Setelah aku pulang ke kampungku, menghadiri ritual balian yang di selenggarakan di rumah nenekku, aku sempat kesurupan dan pingsan menurut cerita keluarga dan orang-orang yang hadir.
Aku yang tak bisa menari dadas dan mihanyung, seperti halnya kemampuan nenekku sebagai salah satu balian di kampungku tiba-tiba bisa mahir melakukannya. Aku bahkan tak sadar telah melakukannya.
Dan ketika aku sadar, aku bangun dengan badan yang terasa ringan. Dan satu keanehan yang terjadi padaku, aku bisa menghilang jika aku mengenakan cincin yang di berikan oleh nenekku sebagai warisan turun temurun keluarga kami itu.
Hal ini tidak ku ceritakan pada siapapun sampai aku kembali ke kota, tempatku bekerja sebagai seorang Office Girl di sebuah hotel bintang lima milik keluarga Wardhana, yang kini dipegang oleh Pak Wisnu putra pemilik perusahaan yang bergerak di bidang jaringan perhotelan di beberapa kota besar itu.
Hotel besar tempatku bekerja ini di kelola oleh Pak Wisnu putera bungsu keluarga Wardana.
Laki-laki tampan ini telah membuatku tak bisa jatuh cinta lagi pada laki-laki manapun di dunia ini. Mataku sudah tersegel padanya sejak pertama kali aku melihatnya.
Sayangnya, aku hanyalah pungguk merindukan bulan, sesuatu yang mustahil bisa meraih cinta putra bossku, apalagi aku hanyalah seorang OG.
"Isha..." Bu Ely, kepala pantry tiba-tiba datang mengejutkanku.
"Kamu ke suite utama, bersihkan kamarnya, pak Wisnu akan bermalam di sini malam ini."
Degh! Dadaku bergetar hebat mendengar namanya saja sudah membuatku ketar ketir.
"Sore ini pak Wisnu tiba, waktumu cuma sejam membereskannya."
"Baik, bu." Sahutku tanpa di perintah dua kali, tugas ini adalah yang paling menyenangkan bagiku.
Meskipun aku tak bisa memilikinya, setidaknya aku senang bisa berlaku seolah-olah sedang menyiapkan kamar untuk suamiku.
Hedeh...aku menepuk fikiran kotorku itu, pamit pada bu Ely menuju ruang alat kebersihan, mengambil handuk bersih, sepray baru yang memang dari lemari khusus untuk pak Wisnu biasanya.
Mendorong kereta keranjangku dengan bahagia menuju lift khusus pelayan. Aku bersay hello dengan beberapa teman OB, yang suka menggodaku. Hatiku sedang senang.
Ketika tiba di ruang suite utama yang berada di puncak gedung itu, aku tersenyum sendiri membayangkan pak Wisnu sedang berbaring dengan telanj@ng dada di tempat tidur yang besar itu.
Andai aku bisa, aku akan berbaring juga di sana...
Wkkk....aku menepis semua fikiran-fikiran anehku yang mulai berseliweran. Astaga, jatuh cinta pada orang yang tak tahu kita ada bahkan tak sadar kita hidup itu terasa sangat menyesakkan dada.
Setelah ruangan itu kinclon g dan bersih aku berpindah ke kamar mandi, ketika aku sedang menggosok toilet tiba-tiba aku mendengar suara seorang perempuan dari dalam kamar.
Siapa? rasanya dari tadi hanya aku sendiri saja.
"Grenda, seharusnya kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan." Suara perempuan itu terdengar berat.
Saat aku memutuskan akan keluar untuk memberitahukan keberadaanku aku terpaksa mengurungkan niatku.
"Dia tidak tertarik sama sekali padaku, nyonya. Aku sudah berusaha." Perempuan lain menyahut.
Aku mengintip dari celah pintu kamar mandi, dua orang perempuan berdiri membelakangiku, satunya berpakaian seksi hanya menggunakan gaun tali satu yang kentat berwarna biru gelap dan seorang lain dengan stelan blazer, lebih tua tetapi berpenampilan tak kalah eksklusif. Dan...aku pernah melihatnya, dia adalah isteri muda pak Wardhana!
"Bodoh! Untuk apa aku membayarmu selama ini untuk menggodanya, kalau kamu sama sekali tidak bisa membuatnya tidur denganmu!"
Aku melongo mendengarnya, mencoba mereka-reka apa maksud pembicaraan keduanya.
"Brak!" Aku mundur dan kakiku tersandung ember tempat kain lap ku.
"Siapa di situ!" Ibu tiri Pak Wisnu yang cantik itu berteriak. Aku gugup bukan main. Saat ku lihat mereka berdua dengan tegang berjalan ke arahku, segera aku merogoh saku bajuku. Sesaat sebelum pintu kamar mandi itu terbuka lebar aku telah mengenakan cincin nenekku.
