Jika aku bisa menjadi tembus pandang, aku akan lebih memilih untuk tetap terlihat, karena meskipun aku terlihat, suamiku tidak pernah memandangku penuh cinta selain saat kami sedang berkegiatan di atas ranjang. tidak ada belaian kasih sayang, seperti yg selalu aku harapkan. padahal sebagai seorang istri aku tidak pernah menuntut apapun selain perhatian dan pengertiannya.
Biarlah aku tetap terlihat, agar anak2 ku tetap bisa memandang Ibunya dan memberi aku kekuatan yang sangat aku butuhkan untuk melewati kehidupanku yg berat ini.
Aku Ayu, seorang wanita 30 tahun. Aku sudah menikah disaat aku berusia belum genap 20 tahun. MBA (married by accident) membuat kehidupan masa remaja ku berubah drastis.
Di usia yang belum genap 20 tahun, aku dan suamiku sama2 harus di hadapkan pada keputusan yang sangat berat, yg merupakan resiko dari kesalahan yang telah kami lakukan. Menikah.
Awalnya aku pikir, bagus juga menikah sekarang itu tandanya orang yang aku sukai tidak akan bisa berpaling ke lain hati. Kami bisa selalu bersama seperti apa yang sering kami lakukan secara sembunyi2 saat masih pacaran.
Namun semua tak seindah yg aku bayangkan. Aku harus hidup dengan keluarga baru yg sama sekali asing bagiku. ditambah dengan kondisi perutku yang membesar, membuatku harus cuti kuliah dan hanya diam di rumah. Sedangkan suamiku dengan bebasnya masih bisa kuliah dan bergaul dengan teman2nya.
Sebulan hingga tiga bulan setelah menikah, suamiku masih berusaha menyenangkan ku, dia berusaha memberi kabar, menanyakan bagaimana kondisi ku dan bayinya, serta tiap akhir pekan dia akan berusaha untuk pulang ke rumah untuk menghampiriku.
Namun sekitar 4 bulan setelah menikah, aku mulai merasakan perbedaan dari suamiku. dia sering marah2, setiap pesan yg ku kirimkan selalu saja membuat kami akhirnya bertengkar. Dengan kondisku yang tengah hamil tua dan hampir menjelang HPL( hari perkiraan lahir), aku menjadi semakin sensitive. hampir setiap hari kami bertengkar adu argumen yang tak ada habisnya.
Puncak kekecewaanku adalah di saat di sama sekali melupakan hari aniversarry kami. dan saat itu dia beralasan tidak bisa pulang karena banyak kegiatan kampus. Dan aku pun marah dan memintanya sekalian tak usah pulang dan dia benar2 mewujudkannya. sejak pertengkaran kami itu dia menjadi sangat jarang pulang ke rumah. sekalinya pulang dia tidak sama sekali menghiraukan ku, malah selalu sibuk dengan HP Blackberrynya yg baru.
Hingga sampailah dihari HPL, aku sudah mengeluhkan perutku yg mulai berkontraksi. Tapi suamiku tetap kekeh untuk kembali ke kota dimana dia kuliah. dia mengatakaan " Istrahat aja, ntar juga hilang sakitnya." Ingin sangat aku berteriak padanya, "ini bukan seperti sakit yg bisa kau bayangkan sialan!!! Badanku seakan remuk semalaman aku yg tidak yg tidur dan kau dengan gampangnya mengatakan nanti juga hilang, dasar laki2 tidak berperasaan!!!"
Setelah melewati perdebata, pukul 2 siang berangkatlah dia kembali ke kota tempatnya kuliah. aku ditinggalkan dalam kondisi menangis menahan sakitnya kontraksi.
