hari Ayahku yang seorang polisi dipindah tugaskan ke kota B dimana bisa dibilang kota B merupakan kota besar dengan segala gemerlapnya. Dengan terpaksa aku aku dan ibu ikut ayah ke kota B, meninggalkan para tetangga dan sahabat yang aku sayangi.
Aku dan ibu pun berkemas segala keperluan untuk pindah ke sebuah rumah dinas yang sudah diberikan. Pada hari Sabtu pagi kami pun berangkat menuju kota B. Butuh waktu 6 jam untuk sampai ke kota B.
Dan saat ini kamipun tiba, disebuah rumah dinas yang bisa dibilang lumayan, tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, biasa-biasa saja. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan akan berbenah keesokan paginya, dan hari ini hanya akan membersihkan kamar untuk tidur malam ini.
Di hari Minggu aku, ibu dan ayah pun bersama-sama berbenah rumah. Menata barang-barang untuk mempercantik ruangan. Dan akhirnya kami selesai pada jam 2 siang.
Ibu pun sudah membuatkan teh untuk meredakan dahaga. Tak lama ayah pun berkata. "Yun, besok kau akan mulai bersekolah di SMA Jayanegara, ayah sudah dari jauh hari mengurus kepindahanmu" ucap Ayahku.
Aku pun menoleh ke arah ayah. "Baik yah, aku akan berusaha belajar dengan baik disana" ucapku.
*
*
Keesokkannya aku sudah bangun pada pukul 5 pagi, lalu mandi dan memakai seragam yang diberikan oleh ayah kemarin. Lalu pergi sarapan.
"Nak rajin lah belajar dan carilah teman yang banyak" ucap ibuku.
"Baik Bu" ucapku, lalu meraih tangan ibu untuk menyaliminya.
Aku sudah menaiki mobil bersama ayah menuju sekolah.
*
*
Sesampainya di sekolah, aku berjalan di lorong sekolah. Banyak murid-murid memandangiku, mungkin karena aku murid baru pikirku.
Aku pun menuju ruang guru, untuk menanyakan kelasku. "Permisi, selamat pagi bu nama saya Stella Yunita Wijaya. Saya mau bertanya kelas saya yang mana ya?" Tanyaku kepada seorang guru perempuan yang dari penampilan bisa ditebak berusia setengah abad.
"Ah kamu murid pindahan itu ya? Anak pak Wijaya. Saya Bu Fatma wali kelas kamu, ayo ikut ibu sebentar lagi jam masuk kelas" ucap Bu Fatma.
Bu Fatma pun berjalan gontai di depanku dengan aku yang mengekor di belakangnya. Kami pun berhenti di sebuah ruangan kelas bertuliskan IPA 1, lalu Bu Fatma pun dan aku pun masuk. Bu Fatma pun mengenalkan ku pada murid-murid yang sedang duduk di depanku.
"Halo semua namaku Stella Yunita Wijaya, bisa dipanggil Yuni. Semoga kita bisa berteman dengan baik" ucapku memperkenalkan diri.
"Halo Yunita" ucap seorang teman perempuan yang duduk di depan.
"Halo, Yuni boleh minta nomor WA gak?" Cletuk seorang laki-laki.
"Huuuuuuu" ucap seluruh kelas meledeknya.
"Sudah! Sudah! Nah Yuni kamu bisa duduk di bangku kosong di belakang, disamping Andi" ucap Bu Fatma.
Aku pun berjalan ke arah belakang lalu duduk disebelah orang yang tadi disebut Bu Fatma bernama Andi. "Halo namaku Yunita, boleh duduk disini kan?" Sapaku sekedar basa-basi.
Laki-laki itu diam tidak bergeming. Aku pun merasa canggung lalu bertanya lagi agar suasananya sedikit lebih baik. "A-anu kalo boleh tau nama kamu siapa?" Tanyaku gugup.
"Andi Bayuna" jawabnya singkat.
Seketika aku diam, namanya mengingatkanku akan sahabat masa kecilku. Namanya sangat mirip, tapi bagaimana mungkin dia sahabat masa kecilku? Karena sahabatku sudah pindah ke provinsi S mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan. Batinku.
Aku pun mengikuti pelajaran Matematika yang diajarkan Bu Fatma dengan konsentrasi. Tak terasa jam istirahat pun tiba.
Lalu disaat aku sudah memasukkan bukuku ke dalam tas, dia orang menghampiriku.
"Hai Yuni, namaku Trisna, kamu bisa memanggilku Tri" ucap Trisna.
"Namaku Putri, kalo kamu gak keberatan mari ke kantin bersama" ajak Putri.
"Baik, terimakasih ya" ucapku ramah dengan tersenyum.
*
Saat ini kami pun sudah di kantin, lalu menyantap bakso yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami pun bercerita banyak hal khususnya tentang Andi.
"Kamu beruntung Yuni, bisa duduk disamping Andi" ucap Puri.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kau pasti belum tau. Andi adalah seorang primadona yang sangat terkenal di sekolahan, sifatnya yang cool, sedikit bicara, tampan dan juara 1 seangkatan membuatnya digilai banyak orang. Selain itu dia juga seorang ketua OSIS, pasti banyak gadis yang sangat menyukainya" ucap Trisna menimpali perkataan putri.
"Bahkan rumornya, Dewi dari kelas IPS 2 yang dijuluki 'Queen' sudah menyatakan cintanya, tapi akhirnya ditolak dengan sadis oleh Andi" ucap Putri.