"Tidak ada siapa-siapa," Gadis yang bersamanya itu berhadapan hanya sekilan dari ujung hidungku tetapi dia tak menyadari kehadiranku karena aku tembus pandang!
Keduanya kembali ke dalam kamar, tepat di ruang tempat tidur.
"Masukkan obat perangsang ini di dalam gelas minumnya, setelahnya kamu harus berhasil menidurinya. Dengan begitu, kita bisa mendepak Wisnu dari list penerima warisan. Ayahnya hanya menunggu anak keras kepala itu membuat satu kesalahan saja, maka dia tidak menerima sepeserpun uang dari ayahnya!"
Astagah, aku baru menyadari mereka berdua sedang membuat konspirasi untuk mencelakai pak Wisnu.
Gadis itu mengangguk dengan patuh menerima beberapa butir pil aneh berwarna hitam.
"Kamu tunggu di sini, sampai dia datang!" perintahnya pada perempuan seksi yang cantik itu.
Lalu ibu tirinya keluar lewat pintu dengan tergesa setelah menerima telpon dari seseorang yang memberitahukan Wisnu baru saja tiba di hotel.
"Hey, ini kereta siapa sih yang meletakkan di depan pintu!" Ibu tirinya berteriak diluar kamar sambil dengan kesal memerintahkan OB yang mungkin lewat di sana membawanya kembali.
Aku menghela nafas, sekarang aku tak berniat keluar dari kamar ini.
Pak Wisnu tiba beberapa saat kemudian, dan matanya tampak marah melihat perempuan yang menyambutnya di dalam.
"Grenda! Keluarlah..." Teriaknya.
"Tapi, aku...aku kan asistenmu sekarang, Tuan Besar menunjukku jadi asistenmu."
"Aku sudah bilang berkali-kali, aku tak perlu asisten!"
Wajah perempuan yang di panggil Grenda itu memucat.
"Aku akan keluar, aku hanya memastikan ruangan ini siap." Kata Grenda sambil berusaha tersenyum.
Lalu dengan gerakan tubuh yang di buat-buat dia keluar, sesaat matanya melirik pada gelas sampagne yang ada di atas meja. Aku sudah melihat bagaimana dia memasukkan pil aneh itu tadi ke dalam botol itu.
Sesaat setelah Grenda keluar, pak Wisnu menghempaskan tubuhnya di atas sofa, lalu dengan muka kesal akan menuangkan sampagne itu ke dalam gelas.
Dengan gerakan cepat aku nenepis Botol itu hingga jatuh dan pecah di lantai.
"Sial! " Pak Wisnu mengumpat dengan kesal. Aku menahan nafas saat aku begitu dekat dengan wajahnya,
Oh, my God...dia benar-benar tampan!
Aku menghembus nafas lega, ketika menyadari berhasil menggagalkan rencana dua perempuan ular yang hendak mencelakai Pak Wisnu hari ini.
***
Malam larut, aku menyelinap ke dalam kamar pak Wisnu tanpa di lihat oleh siapapun.
Aku sudah berusaha tidur, tetapi sepulang dari bekerja fikiranku hanya tertuju pada pak Wisnu. Aku mencemaskannya.
Aku bebas bergerak tanpa ada yang melihat, dan saat masuk ke dalam kamar pak Wisnu bersamaan dengan seorang pelayan yang mengantarkan beberapa cemilan pesanannya ke dalam kamar.
Pak Wisnu duduk bersandar di tempat tidur hanya menggunakan piyama stelan celan pendek. Dadanya terbuka seperti yang ku khayalkan selama ini.
Aku terpesona, dia benar-benar tampan! Untung aku tidak masuk saat dia sedang mandi, jika begitu mungkin aku akan pingsan.
Dengan gemetaran aku mendekat, senentara dia membaca beberapa kertas dokumen.
Lama aku menikmati menatap wajah tampannya yang dingin.
Lalu dengan berani aku mendekat, aku benar-benar ingin mencium bibir tipisnya itu meski aku kasat mata.
"Cup..." Aku mengecup bibirnya dengan mata terpejam, seperti mencium angin, tetapi aku merinding sendiri dengan kegilaan yang ku lakukan.
"Akh..." Tiba-tiba dia menggigit bibirnya sendiri, sesaat matanya mengerjap seolah sedang melihatku.
Tetapi kemudian aku menyadari, dia tak tahu kehadiranku.
"Aku akan menjadi penjagamu, pak Wisnu. Tak ada yang boleh menyakitimu." Bisikku, parau meski dia tak mendengar.
Dari sisi tergelap, aku akan mencintainya dan menjadi penjaganya.
TAMAT