Pukul 4 sore, aku sudah tidak bisa menahan sakit perutku yang semakin lama semakin menjadi2. dan akhirmya aku memutuskan untuk menelfon ibuku dan memintanya untuk mendatangiku di rumah suamiku. 30menit kemudian ibu datang, dan memeriksa kondisiku, Ia mengatakan kemungkinan aku sudah akan melahirkan. diantar oleh ayah mertuaku dengan menggunakan motor, aku di bawa ke tempat praktik Bidan terdekat.
setelah sampai di bidan aku langsung dipersilahkan masuk orleh pembantunya, dia mengatakan jika bidannya masih ada tugas di luar dan ia langsung menelpon bidan tersebut, mengatakan jika ada pasien akan melahirkan datang.
Pukul 5 bidannya sampai di runah, dia memeriksaku dan ternyata sudah bukaan 10. Pantas saja rasanya sudah seperti mau mati aku menahan sakit perutku. Lalu aku dipindahkan ke ranjang bersalin dan proses kelahiran anakku hanya berlangsung 15 menit karena saat ketubannya pecah, anakku juga ikut lahir.
Aku menangis, menyadari bahwa suamiku sama sekali tidak ada di saat aku sangat membutuhkannya. aku sangat kecewa padanya karena sama sekali tidak memikirkan dan memperhtaikan aku sehingga dengan entengnya dia berangkat di saat aku akan melahirkan.
Setelah melahirkan, mertuaku menghubungi suamiku untuk menyampaikan bahwa aku sudah melahirkan. dia terkejut dan memutuskan untuk pulang kembali. mungkin hanya karena tidak enak pada kondisi. bukan karena dia menvemaskan ku dan anakku.
dia sampai sudah cukup malam, dia langsung menghampiri orang tuanya tanpa menanyakan bagaimana kabar dan kondisiku. miris kurasa kondisiku saat itu. tak kusangkan pernikahan yang indah hanya ada di dalam anganku saja.
besok paginya dia lngsung kembali ke tempatnya kuliah, berdalih akan ada ujian. dia berjanji akan datang akhir minggu.
jumat malam ku tunggu, tidak kunjung datang rupanya. aku berpikir mungkin dia ada kuliah hingga malam. namun dia tidak berkabar sama sekali. lalu keesokan harinya hari sabtu, dia mengabari bahwa akan pulang sore hari. dan dia baru sampai di rumah pada malam hari.
dia datang dengan kondisi lelah "katanya". dia mandi dan langsung tidur. besok paginya fia akan menemani sebentar anak kami, lalu kembali sibuk dengan HPnya.
selama beberapa bulan selalu seperti itu yanng terjadi. sebagai seorang wanita jujur aku curiga dia pasti sudah memiliki wanita lain di tempat dia kuliah. dan benar saja kecurigaanku terbukti. dia bermain di belakangku dengan teman sekelasnya.
hancur hatiku, dengan apa terjadi. sedemikan rupa aku berkorban ,hidup dengan keluarga baru, menahan sakit saat melahirkan. dan dia dengan gampangnya di sana bermesraan dengan wanita lain.
Hahhhhhhh.. nampaknya aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan tulisanku ini. karena kejadian itu berlangsung hingga 5 tahun dan yang kutilis baru hanya beberapa bulan di awal.
sampai saat ini aku masih bersama suamiku itu, dan aku sudah tak mau lagi mencari tahu bagaimana dia di belakangku. karena aku sudah memiliki 2 malaikat yang selalu akan menjadi obat penawar sakit bathinku. dan aku tidak ingin anak2 ku hidup tanpa ayah seperti yang aku rasakan dulu.
jadi sekarang kulewati hidupku hanya demi anak2 ku. sampai kapan? mungkin jika anak2 ku dewasa, dan bekerluarga, aku bisa memilih untuk meninggalkannya dan mencari kebahahiaanku sendiri walau hanya bisa kunikmati di sisa usiaku nanti.
jadi aku akan menutup ceritaku sampai disini. terima kasih banyak atas perhatian kalian.. dan aku akan menjadi tembus pandang dan tak telihat pada saatnya nanti.
see yuuu....