"Sebegitunya kah, awalnya aku juga merasa dia agak dingin" ucapku lalu menghabiskan bakso terakhirku.
Tak lama seseorang memanggil namaku. "Ste!" Teriaknya.
Deg!
Jantungku berdetak kencang. 'Ste?' hanya Andi sahabat masa kecilku lah yang selalu memanggilku dengan sebutan itu. Dia tidak ada disini jadi siapa yang memanggilku? Batinku bertanya-tanya.
Trisna dan Putri terlihat terkejut seperti orang yang ketahuan beli gorengan 4 bayar 3. Aku pun menoleh ke arah belakang.
Andi sang primadona sekolah sedang berjalan mendekat menghampiri mejaku. Terkejut? Pasti! Kenapa sang primadona sekolah berjalan kemari?
Aku membuang wajahku, lalu mencubit pahaku, berharap ini semua mimpi. Tapi tidak berguna, karena Andi suda berada tepat di hadapanku. "Ste!" Panggilnya.
Aku pun menoleh, bisa kulihat orang-orang sudah berkerumun mendekati meja ku, menatapku dengan keheranan. "A-ada apa ya?" Tanyaku gugup.
"Ste, kamu masih ingat aku kan? Aku Andi tetanggamu dulu. Kita dulu sering bermain bersama" ucap Andi kepadaku.
"Ya?" Pikiranku bertanya, benarkah dia Andi teman masa kecilku dulu? Tapi kalau dia tau kenapa tidak memberitahukannya tadi saat dikelas?
"Kamu tidak ingat aku Ste? Maafkan aku yang tidak mengenalimu tadi, aku masih memastikan apakah kau benar Stella yang sama" ucapnya.
"Ja-jadi kau benar Andi?" Tanyaku.
"Iya Ste, aku Andi mu!" Ucapnya lalu berlutut di hadapanku lalu menggenggam tanganku. "Ste maafkan aku, sebenarnya aku sudah menyukaimu dari sejak kita kecil, tapi saat ini aku masih malu mengatakannya. Sekarang tidak lagi, Stella Yunita maukah kau menjadi pacar dari Andi Bayuna?"
Deg!
Aku diam mematung, pikiranku kalut. Namun, hatiku terasa berbunya, apakah ini balasan karena selama ini aku juga menyukainya dalam diam? Batinku.
"Yunita!" Teriak Trisna dan Putri bersamaan. Aku seketika tersentak kaget, lalu kembali ke kenyataan.
"Ya?"
"Ste, bagaimana? Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Tanya Andi lagi. Melihatku masih kebingungan, Andi pun bangkit. "Tidak apa Ste mungkin kau masih terkejut dengan pengakuanku, aku bisa menunggu jawabanmu" ucapnya lagi lalu beranjak pergi.
Akal sehatku saat ini sudah dikalahkan oleh hatiku. Aku pun berdiri, berlari mengejar Andi. Saat dirasa sudah dekat aku mencekal pergelangan tangannya. "Andi, aku juga menyukaimu!" Ucapku dengan nafas tersengal karena berlari.
Andi pun berbalik. "Benarkah itu Ste?" Tanya Andi. Lalu aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.
Gyut!
Andi tiba-tiba memelukku, jantungku terasa berhenti berdetak. Namun tak lama teriakan seorang gadis, Andi pun mengurai pelukan kami.
"Andi!" Teriak seorang gadis. "Bagaimana bisa kamu menyatakan perasaanmu ke seorang murid pindahan yang baru masuk ke sini. Bahkan kamu tidak melihatku yang sudah mengejar mu selama setengah tahun!" Teriak gadis itu menggebu-gebu.
"Cukup Dewi! Aku tidak menyuruhmu mengejar ku. Lagipula aku sama sekali tidak menyukaimu!" Ucap Andi dengan nada dinginnya.
Dewi? Apakah dia yang disebut 'Queen' itu? Batinku. Bisa dilihat Dewi menangis tersedu sembari menatapku tajam. "Kau... Rubah betina yang merebut Andi dariku!" Ucap Dewi kepadaku. Tak lama dia mendekat ke arahku dengan mengangkat tangannya yang akan menamparku.
Dengan cepat Andi menahan tangan Dewi lalu menghempaskan nya. "Cukup Dewi, jika kau berbuat nekat, maka aku akan melaporkan mu ke guru BK!" Ucap Andi, tapi kali ini dengan suara yang tegas.
Dewi yang merasa dipermalukan oleh Andi pergi menjauh. Lalu Andi membawaku pergi ke sebuah taman yang berada di lingkungan sekolah.
"Maaf atas masalah yang tadi Ste, tapi aku berjanji akan menjagamu agar kejadian tadi tidak terulang. Dan apapun yang terjadi percayalah padaku dan jangan menyakiti diri sendiri dengan perkataan orang lain" ucap Andi sembari menatap manik mataku.
"Baik aku akan selalu percaya kepadamu, karena kamu saat ini adalah pacarku" ucapku tersenyum kepada Andi.
Bolehkan aku serakah, aku tau berpacaran dengan primadona sekolah akan selalu datang masalah, tapi bisakah aku menjalani masa pacaranku dengan Andi dengan tenang seperti orang pacaran pada umumnya. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
*
*
~Maaf bila ada kesalahan dalam kata-kata atau menyinggung perasaan. Karena pada dasarnya aku hanya makhluk Tuhan yang tak luput dari kesalahan.~
Terimakasih sudah membaca💞💞💞